Langsung ke konten utama

Percakapan Dengan Ketua Pramuka

Gue sedang menyendiri di lantai dua masjid yang berdiri megah tepat di depan MTsS Al-Qomar, tempat diselenggarakannya kemah pengambilan badge PKS ini, sesekali gue membuka handphone dan melihat story WhatsApp para peserta kemah yang kelihatan pada antusias. Gue berhenti pada sebuah story WhatsApp yang di-upload oleh Ustaz Rozaq, gue membukanya. Ternyata ada video gue di dalam story WhatsApp beliau. Gue sedikit tersenyum, bahagia. Memangnya siapa yang nggak bahagia videonya diposting oleh ustaznya? Wkwk.
Lalu, kecurigaan itu datang. Para panitia dan purna mulai menampakkan sesuatu yang aneh. Mereka mondar-mandir ke sana ke mari layaknya pembunuh berantai sedang sibuk mencari korbannya.

Gue mengalihkan kepala gue yang sedari tadi mengamati para panitia yang mulai aneh. Tak berselang lama, sebuah bayangan hitam datang dari bawah tangga. Sosok tersebut menghampiri gue. Gue menelan ludah. Ini kayaknya bakalan jadi sebuah adegan horror murah yang nggak laku di pasaran. Sosok itu kemudian menyapa gue. Suaranya tidak asing. "Hei, Zim. Lagi ngapain lo di sini?" tanya sesosok bayangan hitam misterius yang tak lain adalah Imam, si Ketua Pramuka.
"Ohh elo rupanya, Im. Gue kira apaan. Iya, nih, gue lagi bertapa nih di sini." gue mengelus dada, lega. Untuk sejenak gue mengira Imam adalah salah satu dari panitia yang dari tadi mondar-mandir. Panitia lagi mirip pembunuh, jadi gue takut dibunuh. Ngeri.
Imam kemudian membaringkan tubuh mungilnya. Rambutnya ala cowok Jepangnya yang basah karena berwudu sesekali membasahi lantai dua masjid yang megah ini. Imam membuka percakapan.
"Di ID-Card lo cita-cita pengin jadi penulis, emangnya kenapa lo pengin jadi penulis?" kepala Imam penuh dengan tanda tanya.
"Emm gimana ya gue jawabnya... Ya, gue ngerasa apa yang ingin gue ceritakan ke orang-orang itu penting. Makanya gue nulis, udah, gitu aja sih," jawab gue simple.
"Berarti cita-cita lo udah kesampaian dong?" Imam melanjutkan.
"Kalo dilihat dari definisi penulis, sih, iya. Tapi gue sendiri belum ngerasa beneran jadi penulis, Im. Masih banyak yang harus gue pelajari," jawab gue penuh keyakinan.
Suasana sempat hening beberapa saat, kemudian Imam bertanya lagi. Kali ini tentang percintaan.

"Kalo cewek, gimana?" tanyanya agak kurang definitif. Gue bingung. Dengan polos gue menjawab, "Ha? Gimana gimana?"
"Punya cewek nggak lo?" jelasnya. Sekarang gue cuma bisa diam sambil bergumam kenapa pertanyaan semacam ini harus gue jawab. 
"Punya. Dulu. Gatau kalo sekarang." jawaban gue justru membuat Imam semakin penasaran. Sekarang kami berdua seperti narasumber dan reporter yang sedang melakukan wawancara: gue harus menjawab semua pertanyaan Imam.

"Berarti sekarang nggak punya? Kalo temen deket?" 
Gue diam tidam menjawab. Gue hanya melamun. Lalu pernyataan aneh itu muncul dari mulut Imam. 
"Si Ketua Majalah putri ya?" tanyanya, menggugah gue yang sedang melamun.
"Apa? Ya enggaklah, masa karena dia ketua majalah putri dan gue sebagai ketua majalah putra, kami jadian. Ya, enggaklah, lagian kita juga anak madrasah, Im. Aturan nggak boleh pacaran satu sekolah mah," jawab gue kesal.
"Berarti kalo beda sekolah boleh pacaran gitu ya?"
"Ya, enggak juga sih. Tata tertibnya ngelarang kita pacaran, yaa walaupun banyak yang masih pacaran di luar sana...," gue nyerocos sampai-sampai mulut gue ndobleh dan keluar busa cuci piring dari dalamnya, dengan satu tarikan nafas gue kemudian berkata lagi, "Seumuran kita belum waktunya serius, Im. Sekalipun kita deket, jadian, itu tuh nggak lama, cuma main-main. Percintaan masa SMA cuma bagian kecil dari kehidupan kita."
"Lo nggak salah, sih. Gue juga ngerasa gitu. Dulu gue juga pernah pacaran, dan...," Imam diam sebentar lalu dengan satu tarikan napas dia meneruskan, "... ya, begitulah."
Suasana kemudian hening kembali. Kepala gue kini dipenuhi dengan hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita dan cerita cinta. Cita-cita terdekat gue sekarang adalah untuk kuliah di luar kota, dan mungkin untuk cerita cinta gue sedang tidak tertarik. Ditambah dengan nyokap yang melarang gue untuk dekat dengan cewek Purwokerto, kalau saja gue benar jadi kuliah di sana. Ini semakin meningkatkan tekad gue untuk kuliah di sana, semoga.

