Patah Hatinya Zim Kazama
Salah satu rencana besar gue di penghujung tahun 2021 ini adalah menonton film Spider-Man Tom Holland yang ketiga yang rilis pertengahan Desember 2021, yaitu: Spider-Man No Way Home. Gue sudah merencanakan ini sejak Miftah belum berangkat ke ponpes. Mumpung musim libur, sekali-kali lah nonton di bioskop, masa nonton bersi Blu-ray melulu? Lalu, ketika Miftah berangkat ke ponpes, di hari dia pergi meninggalkan desa Kertijayan, dia bilang ke gue bahwa kami bakalan nonton film Spider-Man ketiga ini Desember nanti.
"Insya Allah ntar Desember gue pulang, kita nonton bareng! Doain aja biar virus corona cepet kelar," ucap Miftah ke gue.
Lalu, hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berlalu. Film yang gue nantikan akhirnya sudah dekat waktu penayangannya.
Berhubung gue selama kelas 11 ini dekat banget dengan Nabil, dan Nabil juga seorang penggila film-film Marvel, gue mengajak dia untuk menonton, sekadar jaga-jaga kalau kalau Miftah tidak jadi pulang. Selain mengajak Nabil, gue juga mengajak teman lama gue, yaitu Toni.
Toni mulai memesankan kami tiket secara online. Dipilihlah Cinema XXI Transmart untuk kami menonton film yang katanya bakalan punya hype besar dengan mendatangkan 2 Spider-Man lawas, yang masing-masing diperankan oleh Tobey Maguire dan Andrew Garfield.
"Kita nggak kebagian hari pertama nih, dapetnya hari kedua," kata Toni ke gue dan Nabil saat memesan tiket.
"Yaudah, gapapa. Yang penting bisa nonton," jawab gue optimis.
Film ini rilis tanggal 15 Desember di Indonesia, tanggal rilis yang sangat cepat dibandingkan di negara-negara lain. Di hari itu pula kami bertiga sepakat untuk tidak membuka sosmed agar tidak terkena spoiler.
Namun, takdir tetaplah takdir. Gue tetap terkena spoiler.
Salah satu teman gue yang juga penggemar Spider-Man, Agip, mengirimi gue sebuah video berdurasi 2 menit 20 detik. Di dalam video tersebut terlihat jelas ada 3 Spider-Man. SIALL!!
Nasi sudah menjadi bubur, film udah terlanjur ke-spoiler. Gue tetap berangkat pada tanggal 16 Desember alias hari ini, bersama Nabil dan Toni. Gue excited banget. Gue sampai-sampai menyombongkan diri ke Arjun dan Aufa yang sedang pusing-pusingnya mengurusi majalah yang sebentar lagi terbit.
"Yeee gue mau nonton bioskop, kalian di sini aja yaa, hehehe," kata gue, sombong.
"Lo jangan nonton dong, kita lagi pusing lo malah nonton." Arjun kesal melihat gue yang malah kesenangan sedang dirinya pusing.
"Ya, gimanaa. Gue udah pesen tiket, masa gue batal?" sanggah gue.
Gue yang dari tadi di sekolah bersama Aufa, Arjun, Nabil, dll. kemudian mengajak Nabil untuk pulang.
Lalu, di sinilah kami bertiga. Gue, Nabil, Toni, bersiap-siap dibuat kagum oleh film yang ber-hype besar ini. Kami sampai di bioskop saat azan asar berkumandang, kami langsung menuju ke musholla di Mall Transmart Pekalongan ini untuk melaksanakan salat asar.
"Kita salat dulu yuk!" ajak gue.
"Yuk, di atas ada musholla tuh!" jawab Toni.
Sebelum salat, gue menyempatkan diri untuk buang muka, eh bukan, buang hajat maksudnya. Gue yang kebelet pipis langsung berlali menuju toilet terlebih dahulu sebelum salat. Biar nggak nahan najis, itu kan makruh, gumam gue dalam batin. Namun, ke-primitifan gue kembali lagi di sini. Gue tidak tahu cara menggunakan toilet berdiri. Alhasil gue ngasal doang menggunakan toilet tersebut. Udah ngasal, bau pesing pula, kampret!
Bukan hanya toilet saja yang gue tidak mengerti, pengering tangan pun gue nggak paham. Gue kira benda tersebut berisi tissue kering seperti yang gue tonton di film Spider-Man sebelumnya, saat adegan Peter Parker Tom Holland keluar dari toilet pesawat. Ya, benda yang Peter pegang adalah wadah tissue, sedangkan yang gue pegang bukan, melainkan pengering tangan. Dengan pedenya gue menekan bagian bawah benda aneh tersebut, lalu badai topan keluar dari dalamnya. Gue panik. Lalu, sejurus kemudian, dengan sedikit melongok ke bagian bawah, gue melihat tombol on dan off. Langsung gue pencet. Plekk. Badai topan berakhir.
