Pertemuan Yang Dirancang Diam-diam
Arjun bolos ngaji ponpes lagi hari ini, kali ini dia di rumah gue untuk meninjau juknis yang gue buat sebelumnya, dan beberapa alasan tidak masuk akal lainnya, seperti berlatih menembak dengan pamannya di kelurahan, dan lain-lain. Gue telah mengingatkan si kampret ini untuk mengaji, namun jawabannya selalu sama: “Kenapa lo sendiri nggak ngaji?” Kalau sudah begini gue cuma bisa diam, cosplay sepatu.
Mas Mahrus, ketua IPNU desa Kertijayan menelepon gue untuk bertanya apakah persiapan untuk lomba geguritan Porseni tingkat kabupaten gue sudah siap. FYI, pada perhelatan Porseni PAC IPNU IPPNU Buaran kemarin, gue mengikuti dua lomba, PBB dan Geguritan. Dan gue mendapat juara 1 untuk lomba geguritan. Tepuk tangan dong, Fellas!
Mas Mahrus menanyakan apakah gue sudah mencetak foto atau belum yang gue jawab belum.
“Baru mau ke fotokopian nanti, Mas. Ini lagi ada urusan sebentar,” tambah gue.
“Oh, ya udah. Nanti kalo udah ada foto sama fotokopi KK-nya langsung ke rumah aja.”
“Iya, Mas.”
Hari pun mulai petang. Matahari mulai berusaha meninggalkan kami. Senja datang sebagai wujud pergantian siang dan malam, pertanda Arjun akan dapat takzir (hukuman) lebih banyak.
“Udah, sampai nanti isya aja sekalian, ninggal dua jamaah sama dua ngaji, biar botak sekalian aja gue,” desak Arjun meminta gue berhenti menanyakan kapan dia akan pulang.
“Oke, tapi nanti abis magrib temenin gue ke fotokopian.”
“Oke, sip.”
Azan magrib berkumandang, kami salat magrib sebentar, lalu selisih 20 menit setelahnya kami berangkat menuju fotokopian, niat awal gue mau ke fotokopi di daerah Bendo, sebelah timur lampu merah hijau lurus sampai ada pertigaan. Nah, itu deh pokoknya. Sebelum berangkat, nyokap nitip beli gorengan di warung lesehan, gue mendahulukan perintah tersebut, anak saleh gitu loh.
Setelah gue membeli gorengan, gue terlebih dahului memulangkan gorengan tersebut ke rumah. Sembari mencari fotokopi kartu keluarga, barang yang selalu dibutuhkan ketika lomba dan selalu sulit dicari keberadaannya.
Di sela-sela gue mencari fotokopi KK, Arjun membuka handphone gue yang tidak gue sandi. Ya, ini alasan simple kenapa handphone gue tidak ada sandinya: gue orangnya terbuka, tanpa rahasia, tidak seperti Arjun dan Nabil yang handphone-nya menggunakan kode nuklir.
Arjun membuka-buka chat WhatsApp gue. Mulai dari yang normal, chat dengan teman sekelas, sampai ke chat gue yang nggak pernah nyambung bersama Nabil dan Bang Khamid, lalu, berhentilah Arjun pada sebuah chat. Saat itu juga gue selesai mencari fotokopi KK. Gue menemukannya di dalam koper. Kemudian kami melanjutkan misi menuju fotokopian.
Di tengah perjalanan inilah chat yang tadi Arjun lihat, Arjun tanyakan gue. Samar-samar suaranya sulit terdengar karena suara kendaraan yang berlalu-lalang, ditambah dengan telinga gue yang rada-rada budge karena kebanyakan mendengarkan omelan tetangga yang kehilangan radio, eh, musik maksud gue.
“Lo emang sekarang deket sama Yasmin yang pernah confess yang pernah lo tulis di blog waktu itu, ya, Zim?” tanyanya.
“HA? APA? GAK JELAS,” teriak gue di tengah keramaian jalanan malam hari. Selain karena gue kurang jelas mendengarnya, tapi karena ada nama Yasmin disebut, gue mencoba mengalihkan pembicaraan. Biasanya Arjun ketika gue sudah mulai “HA HA HA GAK JELAS”, dia akan menghentikan percakapan.
