Langsung ke konten utama

Kesepian

     Belakangan ini benar-benar nggak ada sesuatu yang epic untuk gue tulis. Nggak ada cewek yang ngungkapin perasaannya ke gue seperti beberapa minggu yang lalu. Nggak ada hal yang benar-benar membuat gue melek untuk semangat menjalani hidup.
    Rasanya keadaan selalu berputar. Ada fase di mana gue bahagia, ketawa tanpa beban. Ada pula masanya di mana gue sedih, nggak tau harus ngapain. Gue ngerasa hidup gue makin asem untuk dijalani. Setiap kali gue pergi ke luar, di jalan, gue selalu melihat orang-orang berboncengan dengan pacarnya. Kalau pun mereka jomblo, setidaknya mereka punya sahabat yang bisa diajak mengobrol di atas sepeda motor. Gue tidak.
   Orang yang dulu selalu nemenin gue di atas sepeda motor sudah pergi. Pergi jauh untuk menuntut ilmu. Orang yang dulu berada di jok belakang gue juga sama, sudah pergi karena kami sudah tidak ada hubungan alias putus. Keadaan agak membingungkan. 

Well, sebenarnya gue punya banyak teman, namun susah mencari sahabat seperti Miftah. Baqi, setiap hari jumat di rumah neneknya, namun selain hari jumat gue sulit ketemu dia. Toni, sekarang dia sibuk dengan kegiatannya sebagai mahasiswa baru. Dan teman-teman lain... entahlah, gue kurang nyaman jika harus berpergian dengan selain mereka bertiga ini. Kalau gue pergi dengan Nabil, risikonya gue masuk koran dan rumah sakit, dia nggak punya etika berkendara alias selap-selip dan punya mulut yang cal-cul (asal ngomong).
 Kalau gue pergi dengan Ainun, tetangga depan rumah gue, yang terjadi adalah seakan-akan ada dua patung sedang mengendarai sepeda motor. Gue susah akrab dengan dia dari cara gue bercanda. Gue bercanda dengan lelucon-lelucon ala Raditya Dika, sedangkan Ainun adalah manusia normal yang notabene tertawa beberapa detik dalam satu hari saja.

 Untuk saat ini gue lebih memilih memeluk bantal guling gue dan ditemani handphone gue yang sering mengalami ghost typing. Gue menulis diary ini dengan masih mengeluh. Mengapa Angel sampai sekarang masih susah untuk mengobrol dengan gue di WhatsApp? Mengapa gue nggak berani datang ke rumahnya untuk mengambil buku yang sedang gue pinjamkan? Mengapa setiap gue buka handphone udah nggak ada chat yang dia mulai terlebih dahulu?. 
Untuk saat ini mengeluh rasanya enak banget. Lebih enak dari es krim yang meleleh, apaan sih? Metafora gue jelek banget.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memotret Kohesi Sosial Kliwonan Wonoyoso dari Sudut Pandang Individualisme

             Pagi hari. Waktu paling umum bagi sebagian besar masyarakat kelas pekerja untuk berangkat bekerja. Pun juga waktu paling umum untuk berangkat sekolah atau kuliah. Akan tetapi pengalaman berangkat bekerja atau sekolah & kuliah ini akan terasa berbeda jika harus melewati rute Jalan Raya  Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut di hari Jumat Kliwon. Ada pemandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya, yakni kerumunan pedagang jajan, pakaian, dan lain-lainnya berjejer di pinggir jalan sepanjang Jalan Raya Kertijayan hingga Jalan Raya Sapugarut.             “Kliwonan” atau “Pasar Kliwon” begitu warga setempat menyebutnya. Merupakan semacam tradisi spiritual yang sudah dilestarikan warga Desa Wonoyoso dan sekitarnya sejak lama sekali. Pusat tradisi ini sebenarnya berada pada Masjid Jami’ Wonoyoso yang konon katanya memiliki sumur keramat—jika mandi atau mi...

Satu Gagang Sapu

       Sabtu, 11 April 2026. Saya bangun tidur dengan perasaan lega karena baru saja menuntaskan satu tanggung jawab. Ketika mata melek, tak ada perasaan berat seperti beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi perasaan tersebut ternyata tidak bertahan lama--langsung terusik oleh postingan status whatsapp salah satu teman di kampus yang baru saja dilamar oleh kekasihnya.    Bukan, bukan berarti saya cemburu karena teman saya dilamar. Pun kalau bisa dikata cemburu, konteks cemburunya bukan cemburu secara romantis, saya lebih memilih cemburu secara finansial. Sebab, secara praktis, mereka yang telah berani menapaki jalan menuju pernikahan artinya sudah bisa dikatakan mapan (walaupun tentu tidak sepenuhnya) baik secara finansial maupun mental dan aspek lainnya.      Saya mbatin sejenak, "Memang ya, bangun tidur itu harusnya langsung solat subuh habis itu olahraga atau baca buku, bukan malah buka medsos." Baru satu postingan saja sudah bikin saya mbat...

Alienasi dan Diskriminasi terhadap Mahasiswa Internasional

              Minggu sore, 12 Juli 2026. Saya baru saja pulang dari Stadion Hoegeng Pekalongan bersama Haroon setelah berlatih passing sepakbola. Haroon adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa internasional di UIN Gusdur yang berteman dengan saya. Pertama kali saya bertemu Haroon 28 Januari 2026, waktu itu Humas UIN Gusdur membutuhkan talent untuk video promosi kampus tentang keberadaan mahasiswa internasional di UIN Gusdur. Intinya video tersebut bermaksud memberitahu khalayak bahwa di kampus kami ada mahasiswa internasional yang berkuliah di dalamnya. Kebetulan sekali pada bulan Oktober 2025 saya sempat menjadi talent untuk video profil kampus, waktu itu Bu Afina Fahru yang menggandeng saya ke dalam projek tersebut, sebab beliau tahu saya menjadi aktor utama dalam film “Evakuasi” yang merupakan projek UAS dalam mata kuliah Sinematografi & Dramaturgi yang diampu beliau. Jadi saya ditarik untuk projek Humas ini ka...