23/06/2026

Memotret Kohesi Sosial Kliwonan Wonoyoso dari Sudut Pandang Individualisme

            Pagi hari. Waktu paling umum bagi sebagian besar masyarakat kelas pekerja untuk berangkat bekerja. Pun juga waktu paling umum untuk berangkat sekolah atau kuliah. Akan tetapi pengalaman berangkat bekerja atau sekolah & kuliah ini akan terasa berbeda jika harus melewati rute Jalan Raya  Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut di hari Jumat Kliwon. Ada pemandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya, yakni kerumunan pedagang jajan, pakaian, dan lain-lainnya berjejer di pinggir jalan sepanjang Jalan Raya Kertijayan hingga Jalan Raya Sapugarut.

            “Kliwonan” atau “Pasar Kliwon” begitu warga setempat menyebutnya. Merupakan semacam tradisi spiritual yang sudah dilestarikan warga Desa Wonoyoso dan sekitarnya sejak lama sekali. Pusat tradisi ini sebenarnya berada pada Masjid Jami’ Wonoyoso yang konon katanya memiliki sumur keramat—jika mandi atau minum air dari sumur tersebut akan mendapatkan keberkahan. Walhasil, karena ramainya masyarakat yang berbondong-bondong mengambil atau mandi air tersebut, mulai berdatanganlah para pedagang dari berbagai daerah untuk memanfaatkan kohesi sosial tersebut dalam rangka meraih keuntungan ekonomis.

Gambar 1: Interaksi pedagang dan pembeli di area sekitar Masjid Jami' Wonoyoso, Buaran, Pekalongan, Jumat Kliwon (12/6).

            Kliwonan Wonoyoso ini sudah berlangsung puluhan tahun dan kian bertambah banyak pendatangnya, pun juga berdampak pada naiknya jumlah pedagang yang berjualan di sekitar area masjid. Semakin ramai artinya semakin sedikit tempat yang dapat dipakai. Maka untuk mengakali sedikitnya jumlah tempat yang tersedia, dilakukanlah ekspansi—artinya para pedagang ini membuka lapak tanpa harus dekat dengan area masjid. Beberapa ada yang membuka lapak di pinggir jalan.

Gambar 2. Beberapa anak kecil membeli Gulali.

Gambar 3. Interaksi pedagang dan pembeli di area sekitar Masjid Jami' Wonoyoso, Buaran, Pekalongan.

            Dari sudut pandang pengunjung kliwonan, ini jadi sebuah hal yang mengasyikkan, sebab dengan demikian artinya jajanan yang dapat diperoleh sangat bervariasi. Pun dengan hadirnya pedagang-pedagang pakaian, peralatan rumah tangga, dan lain-lain. Akan tetapi akan sangat berbeda pengalamannya jika kita menggunakan kacamata seseorang yang harus melewati rute Jalan Raya Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut untuk berangkat kerja atau sekolah dan kuliah. Kohesi sosial yang tadi dimaksudkan untuk membawa masyarakat lebih dekat pada tradisi leluhur berubah konotasinya menjadi sesuatu yang agak mengesalkan. Lebih-lebih di awal hari, di mana kita perlu membangun positive vibe agar sepanjang hari dapat dijalani tanpa keluhan.

Gambar 4. Potret keramaian interaksi pedagang-pembeli versus pengguna jalan di Jalan Raya Kertijayan - Wonoyoso - Sapugarut.

            Kehadiran pedagang-pedagang yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan ini menyebabkan fungsi jalan menjadi sedikit teralihkan. Alih-alih digunakan untuk kendaraan berlalu-lalang, jalanan justru jadi tempat mengantre para pembeli yang tidak sabar mendapatkan barang yang ingin dibeli dari pedagang. Ini menimbulkan “kemacetan mikro” di rute Kertijayan-Sapugarut, yang untuk menembusnya perlu kesabaran tingkat tinggi. 

                “Kliwonan” ini memang telah menciptakan banyak dampak baik bagi masyarakat sekitar, di antaranya adalah munculnya kohesi sosial yang bersifat spiritualis-tradisionalis—artinya masyarakat masih mau melestarikan tradisi spiritual setempat di tengah zaman yang kian modern dan ilmu pengetahuan serta teknologi semakin canggih, kemudian peningkatan pendapatan ekonomis, tentu saja dengan adanya tradisi kliwonan yang menghadirkan keramaian berjalan beriringan dengan aktifitas ekonomi warga sekitar yang membuka lapak dagangan. Akan tetapi, sebandingkah semua manfaat tersebut dengan perasaan tidak menyenangkan bagi pengguna jalan yang harus bergelut dengan keramaian yang tidak mereka inginkan? Ini perlu menjadi catatan bagi masing-masing kita yang terlibat dalam kohesi sosial tersebut.

Gambar 5. Seorang Wanita Tua mencoba menembus ramainya jalan yang dipenuhi pengunjung Kliwonan.

Gambar 6. Pemotor berhenti di depan pedagang yang berjualan di pinggir jalan.


Gambar 7. Keramaian di jalanan yang penuh dengan pemotor dan pejalan kaki, baik pengunjung kliwonan maupun non pengunjung kliwonan.

Gambar 8. Potret Jalan Raya Wonoyoso pada saat Kliwonan.

Gambar 9. Sisi lain jalan raya Wonoyoso.





21/04/2026

Review Film Civil War

 

Pernah kebayang gak seorang Pablo Escobar dan bini-nya Spider-Man, Mary Jane, collab dalam satu kumpulan adegan menjadi jurnalis yang meliput perang? Yap, kamu tidak salah dengar. Kumpulan adegan tersebut merupakan film berjudul “Civil War” yang rilis tahun 2024 lalu. Disutradarai oleh Alex Garland dan diprakarsai oleh studio A24 yang konon terkenal dengan film-film bertema disturbing dan absurd. Film ini berkisah tentang jurnalis fotografer Bernama Lee Smith, diperankan oleh Kirsten Dunst yang terkenal karena perannya sebagai Mary Jane dalam trilogi Spider-Man-nya Sam Raimi, dan Joel yang diperankan oleh Wagner Moura yang juga dikenal luas karena perannya sebagai Pablo Escobar dalam serial Narcos tayang di Netflix.

