Hal Terkampret Dalam Kaderisasi

Seperti yang sudah gue ceritain di bab Percakapan Dengan Ketua Pramuka, panitia sempat terlihat mondar-mandir, dan bahkan akhirnya gue dan Imam diciduk oleh Zidni untuk dibawa ke transit.

Di saat semua peserta tengah terbang bersama mimpi-mimpinya, sebuah gedoran pintu yang sangat kencang menjatuhkan mereka semua dari alam mimpi. "BANGUNNNN!!" GUBRAKK GUBRAKK GUBRAKKK!
Terdengar suara para purna lawas (sekarang sudah lulus) sedang menggedor-gedor pintu dan berteriak-teriak. Ada yang berteriak dari bawah koar-koar bikin jantung kami semua terpaksa harus memompa darah 2 kali lebih cepat dari biasanya, yaitu Kak Izul, lalu Kak Saiful menggedor-gedor pintu.
"CEPATTT TURUNN!!! WAKTU KALIAN SATU MENIT!!!! DIMULAI DARI SEKARANG!" Kak Izul mengencangkan suaranya yang sangat lantang.
"PAKE BAJU FULL! ID CARD JUGA DIPAKE!" Kak Saiful menambahi.
Kami semua panik, kami langsung mencari-cari di mana seragam kami berada. Ada yang salah memakai ID-Card, ada yang salah memakai baju, dan ada yang berlari dengan kencang karena saking paniknya, lalu dia pergi menaiki naga. Loh, kok jadi kayak sinetron laga Indonesia sih?

Gue tidak ambil pusing dengan keadaan begini. Batin gue sudah firasat sejak semalam. Gue sekarang cuma bisa mengambil kemeja osis gue dan mengeluarkan kata-kata mutiara dalam hati.
"Sialan," kata gue kesal.  Gue kemudian keluar mengambil sepatu. Kak Saiful berteriak di telinga gue.
"CEPETAN!! GAUSAH LAMA LAMA! SEPATUNYA AMBIL AJA TERSERAH!"
Gue hanya bisa berkata dengan lirih, "Iya, iya, ini juga lagi dicari."
Padahal, jika sopan dan pantas, gue lebih memilih untuk berteriak di depan mukanya dengan berkata, "SABAR DONG KAMPRET, MUKE GILE LO SURUH GUE AMBIL TERSERAH, INI JUGA GELAP GOBLOK! LO TAU GELAP KAGAK HAHHHH???!!!" Lalu gue berubah menjadi Spider-Man berkostum Bat-Man. "Waduh, ID-Card gue di mana ini?" Masalah lain muncul. "AH BODO! PENTING GUE TURUN DULU!"
"AHHH INI IKAT PINGGANG GUE MANAAA WOI?!" masalah baru datang.

