Canggung

Huft... Oke, tarik napas. Jangan canggung lagi. WOI KALEM DONG. Oke, sekarang gue gila. 
Tulisan ini gue buat jam sebelas siang, ketika teman gue, Tamam menghampiri gue untuk mengajak gue pergi ke tukang kunci. Tamam ini adalah, eh bentar, kok jadi bahas Tamam sih?
Tadi malam gue memberanikan diri untuk mendatangi rumah Angel. Tentunya untuk mengambil buku yang sedang ia pinjam. Gue mempersiapkan segala kemungkinan, bahkan yang terburuk.  Rumah Angel ini besar, bahkan bisa dibilang mirip dengan istana Disney, oke gue ngelantur lagi. Malam hari tadi, gue coba chat dia, "Angel, di rumah nggak? Aku mau ngambil buku kemarin."
"Di rumah, Mas. Waduh maaf yaa, jadinya mas yang ngambil bukan aku yang ngembaliin." jawabnya di seberang.
"Udah gapapa santai aja." kata gue sok cool.
Mulailah gue menyusun rencana kepergian gue ke rumah Angel. Rencana pertama gue persiapkan untuk berjaga-jaga apabila gue harus berhadapan dengan bokapnya, konon katanya, ayah dari cewek yang rumahnya gede biasanya rada galak. Yang gue takutkan adalah ketika gue ketuk pintu rumahnya, terus bokapnya keluar, terus dia nanya: "Nyari sumbangan ya, Mas?"
Sial. 
Gue menyiapkan berbagai macam skenario dialog untuk menghadapi bokap Angel. Mulai dari yang paling rasional, "Saya temennya anak om, saya ke sini mau ngambil buku saya yang lagi dipinjem."
Lalu yang agak aneh, "Saya temennya anak om. Saya makan Beng beng-nya langsung." 
"KELUAR! KELUARGA INI MAKAN LANGSUNG!"
Sampai ke tahap yang paling tidak rasional dari sebuah obrolan, "Wahhh, selamattt. Anda berhak memenangkan uang tunai sebesar 12 juta rupiah tanpa dipotong pajak. Di sana ada kamera, di situ ada kamera, di sini ada kamera. Yeayyy!"
Mungkin yang lebih mengerikan dari bokapnya adalah nyokapnya. Kalau bokap Angel tanya "Mau nyari sumbangan?", mungkin nyokapnya lebih mengerikan. "Ohh, mau nglamar anak saya ya?" Oke, sampai sini gue udah kejauhan ngarang. 
Gue berangkat sekitar pukul 20.15-an. Gue nyampe di depan rumahnya pukul 20.19, gue buka handphone, lalu chat dia. 
"Aku di depan nih."
Beberapa saat kemudian muncul wanita berparas cantik nan tinggi semampai. Wajahnya berbinar disertai senyumannya yang manis dan bikin gue speechless. Dia adalah Angel. Terlihat di tangan kanannya sebuah buku yang sedang ia pinjam dan sebentar lagi bakalan kembali ke gue.
"Makasih ya, Mas." ucapnya disertai senyuman yang semakin melengkung.
"Iya, sama-sama, Angel." jawab gue dengan suara yang agak tenggelam karena gue memakai masker.
Kami tidak mengucapkan kata lain selain makasih dan sama-sama. Kami hanya beradu senyum. Gue kemudian berpamitan, "Yaudah aku langsung pulang aja ya."
"Iya, hati-hati di jalan."
Begitulah pertemuan kami. Di luar semua ekspektasi gue tentang bokapnya yang mantan polwan, atau ibunya yang mantan tentara angkatan laut, eh. 

Gue masih ada janji dengan Bang Khamid, purna organisasi jurnalistik di sekolah gue. Gue hendak bertemu dengannya di sebuah angkringan di desanya, Simbang Wetan. Tepat setelah gue berpisah dengan Angel, gue menuju rumah Bang Khamid.

Bang Khamid sedang mengunci rumahnya, terlihat dia sedang bersiap-siap untuk mengeluarkan sepeda motor dari garasi. Gue menghentikan tindakannya.
"Bonceng aja, Bang."
"Badan gue gede loh, nggak masalah motor lo?" sanggahnya.
"Ya dia nggak bakalan bilang 'jangan sih', dia kan motor." gue menyanggah balik.
"Yaudah yuk. Let's go."
Oh shit. Penjaja angkringan tersebut dari kejauhan sangat tidak asing untuk gue lihat penampilannya. Ya, dia ternyata Sinta, mantan pacar gue. Dia tidak sendirian, dia bersama kakak sepupunya, Karina. Sialan. Ini bakalan jadi malam yang sangat mencanggungkan. 
"Bang, lo yang pesen ya. Gue takut dibakar hidup-hidup." pinta gue kepada Bang Khamid.
"Yeee elo. Nervous ya? Lo sendiri yang ngajak ke mari. Yaudah deh, lo pesen apa?." jawabnya dengan disertai tawa kecil.
"Good Day Cappucino, anget."
Kami berdua duduk di sebelah barat. Tepat di sebelah Sinta yang sedang me-roasting jajanan angkringan. Gue canggung banget. Untuk membuang kecanggungan tersebut, gue langsung menjelaskan kepentingan gue mengajak Bang Khamid ketemuan, ciakh, lo kata pacaran?
"Bang, lokakarya apaan sih? Kepo nih gue, kata Arjun suruh bikin acara lokakarya lagi kayak jaman lu bang."
"Jadi gini...."
Bla... Bla... Bla...
Gue mengobrol ke sana ke mari sembari berusaha pura-pura nggak tahu kalau di situ ada Sinta. Jajan yang kami pesan pun datang, begitu juga kopi dan es teh yang kami pesan. 
Obrolan kami berlanjut. Gue mengeluarkan buku yang tadi gue ambil dari Angel, lalu menceritakan kejadian yang terjadi sepanjang malam tersebut.
"Buaya lu." teriak Bang Khamid.
"Nggak, gue bukan buaya... gue..."
"Cuma coba-coba." potongnya.

Sesekali di sela-sela kami mengobrol ada keheningan. Di situlah gue curi-curi pandang. Gue melihat Sinta sedang bolak-balik menyiapkan hidangan. Di lubuk hati gue yang terdalam, gue merasa iba. Timbul pertanyaan di hati gue, mengapa gue sejahat ini kepadanya? Mengapa gue tinggalin dia saat dia sedang sayang-sayangnya?
Di tengah-tengah semua kecanggungan yang ada pada malam itu, gue tersadar akan sesuatu. Gue jahat.

Komentar

Postingan Populer