Film ini berlatar di Amerika Serikat yang sedang mengalami goncangan politik dikarenakan Presiden mereka telah memasuki periode ketiga dan konon menjadi pemimpin yang dictator. Hal ini kemudian memicu ketidaksetujuan banyak pihak, sehingga melahirkan gerakan separatis, di antaranya Texas dan California yang memisahkan diri dan membentuk West Force, dan wilayah Florida membentuk persekutuan sendiri—sehingga wilayah yang mengabdi pada Amerika Serikat pun terhimpit dan terus-terusan diserang. Kondisi ini diperparah dengan pidato Presiden yang menyatakan bahwa West Force telah menerima serangan telak oleh wilayah-wilayah loyalis—yang mengabdi pada Amerika Serikat—hal ini memicu amarah West Force dan mereka pun berencana untuk membunuh presiden.

Suatu hari, Lee Smith sedang meliput kerumunan warga sipil yang terlibat cekcok dengan petugas keamanan. Kerumunan tersebut awalnya hanya mengantre untuk mendapatkan air bersih, namun lama-lama berubah menjadi kerusuhan. Lee memotret dari arah dekat dan di saat sedang memotret ia melihat ada seorang fotografer muda amatir yang memotret dari jarak dekat tanpa menggunakan rompi atau tanda pengenal jurnalis, jelas hal tersebut sangat berbahaya. Dan benar saja, fotografer muda tersebut terpukul oleh tongkat yang digunakan petugas keamanan untuk menghalau warga sipil yang mulai merusuh. Lee datang dan menuntun fotografer muda tersebut dan memberikannya rompi jurnalis yang sedang ia gunakan.


Tiba-tiba dari kejauhan muncul seorang wanita yang mengenakan ransel dan membawa bendera Amerika Serikat berlari kencang menuju kerumunan. Lee langsung refleks memeluk fotografer muda tersebut dan membawanya untuk berlindung. Benar saja, wanita yang berlari sambil membawa bendera tadi ternyata meledakkan dirinya di tengah-tengah kerumunan! Seketika puluhan orang meninggal dunia karena aksi bom bunuh diri tersebut. Lee sontak mendekat ke TKP untuk mengambil gambar para korban. Fotografer muda tersebut kemudian pergi.

Dari sinilah kegilaan film bertema distopia ini dimulai. Pada malam harinya Lee dan Joel berbincang-bincang dengan jurnalis senior sekaligus mentor mereka yaitu Sammy. Lee mengutarakan maksudnya untuk datang langsung ke Washington DC dan memotret presiden, sementara Joel bersamanya, yang akan mewawancarainya. Sammy terkejut mendengar rencana tersebut karena Washington DC telah menjadi titik pusat peperangan dan bahkan saat ini presiden sudah menganggap jurnalis sebagai musuh, kalau mereka mendekati wilayah tersebut bisa-bisa mereka kena tembak. Keduanya ngeyel dan tetap ingin melakukan rencana tersebut.


        Esok harinya mereka berangkat, akan tetapi Lee terkejut karena di dalam mobil ia melihat ada fotografer muda yang kemarin ia beri rompi dan selamatkan dari aksi bom bunuh diri. Namanya Jessie, semalam ia memang sempat bertemu Lee dan mengucapkan terima kasih. Namun ternyata ia datang ke hotel tempat Lee dan para jurnalis lainnya beristirahat bukan hanya sekadar untuk berterima kasih, tetapi juga meminta agar ia diikutkan dalam peliputan perang
sebab ia sangat mengidolakan Lee Smith.

Lee tidak setuju dan kemudian bernegosiasi dengan Joel, beruntungnya Joel berhasil meyakinkan Lee bahwa Jessie bisa ikut memotret dengan foto-foto yang bagus. Walhasil, Lee, Joel, Sammy, dan Jessie berangkat menuju Washington DC. Dalam perjalanan mereka mengalami banyak sekali kejadian gila—mulai dari warga sipil bersenjata yang menyandera dan menyiksa dua orang lalu menggantungnya hidup-hidup, ini membuat Jessie sangat ketakutan dan bahkan ia sampai marah-marah sendiri di mobil karena tidak berhasil mendapatkan satu pun foto karena panik setelah menyaksikan dua sandera tersebut berlumuran darah. Lee memotivasinya dengan meminta Joel untuk menghentikan mobil di dekat helicopter yang jauh—Lee membawa Jessie keluar mobil untuk memotret helikopter yang jatuh tersebut. Ia bilang bahwa ini akan jadi potret yang bagus.

Kegilaan lainnya terjadi ketika mobil yang mereka tumpangi diikuti oleh sebuah mobil yang melaju cepat. Lee yang menyetir mobil menggantikan Joel agar ia bisa istirahat terkejut dan panik bukan main. Namun ternyata mobil itu dikendarai oleh dua teman Joel yang bernama Bohai dan Toni. Toni kemudian melakukan aksi gila dengan berpindah ke mobil yang dikendarai Lee. Mereka tertawa riang berkat keisenngan tersebut. Kemudian karena merasa adrenalinnya terpacu, Jessie ikut melakukan aksi pindah mobil. Jessie pun sekarang menjadi penumpang mobilnya Bohai. Bohai memacu mobilnya dengan kencang—bermaksud mengajak Lee untuk balapan, akan tetapi Lee tidak menggubrisnya karena saat ini bukan itu prioritasnya. Di sinilah hal mengerikan itu terjadi. Mobil yang dikendarai Bohai berhenti di sebuah pekarangan rumah. Terlihat Bohai dan Jessie yang ditangkap oleh sekelompok tentara loyalis dan digiring ke dekat pemakaman masal untuk ditembak lalu dimasukkan ke dalamnya.

Lee dkk tidak mau membiarkan hal tersebut terjadi, mereka turun dari mobil dan bernegosiasi dengan tentara loyalis tersebut. Sayangnya negosiasi berjalan alot sehingga Bohai dan Toni ditembak mati. Melihat dua orang ditembak mati langsung, Sammy, orang tua lamban yang tidak diizinkan Lee untuk ikut turun dari mobil dan bernegosiasi langsung memacu mobil dengan kecepatan tinggi dan menabrak dua orang tentara yang sedang bernegosiasi dengan Lee dan Joel. Lee, Joel, dan Jessie langsung masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Naas, Sammy terkena tembakan di bagian perutnya dan mengalami pendarahan hebat. Sesampainya di Charlotesville, Sammy meninggal karena kehabisan banyak darah.

