Stand Up Comedy
STAND UP COMEDY itu asyik, makanya gue bilang ke Aufa dan anggota kelompok lainnya, Yaul, Faris si Adik Kelas Tukang Minta Potoin, dan Afad si Adik Kelas Pendiam, bahwa pensi kelompok kami sebaiknya biar gue saja yang maju stand up. Namun, meski asyik stand up comedy itu sulit. Terakhir kali gue stand up comedy gue diberi kata-kata mutiara (baca: ka9ta-kata kasar) oleh para juri stand up comedy-nya. Lalu, sepulang dari cafe tempat gue open mic, gue diludahi beramai-ramai, kemudian gue ditelanjangi dan diarak keliling kota Pekalongan. OKE, SUMPAH YANG TERAKHIR ITU BOHONG. SUMPAH!
Semenjak hari itu, gue jadi malas menulis materi stand up comedy sendiri. Lalu, untuk pentas seni kali ini, gue mencuri materi stand up comedy-nya bang Raditya Dika. Heheheheheheheh. Bang Radit, kalo lo baca ini gue minta maaf ya. Ya, walaupun gue yakin kayaknya lo nggak bakal baca.
Materi stand up comedy-nya adalah tentang seorang jomlo yang merasa jijik terhadap hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang yang berpacaran. Gue mulai menyusun materi (baca: mengkopi--paste materi) stand up comedy tersebut pada H-seminggu acara pengambilan badge PKS. Lalu, di sinilah gue. Seusai salat isya' dan makan malam, pentas seni dimulai. Dibuka oleh kelompok 2 yang menampilkan sholawatan akustik. Hati para peserta, panitia, dan pembimbing serta purna menjadi adem. Se-adem si Sari.
Gue menyiapkan diri gue untuk jaga-jaga apabila setelah ini kelompok 4 dipanggil untuk maju. Gue menulis ide-ide dasar materi di tangan kiri gue. Seperti "Panggilan sayang", "Telpon sampai malam", dan beberapa lainnya. Ya, ini adalah salah satu teknik curang dalam ber-stand up comedy. Untuk menutupi kecurangan itu, gue mengenakan jam tangan pemberian pacar gue (baca: jam tangan nemu, karena pacar aja sebenarnya gue nggak punya).
"Okee, terima kasih. Sungguh penampilan yang sangat uwuuu dari kelompok 2," ucap Zidni, si Kakak kelas yang menjadi MC pada pentas seni ini.
"Lalu, selanjutnya kita panggilkan. Kelompok 4!!!!"
"Waduh, maju... Sana, Fa. Cepetan. Jangan lupa teksnya!" kata gue ke Aufa. Menyuruhnya bergegas maju untuk menjadi MC stand up comedy yang masuk dalam bagian pensi kami. Rencana gue adalah, Aufa memanggil nama gue, lalu backsound stand up comedy Kompas TV keluar, dan gue maju ke depan. Setelah itu, gue keluar dari perkemahan dan mencari rusa untuk ditombak. Oke, insting manusia purba gue kembali.
"Mau pensi apa ini?" tanya Zidni.
"Cerpen." jawab Aufa, singkat, padat, dan membuat gue bingung. Kok cerpen sih, Fa?
"Oke, silakan," lanjut Zidni.
"Assalamu'alaikum wr. wb." Aufa memulai aksinya.
"Wa'alaikumussalam wr. wb." para peserta lain menjawab.
"Kita panggilkan komika kita.... ZIIIMMMMMM KAZAAMAAAAA."
Lalu muncul backsound stand up comedy Kompas TV.
Tererereret. Tererereret. Tererereret. Tererereteeeettt. Teeeeettttttt. Teeeeeeet. Tererert. Tet. Tet. Tet. Tet!!!!!!!!!!
Ya, nggak usah ditiruin juga sih.
Gue mulai mengucapkan kata perkata dan kalimat perkalimat yang ada di materi. Penonton bahkan sudah mulai tertawa ketika gue baru membuka sesi komedi gue.
