Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2024

Malioboro dan Fotografer Patah Hati

  Jogja selalu membuat setiap orang yang pernah hadir secara fisik di sana untuk kembali karena rindu yang menggebu. Mungkin benar adanya penggalan sajak dari Joko Pinurbo yang berbunyi, "Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan", sebab ia benar-benar memiliki magnet yang selalu membawa kembali orang-orang yang pernah ke sana, tidak terkecuali gue. Iya... Gue. Tahun 2024 ini adalah keempat kalinya gue menginjakkan kaki di Jogja, pertama kali di tahun 2019 bersama IPNU IPPNU Kertijayan dalam rangka wisata religi, lalu 2021 masih bersama IPNU IPPNU Kertijayan, dan terakhir 2022 ketika gue diajak Nabil teman MA gue ikut Bokapnya dagang di Pasar Beringharjo, munkin jika berkenan suatu hari gue akan ceritakan yang terakhir itu. Kembalinya gue ke Jogja di awal tahun 2024 juga menandai dimulainya resolusi tahun baru gue yang sudah gue rancang sejak akhir tahun 2023 kemarin, yakni berhenti sejenak dari hiruk pikuk percintaan dan menjalani hidup sebagaimana mestinya gue haru...

Taro Latte pt 2: Kehidupan Sang Troublemaker

  Lanjutan dari part sebelumnya… Mendengar kata jodoh, Mbak Diah mengencangkan posisi duduknya dan mencoba mendengarkan gue dengan saksama. Lalu, gue jelaskanlah aplikasi marketing dalam mencari jodoh tersebut. Mereka semua amaze. “OH TERNYATA GITU? Bagi link podcastnya, biar gue juga nonton langsung,” ujarnya antusias.             “Taro Latte, Cappucino, sama Mie Dokdok duanya, Kak.” Waiters menghampiri tempat duduk gue. Menaruh pesanan gue di meja yang sudah sesak dengan buku dan tas—juga segala cerita absurd gue.             “Ini namanya apa tadi?” tanya gue pada seluruh hadirin di meja ini—sambil memegangi gelas berisi Taro Latte yang baru saja dihantarkan Waiters.             “Taro Latte,” jawab Muslimah.             “Sekarang jadi Angkat Latte.” G...

Taro Latte dan Ban Lepas

              Pukul sepuluh malam, saat jalanan mulai sepi namun aktivitas di alun-alun menunjukkan hal sebaliknya. Dua orang pemuda semi-stabil berjalan-jalan di area alun-alun sambil menguliti tiap aspek yang ada di dalamnya. Salah satu dari pemuda itu terlihat antusias sebab ia tak pernah pergi ke alun-alun dengan tatanan yang baru ini. Ya, mereka adalah gue dan Dayat yang baru saja selesai gathering di kafe Lancar Abadi. “Lho, kok air mancurnya berhenti sendiri, Yat?” gue kebingungan menyaksikan air mancur alun-alun Kajen yang mendadak berhenti melakukan atraksinya.             “Kayaknya barusan lo ngucapin kata rahasia, deh, makanya jadi gitu,” jawab Dayat.             “Ya udah ayok balik mukul-mukul yang kuning tadi.”             Kami pun melanjutkan ...