Lee dan Joel sangat terpukul karena kematian mentornya. Namun tujuan awal mereka untuk pergi ke Washington harus tetap dilakukan. Saat di Charlotesville inilah mereka bertemu dua jurnalis Inggris, Anya dan Dave, dan West Force. Walhasil keduanya bergabung West Force untuk melakukan penyerbuan ke Gedung Putih di Washington DC. Di sinilah titik balik Jessie dimulai, Jessie yang awalnya cengeng dan mudah panik mulai terbiasa dan kini bersikap tegar dan berani memotret tanpa beban. Tidak seperti saat perjalanan pertamanya ketika bertemu dengan sekelompok warga sipil penjual bensin yang menyandera dua orang dan menyiksanya, saat itu ia tak mendapat foto sama sekali, dan juga di perjalanan kedua ketika mereka bergabung dengan kelompok separatis yang sedang adu tembak dengan tentara loyalis di sebuah gedung, ia juga masih sedikit panik. Berbeda dengan Lee yang statusnya adalah fotografer jurnalis professional—ia selalu mendapat momen bagus ketika memotret situasi perang yang ada.

Ketika di DC, semua itu berubah 360 derajat. Lee yang awalnya bersikap professional dan biasa saja ketika menyaksikan ada seseorang mati tertembak di depannya, berubah menjadi pecundang dan tak memotret satu pun momen, seballiknya Jessie yang mendapat banyak foto pada saat penyergapan di gedung putih. Hingga pada akhirnya pasukan West Force berhasil menduduki gedung putih dan menembak mati presiden sesaat setelah beradu tembak terlebih dulu dengan para pengawalnya.

Sebelum bisa memasuki ruang presiden, Jessie yang terlalu nekat memotret dari dekat langsung dibidik oleh pengawal presiden. Dan untuk sekali lagi, Jessie diselamatkan oleh Lee. Jessie sempat menekan tombol capture dan mendapatkan foto saat Lee tertembak pengawal presiden. Lee tewas seketika. Emosi Joel dan Jessie memuncak. Pengawal terakhir telah dikalahkan, West Force masuk ke dalam dan langsung menyeret presiden untuk ditembak mati Sebelum ditembak, Joel berteriak menghentikan para tentara West Force. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mewawancarai presiden seperti tujuan awalnya berangkat ke DC bersama Lee. Joel mendekat ke depan muka presiden dan menanyai satu pernyataan... 

I need a quote.”

Don’t… Don’t let them kill me,” jawab Presiden. Dan itu sudah cukup membuktikan bahwa ia adalah seorang diktator sejati yang haus kuasa. Maka Joel mempersilakan para tentara untuk menembaknya mati. Dor! Dor! Cekret! Presiden mati ditembak, Jessie mendapatkan potret penembakan presiden, Joel mendapat quote dari presiden. Maka film pun usai. America has fallen.

Secara umum film ini saya kategorikan sebagai film yang susah untuk disukai oleh penonton Indonesia yang akrab dengan penceritaan tersurat, sebab film ini memiliki banyak sekali plot hole, di antaranya adalah alasan kenapa perang sipil ini terjadi. Tidak dijelaskan secara spesifik kenapa tiba-tiba California dan Texas memisahkan diri dan membentuk West Force, semuanya harus diterka-terka sendiri oleh penonton. Dan lagi, setiap karakter yang ada dalam film ini tidak digali kedalaman karakternya, seperti Lee yang menjadi jurnalis fotografer profesional, tidak dijelaskan mengapa ia menjadi jurnalis fotografer dan bagaimana karirnya, hanya diperlihatkan ekspresi Lee yang selalu murung sepanjang film karena ia telah menyaksikan banyak sekali kematian dalam perang yang ia liput. Namun, ada momen yang cukup membuat saya senang karena akhirnya Lee bisa tersenyum di film ini, yaitu momen sesaat setelah mereka meliput baku tembak antara tentara separatis dan tentara loyalis, ketika mereka berhenti di sebuah kota yang damai—seperti tak tersentuh perang. Di sini mereka berhenti sejenak di sebuah toko pakaian dan membeli beberapa pakaian.

Jessie melihat sebuah gaun dan memberikannya kepada Lee untuk dicoba. Lee tampak anggun dengan gaun tersebut, Jessie memotretnya. Sangat cantik, apalagi ketika Lee sedang tersenyum, begitu katanya. Lalu datanglah Joel dengan topi coklat dan meminta Jessie untuk memotretnya. Jessie menolaknya dengan alasan film kameranya tinggal sedikit. Suasananya jadi cair sejenak berkat bercandaan tersebut.

Yang paling membuat saya angkat topi adalah character development-nya Jessie. Ia diceritakan sebagai fotografer amatir yang memaksa ikut sekelompok jurnalis meliput perang. Awalnya ia sangat cengeng dan mudah mual ketika menyaksikan hal-hal yang ”lumrah” terjadi di perang. Bahkan ketika ia masuk ke mobil usai diselamatkan Sammy, ia sempat mutah karena baru saja menyaksikan dua orang ditembak di depan matanya, dan ia juga sempat terlempar ke kuburan massal berisi sekumpulan mayat. Namun seiring berjalannya waktu, Jessie mulai terbiasa dan berani maju sendiri. Ini terbukti ketika penyergapan di DC saat meliput baku tembak antara West Force dan pasukan Loyalis, hampir semua liputan memotret dilakukan Jessie seorang, sedangkan Lee hanya merengek tak jelas.

Film ini memang fiksi, akan tetapi scoringnya berhasil membawa saya seolah masuk ke dalam dunia distopia yang digambarkan oleh sang sutradara. And to be honest, ketika saya menonton saya selalu terbayang-bayang suatu momen di negara kita yang barangkali bisa dimiripkan dengan film ini, hanya saja dalam situasi “What If?”. What If?: Soeharto tidak mau turun dari kursi presiden misalnya, saya membayangkan situasi yang ada di film ini adalah situasi yang terjadi di negara kita pada masa orde baru. Bukankah itu akan terasa seratus kali lebih mencekam dari kenyataannya?


 

13/04/2026

Satu Gagang Sapu

       Sabtu, 11 April 2026. Saya bangun tidur dengan perasaan lega karena baru saja menuntaskan satu tanggung jawab. Ketika mata melek, tak ada perasaan berat seperti beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi perasaan tersebut ternyata tidak bertahan lama--langsung terusik oleh postingan status whatsapp salah satu teman di kampus yang baru saja dilamar oleh kekasihnya.

   Bukan, bukan berarti saya cemburu karena teman saya dilamar. Pun kalau bisa dikata cemburu, konteks cemburunya bukan cemburu secara romantis, saya lebih memilih cemburu secara finansial. Sebab, secara praktis, mereka yang telah berani menapaki jalan menuju pernikahan artinya sudah bisa dikatakan mapan (walaupun tentu tidak sepenuhnya) baik secara finansial maupun mental dan aspek lainnya.

