Lima Cowok Bingung

Liburan gue dengan Miftah tidak berlangsung lama. Hanya satu minggu kami bersama. Namun, satu minggu bagi gue sudah cukup, gue tidak bisa memaksa Miftah untuk memperpanjang liburannya begitu saja seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan permen. Gue harus tetap melepas Miftah pada akhirnya. Hari Kamis, 23 Desember kemarin tepatnya pagi hari pukul 09.00 WIB, gue melepas kepergiannya. Kali ini lewat online pun gue tidak merasa berat hati, karena gue terbiasa tanpanya. Dan memang beginilah kita ketika sudah ditinggal: kita akan terbiasa sendiri.

Setelah Miftah kembali ke ponpes, gue mencoba untuk berlibur dengan cara lain, berbeda dengan yang gue lakukan bersama Miftah selama satu minggu: bermain playstation 4 dan menonton film. Gue mencoba mengajak Arjun dan gerombolan kampret pengurus majalah gue untuk berlibur. Akhirnya diputuskanlah hari Ahad, 26 Desember kami pergi ke objek wisata Weloasri, Petungkriyono. 
Rencana awal kami tujuh orang berangkat ke sana, yaitu gue, Nabil, Arjun, Aufa, Asbiq, Tsabata, dan Abrorul si Ketua PMR. Namun, ketika jam menunjukkan janji kami harus ditepati, yaitu pukul delapan pagi, kami semua bahkan belum berkumpul. Ya, inilah kebiasaan teman-teman gue: janjian jam delapan, tapi jam delapan baru nanya “jadi nggak?” Sungguh kebiasaan yang buruk.
“Waduh, maaf ya, aku nggak bisa ikut,” kata Tsabata dalam telepon grup, “aku disuruh bantuin emak,” terusnya. Gue pun memutuskan untuk langsung membawa seluruh personil kampret ini berkumpul di rumah Arjun yang terletak di desa Kwagean, Wonopringgo. Sekalian menjemput Asbiq yang rumahnya di Paesan, Kedungwuni, karena satu arah dari Kertijayan. 

“Kita langsung ke rumah Arjun aja, yuk, Fa, Bil, Ab. Biar nggak keteteran waktunya,” kata gue. 
“Aufa nggak masuk telepon, Zim. HPnya disita,” jawab Abrorul, tidak sesuai perintah gue, tapi justru menjadi informasi yang bagus.
“KAMPRET.”
“Oke, gini aja. Lo sama Aufa boncengan dari Tirto langsung ke Wonopringgo, terus gue sama Azim, gitu?” secara tumben Nabil member saran yang baik. Kayaknya sesuatu yang aneh bakalan terjadi, nih.
Nabil langsung memacu sepeda motornya dari Simbangkulon dengan cepat menuju rumah gue, lalu kami berangkat ke rumah Arjun. Tak butuh waktu lama, gue dan Nabil pun sampai di rumah Arjun. Warna rumah yang sangat gue ingat belakangan ini karena gue sering bolak-balik mengantar Arjun pulang dari ponpes untuk mengambil sepeda motor, urusan wawancara.

“Assalamu’alaikum.” gue mengetuk pintu rumah Arjun yang tidak ada wujudnya, alias transparan. Ya, rumah Arjun sudah terbuka pintunya, sekarang gue gila.
“Ini rumah apa Free Fire?” celetuk Nabil.
“Waalaikumussalam. Cari siapa ya?” 
“Cari pacar, kayak kamu.”
Hening.
“Cari Arjun, Bu. Arjunnya ada?”
“Oh, Arjun. Sebentar saya panggilkan, kalian duduk dulu.” Ibu Arjun mempersilakan kami duduk. 
Tidak berselang lama, muncullah Arjun dari balik tirai 1. YESSSS GUE DAPET MOBIL.

Arjun baru saja bangun tidur, terlihat dari matanya yang sepet, hidungnya mampet, dan mukanya yang bikin gue mau pipis, tapi gue empet. Rambutnya berantakan seperti singa yang habis berantem bersama koala. Gue nggak tahu ini jenis metafora apa, jelek banget. Untuk alasan apa singa berantem dengan koala? Rebutan kayu ekaliptus? Singa kan karnivora.