Satu menit bukanlah waktu yang cukup untuk gue memakai sepatu, jadi setelah menemukan keberadaan jodoh gue, sorry bukan itu maksudnya. Jadi, setelah menemukan keberadaan sepatu gue, gue langsung turun ke lantai bawah tempat Kak Izul berdiri, karena transit peserta ada di lantai atas. Gue langsung memakai sepatu, lalu hitungan Kak Izul yang sudah mencapai 2 habis.
"3.... 2.... 1... WAKTU HABIS!" katanya.
"Lihat! Yang tepat waktu cuma ada tiga anak! YANG LAIN NGAPAIN AJA HAHH?!" teriaknya lagi, kesal terhadap para peserta yang gerakannya lemot seperti kura-kura terkena asam lambung.
"Yang telat ke barat, tolong Kak Abdullah, disiapkan ini yang telat," pinta Kak Izul.
"Siap, Ndan!" jawab Abdullah, salah satu purna kelas 12 yang berbadan gempal.
"Mas, itu kok nggak pake Osis? Kok pake jas sama sarung sama sepatu?" Kak Izul menunjuk pada seorang adik kelas yang berbadan kecil.
"Nggak ketemu, Kak," jawabnya singkat.
"TERUS?!"
Anak itu sekarang hanya diam. Lalu pergi ke transit peserta untuk mengambil seragam Osisnya.
"HEH MAU KE MANA? BELUM DIKASIH INSTRUKSI KOK UDAH JALAN?!" KAK Izul berteriak lagi.
"ID-Card lo mana, Ul?" tanya gue ke Yaul, teman satu kelompok gue.
"Tadi malem gue tinggal di tempat pensi. Kayaknya punya lo juga di sana," jawab Yaul menghilangkan pertanyaan di kepala gue yang dari tadi bingung ID-Card gue di mana.
"Waduh, mati nih! ID-Card nggak ada. Ikat pinggang nggak ada. Kayaknya gue bakalan dipanggang, nih!" gumam gue lirih.
Saat Kak Izul mencoba menyiapkan barisan, tiba-tiba Yaul berlari ke arah tempat pentas seni. Yaul hilang dari pandangan kami semua.
"HEY ITU KE MANA? MAU NGAPAIN?"
Kak Abdullah kemudian memanggil Yaul. Yaul langsung datang.
"INSTRUKSINYA APA HAA? DENGERIN DONG INSTRUKSINYA! KALO SURUH SIAP, YA SIAP. KALO SURUH NGERAPIIN PAKAIAN, BARU KALIAN RAPIIN. NANTI DULU NYARI ID-CARD-NYA." mulut Kak Izul mengeluarkan busa. Kali ini bukan busa cuci piring, melainkan busa cuci mobil.
"PKS ITU HARUS DISIPLIN! KALO INSTRUKSINYA TURUN DALAM WAKTU 1 MENIT ITU TURUN!" urat-urat tenggorokan Kak Izul terlihat jelas meski suasana agak gelap malam itu.
"KALO KALIAN..." belum selesai Kak Izul berbicara, ada anak yang baru turun dan berjalan dengan sangat santai.
"HEY HEY HEY HEYY ITU KOK BARU TURUN HAH??? NYANTAI BANGET?!?! CEPETAN, MAS, WOI CEPET!" Kak Izul semakin kesal. Sekarang dia berpotensi untuk menjadi Hulk. Sabar... Sabar...

Anak tersebut adalah Adhie, teman satu kelas gue. Dia dengan pedenya melangkah santai di depan para peserta lain yang jantungnya sekarang sudah copot. Tinggal paru-paru doang harapan hidup kami. Itu pun berisiko banget, jiah. Mata Adhie masih terlihat ngantuk, sepertinya dia tidak peduli dengan instruksi yang diberikan Kak Izul, yang Adhie pedulikan adalah keberadaan kaum fakir miskin dan dhuafa yang butuh bantuan sembako. Ini kenapa jadi religius gini, sih?
"LEMOT...," bentak Kak Izul, "BERDIRI DI DEPAN SINI!" Kak Izul menunjuk tepat di depan para peserta yang terlambat. Selain tiga peserta yang tepat waktu.
"Yang telat, push-up satu seri!" Kak Izul memerintahkan kami yang terlambat. Diiring datangnya purna-purna lain. "CEPATTT!"
Kalau sudah begini, gue cuma bisa menurut. Gue nggak bisa membantah perintah. Akhirnya, dengan perasaan terpaksa, gue menurunkan badan gue dan melakukan push-up. DENGAN MATA YANG MASIH NGANTUK!
"Ini temen kalian yang lemot ini mau diapain? Hukum apa ini?" tanya Kak Izul pada para peserta.
Para peserta hanya diam. Ketakutan. Dan mungkin beberapa dari mereka ada yang pipis di celana. Atau bahkan berak di celana karena saking takutnya. Bagaikan peperangan coy!
"KALIAN BISU APA GIMANA HAAHH??" Kak Izul mulai merah mukanya, sekarang Hulk merah lebih cocok untuknya, "Ini yang telat aja hukumannya push-up 10 kali, masa yang telat telatnya telat gak dihukum?" tanyanya.
Gue memberanikan diri. Dengan satu tarikan napas... Fiuhhhh gue bilang, "PUSH-UP DUA PULUH KALI!"
"APA ITU?"
Batin gue kesal. Tadi disuruh jawab, giliran jawab malah ditanya balik "Apa itu?" Kampret. Kalau gue orangnya pemberani dan nggak cengeng, mungkin gue akan berteriak dan bilang, "PUSH-UP DUA KALI COK UCOK! MAKANYA KALO PUNYA KUPING TUH DIKOREK!"
Namun, gue hanya mengulang perkataan gue yang pertama.
"Push-up dua puluh kali!" kata gue.
"Yang lain setuju?" tanya Kak Izul.
"SETUJUUUUU!" para peserta menjawab kompak.
"Silahkan, Mas. Ambil posisi siap." Kak Izul bergeser ke arah barat menjauh dari Adhie.