     Saya mbatin sejenak, "Memang ya, bangun tidur itu harusnya langsung solat subuh habis itu olahraga atau baca buku, bukan malah buka medsos." Baru satu postingan saja sudah bikin saya mbatin, bagaimana jika ada sepuluh postingan serupa? Ah, saya menarik napas pelan... Bangkit dari kasur dan kemudian beranjak menuju kamar mandi. Segera saya laksanakan rutinitas nomor satu saat bangun tidur itu--ngiseng, sikatan, wudu, solat.

       Sembari ngising, saya melepaskan energi negatif gara-gara postingan barusan. Saya anggap angin lalu saja... 

      "Ya sudahlah, memangnya kenapa? Wong tetangga samping rumah saja bulan lalu sudah lahiran, kenapa heran lihat orang lamaran?" ujar saya sesaat setelah batch pertama ngising dikeluarkan.

     Hingga waktu benar-benar berlalu sampai membawa saya ke tempat kerja. Sialnya, saat sedang melakukan salah satu tugas di tempat kerja saya--ngusungi sanggan--saya berpapasan dengan teman SMA saya yang menaiki sepeda motor matic, berboncengan bersama istrinya dan seorang anaknya yang juga baru lahir sekitar dua bula yang lalu. Saya menyapanya dengan panggilan bos...

       "Bos Danil!" teriak saya keras, sambil memegangi satu kodi daster yang talinya lemas hampir terlepas dan jatuh dari sepeda motor yang saya naiki.

     "Oiiii." beliau menjawab.

         Saya kembali mbatin. Umur dia dengan saya sama, dua puluh tahun, akan tetapi nasib kami sungguh berbeda--beliau menaiki sepeda bersama istri dan anak, sedangkan saya bersama sanggan. Miris.

     Pikiran saya sudah terlanjur keruh. Ngalor ngidul gak jelas rasanya. Sampai-sampai saya kembali teringat bahwa salah satu teman SMP saya dulu--yang sering membully saya--saat ini tengah menempuh studi S1 di Mesir. Lanjut lagi saya teringat dengan teman SD yang pernah saya bully...

       Nasibnya lebih bagus dari saya, beliau sekarang bos batikan. Nah, di sini saya bingung. Saya senang jika melihat kawan SD saya yang dulu pernah saya bully sekarang sudah jadi bos, artinya saya bisa menyesal karena telah membully beliau, tapi teman SMP yang tadi saya sebut? Posisinya kan dia yang membully saya... Walach moment. Setelah ditelisik lagi ternyata memang beliau pintarnya sudah di atas rata-rata dan masih mau berusaha memanfaatkan masa muda dengan baik. Beda dengan saya yang lempurak lempuruk, hobinya leyeh leyeh...

       Sekadar ambil beasiswa saja saya malas. Sungguh miris.

   Gara-gara semua pikiran itu saya jadi makin tidak berselera dalam menjalani rutinitas, lebih lebih lagi sekarang sudah memasuki semester 6, artinya kuliah sudah mulai serius, beberapa teman juga sudah mulai sering riwa riwi bimbingan skripsi dengan dosen, sedangkan saya masih struggle untuk sekadar memberi semangat pada diri sendiri untuk terus hidup. Gak layak...

    Yah, memang pada dasarnya tidak ada tuntutan secara tertulis maupun lisan agar saya dapat mengejar itu semua (menikah, lulus cepat, kuliah di luar negeri, punya bisnis sendiri, dll.) akan tetapi hanya dengan menyaksikan mereka semua saja saya sudah terpukul, merasa tertinggal... Merasa jadi manusia yang gagal. Saya takut tidak menjadi apa-apa dan hanya akan menjadi sampah masyarakat.

      Ibaratnya gini: saya dikasih satu gagang sapu, tapi yang mereka ingin saya lakukan dengan sapu tersebut adalah mengubah Bantargebang menjadi sebersih aula masjid. Punya waktunya aja saya enggak. Ah, sudahlah.

10/12/2025

Rangkuman Madilog: Bagian Pertama

Bagian Pertama: Logika Mistika

            Tan Malaka tidak banyak basa-basi dan langsung mengajak para pembaca untuk berhadapan dengan pemikiran yang sudah sejak lama sekali ada, namun pemikiran tersebut menghambat/membelenggu cara pikir rasional dan sains. Beliau memulai dengan mengutip firman Mahadewa Ra, salah satu Dewa yang disembah dalam kepercayaan Mesir Kuno, yang bunyinya sebagai berikut:

            “Ptah: maka timbullah bumi dan langit. Ptah: maka timbullah bintang dan udara. Ptah: maka timbullah Sungai Nil dan daratan. Ptah: maka timbullah tanah subur dan gurun.”

            Kutipan firman Mahadewa Ra ini jadi gambaran umum tentang logika mistika, premisnya ada pada rohani spiritual, ide Dewa. Rohani dianggap sebagai sumber yang maha kuasa dan dia yang kemudian menciptakan zat materi/benda hanya dengan firman atau kehendak, seperti disebutkan di atas. Hanya menyebut “Ptah”, timbullah berbagai macam zat materi. Dan rohani ini tidak terikat dengan hukum materi dan waktu, dia independen.

Di sini Tan Malaka langsung membenturkannya dengan filsafat ilmu pasti (baca: sains/ilmu pengetahuan). Menurutnya, ide penciptaan instan seperti firman Mahadewa Ra bertentangan dengan sains yang selalu menekankan bahwa tiap-tiap sesuatu dimulai dari benda, harus ada bendanya dulu, baru energinya. Berbeda dengan konsep penciptaan Dewa Ra yang justru menghadirkan energi dulu, baru kemudian menciptakan benda. Lebih lanjut lagi, Tan mengadu konsep penciptaan instan ala Dewa Ra ini dengan Teori Darwin. Dalam Teori Darwin disebutkan bahwa semua kehidupan di bumi ini, baik itu hewan, tumbuhan, ataupun manusia, munculnya tidak bersamaan melainkan berkembang pelan-pelan. Berkembang pelan-pelan selama jutaan atau bahkan miliaran tahun. Dari ikan ke amfibi, dari amfibi ke manusia, semuanya berkesinambungan secara pelan-pelan. Tidak ada yang instan.

