Denting jam dinding tak sanggup mengusik keseriusan Dono mengerjakan perintah Bos; mencetak resi pengiriman Tiktok Shop. Total sejauh ini ia sudah mencetak tujuh ratus lima puluh enam resi, tinggal dua ratus empat puluh empat lagi menuju angka seribu. Malam minggu, seharusnya pada jam ini ia sudah bercengkrama dengan sahabat-sahabatnya di Warkop Bu Endang sebagai agenda rutin, namun karena harus lembur, maka agenda tersebut harus ditunda. Sudah tiga hari Dono lembur begini, disebabkan Lia yang tak kunjung berangkat ke kantor. Niat hati Dono ingin menjenguk Lia, namun apa daya, ponselnya tidak menyala dan rumahnya cukup jauh untuk dijamah ia yang setiap hari berangkat kerja naik sepeda jengki kuno peninggalan kakeknya. “Lia… Lia…, kamu kapan berangkat lagi sih? Aku kan jadi harus lembur terus begini!” keluh Dono sambil masih menahan mo...
Bernarasi sesuka hati. Berbiasalah, berbahagialah!