Langsung ke konten utama

Nyasar🗿

Kebanyakan orang ketika tersesat di jalan, tidak terlalu jauh dari tujuan mereka. Maksud gue, misalkan lo mau ke kota A, sebelum ke kota tersebut ada pertigaan, dan lo memilih belok kiri, sedangkan kota A ada di sebelah kanan. Kemudian lo sadar, "Oh, harusnya kanan." Lo puter balik, lalu sampai di kota A.
Namun, lain halnya dengan gue dan sekelompok manusia-manusia absurd di sekolah gue. Jadi begini ceritanya...

Ehem...
Hari sabtu kemarin, gue dan tujuh orang panitia kemah melakukan survei tempat di desa Rogoselo, sebuah desa di kabupaten Pekalongan yang terkenal karena ada makam wali agung di dalamnya. Tujuh orang tersebut adalah Aufa, Nabil, Imam si ketua Pramuka, Hikam "Si Kasur Air Berjalan", Fawaz, Fikri, dan Iffan. Yang satu adalah gue, jadi kami ber-8 pergi ke Rogoselo bersama-sama.

Perjalanan dimulai dengan menentukan siapa berboncengan dengan siapa. Gue berboncengan dengan Aufa, Nabil dengan Imam, Hikam dengan Fikri, dan Fawaz bersama dengan Iffan. Lalu kami berangkat pukul 14.00 WIB. 

Cuaca siang itu kurang bersahabat, dari pukul 13.00 mendung sudah terlihat. Kami semua hampir pesimis bakalan sampai ke sana. Namun, semua ke-pesimisan itu ditrobos oleh Nabil yang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan cahaya. Buset.
Ngungggg...
"MINGGIR MINGGIR!!! GUE BAWA AIR PANAS." teriaknya sambil memacu gas motor sekuat tenaga, Imam sampai pingsan dengan mata melotot.
"WOY, HATI-HATI DONG!" gue memperingatkan Nabil agar tidak memacu adrenalin di tengah misi mulia dari madrasah ini. Kalau sampai tewas, kan kita juga yang repot? Batin gue.
Kami berenam mengejar Nabil. Lalu gue menilang Nabil, set dah...
"Lo jangan ngebut dong! Kasian yang lain ketinggalan!" gue menatap Nabil dengan tatapan yang tajam, setajam silet.
"Iye iye iye..." Nabil mengiyakan peringatan gue dengan masih cengengas-cengenges.
Kami melanjutkan perjalanan dengan kecepatan sedang. Menikmati angin. Di tengah-tengah gue menikmati semilir angin yang menghanyutkan, Nabil memberhentikan sepeda motornya. Yang lain juga ikut berhenti.
"Kenapa?" tanya gue penasaran.
"Bensin kritis." muka Nabil langsung berubah aneh.
"Loh??"
"Ehh, punya gue juga kritis." Fawaz ikut masuk ke dalam percakapan.
"Punya gue juga coy!" Hikam, Si Kasur Air ikut berpartisipasi dalam kegalutan tersebut. Kami semua bego. Pergi ke tempat yang jaraknya jauh, namun tidak mengisi bensin terlebih dahulu. Waslo.
"Terus gimana dong ini?" Iffan bertanya-tanya, khawatir kami semua tidak sampai tujuan.
"Gapapa, lanjut aja. Ntar kalo beneran abis, kita kencingi bareng-bareng." jawab gue, memperkeruh keadaan.
"Kayaknya di depan ada yang jual bensin deh, kita jalan aja dulu bentar." Aufa menetralisir kekeruhan yang gue ciptakan. Untuk masalah yang sangat keruh seperti ini, Aufa memang jagonya. Sesuai dengan nama panjangnya "M. Aufa Atho'illah" atau bisa disebut "Sang Pemecah Masalah". Gila, keren kan?!
"Yaudah, yuk jalan lagi." Fawaz menambahi.
"Hidih, ogah gue jalan sama lo." gue kembali memperkeruh keadaan.
Sejurus kemudian terlihat penjual bensin. Alhamdulillah. Kami pun melanjutkan perjalanan hingga sampai ke desa Rogoselo. Nah... di sinilah kegilaan sesungguhnya terjadi.

Ketika sampai di pertigaan, kami mengambil jalur kiri yang jalanannya menanjak, mengikuti intruksi google maps. Gue merasa aneh, karena setahu gue jalur yang benar adalah ke kanan, arah ke bawah. Bukan yang nanjak. 

