Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2021

Nyasar🗿

Kebanyakan orang ketika tersesat di jalan, tidak terlalu jauh dari tujuan mereka. Maksud gue, misalkan lo mau ke kota A, sebelum ke kota tersebut ada pertigaan, dan lo memilih belok kiri, sedangkan kota A ada di sebelah kanan. Kemudian lo sadar, "Oh, harusnya kanan." Lo puter balik, lalu sampai di kota A. Namun, lain halnya dengan gue dan sekelompok manusia-manusia absurd di sekolah gue. Jadi begini ceritanya... Ehem... Hari sabtu kemarin, gue dan tujuh orang panitia kemah melakukan survei tempat di desa Rogoselo, sebuah desa di kabupaten Pekalongan yang terkenal karena ada makam wali agung di dalamnya. Tujuh orang tersebut adalah Aufa, Nabil, Imam si ketua Pramuka, Hikam "Si Kasur Air Berjalan", Fawaz, Fikri, dan Iffan. Yang satu adalah gue, jadi kami ber-8 pergi ke Rogoselo bersama-sama. Perjalanan dimulai dengan menentukan siapa berboncengan dengan siapa. Gue berboncengan dengan Aufa, Nabil dengan Imam, Hikam dengan Fikri, dan Fawaz bersama dengan Iffan. Lalu kam...

Sepenggal Kejadian di Hari Ahad

Pagi yang cerah. Matahari bersinar ceria. Hangat udaranya merambat ke seluruh permukaan bumi Kertijayan dan sekitarnya. Seperti biasa, gue bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Dengan seragam Pramuka yang masih kinclong, beserta hasduk yang mengkilau, gue bersalaman dengan nyokap dan bokap.  "Assalamu'alaikum." ucap gue. "Waalaikumussalam, hati-hati di jalan. Knalpot motornya jangan dipatahin lagi!" bokap menjawab. Sepeda motor gue memang seminggu yang lalu knalpotnya patah, karena kecerobohan gue memacu kecepatan hingga batas landas kontinen, eh, bukan itu maksud gue. Kembali ke topik. Gue berangkat dengan senyuman yang merekah. Di sepanjang perjalanan angin pun tidak terlalu kencang berhembus, seperti menikmati cuaca hari ini. Gue sampai di sekolah dan melihat sesuatu yang aneh. Ya, itu dia hal anehnya. Ketika gue sampai di tangga, gue bertemu Arjun yang tidak biasanya berangkat pagi. Pertanda buruk. "Tumben lo jam segini udah berangkat? Pertanda buruk...

Aufa, Birthday, dan Arloji

ULANG TAHUN. Adalah sebuah kalimat yang sangat berarti untuk orang-orang yang berpacaran. Lah, lalu bagaimana dengan jomlo? Lupakan. Ulang tahun, bagi sebagian orang adalah hari yang sangat membahagiakan. Pada hari tersebut orang-orang memperingati hari kelahiran mereka. Biasanya mereka diberi hadiah atau ditraktir teman. Atau paling tidak dirayakan dengan pesta. Ada cerita unik tentang ulang tahun. Ini tentang kelahiran gue. Gue lahir pada tanggal 27 September 2005 M, bertepatan dengan 23 Sya'ban 1426 H. Oleh karena itu, nama panjang gue memiliki unsur Sya'ban. Cieee. Dulu nyokap pengin banget punya anak perempuan, mungkin karena abang gue adalah cowok, ya iyalah, kan abang. Kalo mbak itu baru cewek. Nggak jelas banget.  Ketika nyokap hamil gue, beliau sudah berencana memberi gue nama "Azimatul Khumaya", oke gue tahu kalian lagi ketawa di bagian ini, kampret. Namun, impian nyokap untuk menggendong anak perempuan, mengajarinya panah-memanah, balerina, investasi, loh j...

Kembali Penuh

Pagi ini gue bangun dengan perasaan was-was dan ketakutan. Gue bermimpi Thanos datang menginvasi desa Kertijayan bersama pasukan aliennya. GILA! Gue berlari dari lapangan tempat gue bermain dengan dua teman gue yang mukanya nggak kelihatan, ya, aturan mimpi memang begitu. Gue berlari menuju kontrakan gue dengan perasaan sangat ketakutan dikarenakan Thanos berhasil mengumpulkan ke-enam "Infinity Stones", dan konon katanya ia bisa menghapus setengah populasi makhluk di alam semesta. Yang lebih menakutkan, sebenarnya gue tidak mengontrak. Gue tinggal bersama nyokap, bokap, dan abang gue, lalu kenapa di dalam mimpi ngontrak? Aneh. Setelah mengemasi barang-barang penting di dalam kontrakan, gue keluar dari rumah kontrakan dan kemudian terbangun dari mimpi gue. Hari ini sekolah gue kembali normal, berangkat full tidak menggunakan sistem shift lagi. Seketika perasaan was-was gue sirna, berganti dengan perasaan senang. Gue berangkat sekolah dengan senyum yang merekah ditutupi masker ...

