Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Horor/Thriller

Janji Palsu - Cerpen Horor

           Denting jam dinding tak sanggup mengusik keseriusan Dono mengerjakan perintah Bos; mencetak resi pengiriman Tiktok Shop. Total sejauh ini ia sudah mencetak tujuh ratus lima puluh enam resi, tinggal dua ratus empat puluh empat lagi menuju angka seribu. Malam minggu, seharusnya pada jam ini ia sudah bercengkrama dengan sahabat-sahabatnya di Warkop Bu Endang sebagai agenda rutin, namun karena harus lembur, maka agenda tersebut harus ditunda.           Sudah tiga hari Dono lembur begini, disebabkan Lia yang tak kunjung berangkat ke kantor. Niat hati Dono ingin menjenguk Lia, namun apa daya, ponselnya tidak menyala dan rumahnya cukup jauh untuk dijamah ia yang setiap hari berangkat kerja naik sepeda jengki kuno peninggalan kakeknya.           “Lia… Lia…, kamu kapan berangkat lagi sih? Aku kan jadi harus lembur terus begini!” keluh Dono sambil masih menahan mo...

Polemik Teologi Islam

               “Merunduk, Ghoz!” gue melompat dan menerjang tubuh Ghozali sembari menyembunyikannya di balik tangga turun gedung Ormawa di samping gedung Student Centre. Hal ini gue lakukan bukan tanpa sebab. Dikarenakan ada sosok manusia mengerikan yang sedang mengintai keberadaan kami.             “Ada apa?” tanya Ghozali.             “Si Genderuwo! Yang tadi malam nyari gue lewat perantara anak kelas kita!” seru gue sambil masih memajang raut muka khawatir.             “Oalah…”             Kami bersembunyi dari sosok tersebut sekitar lima belas menit. Ketika keadaan dirasa sudah mulai kondusif, barulah gue melepaskan Ghozali untuk kembali melanjutkan aktifitasnya. Demikian pula gue.       ...

Team Up Bersama Bidadari

  Bulan Desember akhir tahun lalu gue resmi melepaskan Sembilan Bidadari yang gue temui di kampus melalui ritual camping bersama sahabat-sahabat gue. Status “ke-bidadari-an” mereka pun resmi hilang. Mereka kini hanya manusia biasa. Punya tujuan sama dan melangkah bersama gue di atas tempat yang sama di sini, di kampus.  Tidak mudah melepas mereka semua. Terlebih lagi mereka yang sudah terlanjur gue dekati dan berujung gagal. Lukanya sesekali masih datang menghampiri. Namun, berbeda dengan mereka yang belum sempat gue dekati. Keadaan justru berbalik. Seperti gue yang sering bertegur sapa dengan Bidadari Keempat dan sesekali mengobrol ringan, juga Bidadari Pertama yang berkesempatan satu tim dengan gue di sebuah kelompok belajar mata kuliah.  Bidadari Pertama, sebut saja dia Kaka, berkesempatan team up dengan gue pada mata kuliah Harmoni Sains dan Agama; mata kuliah yang terdengar asing di telinga gue. “Total pertemuan ada 16 sudah termasuk UTS dan UAS, berarti ada ...