Another Level Of Happiness
Holiday gue dengan Miftah pun dimulai. Destinasi pertama yang kami tuju sudah tentu adalah bioskop, untuk menonton film Spider-Man : No Way Home. Film yang gue sempat gagal nonton. Malam Ahad, Miftah menghampiri gue di rumah tepat setelah gue selesai salat isya. Miftah mengetuk pintu.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam," jawab nyokap.
"Ehh, Miftah. Pulang kapan?" nyokap terkejut melihat seseorang di balik pintu tersebut. Ternyata dia adalah Miftah.
"Jumat kemarin," jawab Miftah.
"Nyari Azim, ya? Sini masuk masuk!"
"Hehe iya, udah di sini aja."
Gue kemudian keluar dari kamar dengan stylenya. Memakai celana hitam panjang, dan kemeja jeans lengan pendek. Outfit yang sama yang gue pakai ketika gagal nonton. Sebentar? Gagal?
Duh... Firasat gue gak enak nih.
Gue melewati pintu dan terkejut melihat Miftah yang outfitnya seperti mau pergi tahlilan, tapi tidak memakai peci.
"Kok lo pake sarung? Kita kan mau nonton bioskop." gue terheran-heran.
"Loh, emangnya kenapa? Nggak ada yang mengharamkan sarung masuk bioskop, kan?" tanya Miftah lempengan.
"Ya, tapi kan, kalo dilihat orang...," gue mencoba membujuk Miftah untuk mengganti sarungnya dengan celana, "Kalo dilihat cewek atau siapa gitu kurang srek, Mif!"
"Emangnya ada yang peduli mau merhatiin kita di bioskop?"
"Ya udah yuk berangkat aja!" tanpa kebanyakan cincong lagi gue mengajaknya untuk segera berangkat.
"Gila, pake motor gede lo!" kata gue terkejut melihat sepeda motor yang Miftah pakai. Gue nggak tahu apa nama dan serinya, yang jelas sepeda motor ini gede banget, kayak perhatian gue sama lo, skip.
"Gue udah lupa cara naik motor!" jawabnya.
"Lah? Ini kan motor juga?"
Miftah men-stater moge-nya, lalu kami berjalan menuju bioskop. Bioskop yang kami tuju kali ini berbeda dengan yang sebelumnya gue datangi dan gagal nonton. Kali ini kami mendapat tiket bioskop di Mall Ramayana Pekalongan.
Gue tidak mengerti konsep pesan tiket secara online sehingga bioskop yang kami dapat bisa berbeda dengan sebelumnya.
"Itu gimana lo tahunya kalo kita bioskopnya di Ramayana, bukan Transmart?"
"Kalo pas pesen tiket keluarnya tulisan 'XXI Transmart Pekalongan', berarti itu di Transmart, kalo 'XXI Pekalongan', berarti itu di Ramayana," jelas Miftah ke gue.
"Ohh gitu. Sekarang gue paham."
Miftah tiba-tiba menghentikan laju sepeda motornya setelah melewati lampu lalu lintas Bendo. Mau ngecek tiket katanya.
"Firasat gue gak enak. Sebentar gue cek lagi tiketnya," kata Miftah membuat gue ikut nggak enak. Sekarang jadi nggak laku deh karena nggak enak. Eh, gimana?
Di tiket tersebut tertulis tanggal 19 Desember 2021, pukul 20.00. Sedangkan tanggal hari ini adalah 18 Desember 2021. Tuh, kan, apa gue bilang!
"Waduh, ini mah tiketnya salah pencet gue. Ini tiket besok," kata Miftah, enteng.
"Njirrrrr... Terus, gimana dong?" gue kecewa.
"Kita ke angkringan aja. Emm, waktu Jumat lo main di rumah gue, lo bilang si Sinta sekarang jadi penjaja angkringan, ya?"
"Emmm... Anu..," gue mencoba mengalihkan, "Jangan ke sana. Kejauhan, itu di depan kita ada angkringan."
"Ya, udah, deh."
Malam Ahad gue berakhir di angkringan sederhana yang tempatnya tepat berada di sebelah cafe Arto. Tempatnya orang-orang elit di Pekalongan. Sekarang kalau dibandingkan, kami pesan 2 cangkir kopi good day, sedangkan mereka pesan sebuah "Arabican Coffee With Topping Choco de Granula". Harganya beda dengan yang gue pesan, karena menggunakan bahasa Inggris. Padahal rasanya sama. Jiakh. Kenapa gue bilang begini? Karena gue punya pengalaman diajak pergi ke cafe, dan pesan secangkir kopi yang harganya benar-benar selangit bagi gue. Dan rasanya nggak beda jauh dengan kopi sachet yang biasa gue konsumsi. Memang, bahasa mempengaruhi segalanya.
Di angkringan ini lah kami berakhir malam ini. Bercerita tentang satu semester ke belakang. Tentang hal-hal baru yang kami temui. Miftah bercerita bahwa dia menemukan teman yang satu frekuensi dengannya: suka K-Pop dan musik Indie Folk. Gue pun sama, menemukan orang-orang yang sejiwa dengan gue: absurd.
Esok harinya, tepat setelah salat isya, Miftah kembali menjemput gue di rumah. Kali ini gue memakai jaket hoodie Minato dan sarung seperti Miftah, coba-coba keuntungan saja. Siapa tahu kali ini gue benaran nonton.
