“Merunduk, Ghoz!” gue melompat dan menerjang tubuh Ghozali sembari menyembunyikannya di balik tangga turun gedung Ormawa di samping gedung Student Centre. Hal ini gue lakukan bukan tanpa sebab. Dikarenakan ada sosok manusia mengerikan yang sedang mengintai keberadaan kami. “Ada apa?” tanya Ghozali. “Si Genderuwo! Yang tadi malam nyari gue lewat perantara anak kelas kita!” seru gue sambil masih memajang raut muka khawatir. “Oalah…” Kami bersembunyi dari sosok tersebut sekitar lima belas menit. Ketika keadaan dirasa sudah mulai kondusif, barulah gue melepaskan Ghozali untuk kembali melanjutkan aktifitasnya. Demikian pula gue. ...
Bernarasi sesuka hati. Berbiasalah, berbahagialah!