“Apaan sih? Masih paghi ngehgangghu ajhaa,” tanya Arjun dengan suara yang samar-samar masih berada di alam mimpi. Bau napasnya seperti naga yang habis makan koala. Loh?
“APAAN APAAN PALA LO PEANG. Jadi healing gak kita? Masak enam bulan kepala dibikin botak ngurus majalah, eh nggak ada healingnya.” gue langsung member kultum pagi kepada Arjun yang jiwanya terlihat butuh ceramah religi.
“Oh, iya. Bhenthar… ghueh mhandi duluh,” jawabnya dengan suara yang masih aneh.
“Eh, iya? Aufa sama Abrornya mana?” tanya Arjun setelah membalikkan badan untuk menuju kamar mandi, sekarang dia justru membalikkan badan ke gue, gue membalikkan badan ke Nabil, Nabil membalikkan fakta dan realita, nah, bingung nggak lo?

“Aufa sama Abror udah di jalan tadi katanya, otw ke sini,” jawab Nabil.
“Kalo Tsabata?” Arjun bertanya lagi.
“Tsabata nggak jadi ikut, dia harus bantuin maknya. Lo nggak nyimak telepon tadi emangnya?” tanggap gue.
“Telepon apaan?” tanya Arjun seolah tidak terjadi apa-apa, padahal jelas tadi dia ikut masuk di panggilan.
“LAMA LAMA GUE GAMPAR PANTAT LO!” Nabil mulai kesal.
“Asbiq mana?” tanyanya lagi.
“ASTAGHFIRULLAH, gue lupa.” Gue menepuk jidat Nabil, Nabil bonyok.
“Ya udah kalian jemput Asbiq, gue mandi dulu.” Arjun membalikkan badannya lagi.
“Baru nyampe udah diusir, tuan rumah macam apa kau ini.” Nabil mulai memeragakan adegan dramatis yang ia pelajari di youtube.

Setelah percakapan yang melelahkan dan membagongkan dengan Arjun, Aufa dan Abror pun sampai di rumah Arjun. Tetapi, ada yang aneh dari penampilan mereka. Ya, tentu saja… DNA anak ponpes, mereka memakai baju koko dan sarung serta berpeci. 
“GILAAAAA! KALIAN MAU NYEBUR KALI APA TAHLILAN??” tanya gue dengan ekspresi berapi-api. 
“Biar gampang nanti sembahyangnya,” jawab Aufa.
“Kami bawa baju dan celana, kok, tenang aja.” Abror ikut menjawab, sekarang hati gue tenang. Yang tidak tenang adalah mereka.
“Bisa tolong jemputin Asbiq nggak?” pinta gue.
“Boleh boleh, yuk, Ab. Kita ke rumah Asbiq.” Aufa menanggapi perintah gue dengan senang hati. Memang calon suami idaman buat Cindy lo!
“Satu masalah selesai,” kata gue.
“Masalah lain datang, nih,” jawab Nabil, bermaksud menunjukkan bahwa Arjun sudah selesai mandi. Gue benar-benar nggak tahu apa maksud Nabil bilang begitu. Entah karena Arjun memang suka membuat masalah atau karena masalah lain yang dia maksud adalah Arjun sudah selesai mandi. Masalahnya dari mana?
“Loh, mereka mau ke mana?” Arjun bertanya lagi, kali ini dengan napas yang wangi seperti parfum bapak-bapak mau pergi tahlil.
“Mau jemput Asbiq,”jawab gue.
“Kita tunggu aja sambil duduk di kursi ini,” kata Nabil sambil menunjuk pada bangku di depan rumah Arjun. Gue masih bingung kenapa sampai sekarang Nabil masih tidak tahu apa bedanya kursi dan bangku.
“INI BANGKU, BEGO!” tubuh gue sudah berubah hijau.

Sekitar sepuluh menit menunggu, Aufa dan Abror pun kembali dengan tangan hampa. Asbiq tidak berhasil mereka selamatkan dari kejamnya Green Goblin, OKE STOP! 
“Loh, Asbiqnya mana?” kali ini giliran gue yang bertanya.
“Nggak ikut katanya. Baru bangun tidur,” jawab Aufa.
Gue sekarang dibuat bingung dengan kelakuan Asbiq yang satu ini. Pengaruh apa yang diberikan oleh “bangun tidur” kepada pergi berlibur? Asbiq memang sering melakukan hal-hal di luar nalar manusia pada umumnya. Contohnya ketika jalan depan ponpes sedang dibongkar untuk ditinggikan, dia tidak mau beranjak dari menatap Crane yang sedang mengeruk tanah. Arjun sampai kebingungan. Ketika ditanya, Asbiq cuma menjawab “keren”.
“Ya udah, deh, ayo let’s go. Kita healing!!!” kata gue antusias banget.