Singkat cerita, kami sampai di Mall Ramayana Pekalongan. Langsung saja kami menuju lantai paling atas, tempat bioskop berada. Dan inilah musuh lama gue di depan studio: petugas bioskop dengan kode QR kampretnya. Kali ini gue sudah menyiapkan data diri yang lengkap di aplikasi Pedulilindungi. Kita tunggu apa yang terjadi, QR kampret!
"Silakan, Mas. Bisa di-scan langsung kode QR-nya," kata petugas tersebut, yang jika gue artikan ke dalam kamus bahasa kampret gue artinya adalah, "Silakan di-scan bentar, terus pulang ya, Mas!"
Kali ini gue mencoba peruntungan gue dengan melakukan scan sebelum Miftah. Gue membuka aplikasi Pedulilindungi gue, dan...
Check In gagal.
SIALAANNNNNNN.
"Mif, ini kok punya gue gak bisa, ya?" tanya gue, merasa bahwa gue memang tidak ditakdirkan menontob film di bioskop. PENIKMAT BLU-RAY & BAJAKAN!
"Bentar gue coba...," Miftah membuka scan, dan..., "Punya gue juga nggak bisa."
"Nggak bisa ya, Mas? Udah masuk aja gapapa." tiba-tiba sebuah suara mengejutkan gue, suara tersebut adalah suara petugas tadi.
"Boleh masuk gitu aja, Pak?" tanya gue heran.
"Iya, silakan masuk aja!"
"YESSSS!" gue berselebrasi kegirangan. Salto salto di depan petugas tersebut, kemudian masuk ke studio dengan nasi tumpeng dan pagelaran khitanan massal bentuk syukuran gue karena berhasil masuk bioskop.
"AKHIRNYA!!!!"
"Kita ambil tiketnya dulu, yuk!"
Miftah kemudian berjalan menuju sebuah mesin aneh yang terletak di sebelah penjaja popcorn. Mesin tersebut Miftah otak-atik dengan memasukkan kode. Lalu, muncullah dua lembar tiket.
"Let's go save the Multiverse, Dude!"
Kami kemudian berjalan menuju studio 1, tempat film Spider-Man diputar pada jam 20.00 nanti. Handphone gue masih menunjukkan pukul 19.50, itu artinya film baru akan diputar 10 menit lagi. Kaki gue masuk ke studio 1, dan BOOMMMM.
Suara speaker di studio bioskop full bass. Dan speakernya tidak hanya satu, suasana di dalam studio juga dingin. Gue bertanya-tanya me Miftah, "Mana kursi kita?"
"G-5 dan G-6 sih kata petugas tadi, emmm," mata Miftah berkeliling mencari huruf G, "NAH! Ini dia."
"Yesss!" sambut gue.
"Kursinya empuk, Mif," kata gue yang pertama kali masuk bioskop.
"Iya, empuk banget, plus juga ini ada kursi kosong, bisa selonjoran."
Layar di bioskop masih menampilkan iklan-iklan. Kadang-kadang trailer film juga diputar. Lalu, sepuluh menit berlalu, sebuah tanda film akan dimulai muncul, yaitu sertifikasi lulus sensor.
Tertulis di sana "Spider-Man : No Way Home telah lulus sensor. SU (Semua Umur)".
Film pun dimulai. Intro Marvel Studios yang biasa gue saksikan di laptop dan komputer terasa sangat berbeda di sini. Tulisan Marvel Studiosnya lebih gede.
Film dimulai dengan menampilkan suara penyiar berita yang sempat muncul di post credit scene film Spider-Man sebelumnya, yaitu "Spider-Man : Far From Home".
Lalu, dimulailah petualangan dalam film ini.
Gue benar-benar merasakan suasana yang berbeda di dalam bioskop. Kalau biasanya gue menonton film bisa gue pause dan play seenak gue, lalu gue tinggal buang air kecil di toilet, kali ini tidak bisa. Gue harus benar-benar memperhatikan setiap dialog dan gambar yang muncul di layar. Biar nggak ketinggalan.
Suara bass dan suhu ruangan bioskop juga sangat membuat gue merasa seperti manusia purba yang masuk peradaban manusia modern. Gue kedinginan karena suhu ac yang sangat dingin, gue melepas sandal dan duduk dengan posisi kaki menyilang. Gue menutupkan tudung jaket hoodie gue. Lalu, adegan fighting sangat membuat telinga gue terluka: suara bass sangat kencang.
Ya, di sinilah gue. Manusia ndeso yang masuk peradaban manusia modern. Namun, apa pun itu. Gue tetap menikmati jalannya film ini. Berbeda dengan Miftah yang justru tertidur. Ketika adegan Ned, teman Peter Parker Tom Holland membuka portal dan memanggil Peter, namun yang muncul adalah Peter dari universe lain, gue langsung membangunkan Miftah.
"BANGUN COK BANGUN, SPIDER-MANNYA BENERAN ADA TIGA!" kata gue antusias.
"Mana? Mana? Mana? Mana Spider-Man? Gue belum bayar utang."
Hening.
"Wooooooooo."
Tiba-tiba seisi bioskop berteriak dan bertepuk tangan ketika Tobey Maguire dan Andrew Garfield, para Spider-Man pendahulu Tom Holland benaran muncul di film ini. Rumor yang menjadi kenyataan!
Malam itu gue merasakan kebahagiaan yang berbeda. This is another level of happiness! Semua teori di awal tahun 2021 yang gue baca di internet dan foto-foto bocoran yang muncul ternyata tidak membohongi kami semua. 3 Spider-Man benaran muncul.
So, buat lo yang belum nonton, skuy nonton mumpung masih diputar di bioskop!
Komentar
Posting Komentar