Gue puas banget. Dengan satu tarikan napas, gue sudah menyelamatkan seluruh peserta yang ketakutan dan copot jantungnya. Sekarang jantung mereka sudah nyambung lagi. Adhie kemudian masuk ke barisan setelah selesai.#
"Semuanya baris jadi satu," pinta Kak Izul.
"ITU DI BELAKANG LAGI NGAPAIN ITU? HAHH?!" Kak Izul menunjuk ke Fawaz.
"Lagi berdoa, Kak," jawabnya gemetar.
"BERDOA? BERDOA BUAT APA?!"
"Biar nggak ngantuk, Kak."
Hening.
Salah satu purna dari belakang meneriakki Fawaz.
"WUDHU DONG!! SHOLAT TAHAJUD SEKALIAN!"
"Sekarang saya beri waktu 2 menit untuk kalian yang ID-Card-nya masih ketinggalan di atas. DIMULAI DARI SEKARANG!"
Yaul kembali ke tempat pentas seni untuk mencari ID-Card kami berdua. Sementara gue ke transit peserta mengambil ikat pinggang.

2 menit selesai. Kami semua sekarang lengkap. Kak Izul menjelaskan kegiatan apa yang akan kami lakukan pukul 01.30 WIB ini.
Jadi... sekarang ini kegiatannya adalah jurit malam. Sudah ada pos-pos yang tersebar di sekitaran desa Kergon ini. Nanti kalian tinggal ikuti tandanya saja, paham?" Kak Izul menjelaskan semuanya.
"Siap, paham!" jawab para peserta.
"Serius paham? Beneran?" Kak Izul bertanya sembari memasang muka sinis. Muka ala pembunuh berantai. Semua peserta kembali terdiam. Tidak ada yang berani berbicara. Lalu, kembali dengan satu tarikan napas, gue mengangkat tangan kanan gue, dan bertanya, "Tandanya pake apa, Kak?"
"Bagus. Ada yang mau tanya lagi?" Kak Izul menawarkan pertanyaan lagi.
"Ada berapa pos, Kak?" tanya Rizal dari barisan paling barat.
"Oke. Jadi sudah ada 4 pos yang tersebar, kalian tinggal ikut tandanya. Tandanya nanti pake garis polisi. Paham?"
"Siap, paham!"
"Kelompoknya Rizal dan Azim silakan bisa jalan dulu karena sudah bertanya, tapi urut, ya! Kelompoknya Rizal dulu," kata Kak Izul.
Sekali lagi, gue menyelamatkan orang banyak, kalau tadi gue menyelamatkan seluruh peserta, sekarang gue menyelamatkan kelompok gue.
"Makasih, Zim." Aufa menepuk bahu gue.

