Langsung ke konten utama

Aufa, Birthday, dan Arloji

ULANG TAHUN. Adalah sebuah kalimat yang sangat berarti untuk orang-orang yang berpacaran. Lah, lalu bagaimana dengan jomlo? Lupakan. Ulang tahun, bagi sebagian orang adalah hari yang sangat membahagiakan. Pada hari tersebut orang-orang memperingati hari kelahiran mereka. Biasanya mereka diberi hadiah atau ditraktir teman. Atau paling tidak dirayakan dengan pesta.

Ada cerita unik tentang ulang tahun. Ini tentang kelahiran gue. Gue lahir pada tanggal 27 September 2005 M, bertepatan dengan 23 Sya'ban 1426 H. Oleh karena itu, nama panjang gue memiliki unsur Sya'ban. Cieee. Dulu nyokap pengin banget punya anak perempuan, mungkin karena abang gue adalah cowok, ya iyalah, kan abang. Kalo mbak itu baru cewek. Nggak jelas banget.
 Ketika nyokap hamil gue, beliau sudah berencana memberi gue nama "Azimatul Khumaya", oke gue tahu kalian lagi ketawa di bagian ini, kampret. Namun, impian nyokap untuk menggendong anak perempuan, mengajarinya panah-memanah, balerina, investasi, loh jauh banget.

Impian nyokap untuk memakaikan anak perempuannya baju unyu-unyu dan mengajarinya memasak akhirnya sirna. Pada tanggal 27 September 2005 silam justru gue yang lahir. Makanya, nama Azimatul Khumaya berubah menjadi Azimatus Sya'bana. Kata nyokap artinya "Mutiara Yang Indah di Bulan Sya'ban". 
" Mutiara kok gini, Mak? Ngeselin mukanya." batin gue bingung.

Ngomongin soal ulang tahun, beberapa hari yang lalu Aufa baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke... ke berapa? Aufa siapa? Amnesia sesaat.
Gue nggak tahu spesifik ini ulang tahun Aufa yang ke-berapa. Namun, gue menyadari ada sesuatu yang sangat berbeda di hari setelah tanggal lahirnya. Dia memakai sesuatu yang berkilau di tangan kirinya. Menyilaukan mata gue. Buta sesaat. Benda tersebut adalah arloji mehong cap "Lorex" bener nggak sih itu namanya?

Aufa memamerkan benda mengkilau tersebut di hadapan gue ketika gue hendak pergi ke ruangan staff TU madrasah bersamanya waktu pulang sekolah. Ngode. 

Gue bertanya kepadanya, "Jam dari siapa tuh? Keren. Merek Lorex."
"Kepo lo, kayak petugas sensus." jawabnya singkat, padat, dan nggak jelas.
Gue kemudian berteori, Aufa ini kulitnya putih, wajahnya bening, tampan dan pemberani... Squidward Tentacle. Punya badan tinggi semampai proporsional. Nah, sudah tentu ini dari ceweknya.
"Ini gue dikasih cewek gue yang di luar kota, Cindy." 
"Lahh, emang cewek lo di mana aja?" gue menohok. Hening. 

Kami tidak mengobrol sampai kami akhirnya tiba di gedung madrasah putri, dan inilah yang disebut dengan 'tantangan hidup'. For your information, sekolah gue ini gedung putra dan putrinya dipisah, gedung putra di sebelah utara, sedangkan gedung putri di sebelah selatan. Mengapa demikian? Karena sekolah gue adalah sekolah yang unik, menerapkan sistem pondok pesantren. WELCOME TO MA SALAFIYAH SIMBANGKULON, MY BROOO!
Ketika sampai di gedung madrasah putri, ternyata masih ada anak-anak putri yang sedang nongkrong di fotokopian, inilah bedanya cowok dan cewek; cowok nongkrong di warung, sedangkan cewek nongkrong di fotokopian, keren, nggak pegel tuh nongkrong di atas mesin fotokopi?
Di sinilah hal yang gue benci terjadi. Banyak cewek-cewek yang mengidolakan Aufa bergerombol berteriak nggak jelas. Dan menari Tor-tor pastinya. 
"Eh, itu kan mas Aufa kann?? Ih dia itu ganteng banget." bisik seorang cewek yang berkerudung. Lah, berkerudung semua. 
"AAAAAA MAS AUFAAA CALON IMAMKUUU." sahut salah seorang cewek.
"AUFAAA, AUFAAA." mereka semua serentak meneriakkan yel-yel penyambutan Aufa. Layaknya peresmian gedung perusahaan oleh presiden. Sedangkan gue nggak disambut. Datangku tak diinginkan, pergiku tak ditanyakan, hilangku tak dipedulikan, nasib...
#nowplaying: Bondan Prakoso - Ya Sudahlah.

