Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2021

Page 365 of 365

"Hiduplah sesukamu, tapi ingat kau akan mati. Cintailah seseorang sesukamu, tapi ingat kau akan berpisah. Berbuatlah sesukamu, tapi ingat ada balasannya.” Begitulah kira-kira cuplikan khutbah jumat tadi siang di masjid di desa gue, yaitu masjid An-Nur. Sang Khotib berusaha mengingatkan kita semua agar tidak gampang menjadi orang yang sombong, sehingga rentan melakukan hal-hal buruk. Setelah menangkap penjabaran tersebut, gue melihat diri gue sendiri. Ternyata masih sering gue melakukan hal-hal buruk dikarenakan sombong. Sombong tidak selalu berarti sombong yang kita tahu, seperti “Hey, gue ranking satu nih, lo rankingnya rendah kan pastinya”, tidak. Tidak selalu. Lalu, gue mencoba introspeksi diri terhadap apa yang gue lakukan selama 365 hari di tahun 2021 ini. Masih banyak hal yang harus gue benahi. Awal tahun 2021, gue menciptakan sebuah serial Youtube berjudul “Manusia Manusia Absurd”. Sebuah serial yang bercerita tentang seorang anak muda yang sudah tidak bersekolah, dit...

Lima Cowok Bingung

Liburan gue dengan Miftah tidak berlangsung lama. Hanya satu minggu kami bersama. Namun, satu minggu bagi gue sudah cukup, gue tidak bisa memaksa Miftah untuk memperpanjang liburannya begitu saja seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan permen. Gue harus tetap melepas Miftah pada akhirnya. Hari Kamis, 23 Desember kemarin tepatnya pagi hari pukul 09.00 WIB, gue melepas kepergiannya. Kali ini lewat online pun gue tidak merasa berat hati, karena gue terbiasa tanpanya. Dan memang beginilah kita ketika sudah ditinggal: kita akan terbiasa sendiri. Setelah Miftah kembali ke ponpes, gue mencoba untuk berlibur dengan cara lain, berbeda dengan yang gue lakukan bersama Miftah selama satu minggu: bermain playstation 4 dan menonton film. Gue mencoba mengajak Arjun dan gerombolan kampret pengurus majalah gue untuk berlibur. Akhirnya diputuskanlah hari Ahad, 26 Desember kami pergi ke objek wisata Weloasri, Petungkriyono.  Rencana awal kami tujuh orang berangkat ke sana, yaitu gue, Nabil,...

Another Level Of Happiness

Holiday gue dengan Miftah pun dimulai. Destinasi pertama yang kami tuju sudah tentu adalah bioskop, untuk menonton film Spider-Man : No Way Home. Film yang gue sempat gagal nonton. Malam Ahad, Miftah menghampiri gue di rumah tepat setelah gue selesai salat isya. Miftah mengetuk pintu. "Assalamu'alaikum." "Waalaikumussalam," jawab nyokap. "Ehh, Miftah. Pulang kapan?" nyokap terkejut melihat seseorang di balik pintu tersebut. Ternyata dia adalah Miftah. "Jumat kemarin," jawab Miftah. "Nyari Azim, ya? Sini masuk masuk!"  "Hehe iya, udah di sini aja." Gue kemudian keluar dari kamar dengan stylenya. Memakai celana hitam panjang, dan kemeja jeans lengan pendek. Outfit yang sama yang gue pakai ketika gagal nonton. Sebentar? Gagal?  Duh... Firasat gue gak enak nih. Gue melewati pintu dan terkejut melihat Miftah yang outfitnya seperti mau pergi tahlilan, tapi tidak memakai peci. "Kok lo pake sarung? Kita kan mau nonton bioskop...

Pertemuan Kembali Dengan Miftah

Alhamdulillah. Hal yang sangat gue harapkan di liburan ini benaran terjadi. Ya, Miftah pulang dari Ponpesnya untuk liburan. Meskipun hanya satu minggu jatah dia berlibur, gue tetap bersyukur masih bisa menatap wajahnya kali ini.  Miftah sampai di rumah pada malam Jumat, 16 Desember yang lalu. Malam setelah kejadian "Gajanton" menimpa gue. Malam hari ketika Arjun dan Aufa baru pulang dari rumah gue, gue whatsapp Miftah. Sekadar bertanya. "Lo udah nyampe belom?" kata gue. "Udah, nih, baru aja. Capek banget, lo mainnya besok aja ya jangan sekarang!" jawan Miftah, meminta istirahat sejenak dari panjangnya perjalanan Yogyakarta - Pekalongan. Gue menanggapi, "Oke. Besok gue ke rumah lo." Beberapa saat kemudian, Baqi, sahabat lama gue yang masih sering riwa-riwi di Kertijayan setiap malam Jumat untuk menginap di rumah neneknya, whatsapp gue, bunyinya, "Besok lo disuruh main ke rumah Miftah nggak?" "Iya, nih, lo juga?" balas gue. ...

