Page 365 of 365
"Hiduplah sesukamu, tapi ingat kau akan mati. Cintailah seseorang sesukamu, tapi ingat kau akan berpisah. Berbuatlah sesukamu, tapi ingat ada balasannya.”
Begitulah kira-kira cuplikan khutbah jumat tadi siang di masjid di desa gue, yaitu masjid An-Nur. Sang Khotib berusaha mengingatkan kita semua agar tidak gampang menjadi orang yang sombong, sehingga rentan melakukan hal-hal buruk. Setelah menangkap penjabaran tersebut, gue melihat diri gue sendiri. Ternyata masih sering gue melakukan hal-hal buruk dikarenakan sombong. Sombong tidak selalu berarti sombong yang kita tahu, seperti “Hey, gue ranking satu nih, lo rankingnya rendah kan pastinya”, tidak. Tidak selalu. Lalu, gue mencoba introspeksi diri terhadap apa yang gue lakukan selama 365 hari di tahun 2021 ini. Masih banyak hal yang harus gue benahi.
Awal tahun 2021, gue menciptakan sebuah serial Youtube berjudul “Manusia Manusia Absurd”. Sebuah serial yang bercerita tentang seorang anak muda yang sudah tidak bersekolah, ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya, dan tinggal bersama tiga sahabatnya. Serial ini sangat gue paksakan untuk rilis, karena kru-nya hanya empat orang, itu pun juga sebagai pemain, sutradara, kameramen, dan editor. Gue, Miftah, Toni, dan Baqi, adalah empat orang di balik hadirnya serial ini. Serial ini pun hanya diminati oleh sedikit dari daftar kontak whatsapp gue, miris. Lalu, di tengah jalan serial ini mangkrak. Dua episode terakhir yang direncanakan gagal dibuat. Rencana menghadirkan dua actor baru juga gagal. Semua karena keegoisan gue untuk memunculkan serial ini ke publik. Pelajaran bagi gue: persiapkan segalanya dengan matang.
Pertengahan 2021, sebuah lomba film pendek yang diselenggarakan oleh Universitas AMIKOM Yogyakarta, gue ikuti bersama teman-teman sekolah gue. Kali ini gue punya kru dalam menyutradrai. Cerita dalam film ini gue buat bersama pelatih PKS MA Salafiyah Simbangkulon yang bernama Mas Fahmi. Mas Fahmi memang sudah ahli dalam hal content creator, kami juga pernah satu project sebelumnya dalam lomba short movie dewan PKS Kabupaten Pekalongan. Lalu, disepakatilah film ini berjudul “Atap Teduh”, berkisah tentang seorang anak MAS yang ingin sekali kuliah, namun karena ayahnya yang baru saja dipecat, maka terpaksa impiannya harus pupus. Film pendek ini mendapat respon yang cukup baik dari para warga sekolah, walaupun shooting menggunakan alat seadanya. Sekitar 2 ribu orang telah menonton film pendek yang gue sutradarai ini. Meski demikian, film ini menurut gue masih banyak kekurangan. Terbukti pada saat inagurasi, kami gagal meraih satu pun kategori juara. Mas Fahmi yang ikut menjadi kru dalam pembuatan ini agak kesal, karena ada satu film pendek yang memenangkan dua kategori. Sedangkan di peraturan hanya ada satu kategori juara untuk satu film pendek. Pelajaran bagi gue: lain kali pakai kamera kalau mau shooting.
Film ini masih bisa kalian tonton di https://youtu.be/q2-V_MlgX2U
Hari pertama penayangan film “Atap Teduh” ini bertepatan dengan gue mengikuti Lakmud, atau kepanjangan dari Latihan Kader Muda, jenjang pengkaderan lanjut setelah Makesta di IPNU IPPNU. 4 hari di Lakmud, gue mendapatkan banyak hal. Gue sekarang tahu sesuatu yang tidak bisa diketahui orang yang tidak mengikuti Lakmud. Ya, bagaimana menangani organisasi dan menjadi pionir dalam organisasi tersebut. Namun, ketika gue dilantik menjadi ketua organisasi jurnalistik di sekolahan, gue justru tidak bisa menerapkannya. Banyak hal yang telah diajarkan dalam Lakmud yang seakan-akan lewat begitu saja di telinga gue. Akhirnya, evaluasi berlembar-lembar menghampiri gue. Namun, setidaknya anggota gue lebih banyak dibandingkan organisasi-organisasi lain di sekolah. Gue juga mendapat rekan setim yang sangat solid, yaitu Arjun, Aufa, Asbiq, Nabil, dan Tsabata. Mereka jago banget baca buku sambil sikap lilin.