Gue wudu. Gue salat. Lalu kami semua naik eskalator untuk masuk menuju studio. Ini diaa!!!!
"Udah download aplikasi Pedulilindungi kan?" Toni bertanya ke gue dan Nabil.
"Udah," jawab kami berdua, mantap.
Petugas bioskop menghadang kami dengan sebuah kalimat singkat.
"Silakan bisa langsung di-scan QR Code-nya, Mas," kata petugas tersebut.
"Lo duluan, Ton. Gue belakangan ngikut aja." gue mempersilakan Toni untuk men-scan QR Code paling pertama. Check In selesai, Toni bisa masuk ke studio. Lalu, Nabil dan gue. Masalah terjadi di sini.
Gue dan Nabil tidak bisa melakukan Check In karena data diri kami di akun Pedulilindungi belum lengkap, belum ada data NIK kata petugas yang berdiri gagah tersebut. Beberapa detik diam, Nabil langsung teringat bahwa dia menyimpan sebuah foto fotokopi kartu keluarga milik keluarganya. Selamatlah Nabil dari Gajanton (Ga jadi nonton).
"Untung gue masih punya foto ini," ucapnya lega.
Gue masih kebingungan sendiri. Gue nggak pernah nyimpen foto NIK atau Kartu Keluarga. Yang gue simpan di handphone hanyalah foto-foto member Twice, terutama foto Chou Tzuyu yang paling banyak. Gue kalang kabut nggak karuan.
Kemudian, karena film sudah dimulai, dan gue tak kunjung bisa memenuhi data diri gue, Toni dan Nabil pun masuk ke dalam studio, sementara gue turun ke bawah ke bagian arena permainan anak-anak. Sekarang gue terlihat seperti seorang anak yang mencari orang tuanya yang telah lama hilang. Gila, udah kayak judul sinetron tuh.
Perasaan kecewa benar-benar menghinggapi sekujur tubuh gue, gue bahkan hampir nangis mewek ketika duduk di kursi di depan wahana Go-Kart. Namun, karena arena tersebut adalah arena bermain, dan banyak bocil berkeliaran, gue menunda tangis gue. Jaga image dong. Sialnya, ketika gue sudah se-jaim ini, bukannya anak kecil yang berkeliaran, malah orang pacaran yang berkeliaran. Bajingan. Gue kemudian beneran nangis mewek.
Di tengah mewek, gue teringat satu minggu sebelum pemutaran film, tepatnya ketika Miftah DM gue di Instagram minta dipesankan tiket. Gue bilanh bahwa gue udah pesan tiket bareng Toni dan Nabil. Miftah agak kecewa. Namun, karena sudah berjanji, gue pun mengiyakan untuk menonton berdua bersama Miftah pada tanggal 17-nya. Sebut saja gue nonton dua kali. Gue yang sedang mewek perlahan mengambil ponsel lalu melihat story WhatsApp Miftah. Dia sudah berada di Malioboro, artinya dia benar jadi mau pulang ke kampung. Gue menelepon dia.
"Gimana nontonnya??? Asik??" tanya Miftah di seberang.
"Gue nggak bisa masuk, kesel banget!" gue mendengus kesal. Hidung gue mengeluarkan asap, sampai-sampai wahana Go-Kart di belakang gue terbakar habis karenanya.
"Hahaha kasihan... Udah gapapa, besok Insya Allah gue udah nyampe, kita nonton bareng-bareng! Oke?!"
"Oke."
Gue turun dari lantai paling atas tempat bioskop berada menuju ke lantai paling dasar. Gue muak. Gue keluar dari Mall Transmart dengan kemeja jeans lengan pendek gue yang terbakar amarah. Kesal. Gue duduk di tempat parkir, tempat para sepeda motor saling bertatap muka satu sama lain. Tidak jarang gue temui orang berpacaran di parkiran. Gak modal banget!
Gue yang sedang kesal dan bingung mau ngapain, kemudian menelepon Arjun. Arjun langsung mengangkatnya.
"Kenapa lo? Gimana? Asik filmnya?" Arjun menanyakan pertanyaan yang sama dengan Miftah sebelumnya.
"Gue nggak bisa masuk! Data diri gue di aplikasi nggak lengkap!" jawab gue.
"HAHAHAHAHAHA." Arjun, Aufa, dan Asbiq yang sedang bersantai di ponpes yang sudah libur menertawakan gue dengan puas.
"MAMPUSSS! TADI SONGONG SIH LO!" Arjun menambah patah dan remuk hati gue.
Pilihan gue sekarang cuma ada dua: pulang minta dijemput, atau menunggu film selesai di parkiran sambil bermain batu dan kayu seperti manusia purba. Gue memilih pilihan nomor dua. Ya, mungkin karena DNA primitif gue.
Selain bermain batu dan kayu, sesekali gue bolak-balik untuk membebaskan gue dari amarah. Jam di handphone gue menunjukkan pukul 17.00, sebentar lagi magrib. Tiba-tiba handphone berdering. Nyokap menelepon.