"Kok pada neriakin nama lo sih, Fa? Nggak ada yang neriakin nama gue, nih?" tanya gue kesal.
"Ini arloji gue keren banget sumpah." jawabnya ngasal.
"BELAGU BANGET LO BARU DIKASIH ARLOJI DOANG! BESOK GUE PAKE JAM MESJID DI TANGAN KIRI GUE!" gue murka lalu melompat dan menendang Aufa dengan jurus tendangan sepeda ala Liu Kang.
Hari itu gue tahu sesuatu; Aufa bahagia. Dan untuk orang-orang yang sedang ulang tahun di masa-masa kasmaran memang kurang lengkap jika tidak mendapat sebuah bingkisan atau hadiah dari seseorang yang sedang di-ehemi.
Setidaknya meski gue kesal, gue juga senang melihatnya. Gue juga pernah merasakan hal serupa tahun lalu. Tapi kayaknya nggak usah diceritain aja ya? Hahaha.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memotret Kohesi Sosial Kliwonan Wonoyoso dari Sudut Pandang Individualisme

             Pagi hari. Waktu paling umum bagi sebagian besar masyarakat kelas pekerja untuk berangkat bekerja. Pun juga waktu paling umum untuk berangkat sekolah atau kuliah. Akan tetapi pengalaman berangkat bekerja atau sekolah & kuliah ini akan terasa berbeda jika harus melewati rute Jalan Raya  Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut di hari Jumat Kliwon. Ada pemandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya, yakni kerumunan pedagang jajan, pakaian, dan lain-lainnya berjejer di pinggir jalan sepanjang Jalan Raya Kertijayan hingga Jalan Raya Sapugarut.             “Kliwonan” atau “Pasar Kliwon” begitu warga setempat menyebutnya. Merupakan semacam tradisi spiritual yang sudah dilestarikan warga Desa Wonoyoso dan sekitarnya sejak lama sekali. Pusat tradisi ini sebenarnya berada pada Masjid Jami’ Wonoyoso yang konon katanya memiliki sumur keramat—jika mandi atau mi...

Satu Gagang Sapu

       Sabtu, 11 April 2026. Saya bangun tidur dengan perasaan lega karena baru saja menuntaskan satu tanggung jawab. Ketika mata melek, tak ada perasaan berat seperti beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi perasaan tersebut ternyata tidak bertahan lama--langsung terusik oleh postingan status whatsapp salah satu teman di kampus yang baru saja dilamar oleh kekasihnya.    Bukan, bukan berarti saya cemburu karena teman saya dilamar. Pun kalau bisa dikata cemburu, konteks cemburunya bukan cemburu secara romantis, saya lebih memilih cemburu secara finansial. Sebab, secara praktis, mereka yang telah berani menapaki jalan menuju pernikahan artinya sudah bisa dikatakan mapan (walaupun tentu tidak sepenuhnya) baik secara finansial maupun mental dan aspek lainnya.      Saya mbatin sejenak, "Memang ya, bangun tidur itu harusnya langsung solat subuh habis itu olahraga atau baca buku, bukan malah buka medsos." Baru satu postingan saja sudah bikin saya mbat...

Alienasi dan Diskriminasi terhadap Mahasiswa Internasional

              Minggu sore, 12 Juli 2026. Saya baru saja pulang dari Stadion Hoegeng Pekalongan bersama Haroon setelah berlatih passing sepakbola. Haroon adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa internasional di UIN Gusdur yang berteman dengan saya. Pertama kali saya bertemu Haroon 28 Januari 2026, waktu itu Humas UIN Gusdur membutuhkan talent untuk video promosi kampus tentang keberadaan mahasiswa internasional di UIN Gusdur. Intinya video tersebut bermaksud memberitahu khalayak bahwa di kampus kami ada mahasiswa internasional yang berkuliah di dalamnya. Kebetulan sekali pada bulan Oktober 2025 saya sempat menjadi talent untuk video profil kampus, waktu itu Bu Afina Fahru yang menggandeng saya ke dalam projek tersebut, sebab beliau tahu saya menjadi aktor utama dalam film “Evakuasi” yang merupakan projek UAS dalam mata kuliah Sinematografi & Dramaturgi yang diampu beliau. Jadi saya ditarik untuk projek Humas ini ka...