“Habis ndhodhok ini selanjutnya prosesi apa lagi, Ma?” tanya gue. “Selanjutnya ada tukar cincin, itu masih bulan depan, kira-kira pertengahan Februari.” “Ohhhh begitu, kayak yang rame-rame bawa keluarga besar itu ya?” “Betul.” Minggu, 16 Februari. Gue bangun dengan perasaan yang samar-samar—antara senang dan bingung. Senang karena gue bangun ada hawa-hawa bahagia di sekitar gue yang memicu gue untuk mengucap syukur—ada banyak tetangga yang rewang di rumah gue. Bingungnya? Tentu saja karena masih terbawa narasi yang sama pada bab sebelumnya: semua ini untuk apa? Pernikahan itu sejatinya apa? Kenapa semua orang tersenyum di hari-hari dalam rangkaian acara ini, kecuali gue? ...
Bernarasi sesuka hati. Berbiasalah, berbahagialah!