Udara malam semakin dingin, kaki gue sekarang merasakan udara tersebut mengalir melalui jari-jari kaki gue, kemudian merambat ke seluruh tubuh gue. Suasana semakin hening, tak berselang lama bayangan hitam kembali muncul. Kali ini gue yakin pasti panitia. 
"Hei, lagi ngapain kalian di sini?" tanya sosok tersebut yang ternyata adalah Zidni, MC inagurasi, purna Osis, dan anggota PKS angkatan ke-5. Angkatan tahun ini adalah angkatan ke-7. 
"Masuk transit, gih, tidur, besok bangun pagi-pagi," tambah Zidni.
"Oke oke." kami berdua menjawab cepat dan bergegas menuju transit. 
Di transit, semua peserta sudah tertidur pulas. Tidak terkecuali Nabil, Aufa, Yaul, Himam si Ketua Osis, Rizal si Ketua PKS angkatan 7, dan lain-lain. Mata gue berkeliling mencari tempat yang masih longgar dan berkarpet untuk gue tidur, lalu berhentilah pandangan gue di antara Ziad dan Izul. Gue kemudian berbaring di sana. Imam tidak menemukan tempat berkarpet, namun di tengah ruangan, sangat longgar. Imam tidur di sana. Di tengah-tengah semua peserta yang tidur di atas hangatnya karpet, dia lebih memilih tidur di lantai yang tidak beralas apa pun, hanya kaos Imam yang menjadi alasnya. Sejurus gue melihat Imam, tepat arah jam 12 dari tempat gue berbaring. Gue hanya bisa memandang Imam dari jarak 10 meter. Gue pikir itu sudah pilihan Imam. Gue berbaring menatap langit-langit transit yang sebenarnya adalah ruang kelas. Gue kembali mengingat-ingat percakapan gue dengan Imam di masjid tadi. Tentang impian, cita-cita, cerita cinta.
Overthinking menghantui hati gue, pertanyaan muncul. "Apakah gue bisa mencapai semua impian gue di masa depan nanti?" 

Alarm gue pasang, jaket hoodie Minato gue taruh di bawah kepala sebagai bantal, kemudian gue memejamkan mata. Gue sekarang tidur bersama impian gue. Setidaknya, itu juga yang sedang dilakukan para peserta kemah pengambilan badge PKS ini, mereka semua punya impian, dan saat ini mereka sedang terbang bersama impian mereka dalam mimpi. 

Pengharapan itu kemudian datang, gue yang melihat panitia mondar-mandir berharap tidak ada sesuatu yang kampret akan terjadi saat kami semua bangun dari tidur kami. Setidaknya, jangan renggut kebahagiaan kami pasca inagurasi. Mata gue lelap, roh gue kabur dari raganya. Gue tidur dengan was-was.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memotret Kohesi Sosial Kliwonan Wonoyoso dari Sudut Pandang Individualisme

             Pagi hari. Waktu paling umum bagi sebagian besar masyarakat kelas pekerja untuk berangkat bekerja. Pun juga waktu paling umum untuk berangkat sekolah atau kuliah. Akan tetapi pengalaman berangkat bekerja atau sekolah & kuliah ini akan terasa berbeda jika harus melewati rute Jalan Raya  Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut di hari Jumat Kliwon. Ada pemandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya, yakni kerumunan pedagang jajan, pakaian, dan lain-lainnya berjejer di pinggir jalan sepanjang Jalan Raya Kertijayan hingga Jalan Raya Sapugarut.             “Kliwonan” atau “Pasar Kliwon” begitu warga setempat menyebutnya. Merupakan semacam tradisi spiritual yang sudah dilestarikan warga Desa Wonoyoso dan sekitarnya sejak lama sekali. Pusat tradisi ini sebenarnya berada pada Masjid Jami’ Wonoyoso yang konon katanya memiliki sumur keramat—jika mandi atau mi...

Satu Gagang Sapu

       Sabtu, 11 April 2026. Saya bangun tidur dengan perasaan lega karena baru saja menuntaskan satu tanggung jawab. Ketika mata melek, tak ada perasaan berat seperti beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi perasaan tersebut ternyata tidak bertahan lama--langsung terusik oleh postingan status whatsapp salah satu teman di kampus yang baru saja dilamar oleh kekasihnya.    Bukan, bukan berarti saya cemburu karena teman saya dilamar. Pun kalau bisa dikata cemburu, konteks cemburunya bukan cemburu secara romantis, saya lebih memilih cemburu secara finansial. Sebab, secara praktis, mereka yang telah berani menapaki jalan menuju pernikahan artinya sudah bisa dikatakan mapan (walaupun tentu tidak sepenuhnya) baik secara finansial maupun mental dan aspek lainnya.      Saya mbatin sejenak, "Memang ya, bangun tidur itu harusnya langsung solat subuh habis itu olahraga atau baca buku, bukan malah buka medsos." Baru satu postingan saja sudah bikin saya mbat...

Alienasi dan Diskriminasi terhadap Mahasiswa Internasional

              Minggu sore, 12 Juli 2026. Saya baru saja pulang dari Stadion Hoegeng Pekalongan bersama Haroon setelah berlatih passing sepakbola. Haroon adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa internasional di UIN Gusdur yang berteman dengan saya. Pertama kali saya bertemu Haroon 28 Januari 2026, waktu itu Humas UIN Gusdur membutuhkan talent untuk video promosi kampus tentang keberadaan mahasiswa internasional di UIN Gusdur. Intinya video tersebut bermaksud memberitahu khalayak bahwa di kampus kami ada mahasiswa internasional yang berkuliah di dalamnya. Kebetulan sekali pada bulan Oktober 2025 saya sempat menjadi talent untuk video profil kampus, waktu itu Bu Afina Fahru yang menggandeng saya ke dalam projek tersebut, sebab beliau tahu saya menjadi aktor utama dalam film “Evakuasi” yang merupakan projek UAS dalam mata kuliah Sinematografi & Dramaturgi yang diampu beliau. Jadi saya ditarik untuk projek Humas ini ka...