Percintaan Gue Kompleks

GILA! Gue hari ini bangun bukan di tempat tidur gue. GUE HABIS NGAPAIN?!?! Oke, tarik napas dalam-dalam. Gue hari ini bangun di rumah Nabil, buntut kejahilan Arjun dkk. Jadi begini ceritanya. Tadi malam, gue main ke rumah Nabil dengan dalih untuk me-ngeprint desain cover majalah. Namun, gue nggak ngerti cara menggunakan printer. Ya, ke-primitifan gue kembali. Gue dan Nabil akhirnya hanya menonton film di laptop gue, yaitu "Shang-Chi And The Legend Of Ten Rings", film yang sedang booming, ya, gue penggemar bajakan.  Satu jam film berjalan, Arjun dan rombongan ziarahnya datang. Mereka adalah Aufa, Abror, dan Abi, datang ke rumah Nabil dengan membawa petaka, eh. Kami hanya berbicara tentang keadaan belakangan. Seperti biasa, Arjun selalu menjadi bimbingan konseling gue.  "Gue belakangan lagi ngejauh dari si Angel, Jun. Lo tahu sendiri lah si Angel itu sulit kalo di-whatsapp, dichat hari ini baru bales setahun." aku Gue panjang lebar kali tinggi. Arjun mangap mulutnya d...

Canggung

Huft... Oke, tarik napas. Jangan canggung lagi. WOI KALEM DONG. Oke, sekarang gue gila.  Tulisan ini gue buat jam sebelas siang, ketika teman gue, Tamam menghampiri gue untuk mengajak gue pergi ke tukang kunci. Tamam ini adalah, eh bentar, kok jadi bahas Tamam sih? Tadi malam gue memberanikan diri untuk mendatangi rumah Angel. Tentunya untuk mengambil buku yang sedang ia pinjam. Gue mempersiapkan segala kemungkinan, bahkan yang terburuk.  Rumah Angel ini besar, bahkan bisa dibilang mirip dengan istana Disney, oke gue ngelantur lagi. Malam hari tadi, gue coba chat dia, "Angel, di rumah nggak? Aku mau ngambil buku kemarin." "Di rumah, Mas. Waduh maaf yaa, jadinya mas yang ngambil bukan aku yang ngembaliin." jawabnya di seberang. "Udah gapapa santai aja." kata gue sok cool. Mulailah gue menyusun rencana kepergian gue ke rumah Angel. Rencana pertama gue persiapkan untuk berjaga-jaga apabila gue harus berhadapan dengan bokapnya, konon katanya, ayah dari cewek y...

Reuni

Hari ini hampir asem total. Seharian di sekolah gue mengeluh tak henti-hentinya. Benar-benar tidak ada sedikit pun hal yang menyenangkan. Bel sekolah berbunyi, Nayif mengingatkan gue bahwa sepulang sekolah bakalan ada pertandingan persahabatan antara tim futsal alumni MTs kami dengan anak-anak ponpes. Bibir gue melengkung ke atas, tanda tersenyum. "Kenapa lo nggak bilang dari tadi?" tanya gue. "Lahh, lo nggak nanya," jawabnya santai. Sepulang sekolah kami semua langsung menuju ke Viva Sport Arena. Arena tersebut merupakan satu-satunya lapangan futsal di kecamatan Buaran. Tidak hanya lapangan futsal, di arena ini juga terdapat lapangan badminton yang selalu dipenuhi om-om kekar yang lebih pantas disebut sebagai binaragawan. Oke, gue mulai ngelantur. Di sini gue kembali bertemu teman-teman lama gue di MTs. Ada Fahri, Rohid, Robbi, Dani, Sabiq, Arkan, Khafid, Yusuf, Zidan, Hawaji, Farhan, dan masih banyak lagi nama yang sulit gue sebutkan satu persatu. Ada banyak hal y...

Kesepian

     Belakangan ini benar-benar nggak ada sesuatu yang epic untuk gue tulis. Nggak ada cewek yang ngungkapin perasaannya ke gue seperti beberapa minggu yang lalu. Nggak ada hal yang benar-benar membuat gue melek untuk semangat menjalani hidup.     Rasanya keadaan selalu berputar. Ada fase di mana gue bahagia, ketawa tanpa beban. Ada pula masanya di mana gue sedih, nggak tau harus ngapain. Gue ngerasa hidup gue makin asem untuk dijalani. Setiap kali gue pergi ke luar, di jalan, gue selalu melihat orang-orang berboncengan dengan pacarnya. Kalau pun mereka jomblo, setidaknya mereka punya sahabat yang bisa diajak mengobrol di atas sepeda motor. Gue tidak.    Orang yang dulu selalu nemenin gue di atas sepeda motor sudah pergi. Pergi jauh untuk menuntut ilmu. Orang yang dulu berada di jok belakang gue juga sama, sudah pergi karena kami sudah tidak ada hubungan alias putus. Keadaan agak membingungkan.  Well, sebenarnya gue punya banyak teman, namun susah...

