Langsung ke konten utama

Postingan

Membaca Film Spider-Man Brand New Day sebagai Pengingat bahwa Manusia tak bisa Hidup Sendirian

  Film Spider-Man terbaru yang berjudul “Brand New Day” dapat dikatakan sukses besar. Film arahan Destin Daniel Cretton tersebut telah meraup lebih dari 500 juta dolar AS (sekitar Rp8,90 triliun) dalam tujuh hari pertama penayangannya. Capaian itu membuat Brand New Day menjadi film tercepat yang menembus angka setengah miliar dolar AS di Amerika Utara. Dan angka ini akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Film ini berkisah tentang kehidupan baru Peter Parker setelah kejadian di film sebelumnya yaitu No Way Home yang berakhir cukup tragis: Doctor Strange harus merapal mantra agar semua orang di dunia ini melupakan keberadaan Peter Parker—buntut panjang dari konflik dengan Quentin Beck alias Mysterio dalam film Far From Home. Secara garis besar ide utamanya cukup sederhana, yakni menceritakan kehidupan Peter Parker sebagai Spider-Man di lingkungan jalanan New York. Tentu ini membawa perasaan nostalgia terhadap film-film lawas Spider-Man. Sebut saja Spider-Man yang diperanka...
Postingan terbaru

Alienasi dan Diskriminasi terhadap Mahasiswa Internasional

              Minggu sore, 12 Juli 2026. Saya baru saja pulang dari Stadion Hoegeng Pekalongan bersama Haroon setelah berlatih passing sepakbola. Haroon adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa internasional di UIN Gusdur yang berteman dengan saya. Pertama kali saya bertemu Haroon 28 Januari 2026, waktu itu Humas UIN Gusdur membutuhkan talent untuk video promosi kampus tentang keberadaan mahasiswa internasional di UIN Gusdur. Intinya video tersebut bermaksud memberitahu khalayak bahwa di kampus kami ada mahasiswa internasional yang berkuliah di dalamnya. Kebetulan sekali pada bulan Oktober 2025 saya sempat menjadi talent untuk video profil kampus, waktu itu Bu Afina Fahru yang menggandeng saya ke dalam projek tersebut, sebab beliau tahu saya menjadi aktor utama dalam film “Evakuasi” yang merupakan projek UAS dalam mata kuliah Sinematografi & Dramaturgi yang diampu beliau. Jadi saya ditarik untuk projek Humas ini ka...

Memotret Kohesi Sosial Kliwonan Wonoyoso dari Sudut Pandang Individualisme

             Pagi hari. Waktu paling umum bagi sebagian besar masyarakat kelas pekerja untuk berangkat bekerja. Pun juga waktu paling umum untuk berangkat sekolah atau kuliah. Akan tetapi pengalaman berangkat bekerja atau sekolah & kuliah ini akan terasa berbeda jika harus melewati rute Jalan Raya  Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut di hari Jumat Kliwon. Ada pemandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya, yakni kerumunan pedagang jajan, pakaian, dan lain-lainnya berjejer di pinggir jalan sepanjang Jalan Raya Kertijayan hingga Jalan Raya Sapugarut.             “Kliwonan” atau “Pasar Kliwon” begitu warga setempat menyebutnya. Merupakan semacam tradisi spiritual yang sudah dilestarikan warga Desa Wonoyoso dan sekitarnya sejak lama sekali. Pusat tradisi ini sebenarnya berada pada Masjid Jami’ Wonoyoso yang konon katanya memiliki sumur keramat—jika mandi atau mi...

