Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Komedi cinta

Panduan Mempersiapkan Pernikahan Pt 2

  “Habis ndhodhok ini selanjutnya prosesi apa lagi, Ma?” tanya gue.             “Selanjutnya ada tukar cincin, itu masih bulan depan, kira-kira pertengahan Februari.”             “Ohhhh begitu, kayak yang rame-rame bawa keluarga besar itu ya?”             “Betul.”             Minggu, 16 Februari. Gue bangun dengan perasaan yang samar-samar—antara senang dan bingung. Senang karena gue bangun ada hawa-hawa bahagia di sekitar gue yang memicu gue untuk mengucap syukur—ada banyak tetangga yang rewang di rumah gue. Bingungnya? Tentu saja karena masih terbawa narasi yang sama pada bab sebelumnya: semua ini untuk apa? Pernikahan itu sejatinya apa? Kenapa semua orang tersenyum di hari-hari dalam rangkaian acara ini, kecuali gue?      ...

Team Up Bersama Bidadari

  Bulan Desember akhir tahun lalu gue resmi melepaskan Sembilan Bidadari yang gue temui di kampus melalui ritual camping bersama sahabat-sahabat gue. Status “ke-bidadari-an” mereka pun resmi hilang. Mereka kini hanya manusia biasa. Punya tujuan sama dan melangkah bersama gue di atas tempat yang sama di sini, di kampus.  Tidak mudah melepas mereka semua. Terlebih lagi mereka yang sudah terlanjur gue dekati dan berujung gagal. Lukanya sesekali masih datang menghampiri. Namun, berbeda dengan mereka yang belum sempat gue dekati. Keadaan justru berbalik. Seperti gue yang sering bertegur sapa dengan Bidadari Keempat dan sesekali mengobrol ringan, juga Bidadari Pertama yang berkesempatan satu tim dengan gue di sebuah kelompok belajar mata kuliah.  Bidadari Pertama, sebut saja dia Kaka, berkesempatan team up dengan gue pada mata kuliah Harmoni Sains dan Agama; mata kuliah yang terdengar asing di telinga gue. “Total pertemuan ada 16 sudah termasuk UTS dan UAS, berarti ada ...

Misteri Penemu Sweater

  Perlahan punggung Pak Syam, dosen Sosiologi, menghilang dari pandangan gue. Begitu pula dengan para mahasiswa lainnya. Gue sendirian di ruang 3.9 gedung FUAD. Gue mematikan semua kipas angin yang menyala, kemudian keluar dari ruangan dan turun ke lantai dasar. Gue melihat ke samping kanan-kiri dari tangga yang baru saja gue lalui. Tidak ada orang yang gue kenali di sini. Lalu, gue melangkah kea rah resepsionis, dan gue temukan sosok ini… “Ekhem…” dehem gue membangunkan sosok tersebut dari lamunannya. “Eh, Azim, sini duduk. Abis makul ya?” tanyanya. “Kita kan barusan sekelas, An. Masa ga ngeh?” balas gue. “Oh iya? Kok gue nggak lihat lo?” “Gue duduk di pojok.” “Pantesan…” Sosok tersebut adalah Andi, anak kelas B semester lalu yang pada semester kali ini kerap kali satu kelas dengan gue di beberapa mata kuliah. Kalau gue gambarkan, Andi ini punya style seperti Dilan yang diperankan oleh Iqbaal Ramadan. Dia sering pakai jaket denim dengan mengendarai sepeda motor C...

Aufa Vs Secret Admirer

              (Sambungan Bab Munculnya Bidadari Kesembilan) Gue meraih gitar di seberang gue yang sedari tadi nganggur. Gue kemudian menggenjreng dan menyanyikan lagu ciptaan gue: jeritan hati. Gue mengernyitkan dagu, memejamkan mata, dan ngeden skuat tenaga, yap, gue sekarang seperti orang sedang bab sambil kesurupan.             “Lah, kok nggak nyanyi nyanyi sih?” tanya Aufa.             “Kan jeritan hati, cuma gue yang bisa denger jeritan hati gue,” jawab gue enteng.             “Zim, gue mau cerita dong.”             “Ya, silakan, semua cerita dan keluhan Anda akan tetap kami rahasiakan karena itu adalah kebijakan Perusahaan konseling kami.” Oke, gue ngaco seperti biasa.     ...

Bidadari Berputar di Atas Pencakar Langit

     “Cinta adalah misteri dalam hidupku yang tak pernah kutahu akhirnya”, penggalan lirik lagu “Ku Ingin Selamanya” yang dilantunkan oleh band Ungu ini mendadak relate dengan gue. Bagaimana tidak? Dalam urusan percintaan gue seperti tidak bisa mendapati akhir ceritanya, selalu saja usai di tengah perjalanan, keputusan yang terburu-buru, dan akhir yang sebenarnya belum berakhir.      Sampai dua minggu yang lalu, saat gue bertemu si Bidadari 1, bahkan belum mulai melangkah saja gue sudah harus dipaksa mundur karena Sang Bidadari telah menyanding Pasangan. Huft. Tidak berhenti pada Bidadari 1, gue mencoba berpindah, seperti penggalan lirik lagu Hindia; Pindah berkala, rumah ke rumah. Eaaaa..      Total ada tujuh bidadari berputar di atas langit kampus, turun ke bawah dan “sempat menyapa” gue dalam beberapa waktu. Gue akan ceritakan mereka. Tentu saja dengan identitas yang gue rahasiakan. - Bidadari 2      Punya wajah manis yang...

Menuju Fase Selanjutnya Part 2

               Sambungan part 1 Dan setelah berjabat tangan dan bertukar senyum selama kurang lebih tiga puluh enam tahun, kami pun memasuki gedung yang dimaksud. Gedung UTIPD, atau apalah namanya. Kami masuk diikuti oleh beberapa calon mahasiswa lain di belakang kami, cewek dan cowok di sini berbaur, berbeda seperti di madrasah dulu. Hehehe. Saat memasuki ruangan gedung GPT, gue melihat sesosok Genderuwo yang sudah taka sing bagi gue, yap, dia adalah Sadad. Anak kelas agama yang kebetulan juga kuliah di sini. Gue bersyukur bisa bertemu teman satu sekolah, karena jika tidak maka gue harus berjabat tangan dengan cowok-cowok tadi lagi selama 36 tahun lamanya, sialan. “Akhirnya ketemu lu, Wo,” ledek gue. “Belagu,” jawab Sadad. “Ayok kita kumpulin DPM!” Sandi memutus pertengkaran singkat kami, “Punyamu gimana, Zim? Jadi minta tolong login?” sambungnya. “Iya, gih kalian ngumpulin DPM. Gue mau tanya sama bapak yang itu.” Dengan perasaan...