Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2023

Anak Pramuka Yang Hilang

             Peristiwa ini terjadi pada Agustus tahun 2015 silam, gue sedang duduk di bangku kelas 5 MI, dan kebetulan saat itu gue dan beberapa teman MI gue menjadi peserta kemah Jambore Ranting. MI kami mempunyai dua regu, regu putra dan putri. Regu putra diketuai oleh Deva Ahmad, dan gue wakilnya, sedangkan regu putri diketuai oleh Rohmah/Wulan dan wakilnya adalah Najwa. Seperti kemah Jambore pada umumnya, ada beberapa event/lomba yang harus kami hadapi untuk menjadi regu terbaik dalam perhelatan tahunan ini.             What kind of story I want to tell you? Sabar dong. Kisah ini akan terasa sedikit horor dan penuh misteri. So, apa pun keadaan lo (lagi kerja, sekolah, kuliah, di wc, atau yang lainnya), gue sarankan untuk prepare mulai sekarang. Mulai!             Gue berkemah dengan 12 teman gue yang terdiri dari Dany, Zaky, Deva, Iqbal...

Kemunculan Bidadari Kesembilan

            Bulan November minggu terakhir, masa-masa akhir studi semester satu sudah di depan mata. Atau bahasa kerennya, season pertama dunia perkuliahan akan segera gue selesaikan. Dan hari Sabtu, 18 November kemarin adalah pertemuan terakhir di Kelas Intensifikasi Bahasa Arab. Ini juga pertanda kalau minggu depan sudah waktunya tes evaluasi akhir; pertemuan terakhir yang sesungguhnya. Pertemuan terakhir dengan siapa yang gue maksud? Hehehe. Ini dia.             Ia adalah bidadari kedelapan yang belakangan kadang suka nge-like story Instagram gue. Tapi, gue sendiri nggak mau Ge-er, dan gue juga nggak mau nekat untuk kenal dia lebih jauh, gue nggak mau ada tragedi yang sama terjadi ke gue lagi. Cewek ini berkacamata, hidung pesek, senyumannya lucu. Gue cuma sekadar mau tahu saja dan ingin memasukkannya ke dalam daftar bidadari yang pernah gue temui di kampus, sekali lagi gu...

Cowok Terganteng di FUAD

  Brollll! Suara ledakan tersebut menandai akhir dari ritual boker yang sedang gue lakukan di wc lantai 4 gedung FUAD. Gue kemudian keluar dari wc dengan perasaan lega. Dan seperti biasa, gue keluar dari wc dengan menenteng celana dan hanya memakai kolor dan kemeja. Tolong ini jangan ditiru, selain ekstrem juga agak melanggar norma kesusilaan. Tapi, gue melakukan hal ini bukannya tanpa sebuah alasan, tentu ada alasan yang mendasari tindakan gue memakai celana di depan wc ini. Kalau lo nggak pernah skip Pelajaran Fiqih lo pasti sudah paham kenapa celana gue pakai di depan wc. Yep, gue takut celana gue terkena najis. Simpel. Biasanya, suasana sunyi-sunyi saja kalau gue sedang ritual—sampai selesai ritual. Namun, hari ini ada yang berbeda. Sialnya, hal tersebut terjadi. Gue sudah firasat ketika mau memasukkan kaki kanan ke lubang celana. Iya… Seseorang masuk ke dalam toilet. *Krengkettt…. Pintu toilet dibuka. “…..” “…..” Mas-mas tersebut adalah mahasiswa kakak tingkat gue....

Malam Evaluasi oleh Wapres

Gue dan Mas Haikal baru saja selesai menghadiri acara pelantikan pengurus Petanesia se-Pekalongan Raya di Gedung Kanzus Sholawat. Dan saat ini, kami telah menginjakkan kaki di sebuah kafe di exit tol Batang-Pekalongan (kalau salah tolong dikoreksi, jangan dikorekin). Di salah satu sudut dindingnya tertulis “Kalmatera”. Gue langsung ngeh kalau kafe ini adalah kafe yang sama ketika Haekal Sohib gue dulu ngajak gue dan Hillan nongkrong pasca gue putus dari Yasmin akhir tahun lalu. Sungguh sebuah ironi yang unik, kali ini gue sama-sama berada di akhir tahun, dan gue diajak oleh seseorang yang bernama sama (meskipun beda E dan I, tapi pengucapannya disamaratakan coy), dan di tempat yang sama. What an ironic! “Kita mau ketemu orang pintar siapa sih, Mas?” tanya gue ke Mas Haikal begitu kami sampai di Kafe tersebut. “Gus Rizal, Wakil Presiden DEMA,” jawabnya. “HAH? SERIUS?” gue terkejut sambil kayang. “Pak… Halo, Pak. Apa kabar?” Mas Haikal menyapa Bapak-bapak penjaga Kafe yang gue lu...

Jessica dan Perayaan Mati Rasa, Bagian Kedua

              “Masa sih, nggak bisa? Dulu temenku satu kelompok waktu ospek aja bisa .” Jessica menyanggah ketidaksanggupan gue untuk “jadi biasa” saat berada di dekatnya.             “Iya, nggak bisa, aku nggak bisa,” kekeh gue.             Gue nggak mengira kalau kalimat tersebut bakalan menjadi boomerang bagi gue di kemudian hari. Gue kira itu hanyalah sebuah kisah yang sudah berlalu, dan memang sudah berlalu nyatanya, karena ada keterangan “dulu temenku aja bisa”. Yang gue tangkap adalah pernah ada seseorang yang juga nembak Jessica, lalu ia tolak, kemudian jadi teman biasa. Gue ulangi, jadi teman biasa. Sayangnya tidak…             Maka, dimulailah Perayaan Mati Rasa Yang Sesungguhnya…             ...