Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2022

Jujur itu enak

Semenjak kejadian gue menabrak sepeda motor, gue jadi sosok yang lebih hati-hati. Kehati-hatian ini tidak hanya gue lakukan dalam bertindak, namun dalam pelajaran juga. Buktinya, hari ini pelajaran ekonomi, ketika Nabil disuruh Ustaz Rozaq presentasi gue tidak bertanya. Takut menabrak. Kali ini bukan sepeda motor, melainkan menabrak APBN. Sial. Ustaz Rozaq di sela-sela Nabil sedang presentasi tiba-tiba mendekati gue lalu menanyakan hal yang sama sekali tidak ingin gue ingat, yaitu kejadian gue menabrak sepeda motor kemarin. "Zim..." panggil Ustaz Rozaq. "Iya, Pak Ustaz. Kenapa, Pak?" tanya gue. "Itu kemarin maksudnya gimana kok sampe nabrak motornya pak Kiai Rodli?" Degg. Jantung gue seketika berhenti berdetak. Ustaz Rozaq ternyata sudah melihat rekaman di cctv madrasah. Mampus nih gue, kalau videonya disimpan, terus dibikin story whatsapp bagaimana? Atau lebih parahnya dibuat meme di tiktok. Menggunakan template "I'm addicted to". Seant...

Luka Baru di Sabtu Lesu

Ustaz Adzkiya masuk ke kelas kami dan langsung memulai pelajaran dengan membagikan hasil tugas minggu lalu. Kemudian, beliau memberikan kami tugas tambahan, yaitu menuliskan satu saja budaya Indonesia beserta hal-hal yang berkaitan dengannya.  Otak gue masih cooldown sehabis mengerjakan tugas ekonomi sebelum beliau masuk menggantikan jam pelajaran Ustaz Rozaq, namun sekarang dipaksa untuk berpikir lagi. Akhirnya gue ngebleng. Kepala gue panas. Asap putih keluar dari sela-sela rambut gue. "YA ALLAH!!!" teriak gue dalam hati, keras, saking kerasnya Pak Bon yang tengah menyukur tanaman pucuk merah pun ikut terperangah, kaget dengan peristiwa aneh ini. Dalam hatinya mungkin berpikir: sudah waktunya umat manusia untuk bertaubat. Gue bertanya ke Nabil, budaya apa yang akan ia tulis di tugas tambahan ini. Nabil menggeleng pelan. Lalu dia menyembunyikan jawabannya. "Lo jawab apa, Bil?" tanya gue penasaran dengan mulut sedikit menganga. "Kepo lo, kek petugas sensus....

Membuka Diri Itu Asyik

Awalnya gue pikir menjadi seorang yang pendiam itu keren. Gue bakalan menjadi sosok yang misterius, punya kesan cool dan terlihat seperti  seorang Sasuke: diam berdebu, bergerak minta dua ribu. Namun, setelah gue coba, ternyata menjadi seorang cowok pendiam yang misterius itu susah. Alih-alih menjadi pendiam yang keren seperti Sasuke, gue justru terlihat seperti Ijat, temannya Upin dan Ipin. Nggak banget. Maka dari itu, gue mulai membuka diri gue pada kelas 2 MTs silam. Gue mulai melakukan apa yang gue suka dan menunjukkannya pada dunia. Ini baru cool. Hal ini gue rasakan betul manfatnya, gue sekarang menjadi seseorang yang dikenal, relasi gue luas, dan tentunya banyak fans cewek (baca: fanatik gila) Imbasnya bahkan sampai sekarang. Setiap gue melewati gedung putri, atau kebetulan lewat di kantin yang biasanya ramai anak putri, biasanya ada yang memanggil-manggil nama gue. Awalnya gue nggak masalah dengan mereka yang memanggil nama gue. Tapi, lama kelamaan mereka ngaco, mereka ...

Dan Terjadi Lagi...