Kelompok Rizal kemudian berangkat mendahului kelompok gue, lalu dilanjutkan kelompok gue berangkat setelah mereka menjauh.
"Ayo, Let's go!" kata Yaul bersemangat. Diikuti gue yang iya iya doang sambil menguap. Bau napas gue seperti naga.
Tanda yang dimaksud pun terlihat. Nampak sebuah tanda garis polisi berjumlah dua. Artinya jalan ini tidak boleh dilalui. Kami melanjutkan perjalanan dengan melewatkan tanda tersebut, lalu sebuah tanda satu garis polisi nampak, nah, ini dia.
"Ini dia tandanya! Yuk kita jalan lurus ke gang sana!" perintah gue.
Semua anggota kelompok mengikuti gue. Namun, di tengah gang gue tidak menemukan tanda lanjutannya sama sekali. Pasti panitia lagi ngerjain kami, nih!
"Loh, kok ga ada tanda di sini?" tanya gue kebingungan.
"Kayaknya kita salah jalan deh," Yaul menimpali.
Lalu, dua purna datang menghampiri kami dengan sepeda motor. Mereka adalah Abdullah dan Gus Arsyad. Mereka bertanya ke kami, "Sudah ketemu belum posnya?"
"Belum." kami menjawab kompak.
"Lihat lagi coba tadi tanda di awal kalian keluar dari kompleks MTs. Coba diinget-inget," kata Gus Arsyad. Aufa langsung mendapat pencerahan. Sejurus kemudian dia menepuk pundak gue.
"OH! GUE TAHU! Kita lurus ke arah barat...," kata Aufa optimis.
"Puter balik ke MTs dong? Capek tau!" gue merengek.
"Tapi kayaknya Aufa bener deh, kita coba aja yuk!" Yaul meyakinkan gue. Lalu diikuti oleh anggota kelompok lain yang terdiri dari Faris dan Afad yang mengiyakan ajakan kedua makhluk pintar tersebut. Akhirnya dengan terpaksa gue ikuti kemauan mereka.
"AYO LARI!" Aufa dan Yaul langsung berlari menginggalkan gue. Diikuti oleh Faris dan Afad.
"WOI TUNGGUIN GUE! GUE CEMEN!" gue langsung berlari mengikuti mereka.

Dan benar saja. Ternyata ada pos di tempat tersebut. Ditunjukkan dengan 3 kali tanda satu garis polisi. Kami semakin yakin bahwa ini adalah jalan yang benar. Ya, iyalah, yang mimpin Aufa pasti benar. Kalau gue, sudah pasti kalian tersesat. Tersesat ke jalan yang zalim.

Pos 1 ini berada di sebuah halaman rumah yang cukup luas. Setidaknya bisa digunakan untuk berbaris dua kelompok. Pos ini dijaga oleh Huda dan Fathur. Di pos ini kami diharuskan melakukan PBB dengan baik dan benar.
"Selamat datang di Pos 1. Pos PBB. Silakan ketua kelompok bisa maju menyiapkan barisannya dan melakukan laporan," kata Fathur. Yaul kemudian maju dan menyiapkan barisan.
"Siap, grak! Lapor! Kelompok 4 siap melaksanakan tugas!" tegas Yaul.
"Laksanakan!" Fathur kemudian mempersilakan Yaul kembali ke barisan. Lalu, Fathur bertanya, "Ada berapa gerakan dasar dalam PBB?"
Gue dengan jurus andalan gue yaitu PD, asal menjawab, "Ada dua belas!"
"Salah," ucap Fathur cepat. Hati gue langsung hancur.
"Empat belas!" Yaul langsung menjawab. Dan jawabannya benar.
Emang The Real PKS dia mah!
Setelah Yaul berhasil menjawab, kami pun disuruh mempraktikkan baris berbaris. Dari gerakan siap grak, sampai ke gerakan nomor empat belas. Gue nggak hafal, intinya ada empat belas gerakan.