Hal Terkampret Dalam Kaderisasi

Seperti yang sudah gue ceritain di bab Percakapan Dengan Ketua Pramuka, panitia sempat terlihat mondar-mandir, dan bahkan akhirnya gue dan Imam diciduk oleh Zidni untuk dibawa ke transit. Di saat semua peserta tengah terbang bersama mimpi-mimpinya, sebuah gedoran pintu yang sangat kencang menjatuhkan mereka semua dari alam mimpi. "BANGUNNNN!!" GUBRAKK GUBRAKK GUBRAKKK! Terdengar suara para purna lawas (sekarang sudah lulus) sedang menggedor-gedor pintu dan berteriak-teriak. Ada yang berteriak dari bawah koar-koar bikin jantung kami semua terpaksa harus memompa darah 2 kali lebih cepat dari biasanya, yaitu Kak Izul, lalu Kak Saiful menggedor-gedor pintu. "CEPATTT TURUNN!!! WAKTU KALIAN SATU MENIT!!!! DIMULAI DARI SEKARANG!" Kak Izul mengencangkan suaranya yang sangat lantang. "PAKE BAJU FULL! ID CARD JUGA DIPAKE!" Kak Saiful menambahi. Kami semua panik, kami langsung mencari-cari di mana seragam kami berada. Ada yang salah memakai ID-Card, ada yang sa...

Percakapan Dengan Ketua Pramuka

Gue sedang menyendiri di lantai dua masjid yang berdiri megah tepat di depan MTsS Al-Qomar, tempat diselenggarakannya kemah pengambilan badge PKS ini, sesekali gue membuka handphone dan melihat story WhatsApp para peserta kemah yang kelihatan pada antusias. Gue berhenti pada sebuah story WhatsApp yang di-upload oleh Ustaz Rozaq, gue membukanya. Ternyata ada video gue di dalam story WhatsApp beliau. Gue sedikit tersenyum, bahagia. Memangnya siapa yang nggak bahagia videonya diposting oleh ustaznya? Wkwk. Lalu, kecurigaan itu datang. Para panitia dan purna mulai menampakkan sesuatu yang aneh. Mereka mondar-mandir ke sana ke mari layaknya pembunuh berantai sedang sibuk mencari korbannya. Gue mengalihkan kepala gue yang sedari tadi mengamati para panitia yang mulai aneh. Tak berselang lama, sebuah bayangan hitam datang dari bawah tangga. Sosok tersebut menghampiri gue. Gue menelan ludah. Ini kayaknya bakalan jadi sebuah adegan horror murah yang nggak laku di pasaran. Sosok itu kemudian men...

Patah Hatinya Zim Kazama

     Salah satu rencana besar gue di penghujung tahun 2021 ini adalah menonton film Spider-Man Tom Holland yang ketiga yang rilis pertengahan Desember 2021, yaitu: Spider-Man No Way Home. Gue sudah merencanakan ini sejak Miftah belum berangkat ke ponpes. Mumpung musim libur, sekali-kali lah nonton di bioskop, masa nonton bersi Blu-ray melulu? Lalu, ketika Miftah berangkat ke ponpes, di hari dia pergi meninggalkan desa Kertijayan, dia bilang ke gue bahwa kami bakalan nonton film Spider-Man ketiga ini Desember nanti. "Insya Allah ntar Desember gue pulang, kita nonton bareng! Doain aja biar virus corona cepet kelar," ucap Miftah ke gue. Lalu, hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berlalu. Film yang gue nantikan akhirnya sudah dekat waktu penayangannya.       Berhubung gue selama kelas 11 ini dekat banget dengan Nabil, dan Nabil juga seorang penggila film-film Marvel, gue mengajak dia untuk menonton, sekadar jaga-jaga kalau kalau Miftah tidak jadi pulan...

Stand Up Comedy

     STAND UP COMEDY itu asyik, makanya gue bilang ke Aufa dan anggota kelompok lainnya, Yaul, Faris si Adik Kelas Tukang Minta Potoin, dan Afad si Adik Kelas Pendiam, bahwa pensi kelompok kami sebaiknya biar gue saja yang maju stand up. Namun, meski asyik stand up comedy itu sulit. Terakhir kali gue stand up comedy gue diberi kata-kata mutiara (baca: ka9ta-kata kasar) oleh para juri stand up comedy-nya. Lalu, sepulang dari cafe tempat gue open mic, gue diludahi beramai-ramai, kemudian gue ditelanjangi dan diarak keliling kota Pekalongan. OKE, SUMPAH YANG TERAKHIR ITU BOHONG. SUMPAH!         Semenjak hari itu, gue jadi malas menulis materi stand up comedy sendiri. Lalu, untuk pentas seni kali ini, gue mencuri materi stand up comedy-nya bang Raditya Dika. Heheheheheheheh. Bang Radit, kalo lo baca ini gue minta maaf ya. Ya, walaupun gue yakin kayaknya lo nggak bakal baca.       Materi stand up comedy-nya adalah tentan...

Balada Orang Tolol

SEPULANG SEKOLAH, gue dan Nabil menonton salah satu film Raditya Dika. Yaitu "Manusia Setengah Salmon". Film yang menceritakan bahwa dalam hidup akan selalu ada yang namanya perpindahan. Di tengah-tengah menonton film, Nabil teringat bahwa hari kamis sore kami akan mengikuti kemah pengambilan badge PKS.  "Eh, gue belum beli kopi Good Day Coolin, nih. Beli yuk!" ajak Nabil. "Ohh, oke. Yuk!" gue kemudian men-stater sepeda motor gue. Lalu kami mempersiapkan segala hal yang masih kurang. Pertama-tama kami tertuju pada clue barang bawaan yang dibacakan oleh Huda, kakak kelas kami, sekaligus ketua PKS periode sebelumnya. Ketua PKS periode sekarang adalah Rizal, anak kelas 11 IPS 2. Rizal dan seluruh angkatan gue belum mendapatkan badge PKS, jadi acara ini dipanitiai oleh kakak-kakak kelas purna PKS. Klue pertama adalah "Hari Baik Yang Dingin 2", dan jawabannya sudah jelas,   yaitu "Good Day Coolin 2". Gue membeli 4 bungkus, 2 bung...