Gue baru saja sampai di parkiran yang baru diresmikan awal semester 2 ini, lalu melihat Tammam yang sedang menata parkiran bersama Ustaz Rozaq. Jiwa simpati gue seketika meronta-ronta untuk menolong mereka, akhirnya gue parkir motor lalu membantu mereka menata parkiran. Pagi ini sama seperti hari-hari belakangan, mendung. Akhir-akhir ini  langit senang menampakkan wajahnya yang murung. Entah ia akan menumpahkan air mata yang menjelma gerimis, atau membendungnya terlebih dahulu agar bisa turun dengan deras nantinya. Udara yang semriwing menggerogoti sekujur tubuh gue. Semua ke- semriwingan itu sirna saat  tangan gue beradu dengan pegangan jok sepeda motor. Satu demi satu sepeda motor gue tata dengan rapi, serapi tatanan rambut gue hari ini. Jiakhh. Lalu, Rizal si Ketua PKS datang dari arah timur, dari luar gerbang parkiran. Rizal bersalaman dengan Ustaz Rozaq, lalu menyapa kami berdua. "Assalamu'alaikum!" ucapnya dengan tampang sok ganteng, padahal memang ganteng. Ja...

Pertemuan Yang Dirancang Diam-diam

Arjun bolos ngaji ponpes lagi hari ini, kali ini dia di rumah gue untuk meninjau juknis yang gue buat sebelumnya, dan beberapa alasan tidak masuk akal lainnya, seperti berlatih menembak dengan pamannya di kelurahan, dan lain-lain. Gue telah mengingatkan si kampret ini untuk mengaji, namun jawabannya selalu sama: “Kenapa lo sendiri nggak ngaji?” Kalau sudah begini gue cuma bisa diam, cosplay sepatu.  Mas Mahrus, ketua IPNU desa Kertijayan menelepon gue untuk bertanya apakah persiapan untuk lomba geguritan Porseni tingkat kabupaten gue sudah siap. FYI, pada perhelatan Porseni PAC IPNU IPPNU Buaran kemarin, gue mengikuti dua lomba, PBB dan Geguritan. Dan gue mendapat juara 1 untuk lomba geguritan. Tepuk tangan dong, Fellas!  Mas Mahrus menanyakan apakah gue sudah mencetak foto atau belum yang gue jawab belum.  “Baru mau ke fotokopian nanti, Mas. Ini lagi ada urusan sebentar,” tambah gue.  “Oh, ya udah. Nanti kalo udah ada foto sama fotokopi KK-nya langsung k...

Si Kontet Yang Pelupa

Gue adalah orang yang pelupa akut. Seringkali hal ini menjadi malapetaka bagi gue di manapun dan kapanpun. Tidak jarang juga orang lain terkena batunya. Sungguh miris.  Gue pernah pengin melaksanakan puasa sunah senin kamis, tapi puasanya hari rabu (baca: gue gila) Bahkan ketika menulis ini pun nyokap sedang marah-marah ke gue karena gue lupa menutup tudung saji di dapur.  “TUDUNG SAJINYA TUTUP DULUUU, MASIH KECIL UDAH PELUPA!” begitu kira-kira katanya. Hari rabu kemarin adalah hari yang paling membuat gue tepok jidat, pasalnya gue membuat satu kelas kesal karena kelakuan gue. Jadi, begini ceritanya. Pada malam rabu, tepatnya setelah salat isya gue membuat pengumuman di grup kelas bahwa besok ada pelajaran Penjaskes yang diampu Pak Yuliantoo, dan janji beliau pada semester 2 ini sudah bisa memulai olah raga di luar, sudah tidak seperti semester 1 yang cuma belajar teori saja. Artinya, mulai besok ketika ada pelajaran olah raga sudah bisa membawa kaos olah raga dan celana train...

Semester 2

Pagi ini masih sama dengan pagi kemarin, hari ahad. Gue menitipkan sepeda gue di rumah Nabil yang dekat dengan sekolah karena jalanan Simbangkulon sedang dalam pekerjaan proyek. Proyek peninggian jalan dan perbaikan saluran drainase ini sudah dimulai sejak awal semester 1 silam. Proyek yang cukup melelahkan bagi para pekerja dan bagi para warga karena setiap hari harus mengeluh akses jalan yang sangat sulit. Begitupun gue selama satu semester ini, cukup banyak keluhan gue karena proyek yang tak kunjung selesai ini. Hari ini, Senin 3 Januari 2022, proyek sudah memasuki tahap pengecoran jalan. Sepertinya ini adalah tahapan-tahapan final dalam perbaikan jalan ini. Setidaknya gue hanya bisa bersabar sampai akhir semester nanti. Nabil ketika gue sampai di rumahnya masih dalam mode yang sama seperti hari ahad kemarin. Belum memakai seragam dan mulutnya penuh dengan sarapan paginya.  “Bentar, lagi makan. Tunggu bentar lo duduk dulu,” ucapnya sambil mengunyah nasi, sesekali nasinya muncrat...