Di tahun ini juga hubungan yang sudah gue rajut selama hamper satu tahun harus bubar. Idul Adha kemarin lebih tepatnya, gue putus dengan Sinta. Bukan hal yang keren untuk gue ceritakan. Sinta sangat tidak bisa menerima keputusan gue untuk mengakhiri hubungan kami. Semua itu terjadi karena gue tumbuh. Gue tumbuh menjadi seseorang yang lain. Yang gue sadari adalah gue sering menghabiskan sisa uang saku gue yang seharusnya gue tabung, untuk ngedate dengan Sinta. Dan juga beban menjadi ketua majalah, gue tidak bisa terus-terusan membuang waktu gue untuk berpacaran. Lalu berangkat dari dua hal tersebut, juga karena dipengaruhi faktor Toxic Relationship, akhirnya hubungan ini gue akhiri. Karena tidak terima, dua hari setelahnya Sinta melabrak gue yang tengah bermain Playstation di rumah Miftah bersama dengan Baqi. Bukan sesuatu yang epic juga. Sinta bersama sahabatnya, Putri, dan teman sekolahnya, Vicky, melabrak gue dengan penuh kekesalan. Gue keluar rumah Miftah dengan bingung. “Ada apaan ini?” tanya gue.
“Ga usah banyak cingcong! Ayok ikut gue!” kata Sinta kesal.
“Mau dibawa ke mana Azimnya? Dia kan lagi main di sini,” ujar Miftah, mencoba melindungi gue.
“GA USAH IKUT CAMPUR,” katanya.
Sinta langsung membawa gue ke sebuah warung baso di Simbangkulon, gue seperti seorang buronan yang telah lama kabur dan sekarang berhasil ditangkap. Di san ague diintrogasi dengan berbagai macam pertanyaan, mulai dari “Kenapa kamu mutusin aku?” dan beberapa kalimat yang masih senada dengannya. Gue bilang gue tidak bisa meneruskan hubungan ini karena gue rasa ada sesuatu yang lebih penting, yaitu majalah, karena gue baru saja dilantik jadi ketua waktu itu. Akhirnya, dengan negosiasi yang cukup panjang dan melelahkan, gue dipulangkan ke rumah Miftah dengan Sinta yang menerima keputusan gue. Pelajaran bagi gue: jangan pacaran kalau belum siap.
Banyak hal terjadi setelah gue putus dengan Sinta. Mulai dari Miftah yang nyantri di Ponpes, dan bertemunya gue dengan cewek-cewek baru. Angel contohnya. Pada awal Agustus lalu, IPNU IPPNU Kertijayan mulai mengumpulkan tim PBB untuk Porseni PAC IPNU IPPNU Buaran tahun 2021. Di sinilah gue berkenalan dengan Angel, perkenalan yang sama dengan gue dan Sinta dua tahun sebelumnya. Lalu, ada Lisa yang juga berada satu tim, Lisa adalah teman dekatnya Angel, dia adalah orang yang bercerita ke gue bahwa Angel naksir gue, begitu pula sebaliknya. Kemudian ada Andrea yang hanya sekitar dua minggu dekat dengan gue. Dan mungkin masih aka nada banyak cewek yang bertemu gue nantinya. Bukan hanya cewek, teman baru pun sepertinya akan hadir beberapa tahun ke depan.
Terlepas dari semua hal yang terjadi dalam satu tahun ini, gue mencoba untuk mengubah sikap-sikap gue yang dirasa masih belum tepat. Gue harus berubah dari orang yang egois menjadi orang yang pengertian, gue harus berubah dari arogan menjadi lebih kalem lagi, gue harus hilangin sikap sombong gue dengan berperilaku rendah hati, sengaja ini semua gue tulis agar gue bisa ingat apa saja yang harus gue ubah pada 2022 mendatang.
Namun, sebanyak apa pun gue berubah, gue masih tetap Zim Kazama yang absurd seperti dalam bab Sepenggal Kejadian di Hari Ahad, penuh kebingungan dan primitif seperti dalam bab Kreatif, Inovatif, Primitif, gue tetap seseorang yang butuh teman seperti di bab Kembali Penuh, butuh pengarahan agar tidak tersesat seperti di bab Nyasar, canggung dengan orang baru seperti dalam bab Canggung, dan suka mengingat masa lalu seperti yang gue ceritakan dalam Reuni dan Sinta, Sang Penakluk Hati Pujangga. Gue juga tetap seorang pemimpi yang hobi bercerita seperti dalam bab Kuliah, Hampir Loncat Kelas, dan Percakapan Dengan Ketua Pramuka. Gue masih seseorang yang kagetan dengan hal-hal di sekitar gue seperti dalam bab Di Luar Dugaan, Pertemuan Kembali Dengan Miftah, dan Another Level Of Happiness.
Gue juga harus mengurangi tindakan-tindakan bodoh yang berpotensi merugikan banyak orang seperti dalam bab Balada Orang Tolol.
Sejauh apa pun gue nanti pergi, gue akan tetap seseorang yang butuh teman di sisi gue untuk berbagi dan tertawa bersama seperti dalam bab Lima Cowok Bingung. Dan gue juga tetap menjadi orang yang penuh kritik seperti dalam Hal Terkampret Dalam Kaderisasi.
Terima kasih, 2021. Segala doa yang baik adanya. Untuk gue, kalian, dan kita semua. Untuk kita semua dan mimpi-mimpi yang mulia. Salam primitif!
Zim Kazama, 31 Desember 2021
Komentar
Posting Komentar