Gue adalah tipe orang yang premis banget sama orang yang pacaran. Kata dokter, gue menderita sindrom anti-lovusme (baca: alergi sama orang pacaran). Gejalanya meliputi mual, muntah-muntah, gangguan kehamilan dan janin. Hal ini terbukti di setiap kali gue melihat orang pacaran, gue akan melongo beberapa saat, mengingat masa lalu selama tiga puluh detik, lalu muntah tiga ember. 

Begitu pula dalam perjalanan menuju objek wisata Weloasri. Ketika memasuki cagar alam Petungkriyono, mulai terlihat beberapa sejoli yang berboncengan menuju ke destinasi-destinasi wisata yang ada di Petungkriyono. Mulai dari Black Canyon, Welo Asri, Karang Srity, dan masih banyak lagi, gue nggak hafal, cuma tiga itu yang gue tahu dan pernah gue kunjungi. 
Hal ini lantas membuat sindrom anti-lovusme gue kumat. Gue yang dari tadi membonceng Nabil, mendadak minta sepeda motor dihentikan.

“Biar gue yang di depan, Bil!” kata gue.
“Lah, emangnya ngaruh sama sindrom aneh lo itu?” Nabil heran dengan permintaan gue. Mungkin setahunya, untuk meredakan sindrom gue ini adalah dengan cara menenggelamkan gue ke dalam setoples kacang arab, bukan pindah dari jok belakang ke jok depan.
“UDAH CEPETAN!” gegas gue.

Lalu sekelebatan para sejoli itu lewat di semping kami berdua yang sekarang tertinggal jauh dari rombongan. Jalanan Petungkriyono yang berkelok dan menanjak ini bahkan tidak cukup untuk gue menghijaukan diri dan berubah menjadi Hulk.
“Zim, kita ketinggalan jauh.” Nabil merengek.
“Udah santai aja. Alon-alon asal kelakon. Arah perjalananmu lebih penting daripada kecepatanmu menempuh jalan,” kata gue belibet. 
“Keren quotesnya. Besok lo ngisi mauidhoh hasanah di khaul kakek gue aja, deh!”
“Boleh, asal bisyarohnya PS 5 sih gue mau mau aja.”
“Dikasih hati minta jantung, sialan lo.”

Gue memacu sepeda motor Nabil dengan kecepatan yang rendah, selain karena gue memang tidak terbiasa ngebut, juga karena jalanan Petungkriyono yang ekstrem. Kalaupun ngebut, kita bakalan sampai di objek wisata yang keren. Yaitu QnA bersama malaikat Munkar dan Nakir.
Akhirnya, sampailah kami lima cowok yang setengah keren(sengaja gue sebut setengah, karena kami memang nggak keren). Arjun menuju loket untuk membayar tiket masuk.
“Berapa, Mbak?” tanya Arjun.
“3 motor, 5 orang, 31 ribu, Mas.”
“Nih, Mbak. “Arjun menyodorkan uangnya.
“Makasih,” kata Mbak-mbak loket tersebut sambil memegangi tangan Arjun.
“IHHHHH GENITTTT.”


Kami kemudian memasukkan sepeda motor kami di parkiran. Sejurus gue melihat kea rah speedometer. Bensin motor Nabil hampir habis.

“Lo tadi beli bensin berapa di pom pas kita berangkat?”
“Pertamax, lima belas ribu.”
“KAMPRETTTTT. LIMA BELAS RIBU MANA CUKUP KALO PERTAMAX, NYINGGGG.”
“Ada apaan nih ribut-ribut?” tanya Aufa.
“NABIL BELI BENSIN 15 RIBU DOANGG, SEKARANG UDAH MERAH MAU ABIS,” jawab gue dengan perasaan yang semakin terkendali. Dalam hati gue bergumam lirih. Kenapa ya? Setiap sebelas menit dalam hidup gue, gue nggak pernah jauh dari kejadian absurd?
“Itu mah motornya Nabil aja yang boros. Punya gue tadi cuma gue isi 10 ribu. Awet kok.” Aufa dengan santai menanggapi kekesalan gue.
“TAPIIII.”
“Itu tadi 31 ribu itungannya gimana, Jun?” Abror bertanya ke[ada Arjun.
“Nggak tahu, nggak dirinci, mana si mbak-mbaknya genit lagi. TANGAN GUE DIELUS ELUS, sialan lah.” Arjun mendengus geram. 
“Udah, yuk kita lupain semua kekampretan ini. KITA HEALINGGGG AJAAAA,” ajak Nabil. Tak merasa bersalah sama sekali.
Saat menuruni tangga menuju sungai yang menjadi destinasi utama di tempat ini, sindrom gue kembali kumat, ya, ini hari Ahad. Artinya adalah… YA BANYAK YANG PACARAN DI SINI!
“Zim, Zim, coba liat deh. Pasti udah njerit njerit lo,” ajak Arjun. Sesat. Dan dengan begonya gue nurut begitu saja.
“OHHHH, GOD. NOOOO. PLEASEEEEEEE!” badan gue sudah berubah wujud. Otot-otot besar mulai bermunculan. Sambutlah. THE NGENEST HULK!
“31 RIBU UNTUK MELIHAT SEMUA KEKAMPRETAN INI DOANG, HUH?! HAAAAARGGGHHGHHGGGHGH.” gue membanting-banting para pasangan kampret sok romantic tersebut. Lalu, dengan jurus penenang andalannya, Nabil menabok pantat gue. Gue kembali menjadi manusia utuh. 