            Tan Malaka juga mengadu logika mistika ini dengan Hukum Kekekalan Energi oleh Joule, di mana hukum tersebut mengatakan bahwa energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan, hanya bisa berubah bentuk. Maka jumlah energi di alam ini adalah tetap/konstan. Di sini beliau menggunakan analogi hartawan, di mana sang hartawan memiliki uang satu juta lalu membelikannya kapal dan rumah seharga masing-masing setengah juta. Dengan ini, hartanya yang tadi berwujud uang kini berubah bentuk menjadi properti, akan tetapi jumlahnya tetap sama yaitu satu juta. Logikanya adalah jika Ra membagikan energinya untuk mencipta alam semesta, maka Ra kehilangan sebagian energinya karena energi Ra telah dialihkan menjadi energi alam semesta. Di sinilah Tan seolah memaksa kita untuk memilih salah satu dari kedua logika tadi; mistika dan sains. Kita disuruh memilih; Ra yang tunduk pada hukum sains tadi, atau sebaliknya?

            Dalam perihal ini Tan Malaka memberikan tiga kemungkinan melalui tiga jarinya:

1.      Dewa Ra lebih berkuasa daripada alam dan hukumnya (jari telunjuk)

Dalam ilmu sains, ribuan kali percobaan di laboratorium selalu menghasilkan kesimpulan yang sama, dan ini terus-terusan berulang. Artinya alam dan hukumnya selalu konsisten. Maka yang menjadi pertanyaannya adalah, jika Dewa Ra lebih berkuasa daripada alam dan hukumnya, mengapa Dewa Ra tidak pernah melakukan intervensi/ikut campur terhadap alam dan hukumnya? Di sini alam dan hukumnya justru terlihat lebih berkuasa dan menang atas Dewa Ra.

2.      Dewa Ra sama berkuasanya dengan alam dan hukumnya (jari tengah)

Tan Malaka terang-terangan berkata “Mengapa harus menyembah Dewa Ra jika dalam kuasanya ia sama-sama seperti alam dan hukumnya?” Lebih baik kita mempelajari hukum alam yang nyata dan hukumnya jelas, konsisten, dan mudah dibuktikan keabsahannya.

3.      Dewa Ra kurang berkuasa dibanding alam dan hukumnya (jari manis)

Ini ironis, Tan Malaka menggambarkaannya mirip seperti cerita Dr. Frankenstein yang diserang oleh monster hasil ciptaannya sendiri. Bukti kelemahan Dewa Ra dari mana? Seperti penjelasan sebelumnya yaitu alam dan hukumnya selalu konsisten dan seolah tidak tunduk pada firman Ra.

Demikianlah jika kita menggunakan pikiran yang jernih, hati yang berani dan jujur, memikirkan bahwa segala zat berasal dari rohani maka itu tersesat—harus diakui bahwa hakikat semacam itu bertentangan dengan akal. Ini merupakan fondasi kritis bagi masyarakat agar dapat ber-Madilog, sebab cara pikir yang serba kerohanian akan membelenggu masyarakat dalam menuju atau meraih kemajuan.

03/12/2025

Madilog sebagai Antitesis Pemikiran Mistis yang Kolot

             Ibrahim Datuk Sutan Malaka, atau kita semua sering mendengar namanya sebagai Tan Malaka, lahir di Nagari Pandam Gadang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat pada tanggal 02 Juni 1897. Beliau lahir dari pasangan HM. Rasad Chaniago, seorang buruh tani, dan Rangkayo Sinah Simabur, seorang putri dari tokoh terpandang.

            Tan Malaka memiliki keterampilan berbahasa Belanda, dan di masa produktifnya dalam belajar sejak kecil sampai dewasa, yaitu tahun 1909-1919, beliau mendapat gelar Diploma Hulpacte (semacam sertifikat layak mengajar) atas kelulusannya dari Rijks Kweekschool (Sekolah Guru Negeri) di Haarlem, Belanda. Kegemaran beliau membaca buku-buku seputar pandangan budaya dan politik para pemikir Jerman membuat beliau terpantik dan angkat topi dengan kebudayaan dan pandangan politik Jerman. Hal ini kemudian menjadi arah panutan politik Tan Malaka yang mendorongnya untuk mendaftar di Angkatan Darat Jerman, namun sayangnya beliau tidak diterima sebab pada saat itu mereka tidak merekrut orang asing.


Tan Malaka. Via Ruangguru.id

     Kecintaan Bung Malaka terhadap kebudayaan dan pandangan politik tersebutlah yang mendorongnya untuk memiliki pandangan-pandangan yang “beda jalur” dan kemudian dituangkan dalam berbagai karya, seperti Naar de ‘Republiek Indonesia’ (1925), Aksi Massa (1926), Madilog (1943), Gerpolek (1948), dan lain-lain.

            Pada kesempatan ini saya akan sedikit mengulik salah satu buku beliau yang merupakan salah satu buku best seller saat ini, yaitu Madilog (1943). Naskah Madilog ini ditulis di Rawajati, tepatnya di dekat pabrik sepatu Kalibata, Cililitan, Jakarta tahun 2602. Penanggalan dalam tulisan ini masih memakai penanggalan Jepang, ini menunjukkan bahwa Indonesia belum mandiri (baca: masih terjajah, baik secara fisik maupun intelektualitas) bahkan sampai aspek terkecil seperti penanggalan pun masih menggunakan tanggalan-tanggalan yang sudah ada seperti tanggalan Jepang dan atau tanggalan Hijriah. Waktu yang digunakan Bung Malaka sendiri dalam menulis Madilog ialah kurang lebih delapan bulan, yaitu sejak 15 Juli 1942 sampai dengan 30 Maret 1943. Ditulis dalam tiga jam sehari dengan total 720 jam kerja.

            Buku ini ditulis dalam keadaan yang penuh tekanan, beberapa kali bahkan polisi (Jepang) datang untuk memeriksa dan menggeledah rumah tempat Tan Malaka tinggal dan menulis buku ini. Beruntung, Madilog ditulis dengan huruf yang kecil dan diletakkan di tempat yang sulit dijangkau. Hamdalah, polisi tidak dapat menyitanya. Alasan Tan Malaka sendiri menulis buku ini adalah salah satunya karena kondisi proletariat pada masa tersebut memiliki potensi yang besar namun sayangnya masih berpendidikan “tipis”. Masyarakat masih condong mengandalkan ilmu akhirat dan tahayul, mereka jadi kurang pandangan akan dunia/Weltanschauung, mereka tidak menyadari kekuasaan kelasnya. Di sinilah Madilog masuk, ia didesain sebagai alat/jembatan untuk nantinya masyarakat bisa belajar lebih lanjut ke filsafat barat.