Dua kilometer sudah kami lalui, tak kunjung menemui lokasi yang dituju, yaitu makam wali agung Rogoselo. Kami semua berhenti di sebuah penunjuk jalan.
"Gimana nih?" kami semua saling melempar pertanyaan satu sama lain. Dan jawabannya selalu sama pula, yaitu "Lha gimana?"
"Kayaknya kita salah alamat deh ini." Iffan memandangi google mapsnya yang ternyata menunjukkan bahwa kami semua salah mengambil jalan.
Emot batu.
#nowplaying: Ayu Ting-ting - Alamat Palsu
"Wah, kita salah ambil jalan ini. Harusnya kita tadi di pertigaan ke bawah. Bukan ke atas ke sini." Aufa kembali menetralisir keadaan. Gue sempat berpikir seandainya Aufa nggak ikutan survei. Bisa tersesat manusia-manusia bego ini!
"Yaudah puter balik aja yuk!" perintah Imam.
"Bentar dulu, kita foto-foto dulu." Nabil melepas jas hujan bebeknya yang gue nggak tahu dia kapan memakainya.

"Asek, bisa bikin story... LAH GAK ADA SINYAL!"

Bersambung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memotret Kohesi Sosial Kliwonan Wonoyoso dari Sudut Pandang Individualisme

             Pagi hari. Waktu paling umum bagi sebagian besar masyarakat kelas pekerja untuk berangkat bekerja. Pun juga waktu paling umum untuk berangkat sekolah atau kuliah. Akan tetapi pengalaman berangkat bekerja atau sekolah & kuliah ini akan terasa berbeda jika harus melewati rute Jalan Raya  Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut di hari Jumat Kliwon. Ada pemandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya, yakni kerumunan pedagang jajan, pakaian, dan lain-lainnya berjejer di pinggir jalan sepanjang Jalan Raya Kertijayan hingga Jalan Raya Sapugarut.             “Kliwonan” atau “Pasar Kliwon” begitu warga setempat menyebutnya. Merupakan semacam tradisi spiritual yang sudah dilestarikan warga Desa Wonoyoso dan sekitarnya sejak lama sekali. Pusat tradisi ini sebenarnya berada pada Masjid Jami’ Wonoyoso yang konon katanya memiliki sumur keramat—jika mandi atau mi...

Satu Gagang Sapu

       Sabtu, 11 April 2026. Saya bangun tidur dengan perasaan lega karena baru saja menuntaskan satu tanggung jawab. Ketika mata melek, tak ada perasaan berat seperti beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi perasaan tersebut ternyata tidak bertahan lama--langsung terusik oleh postingan status whatsapp salah satu teman di kampus yang baru saja dilamar oleh kekasihnya.    Bukan, bukan berarti saya cemburu karena teman saya dilamar. Pun kalau bisa dikata cemburu, konteks cemburunya bukan cemburu secara romantis, saya lebih memilih cemburu secara finansial. Sebab, secara praktis, mereka yang telah berani menapaki jalan menuju pernikahan artinya sudah bisa dikatakan mapan (walaupun tentu tidak sepenuhnya) baik secara finansial maupun mental dan aspek lainnya.      Saya mbatin sejenak, "Memang ya, bangun tidur itu harusnya langsung solat subuh habis itu olahraga atau baca buku, bukan malah buka medsos." Baru satu postingan saja sudah bikin saya mbat...

Alienasi dan Diskriminasi terhadap Mahasiswa Internasional

              Minggu sore, 12 Juli 2026. Saya baru saja pulang dari Stadion Hoegeng Pekalongan bersama Haroon setelah berlatih passing sepakbola. Haroon adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa internasional di UIN Gusdur yang berteman dengan saya. Pertama kali saya bertemu Haroon 28 Januari 2026, waktu itu Humas UIN Gusdur membutuhkan talent untuk video promosi kampus tentang keberadaan mahasiswa internasional di UIN Gusdur. Intinya video tersebut bermaksud memberitahu khalayak bahwa di kampus kami ada mahasiswa internasional yang berkuliah di dalamnya. Kebetulan sekali pada bulan Oktober 2025 saya sempat menjadi talent untuk video profil kampus, waktu itu Bu Afina Fahru yang menggandeng saya ke dalam projek tersebut, sebab beliau tahu saya menjadi aktor utama dalam film “Evakuasi” yang merupakan projek UAS dalam mata kuliah Sinematografi & Dramaturgi yang diampu beliau. Jadi saya ditarik untuk projek Humas ini ka...