Pos PBB selesai. Kami melanjutkan perjalanan ke pos 2. Sementara yang lain berjalan santai, gue masih ngos-ngosan karena adegan berlari tadi. Tidak jauh dari pos 1, pos 2 terlihat. Ada sebuah lilin yang berdiri sendirian. Namun, tidak ada orang sama sekali. Kami menghampiri lilin tersebut.
"Ini ada lilin, kayaknya ini pos 2 deh!" kata Aufa.
"Kok nggak ada orang?" tanya gue.
Kami berjalan menghampiri lilin tersebut, tiba-tiba muncul dua orang purna kelas 12. Mereka adalah Arsal dan Hasan.
"Selamat datang di pos 2," Hasan mengejutkan kami.
"BUSET! GENDERUWOOO!!!" gue terkejut melihat kemunculan Hasan yang tiba-tiba. Arsal memandangi gue sinis. Mungkin dalam hatinya dia bergumam, "Apaan sih, bocah gaje."
Yaul kemudian menyiapkan barisan. Lalu Hasan menjelaskan bahwa di pos ini kami disuruh mempraktikkan 12 drill pengaturan lalu lintas. Gue yang terakhir ikut latihan PKS tahun lalu samar-samar hanya mengingat satu gerakan: stop dari arah depan. Gue hanya tinggal meletakkan tangan gue di depan dengan telapak terbuka. Lalu meniup peluit sekencang-kencangnya sampai pengguna jalan jadi budek. Ya, gue memang kejam.
"12 drill lalu lintas! Stop dari arah depan! Persiapan!" Yaul memulai komando. "Priiiit."
Gerakan pertama benar. Aufa berbisik di telinga gue.
"Gue nggak ngerti," katanya.
"Udah, ikut Yaul aja!" ajak gue.
Kami berdua hanya mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Yaul, namun karena gue yang sudah tidak pernah ikut latihan, Aufa yang tidak tahu, Faris yang jarang ikut latihan, dan Afad yang kebingungan, kami pun salah salah dalam melakukan gerakan.
"Selesai!" Yaul kembali ke barisan.
"Tadi ada yang salah. Sekarang kalian push-up 10 kali!" perintah Hasan. Gue yang nggak tahu siapa yang salah dan di mana letak kesalahannya sekarang hanya mangap-mangap kebingungan.
"SALAH GUE APA HAA?"
"Silakan bisa lanjut ke pos selajutnya."

Perjalanan menuju pos 3 cukup melelahkan. Pos ini cukup jauh dari pos 2. Letaknya di antara kuburan dan rel kereta api. Gue mulai suuzon, jangan-jangan kali ini jika kami salah kami akan dikubur hidup-hidup. Atau yang lebih parah adalah kami dilempar ke rel kereta api untuk ditabrak kereta api. UDAH GILA KALI!
"Itu ada rame-rame di kuburan, kayaknya itu pos 3. Ayo cepet, Guys!" Yaul bersemangat. Gue kehilangan semangat. Sekarat.
"ZIM, BANGUN, ZIM, ADA ZOMBIE!" Aufa berteriak.
"Gak takut!" gue masih berbaring di jalan.
"ADA KECOA TERBANG!"
"HAHHHHHH LARIIII."
Kayaknya nggak usah gue jelasin apa yang terjadi barusan.

Beberapa meter dari pos tersebut terlihat kelompok Rizal yang seperti sedang diberi ceramah oleh Kak Agus, purna yang paling sangar di antara purna-purna lain. Lalu, terlihat pula siluet Kak Izul yang tadi sempat marah-marah di pos pemberangkatan. Firasat gue nggak enak.
"Kak Agus! Ada yang datang ini!" Kak Izul menunjuk ke kelompok gue.
"Kamu urus dulu yang itu," jawab Kak Agus.
"Siap, grak! Kalian tunggu di sini. Kalian hitung gerbong keretanya!" Kak Izul tiba-tiba memerintahkan kami untuk menghitung gerbong kereta yang sebentar lagi lewat. Mata gue seketika mendelik. UDAH GILA KALI YA?!
Jarak antara rel dan tempat kami berdiri hanya berkisar 10 meter, suasana yang gelap dan mencekam sekarang semakin terasa mengerikan, gue dan anggota kelompok lainnya disuruh menghitung gerbong kereta. Kak Izul kemudian meninggalkan kami dan berjalan menuju tempat Kak Agus berdiri. Gue membungkukkan badan untuk melihat kereta yang samar-samar lampu depannya mulai terlihat. Kak Izul tiba-tiba berteriak.
"HEHH NGAPAIN TENGAK-TENGOK?! HAH?! BELUM PERNAH LIAT KERETA?!" urat tenggorokannya kembali terlihat. Gue langsung berdiri tegap dan menghadap ke depan. Kereta datang. Ngeeengg.
"Satu... Dua... Tiga... Empat... Lima..." gue menghitung gerbang kereta dengan sangat berhati-hati. Mata gue bahkan mengikuti gerbong tersebut bergerak. Sekarang mata gue hilang. Lah?
Mata gue hanya melihat pada bagian pembatas gerbong satu dan gerbong selanjutnya. Akhirnya, setelah mata gue dibuat berkeliling dan kepala gue dibuat pusing, gue tahu jumlah gerbong kereta tersebut. Jumlahnya 17.
"Berapa jumlahnya, Guys?" Yaul bertanya.
"Delapan belas," jawab Faris.
"Enggak. Tujuh belas," sanggah gue.
Aufa kemudian dengan santai dan tidak berdosanya berkata, "Gerbong kereta kan emang 17, kalian nggak pernah baca apa?"
Hening.
Sekarang usaha gue menghitung gerbong sampai mata gue hilang jadi sia-sia. Sialan!
"Kenapa lo nggak bilang dari tadi, Kampret!"
"Kan lo nggak nanya!"
"Heh itu kelompoknya Yaul, ke sini cepet!" perintah Kak Izul.