            Madilog, merupakan akronim dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Materialisme merupakan paham/cara pikir yang berpijak pada materi/benda, kemudian Dialektika adalah cara pandang yang dapat melihat pertentangan dan gerak, dan Logika adalah hukum berpikir lurus. Paduan antara ketiga kata tersebut terdengar kurang sedap di telinga menurut beliau, sehingga beliau menciptakan akronim yang merupakan metode “Jembatan Keledai”/Ezelsbruggetje (baca: menyingkat kata/kalimat agar mudah diingat dan dipahami, bukan malah menghafalkannya). Metode ini sering beliau gunakan, di antaranya seperti jembatan keledai “AFIAGUMMI” dan “ONIFMAABYCI AIUDGALOG”. AFIAGUMMI, A-nya merupakan Armament, kekuatan udara, darat, dan laut, selanjutnya FI merupakan Finance. Namun sayangnya untuk IAGUMMI  dan yang satunya, ONIFMAABYCI AIUDGALOG, beliau tidak pernah menyebutkan apa artinya. Barangkali sesuatu yang dirahasiakan.

            Tan Malaka juga mewanti-wanti bahwa ketiga aspek tadi, yaitu Matter, Dialectica, dan Logic, akan berbahaya jika dipakai sendiri-sendiri atau terpisah. Materialisme membuat orang jadi kaku, dialektika membuat orang jadi ngawang dan mistik, lalu logika dapat membuat “silau” dan lupa terhadap konteks. Jadi, singkatnya, Madilog ini merupakan sebuah sintesis dari ketiga “bahaya” tersebut, yakni Logika dan Dialektika yang berdiri di atas iklim Materialisme. Titik awalnya akan selalu berpijak pada matter atau benda, kemudian dari penjuru matter inilah kita memandang segala sesuatu. Ketiganya saling berkaitan erat sebab logika saja tidak cukup, perlu dialektika untuk mengerti perubahan dan kontradiksi, begitu sebutnya. Ini sangat penting bagi masyarakat Timur yang masih kental dengan ilmu ke-gaib-an agar masyarakat dapat berpikir secara rasional.

            Bab pertama membahas Logika Mistika—di sinilah kritik pedas Tan Malaka melayang pada konsep berpikir irrasional yang serba mengedepankan cara pikir ghaib, yang bahkan sampai detik ini kita masih sering mendapati fenomena yang demikian. Sebut saja contohnya ketika ada teman Anda yang sedang duduk di dekat pohon beringin lalu tiba-tiba tak sadarkan diri, beberapa saat kemudian teman Anda mengerang dan menjerit keras. Orang yang mengedepankan logika mistik akan praktis langsung berkata bahwa teman Anda kesurupan penunggu pohon beringin tersebut, padahal belum tentu ia benar-benar kesurupan, bisa saja ia mengalami kondisi tidak sehat dalam mentalnya sehingga mengalami gangguan semacam itu—itu kalau kita berpikir ala materialis, dan inilah yang coba diajarkan Tan Malaka melalui Madilog. Ia menuntun dan menuntut kita semua agar merinci penyebab dari segala sesuatu berdasarkan penalaran logis dan ilmiah. Bukan semata-mata dari logika mistis—pengaruh roh dan perkara ghaib.

            Memasuki bab kedua yakni filsafat, Tan Malaka di sini membahas tentang pertentangan antara kubu filsafat idealisme versus materialisme. Di mana kubu idealisme di sini mengedepankan idea, yakni ide atau konsep, artinya segala sesuatu harus berdasar pada konsep atau hal-hal seputarnya, sedangkan kubu materialisme mengedepankan matter, artinya mereka mengedepankan keberadaan benda atau material dalam menyikapi sesuatu.

Tan Malaka di sini memberi contoh Hegel, si Idealis tulen dengan ide bahwa sejarah digerakkan oleh absolute idea. Mirip seperti konsep Tuhan/hal-hal berbau metafisik—bahwa semua hal yang ada di dunia ini, termasuk realitas dan sejarahnya, merupakan perwujudan dari ide absolut. Ini dibantah oleh Karl Marx dengan pembalikan 180 derajat. Marx menyatakan bahwa yang menentukan kesadaran atau pikiran adalah keadaan sosial, kemudian sejarah ditentukan oleh kondisi material kehidupan manusia, dan motor penggerak sejarah adalah perjuangan kelas (antara kelas-kelas sosial yang punya kepentingan berbeda). Seperti kelas petani vs. bangsawan, buruh vs. kapitalis, budak vs. tuan, akarnya ada pada hubungan ekonomi; yakni antara siapa yang menguasai alat produksi dan modal, melawan mereka yang hanya punya tenaga untuk dijual. Dan pertentangan ini semakin runcing dikarenakan adanya perkembangan teknologi. Inilah yang kemudian menuntun manusia berkembang dari satu periode ke periode berikutnya: dari zaman perbudakan menuju feodalisme, dari zaman feodalisme menuju zaman kapitalisme, dan seterusnya. Jadi ini bukanlah pertentangan ide yang ngawang, melainkan pertentangan nyata antar kelas manusia.

Bab ketiga sangat panjang, membahas mengenai sains, bab ini bahkan dipotong menjadi dua bagian—bagian pertama membahas pentingnya sebuah definisi akan sesuatu, kemudian matematika, geometri, dan bagaimana kita membangun cara pikir matematis. Kemudian bagian keduanya dibahas mengenai cara induksi, deduksi, dan verifikasi—ini penting untuk dapat digunakan dalam menganalisis suatu masalah lalu memetakan cara menanganinya, atau bahkan mencegahnya.

Bab berikutnya adalah Dialektika, Tan Malaka menyajikannya mulai dari timbulnya dialektika yang dimulai dari tempo, kemudian berseluk-beluk, lalu pertentangan dan pergerakan. Hingga membahas dialektika para idealis versus materialis seperti yang sudah disinggung pada bab kedua. Dialektika hadir sebagai aplikasi untuk mempertanyakan ulang realitas dalam kehidupan. Dan keberadaan dialektika perlu diimbangi dengan logika yang benar-benar lurus, rasional, agar ketika dialektika diaplikasikan dia tidak sekadar ngawang-ngawang seperti konsep idealisme milik Hegel yang disebutkan sebelumnya.