"UDAH MAU MAGRIB, PULANG!!! NENEK KAKEK KAMU DARI KUBURAN PADA PULANG, EH KAMUNYA DI BIOSKOP. DASAR CUCU DURHAKA!" katanya singkat, padat, dan membuat jantung gue berdetak cepat.
Gue langsung bergegas mencari tumpangan, gue menelepon Arjun untuk minta dijemput. Namun, Arjun tidak mengangkatnya. Dia tertidur di ponpes. Gue mencari alternatif lain. Akhirnya ketemu dengan Ainun, tetangga depan rumah. Gue langsung telepon dia dan meminta dijemput.
"Halo, Ain? Boleh minta tolong jemput nggak?" kata gue tergesa-gesa.
"Di mana? Emangnya kenapa?" tanya Ainun.
Gue menceritakan kejadian di Mall tersebut dengan rinci, lalu Ainun mengiyakan dengan cepat untuk menjemput gue.
Ainun pun sampai. Gue dibonceng. Di tengah perjalanan, Arjun menelepon.
"Halo, lo di mana? Ini gue udah otw ke Transmart." Arjun membuka percakapan.
"LO TELAT, BEGO! GUE UDAH OTW RUMAH!"
"Oke gue otw rumah lo!"
Telepon ditutup. Gue meletakkan handphone gue kembali ke saku celana kanan. Tangan kiri gue berhenti di saku kiri dan mendapati sebuah benda mirip kunci motor. Perasaan gue nggak enak. Setelah gue keluarkan, benda tersebut ternyata adalah muncul motor Nabil. BEGOOO!!!! SUMPAH BEGOOO!!! GOBLOK LU!
"Aaaaa ini kenapa gue bawa kunci motor Nabil sih?"
"ASTAGA!" Ainun menanggapi gue dengan tertawa bingung. Ini kenapa ya gue punya tetangga sebego lo? Mungkin itu yang ada di batinnya saat memberi gue tumpangan.
Gue sampai di rumah dengan selamat dan bingung. Gue salam dan masuk ke rumah, untuk sekadar menemui nyokap yang tadi menelepon. Lalu gue keluar lagi dengan alasan ingin mengambil barang. Tak lama setelahnya, Arjun dan Aufa datang berboncengan.
"Hehh lo itu gimana sih?" tanya Aufa.
"KALIAN YANG GIMANA!" ketus gue.
"Lah ini lo mau ke mana?" giliran Arjun bertanya.
"Gue itu bego banget, gue pulang di boncengin temen, eh ternyata gue bawa kunci motor Nabil. Kenapa gue nggak pulang pake motor dia aja?" gue mengklarifikasi semuanya.
"HAHAHAHAHAHAHH AHHHHH ASTAGHFIRULLAH YA ALLAH." Arjun dan Aufa ngakak tak henti-hentinya.
"Udah cepetan anter gue ke Mall lagi!"
"Iya. Kami anter," jawab Arjun sambil masih tertawa.
Di sepanjang jalan, gue menceritakan semua kejadian kampret yang menimpa gue. Mulai dari gagal masuk bioskop, sampai ke drama kunci motor barusan. Arjun tak henti-hentinya tertawa. Untuk seseorang yang tidak suka lelucon, ini adalah Arjun yang berbeda hari ini. Dia tertawa lepas mendengar cerita sial gue.
Waktu magrib tiba, Nabil dan Toni keluar dari Mall. Gue memberikan muncul tersebut sambil menceritakan seluruh drama yang gue alami di luar Mall.
"Zim, tadi itu post credit filmya..." perkataan Nabil langsung gue sela.
"Udah ceritanya lain kali aja! Gue capek!!! Gue ngalamin kejadian-kejadian kampret di sini!" teriak gue kesal. Lalu Nabil mengetahui semua cerita itu. Reaksinya sama seperti Arjun dan Aufa ketika mereka sampai di rumah gue: ketawa ngakak nggak berhenti.
Akhirnya, Toni pulang bersama teman-teman MTsnya, sedangkan gue pulang bersama 3 kampret ini. Kami mampir terlebih dahulu di Masjid dekat rumah gue untuk salat magrib. Gue berdoa, semoga besok Miftah udah nyampe dan beneran ngajak gue ke bioskop. Setidaknya, hanya itulah cara mengatasi patah hati gue hari ini. Salah satu patah hati terhebat dalam hidup gue. Akan gue ingat selalu, Kamis, 16 Desember 2021. Patah hati terhebat gue, NGGAK JADI NONTON SPIDER-MAN. Gajanton. Terima kasih, Pedulilindungi, lo udah mempersulit gue. Terima kasih, Arjun dan Aufa, udah ngetawain gue. Terima kasih, kunci motor Nabil, karena lo gue jadi bolak-balik ga jelas. TERIMA KASIHH SEMUANYAAA!!!! ARGHHHH.
Komentar
Posting Komentar