Review Film Civil War

  Pernah kebayang gak seorang Pablo Escobar dan bini-nya Spider-Man, Mary Jane, collab dalam satu kumpulan adegan menjadi jurnalis yang meliput perang? Yap, kamu tidak salah dengar. Kumpulan adegan tersebut merupakan film berjudul “Civil War” yang rilis tahun 2024 lalu. Disutradarai oleh Alex Garland dan diprakarsai oleh studio A24 yang konon terkenal dengan film-film bertema disturbing dan absurd. Film ini berkisah tentang jurnalis fotografer Bernama Lee Smith, diperankan oleh Kirsten Dunst yang terkenal karena perannya sebagai Mary Jane dalam trilogi Spider-Man-nya Sam Raimi, dan Joel yang diperankan oleh Wagner Moura yang juga dikenal luas karena perannya sebagai Pablo Escobar dalam serial Narcos tayang di Netflix. Film ini berlatar di Amerika Serikat yang sedang mengalami goncangan politik dikarenakan Presiden mereka telah memasuki periode ketiga dan konon menjadi pemimpin yang dictator. Hal ini kemudian memicu ketidaksetujuan banyak pihak, sehingga melahirkan gerakan separa...

Satu Gagang Sapu

       Sabtu, 11 April 2026. Saya bangun tidur dengan perasaan lega karena baru saja menuntaskan satu tanggung jawab. Ketika mata melek, tak ada perasaan berat seperti beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi perasaan tersebut ternyata tidak bertahan lama--langsung terusik oleh postingan status whatsapp salah satu teman di kampus yang baru saja dilamar oleh kekasihnya.    Bukan, bukan berarti saya cemburu karena teman saya dilamar. Pun kalau bisa dikata cemburu, konteks cemburunya bukan cemburu secara romantis, saya lebih memilih cemburu secara finansial. Sebab, secara praktis, mereka yang telah berani menapaki jalan menuju pernikahan artinya sudah bisa dikatakan mapan (walaupun tentu tidak sepenuhnya) baik secara finansial maupun mental dan aspek lainnya.      Saya mbatin sejenak, "Memang ya, bangun tidur itu harusnya langsung solat subuh habis itu olahraga atau baca buku, bukan malah buka medsos." Baru satu postingan saja sudah bikin saya mbat...

Rangkuman Madilog: Bagian Pertama

Bagian Pertama: Logika Mistika             Tan Malaka tidak banyak basa-basi dan langsung mengajak para pembaca untuk berhadapan dengan pemikiran yang sudah sejak lama sekali ada, namun pemikiran tersebut menghambat/membelenggu cara pikir rasional dan sains. Beliau memulai dengan mengutip firman Mahadewa Ra, salah satu Dewa yang disembah dalam kepercayaan Mesir Kuno, yang bunyinya sebagai berikut:             “Ptah: maka timbullah bumi dan langit. Ptah: maka timbullah bintang dan udara. Ptah: maka timbullah Sungai Nil dan daratan. Ptah: maka timbullah tanah subur dan gurun.”             Kutipan firman Mahadewa Ra ini jadi gambaran umum tentang logika mistika, premisnya ada pada rohani spiritual, ide Dewa. Rohani dianggap sebagai sumber yang maha kuasa dan dia yang kemudian menciptakan zat materi/benda hanya dengan firm...

Madilog sebagai Antitesis Pemikiran Mistis yang Kolot

               Ibrahim Datuk Sutan Malaka, atau kita semua sering mendengar namanya sebagai Tan Malaka, lahir di Nagari Pandam Gadang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat pada tanggal 02 Juni 1897. Beliau lahir dari pasangan HM. Rasad Chaniago, seorang buruh tani, dan Rangkayo Sinah Simabur, seorang putri dari tokoh terpandang.             Tan Malaka memiliki keterampilan berbahasa Belanda, dan di masa produktifnya dalam belajar sejak kecil sampai dewasa, yaitu tahun 1909-1919, beliau mendapat gelar Diploma Hulpacte (semacam sertifikat layak mengajar) atas kelulusannya dari Rijks Kweekschool (Sekolah Guru Negeri) di Haarlem, Belanda .   Kegemaran beliau membaca buku-buku seputar pandangan budaya dan politik para pemikir Jerman membuat beliau terpantik dan angkat topi dengan kebudayaan dan pandangan politik Jerman. Hal ini kemudian menjadi arah panutan politik Tan Malaka yang mend...