“Ayo kita lompat aja,” ajak Abror.
“Ab, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya,” kata Nabil.
“Gue mau nyebur ke kali, Bil. Nggak usah aneh-aneh.”
“Oh.”
“Lo mau nyebur nggak, Zim?” tanya Nabil.
“Nggak. Gue cuma mau duduk di atas batu ini aja.” semangat liburan gue hilang tertutup badmood. Gue kemudian memutar salah satu lagu bergenre indie folk karya band Fourtwnty, yang berjudul “Aku Tenang”. Gue menarik napas. Hmmmmphh. Sekarang suasana menjadi sangat tenang. Sementara Arjun, Aufa, dan Abror pergi ke atas menuju air terjun untuk berfoto, gue stay di atas batu bersantai sambil menyaksikan aliran air sungai.
“Sini, Zim!” undang Arjun. 
“Apaan? HAHHHHH PACARAN LAGI, AU AH!”
“Kayaknya lo harus terbiasa deh, Zim. Ikutin kata gue.” Nabil mulai memeragakan adegan dramanya lagi.
“Apaan?”
“Aku… bisa… liatin… orang pacaran.”
“Aku bisa liatin orang pacaran.”
“Nah, diulang-ulang coba.”

Gue benar-benar tidak tahu untuk apa mantra aneh ini diciptakan? Atau bahkan, untuk apa mantra ini diciptakan? Namun, dengan mengulang-ulang mantra aneh ciptaan Nabil tersebut, gue jadi bisa bangkit dan menatap mereka, para sejoli kampret, dengan tatapan yang keras. Dengan satu tarikan napas, gue berdiri dari tempat duduk gue seraya berkata, “I CAN DO THIS…. ALL DAY!” Sebuah kalimat yang sering diucapkan Captain America ketika sedang bertarung melawan musuh-musuhnya.
Sementara gue mencoba menyembuhkan diri dari sindrom aneh gue, Arjun, Aufa, dan Abror masih kebingungan apakah mau nyebur atau nggak, di atas patung ular tersebutlah mereka berdialog.
“Kita jadi nyebur nggak sih?” tanya Abror.
“Nggak, ah, foto-foto aja,” jawab Arjun.
“Iya, foto aja,” tambah Aufa.
Terdengar dari bawah suara gue dan Nabil yang mencoba menghampiri mereka bertiga.

“WOIWOIWOIWOIWOIOI.” Nabil melambai-lambaikan tangannya yang penuh catatan mantra sihir.
“Udah gini doing nih liburan kita? Bayar 31 ribu cuma buat liat orang pacaran duduk di atas batu,” keluh gue.
“Yaaa setidaknya lo bersyukur kita bisa liburan, ini udaranya enak banget loh,” kata Arjun, mencoba membujuk gue agar tidak menjadi Hulk lagi.
Lalu, disinilah kami… Lima cowok yang bingung mau melakukan apa. Bingung antara mau nyebur atau cuma duduk di atas batu sambil menonton telenovela gratis. Bingung bagaimana caranya tetap santai ketika ada orang pacaran. Bingung bagaimana bisa masuk ke sini 31 ribu rupiah. Setidaknya, meski kami bingung, kami bahagia karena di sini kami bisa melepaskan semua beban-beban selama satu semester ini. Gue tahu sesuatu sekarang: gue butuh teman untuk bisa melepaskan diri dari sindrom ini. Simple banget caranya, yaitu dengan menertawakan mereka bersama-sama. Yang gue lakukan adalah ngevideoin mereka dengan di-dubbing, lalu kami semua menertawakannya. Bahagia memang kadang aneh.

Komentar

Postingan Populer