Kak Agus memasang muka sangar, ia membuka pos dengan selamat datang dan pertanyaan-pertanyaan yang sangat memojokkan.
"Tujuan kalian ikut pengambilan badge ini apa...?" tanyanya serius, "KOK DIEM KAYAK PATUNG? PUNYA MULUT JAWAB DONG!"
Yaul kemudian memberanikan diri untuk menjawab, "Siap! Mencari pengalaman!"
"SUDAH BIASA DENGAR!" Kak Izul berteriak dari samping.
"Siap! Meneguhkan diri menjadi PKS sejati!" gue dengan pedenya menjawab tanpa pikir terlebih dahulu. Perkataan gue pun langsung disanggah oleh Kak Izul.
"Meneguhkan? Itu maksudnya meneguhkan gimana?" mukanya sekarang terlihat creepy seperti pembunuh berantai yang hobi tersenyum untuk menyembunyikan kedoknya.
"Ehmm... Kalo tahun lalu kan nggak ada pelantikan, nah ini kan nanti ada pelantikannya, ya gitu mungkin," jawab gue dengan gemetar. Gue pipis dikit di celana.
"Oh," tanggap Kak Izul.
"Kalian itu di sini nggak sekedar ikut-ikutan! Pengambilan badge...? Badge mah di toko banyak! Kalian tinggal beli! Tapi perjuangannya itu yang besar." gue dengan mengantuk kurang jelas menangkap kata-kata Kak Agus. Intinya adalah kita semua tidak boleh sekedar ikut-ikutan. Perjuangan mengikuti pengambilan badge inilah yang besar dan berat. Itulah yang seharusnya menjadi alasan kita mengikuti event ini: untuk berjuang. Badge-nya memang sepele, bisa beli di toko, namun perjuangannya yang tidak sepele.
Ceramah selesai, kami dibentak-bentak kembali. Hm. Dalam hati gue cuma bisa bergumam lirih, "Apa setiap kaderisasi harus begini?"
"Saya membentak kalian itu bukan untuk balas dendam karena dulu saya juga dibentak waktu kemah. Ini biar kalian disiplin," jelas Kak Agus, "Kesel nggak dibentak-bentak terus?"
Hening.
"JAWAB DONG! JANGAN JADI PATUNG!" Kak Izul kembali berteriak.
"Siap! Kesel! Dikit." gue dengan masih pede dan gemetar menjawab.
Lalu di sinilah kami, sekelompok orang gemetar yang harus menjawab pertanyaan dan diberi ceramah. Pos ini ternyata bukan pos 3, melainkan pos bayangan. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menyeberang kuburan. Suasana makin mencekam. Sejauh ini, ada hal yang menerangi kepala gue: kita nggak bakal dibentak kalau tidak melakukan kesalahan.

Komentar

  1. Menurut say, tetap saja di bentak karena sejatinya kalian adalah MANUSIA AWAM :v dan point yg harus di garis bawahi @ PESERTA SELALU SALAH. ADEK KELAS GABOLEH BANTAH APALAGI udah Adek kelas jadi Peserta pula :v LENGKAP SUDAH PAKET KOMPLIT awwokaowkaoak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer