Balada Orang Tolol


SEPULANG SEKOLAH, gue dan Nabil menonton salah satu film Raditya Dika. Yaitu "Manusia Setengah Salmon". Film yang menceritakan bahwa dalam hidup akan selalu ada yang namanya perpindahan. Di tengah-tengah menonton film, Nabil teringat bahwa hari kamis sore kami akan mengikuti kemah pengambilan badge PKS. 
"Eh, gue belum beli kopi Good Day Coolin, nih. Beli yuk!" ajak Nabil.
"Ohh, oke. Yuk!" gue kemudian men-stater sepeda motor gue.

Lalu kami mempersiapkan segala hal yang masih kurang. Pertama-tama kami tertuju pada clue barang bawaan yang dibacakan oleh Huda, kakak kelas kami, sekaligus ketua PKS periode sebelumnya. Ketua PKS periode sekarang adalah Rizal, anak kelas 11 IPS 2. Rizal dan seluruh angkatan gue belum mendapatkan badge PKS, jadi acara ini dipanitiai oleh kakak-kakak kelas purna PKS.
Klue pertama adalah "Hari Baik Yang Dingin 2", dan jawabannya sudah jelas,   yaitu "Good Day Coolin 2". Gue membeli 4 bungkus, 2 bungkus untuk Nabil bawa. Kemudian clue kedua, "Rambut Keriting terkena Tsunami". Pikiran gue langsung tertuju pada mie instan kuah. Karena mie itu diibaratkan rambut keriting, sedangkan terkena Tsunami itu maksudnya kuah. Ya, yang terakhir cukup aneh. Untuk alasan apa kuah mie instan disebut sebagai Tsunami?

"Persiapan kelompok lo gimana? Jajan sama lilin udah ada?" tanya gue.
"Udah semua, kita tinggal berangkat aja." Nabil mendengus mantap, hidungnya kembang kempis.
"Oh, iya... FOTO! Gue mau ambil foto 3x4 di potokopian dulu! ID-Card gue belum ada fotonya," teriak Nabil, keras. Telinga gue berdarah.
"Gue capek, ngantuk juga. Nih, motor lo bawa aja dulu, ntar kalo mau berangkat lo jemput gue di rumah. Motor gue titipin di rumah lo, biar pas pulang gue gak perlu minta jemput orang rumah," pinta gue panjang lebar kali tinggi.
Nabil hanya melongo, mulutnya dikerubuti tawon.
"Yaudah, gue pulang dulu deh." Nabil kemudian men-stater motor dan pergi meninggalkan gue.

Jam 14.30 tepat, kami sampai di sekolah untuk berkumpul sebelum berangkat ke lokasi perkemahan. Namun, kemah kali ini bukan kemah sungguhan, karena tidak memakai tenda. Tempat kemah di gedung MTs S di daerah Kergon, dekat makam Sapuro.

 Masalah terjadi, mobil pickup yang seharusnya mengangkut para peserta dari jam 14.00 mogok. Hanafi stress karenanya.
Gue dan Nabil yang baru sampai tiba-tiba langsung disuruh melakukan sikap lilin tiga menit, eh bukan. Gue dan Nabil disuruh mengambil kursi cafe di rumahnya Kamil.
"Ambilin bangku sono!" perintah Rizal, penuh wibawa.
"Oke, mana motor?" tanya Nabil
"Nih, pake motor gue," jawab Yaul sembari menyerahkan kunci motornya. Kemudian, Nabil mulai men-stater motor matic tersebut.
"Perasaan gue nggak enak nih," kata gue dalam hati, lirih.
Dugaan gue benar. Nabil mengebut hingga menyebabkan gue pingsan dengan mata melotot. Lalu, ketika gue bangun, kami berdua nyasar.
"Loh, rumahnya si Kamil mana ya? Kok gak keliatan dari tadi. Perasaan sekitaran sini." Nabil mengira-ngira letak rumah Kamil yang terakhir ia kunjungi pada pertengahan semester tahun lalu. MAMPUS! GUE NGGAK PULANG INI!
 "Bil, ini kita mau ambil bangku apa kursi? Kalo bangku berarti panjang dong... Susah dong gue bawanya." gue mulai mengeluarkan jurus andalan gue ketika sedang panik; ngoceh panjang lebar.
"Bangku deh kayaknya tadi Rizal bilangnya," jawab Nabil.
"HAHHH BANGKU? PANJANG DONG?? SUSAH DONG GUE BAWANYA??!?! SERIUS WOY!"
"Tapi kayakny ini buat pensi nyanyi deh, paling yang kecil," jawab Nabil, masih santai.
"KALO KECIL DAN NGGAK PANJANG ITU NAMANYA KURSI, BEGO! BUKAN BANGKU!" gue berteriak seperti kucing yang hendak melahirkan. Ya, di sinilah kami. Dua orang bego yang nyasar sedang memperdebatkan perbedaan antara kursi dan bangku. Sungguh perdebatan yang tidak berfaidah.
"Telepon si Kamil, cepet! Gue lupa jalan ini!" pinta Nabil, kali ini dia mulai serius dan nggak santai.
Duuutt, duuuut. Terdengar suara duut duut tanda bahwa Kamil tidak mengangkat telpon gue.
"Nggak diangkat!" kata gue.
"APA? GAK DENGER!"
"NGGAK DIANGKAT!!!"
"Bentar bentar bentar bentar... Ini kok kita muter-muter doang sih?" Nabil menghentikan motor, lalu sejurus kemudian ia melihat sebuah gang yang sepertinya tidak asing. Kami kemudian masuk ke gang tersebut.
"Nahh, ini dia rumahnya. Alhamdulillah ketemu," ucap Nabil.
"Alhamdulillah, nggak jadi deh gue mati nyasar bersama orang bego." gue mengelus dada gue sambil menyeka keringat yang mulai bercucuran.

 "Nyari siapa, Dek? Kamil ya?" terdengar suara ibu-ibu yang tengah menyapu halaman bertanya kepada kami.
"Iya, Bu. Kamilnya ada?" 
"Ada kok, sebentar ya."
Beberapa detik berlalu, Kamil pun keluar.
"Mau ngambil kursi ya? Tuh, ambil aja langsung," kata Kamil, singkat. Dan seolah menjawab pertanyaan gue bahwa yang akan gue bawa adalah kursi, bukan bangku.
"Nah, apa gue bilang, Bil. Ini tuh kursi bukan bangku!" jelas gue sambil marah-marah, sesekali tangan gue mengeluarkan laser Iron-Man.
"Ya maap. Mana gue tau," muka Nabil berubah aneh, "Abisnya kan tadi Rizal bilangnya bangku."
"Terserah lo deh, yok kita bawa kursinya!"
"Makasih, Mil. Assalamu'alaikum!" ucap gue.
"Waalaikumusalam. Hati-hati di jalan! Awas mati! Banyak kejahatan!!"
Sekembalinya kami ke sekolah, mobil pickup Hanafi belum juga mau menyala. Ngambek kayaknya. Lalu, solusi pun datang. Para purna yang sedari tadi menunggu di lokasi datang ke sekolah untuk menjemput kami semua. Satu persatu dari kami diantar ke lokasi perkemahan. Gue bersama dengan Huda. Namun, masalah baru muncul. Huda yang memakai sepeda motor milik Mas Fahmi, pelatih PKS, tidak tahu cara membuka jok motornya. 
"Zim, lo tau cara buka jok motor ini nggak?" tanya Huda.
"Gue nggak ngerti," jawab gue, singkat, padat, dan nyebelin.
Lalu, Nabil datang dengan kekuatan supernya. Ceklik!! Jok motor terbuka hanya dengan Nabil menekan kunci yang masih menempel di lubangnya.
"Gini doang susah amat, Hud... Hud!" Nabil menyombongkan diri lagi.
"Ohh, cuma gitu ternyata. Lah, tadi gue di pom bensin udah mau ngisi, eh, gue nggak jadi ngisi gara-gara nggak bisa buka joknya," ungkap Huda. Suasana menjadi hening.
"Lo udah mau ngisi tapi nggak jadi? Waduh, gila sih!" gue menyela masuk ke percakapan.
"Iya, mana antreannya panjang lagi!"
Hening.
"Yang di belakang pada ngeliatin gue."
Hening.

 Semua anak sudah mendapatkan jatah bonceng. Gue sama Huda, Nabil bersama Wafa, lalu ada Aufa dan teman-teman lainnya. Kami pun sampai di lokasi perkemahan, di sana Mr. Edwin Saputra sudah menunggu sejak pukul 14.00, kasihan beliau, menunggu yang tidak pasti.
Pembukaan pun dimulai pada pukul 16.30, setelahnya kami semua bersiap-siap untuk salat magrib.
"Berhubung materi yang seharusnya jam 16.00, tapi jam 16.00 baru bisa pembukaan, jadi materinya dipindah ke besok pagi," ujar Melvin yang juga berpartisipasi dalam kemah ini. Alias sebagai salah satu panitia. "Sehabis ini, kalian salat, terus ke makam Sapuro untuk ziarah. Habis isya pensi," tambahnya.
Gue menghela napas, panjang banget. Tiga alif enam harokat panjangnya. Sepanjang hari, banyak banget kejadian absurd menimpa gue. Dan gue bersyukur, sampai di detik ini gue masih hidup dan bisa menulis ini. Alhamdulillah.

Komentar

Postingan Populer