Kreatif, Inovatif, Primitif

Teman satu kelas gue, Dodo, sedang presentasi tentang ketenagakerjaan pada pelajaran ekonomi. Di sesi tanya jawab, gue bertanya, "Bagaimana kriteria tenaga kerja yang baik?" Dodo menjawab pertanyaan gue dengan serius. "Tenaga kerja yang baik adalah tenaga kerja yang sanggup menyesuaikan perkembangan zaman, artinya dia tahu perkembangan teknologi, sehingga tidak bisa dikatakan sebagai primitif."      Kata-kata terakhir sangat membekas di hati dan benak gue. Gue memandangi sekujur tubuh gue, set dah. Gue ini orangnya bisa dikatakan setengah primitif, di luar pembahasan ketenagakerjaan tadi. Di saat orang-orang banyak bolak-balik di beranda tiktok, instagram, dll. gue justru mondar-mandir menu handphone. Well, sebenarnya gue punya instagram, namun gue jarang aktif.      Mungkin sebagian dari kalian tahu kalau gue ini adalah kreator video. Namun, beberapa bulan ini sedang vakum. Serial YouTube gue, Manusia-manusia Absurd, pun mangkrak di tengah jalan, padaha...

Tentang Cinta

Gue sekarang sadar. Bukan jomblo ataupun single yang gue takuti, melainkan sendiri/kesepian. Gue selalu takut sendirian di rumah, gue takut nggak ada sama sekali yang mendengarkan gue, dan gue juga selalu gelisah ketika kesepian, gue takut itu semua.  Yang fatal dari perasaan takut kesepian ini adalah ketika kita naksir cewek/cowok. Kita kadang-kadang terburu-buru menyatakan bahwa kita mencintainya, nggak, lo nggak cinta. Lo belum sampai ke tahap cinta ataupun sayang. Lo cuma kesepian, dan untuk orang yang kesepian, yang mereka butuhkan cuma satu; teman. Sebodoh-bodohnya kita dalam mencintai seseorang, setidaknya kita harus tahu sampai pada tahap mana kita dalam urusan percintaan itu sendiri. Apakah kita benar-benar mencintainya? Atau lebih tinggi, yaitu sayang? Atau jangan-jangan kita cuma penasaran dengan seseorang tersebut... yang lebih parah adalah kita hanya merasa kesepian, lalu menyatakan bahwa kita sayang.  Kita harus tahu sampai di mana kita.

Malam Terkampret

Rabu, 3 November 2021. Tepat pada malam harinya, abang gue, Abdillah, minta dianterin ke rumah temannya. Rencananya mereka hendak pergi berziarah ke Yogyakarta, gue mengiyakan. Kami pun sampai, otomatis tugas gue mengantarkan abang gue selesai. Dari sinilah kekampretan dimulai. Ketika gue berhenti di lampu merah, tiba-tiba ada cowok cewek yang sedang berboncengan, sebut saja mereka berpacaran, berhenti di depan gue. Sialan. Lo nggak kasihan dengan gue yang jomblo ini?. Beberapa detik kemudian, di samping gue hadir sepasang sejoli yang amat mesra, mereka berpelukan. Sialan pangkat dua (Sial²). Lampu yang tadinya merah, tak terasa sudah hijau. Gue menarik tuas gas sepeda motor gue. Klontong klontong, knalpot sejoli di depan gue berisik dan mengeluarkan asap. Chuaksss (mual). SIALAN BANGET LO SEMUA! PACARAN ITU DOSA, DITAMBAH LO NGEHINA GUE, FIKSS DOSA LO SEMUA BERTUMPUK-TUMPUK, KAMPRET. Lalu, di sepanjang jalan gue teringat Angel. Gue gelisah banget ketika ingat tentang pramu...

Terima Kasih, Oktober.

Terima kasih, Oktober. Engkau manis, penuh kenangan. Semoga November nggak asem. Segala kenangan di Oktober akan selalu gue kenang, termasuk pertemuan gue dengan Angel. Namun, dua hari ini gue berpikir. Apakah gue akan tetap bersama dia? Teman gue, Lisa, berkata sinis ketika gue ceritakan kegelisahan gue ini. Dia bilang ke gue, "Lo kelihatan gelisah banget, emangnya lo bakalan sama dia terus?," Gue berpikir sejenak, lalu menjawab dengan jawaban yang ngelantur.  "Gue cari lagi lah kalo nggak bareng lagi,"  "Gila ya lo!" jawab dia. "Temen lo yang baju putih itu cantik, boleh lah," ucap gue makin ngelantur. "Oh, si Reva? Dia udah ada yang punya," Lisa menanggapi kebuayaan gue. "Udah ketebak, sih. Yaudah lah, gue jadi gay aja kali ya?" "Dih!" Lisa menghindari gue yang makin aneh.