Dan akhirnya kita masuk pada bab terakhir yakni Logika. Di sini Tan Malaka menjabarkan dari yang paling dasar sekali. Mulai dari bagaimana menyimpulkan sesuatu berdasarkan kejadian umum, atau sebaliknya, untuk tidak menyimpulkan sesuatu secara umum hanya karena ada kejadian khusus. Di sini juga dibahas pertentangan-pertentangan dan cara membatalkan suatu fakta berdasarkan dasar-dasar logika yang sudah beliau ajarkan. Bab ini menuntut fokus tinggi, sebab Tan Malaka menggunakan aplikasi yang terbilang cukup rumit, akan tetapi mendasar—justru di situlah letak asyiknya belajar logika.

Setelah membaca Madilog, saya jadi yakin bahwa sebagian besar masalah hidup kita terletak di cara kita berpikir dan mereduksi sebuah pengalaman dalam hidup. Kita perlu berpikir ala seorang materialis—mengedepankan matter/benda, agar kita tidak awang-awangan dan terlalu mistis. Pun ini juga dapat kita gunakan sebagai alat tempur menghadapi narasi-narasi idealis-mistis yang tidak jarang dipakai oleh para kapitalis dan penguasa untuk meninabobokkan rakyat. Kita begitu sering mendengar, baik itu dari mulut pemuka agama, maupun politisi (sebut politisi “religius”), bahwa segala sesuatu terjadi karena kuasa Tuhan, semua sudah diatur, oh tentu tidak sesimpel demikian. Apa yang terjadi di dunia ini selalu berakar dari sebab dan akibat yang tentu saja kita bisa meruntutnya.

Misal saja bencana alam yang saat ini terjadi di Sumatera, politisi dan pejabat yang saat ini sedang memakai topeng sebagai pahlawan rakyat tentu akan mengatakan bahwa ini adalah ujian, cobaan, atau apalah, yang hadir dari Tuhan. Kita semua harus melaluinya dengan tabah. Sungguh kolot! No way! Apa yang terjadi di Sumatera tentu adalah buntut panjang dari kelakuan manusia itu sendiri! Manusia-manusia serakah yang hanya mengedepankan isi perutnya saja! Nah, begitulah cara pikir yang diinginkan oleh Tan Malaka! Radikal via materialis. Dan ini merupakan sebuah alat untuk terus mempertentangkan perjuangan kelas. 

Akhir kata saya ingin mengajak kawan-kawan sekalian untuk merenungkan tentang apa yang belakangan terjadi di negeri ini—pejabat blunder statement, bencana alam dipandang sebelah mata, demo besar-besaran, pejabat joget di istana—rakyat sengsara merana, undang-undang yang merugikan rakyat dikebut—yang menguntungkan di-skip, dan masih banyak lagi masalah di negeri ini yang saya yakin tidak muat untuk sekadar ditulis, semua itu akarnya selalu sama: penguasa yang serakah, kapitalis, dan kita perlu untuk terus melawan keserakahan tersebut. Namun untuk bisa melawan kita perlu mendidik terlebih dahulu diri kita, dan Madilog menurut saya adalah jawaban dari kebutuhan kita. Agar kita dapat berpikir secara matematis, rasional, logis, pandai berdialog melalui pengaplikasian dialektika, niscaya dengan masyarakat baru ini kita dapat terus memperjuangkan perjuangan antarkelas. Melawan para tirani, koruptor, inkompetensi, kapitalis, dan semua wajah buruk yang ada di atas sana. Hidup perjuangan! Salam masyarakat baru!


12/05/2025

Aku Berharap Ini Tak Terjadi Kepadamu

 

            Pukul setengah dua belas malam. Biasanya jam segini gue sedang scrolling media sosial, entah itu Tiktok atau Instagram, atau sekadar geser-geser story WhatsApp orang-orang di kontak gue. Namun, kali ini ada kegiatan yang agak di luar kebiasaan gue: jeprat-jepret musolla se-Kertijayan. Terdengar aneh, kurang kerjaan, dan “hey, buat apa sih?” Tapi ini adalah bagian dari tugas akhir mata kuliah Peta Dakwah yang jujur gue selama satu semester nggak ngerti apa-apa.

            “Ini udah terakhir belum, Zim?” tanya Dayat yang menemani gue dalam proyek absurd ini.

            “Udah, sekarang kita ke minimarket kayak lo bilang tadi. Yang musolla di bawah tower skip aja, rame orang…”

            Sesi susur musolla dan pemotretan usai. Ada dua puluh satu musolla yang terdata dan masih kurang satu karena kami terlalu malu untuk bilang permisi. Sekarang tinggal belanja kecil-kecilan di minimarket lalu makan bersama dan bercerita. Oh, ya, beberapa saat sebelumnya ada Revo yang juga ikut nugas di rumah gue—tugas Studi Kebijakan Dakwah dan Statistika Sosial. Revo juga memberikan tutor pada gue dan Dayat pada mata kuliah Statistika Sosial. Selesai dengan itu semua, ia pulang. Arigatou, Sensei.



            “Yah, sayang banget ya Revo nggak ikutan nginep,” kata gue.

            “Ya udah sih…”

            Kami duduk di teras rumah gue usai menyeduh mie instan cup yang kami beli dari minimarket beberapa saat sebelumnya. Gue beli Indomie Tori Miso sedangkan Dayat Pop Mie Pedes Gledek Jontor atau apalah namanya yang jelas itu pedas, lebih pedas dari kritik, akh itu dia!

            Dari sini tanpa direncana kami mengeluarkan semua keluhan kami tentang keadaan di saat ini: persoalan kuliah, rumah, organisasi, bahkan cinta. Dayat dengan ketidakpercayaandirinya atas peran yang ia emban saat ini, yaitu Ketua Umum HMPS, sedangkan gue masih dengan pencarian jati diri dan, yes, klise sekali, pencarian seorang teman hidup untuk diri.

            Tidak jarang juga kami mengingat kembali masa-masa indah di awal-awal perkuliahan—mulai masuk kuliah hingga dibentuknya grup diskusi yang kini kian sepi karena urusan sendiri-sendiri.

            “Gue kangen masa-masa semester dua di mana kita ngumpul bersama, diskusi sampe magrib di perpus…” mata Dayat kosong, namun tangannya tertuju pada sumpit yang ia pegang untuk menyantap mie.

            “Gue juga, Yat. Itu adalah masa-masa keemasan yang sekarang susah diulang. Kita semua udah punya tempat sendiri-sendiri.”

            “Waktu itu jadi titik balik di mana gue berhasil nurunin ego gue. Gue jadi tahu bahwa di dunia ini ada banyak orang yang lebih pinter dari gue.”