"Nama gue Zim Kazama, dan jelek-jelek gini... GUE MASIH JOMLO."
Hahahhaa.... Terdengar suara gelak tawa para penonton.
Terlihat sekitar jarak 6 meter dari tempat gue berdiri, pembina PKS, Pak Ustaz Rozaq yang sekaligus guru mapel ekonomi, nge-videoin gue sedang stand up comedy. Keren. Bakalan terkenal di kalangan guru nih!
Gue mulai bercerita.
"Ketika pdkt lo biasanya akan menemukan panggilan sayang ke dia. Kalo gendut enduuttt enduuutt. Kalo kurus iyuuus iyussss... Kalo gue, NTET KONTET! Sialan!"
Para penonton kembali tertawa terbahak-bahak. Sesekali kopi dan makanan ringan yang mereka sanding mereka nikmati sembari tersedak.
"Whatsapp juga ya... Tiap pagi... 'Silimit pigi siying jingin lipi siripin biir gik sikit' EMANGNYA ADA ORANG DIBAWA AMBULAN TERUS BEGITU NYAMPE DITANYA, 'EH, DIA KENAPA?' 'DIA BELUM SARAPAANNN'!"
Sekilas juga gue melihat Nabil di sebelah panggung bagian kanan gue sedang nge-videoin gue. Dan beberapa adik kelas juga ikutan nge-videoin. Mungkin untuk ditunjukkan kepada seluruh dunia, bahwa di Pekalongan ada orang segila dan seabsurd ini.
"PDKT menjijikan, pacaran juga menjijikan! Biasanya orang kalo pacaran suka banget pamer keuwuan. Gue pernah liat di Tiktok, ada cowok cewek pamer keuwuan di atas motor pelukan terus dikasih lagu, 'Tak kan sia-siakan dia...."
"HAHAHAHAHAA LOO IRII YAAA!!!" Mas Agus, salah satu Purna PKS berteriak kencang dari belakang. Gue melanjutkan nyanyian aneh gue.
"Belum tentu ada yang seperti dirinyaaa...." kemudian gue menendang kursi yang ada di sebelah kiri gue.
Semua orang tertawa kencang termasuk Nabil, Pak Ustaz Rozak, dan Pak Ustaz Rusdi pembina PKS tahun lalu.
"Panitia maap nih panitia maapp!!!" kata gue ketakutan. Lalu terlihat dari sisi kanan panggung, tepat di depan Nabil, Zidni tengah memegang mikrofon sembari matanya mendelik. Lalu tubuhnya berubah menjadi hijau, bajunya robek. ROAAAARRR!!!
Gue dibanting.
Stand up comedy gue selesai lalu dilanjutkan beberapa penampilan kelompok lain. Mulai dari kelompok Imam si Ketua Pramuka yang menampilkan pencak silat Pagar Nusa, lalu kelompok Syahdan si Manusia Setengah Titan yang menampilkan akustik nggak pake sholawat, alias akustik pop. Dan terakhir ditutup oleh persembahan dari para purna, Mas Fahmi sebagai pelatih, dan bahkan Pak Ustaz Rozaq juga sempat menyumbangkan dua buah lagu. Lagu pertama yaitu "Kanggo Riko" beliau berduet dengan Mas Fahmi. Dan lagu kedua "Kau Masih Kekasihku" ciptaan NAFF, beliau berduet dengan gue. Kerenn..
Pentas seni pun berakhir dengan suasana yang sangat meriah. Semua peserta terlihat senang. Para purna juga antusias.
Semua anak kembali ke transit. Namun, tidak dengan gue. Gue lebih memilih untuk menyendiri di lantai dua masjid. Bukan apa-apa, bermediasi sendirian memang menyenangkan untuk gue lakukan. Setengah jam gue menyendiri di lantai dua masjid, para panitia terlihat melakukan hal-hal yang mencurigakan. Lalu, datanglah seseorang dari lantai bawah menghampiri gue. Dia dalah Imam, si Ketua Pramuka. Sesi menyendiri berakhir, gue sekarang mempunyai teman bicara.
Komentar
Posting Komentar