            Dayat sedikit menceritakan kisahnya sebelum bertemu gue dan kawan-kawan di grup diskusi “Nanti Kita Cerita Tentang 14 Juni”. Kurang lebih gue tangkap kesimpulannya adalah dia seorang yang cukup narsistik di kelas—dia suka membunuh mahasiswa dan mahasiswi yang sedang presentasi dengan pertanyaan-pertanyaannya. Namun ketika bertemu dengan gue dan kawan-kawan lain, hal itu berangsur menurun intensitasnya. Bukan dalam artian buruk, ia jadi hanya lebih mawas diri.

            “Sekarang udah pada sibuk sendiri… Ali jadi ketua ukm studi gender, gue, lo, sama Desi di HMPS, Yaya dan Lutfi dengan program pengabdian mereka, dan lain-lain… Revo dengan kerjaannya, dan lo…”

            “Kuliah, kerja, HMPS, IPNU. Hahaha… Masih napas aja gue bersyukur,” jawab gue sinis.

            Perbincangan beralih tentang keresahan gue yang belakangan ini merasa sering sendirian di kampus. Itu semua dimulai di hari Selasa, 06 Mei 2025 kemarin. Waktu itu gue baru saja keluar dari kelas Jurnalistik Radio & TV sekitar pukul 09.30, tapi untuk pertama kalinya gue nggak punya tujuan. Biasanya gue akan ke perpustakaan untuk sekadar duduk-duduk di cafĂ© baca, atau pergi ke lantai dua perpustakaan untuk membaca buku, tapi kali ini tidak, gue benar-benar tidak punya tujuan. Gue hanya duduk selama dua jam di parkiran FUAD bagian selatan. Duduk menghadap ke gedung Student Center sambil melamun merenungi secara mendalam tentang perubahan yang terjadi di semester ini.

            “Ini serius gue balik jadi penyendiri kayak awal semester satu?” gumam gue lirih dalam sesi duduk dan melamun itu—lalu ini gue ceritakan ke Dayat.

            “Lo geger kesepian-kesepian gini pasti abis ditolak cewek lagi ya?” Dayat memotong cerita gue dengan pertanyaan yang menohok.

            “Enggak, Yat.”

            “Ngaku aja lo, kapan terakhir kali nembak cewek?” tangan Dayat menunjuk ke gue dengan sumpit kematiannya.

            “Bulan kemarin.”

            “Nah, kan… Lo tuh gitu sukanya. Udah berapa kali berarti ini? Sepuluh kali? Sebelas? Mau sampai kapan, Zim?”

            Gue diam. Sesekali bergeleng kecil dan tersenyum tipis, sinis, seperti menertawakan diri sendiri yang terjebak dalam kubangan yang sama setiap waktunya.

            “Kalau gue bilang sama cewek yang gue dekati saat ini bahwa gue akan stop jadi orang yang gonta-ganti kayak gini, apakah akan worth it, Yat? Menurut gue enggak.” gue bertanya, namun gue jawab sendiri, dilanjutkan dengan monolog panjang, “Gue sendiri capek terus-terusan gini, ya gue penginnya stay di satu orang terus berkembang bareng, tapi kan lo tahu sendiri selalu endingnya gimana? Ditolak lah, dibohongin lah, persetan itu semua! Gue udah bertekad padahal, Yat, ini adalah terakhir kalinya gue mau suka sama seseorang dan gue mau jadikan dia sebagai tujuan jangka panjang, tapi… orang ini kayaknya nggak yakin sama gue karena track record playboy gue.”

            Dayat menyela monolog gue.

            “Ya iyalah, track record lo itu catatan panjang yang buruk. Itu ngrusak reputasi lo. Dulu aja pernah ada temen cewek yang nanya ke gue, ‘Kenapa sih Azim doyan gonta-ganti cewek?’. Itu bukti bahwa catatan lo udah diketahui orang-orang, dan efeknya buruk!” omongan Dayat mulai terasa pedas, barangkali efek dari mie instan yang ia konsumsi.

            “Gue bukan doyan ganti, tapi terpaksa pindah. Gue aja kalo bisa ngehapus semua catatan itu, pengen banget, Yat, gue hapus. Soalnya gue pengen berubah… Tapi dengan catatan yang udah terlanjur merah, gue mau berubah jadi terhalang, jadinya kayak malah nambah catatan lagi.”

            “Sekarang gue tanya, Zim. Kenapa lo harus punya cewek? Kenapa harus dapetin cewek?”

            Pertanyaan yang simpel, namun sukses membuat gue terdiam selama beberapa menit hanya untuk memikirkan jawabannya, dan gue sendiri sampai detik ini belum menemukan jawabannya. Tapi, untuk menjawab pertanyaan Dayat, gue ngelantur dengan jawaban asal-asalan.

            “Bukan harus dapet, tapi harus ada. Sekarang pertanyaannya ‘Kenapa harus ada cewek di dekat gue?’ Dan pertanyaan itu akan bisa gue jawab kayak gini, ‘Ada kepingan puzzle yang hilang di hidup gue dan hanya sesosok cewek yang pengertian (dalam hal ini tujuan gue adalah menjadikannya pasangan) bisa melengkapi kepingan tersebut.”

            “Dan apa berhasil? Lo selalu gagal… Kenapa kepingan puzzlenya harus dilengkapi oleh seorang cewek?”

            “Kalau cuma teman atau sahabat kayak kalian gue ngerasa nggak cukup, lihat aja sekarang, gue ke mana-mana harus sendiri lagi kayak semester satu, persis kayak yang gue cerita tadi. Gue sendirian, Yat, gue ulangi, gue sendirian.”

            Dayat diam. Sesekali kembali melanjutkan pergelutan sumpit dan mie instannya. Begitu pula dengan gue. Udara malam itu terasa dingin namun suasana diskusi gue dengan Dayat membuatnya tidak terasa begitu dingin. Sudah lama gue tidak merasakan kebersamaan yang menghangatkan seperti ini. Jujur, jika bisa, gue ingin kami semua dalam grup diskusi bisa terus bersama tanpa terpolarisasi seperti saat ini.

            “Ya… begitulah, Zim… Tapi, saran gue, lo berhenti deh main cewek-cewekan.”

            Nasihat yang sama untuk kesekian kalinya, pernah gue dengar juga dari Hillan, Haekal, Yaya, dan bahkan Ali. Semua mengatakan hal yang sama, namun Si Bangsat ini tak pernah berubah dari tabiat busuknya.

            Sekarang, bisakah ia menghapus semua noda merah dalam catatannya tersebut?