“Lo percaya nggak kalo gue itu biasanya kalo punya firasat bener.”Arjun sekarang terdengar absurd, lebih absurd dari gue manusia absurd yang sesungguhnya.
“Apaan sih, gak jelas. Eh, fotokopi di sebelah apotek buka, ke sana aja yuk!” ajak gue sambil menunjuk ke Lancar Fotocopy.
“Gue punya firasat, Zim.” Arjun ngaco lagi.
“Udah, diem, Kampret. Gue mau…,” belum selesai gue mencoba membuat Arjun diam, sosok itu sudah hadir di depan gue. Ya, Yasmin. Si Cewek yang belakangan ngaku naksir gue. Dan belakangan kami memang sedang dekat. Bakalan awkward nih!
“…”
“…”
Yasmin terkejut melihat gue yang juga ada di fotokopian, karena beberapa saat sebelumnya, di chat dia bilang dia mau ke fotokopian, tapi dia tidak bilang mau ke sini.
Arjun tertawa terbahak-bahak melihat gue yang cuma diam mematung. Ternyata yang coba Arjun katakan tadi adalah bahwa dia punya firasat bahwa gue akan bertemu Yasmin di sini. Kampret memang. Pelajaran hidup nomor sekian: dengarkanlah temanmu, meski dia absurd.
Yasmin hendak memfotokopi ijazah kakak perempuannya, sedangkan gue yang tadinya mau mencetak foto, justru berdiri di depan kulkas dan mengambil sebotol minuman, mencoba meredakan kecanggungan. Arjun masih tertawa, kali ini dia tertawa karena gue mengambil minuman bersoda, sedangkan gue belum makan apa-apa dan seharusnya gue mengambil air mineral. Goblok emang!
Gue gemetar, keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuh gue. Gue dengan kecanggungan ini tidak mungkin pergi ke tukang fotokopinya dan bilang “mau cetak foto”. Gue akhirnya menyuruh Arjun untuk mendekati tukang fotokopinya dan bilang “mau cetak foto”. Tukang fotokopi tersebut berada tepat di depan Yasmin, sedang melayaninya.
“Tunggu bentar ya, Mas. Abis mbak ini,” kata Mbak-mbak tukang fotokopi yang wajahnya lebih manis untuk dinikmati ketimbang soda manis yang menyiksa lambung gue ini. Setidaknya memandangi mbak-mbak ini bikin gue MAKIN BERKERINGAT.
Yasmin selesai dengan urusannya, dia hanya melirik gue yang sedang memandangi computer. Arjun meliriknya, mbak-mbak fotokopi melirik Arjun, kami semua sekarang lirik-lirikan.
#nowplaying: HiVi – Curi-curi
“Mas, ini fotonya 4x6 berapa paket?” tanya Mbak-mbak fotokopi.
“Dua, Mbak,” jawab gue.
“Satu paket lima foto, Mas.”
“OHH, PAKET? Saya kira berapa foto. Satu paket aja deh.” gue masih canggung sejauh ini.
Dari kejadian ini, gue mengingat-ingat kembali kutipannya Raditya Dika di salah satu bukunya. Kutipan tersebut berbunyi “Lebih jauh lagi, gue nggak percaya dengan kebetulan. Gue percaya pada pertemuan yang dirancang diam-diam. Masing-masing dari kita punya garis kehidupan yang telah digambarkan. Dan masing-masing dari kita, kalau diizinkan, akan saling bersinggungan”.
Gue mencoba mencerna kutipan tersebut, dan ketika gue bertanya ke Yasmin kenapa dia ke fotokopian yang sama dengan gue, jawabannya sama dengan alasan gue ke Lancar Fotocopy: mau ke Bendo, tapi di tengah jalan kedapatan ngelihat Lancar Fotocopy buka.
Menurut gue kejadian ini memang bukan kebetulan, kejadian ini adalah “Pertemuan yang dirancang diam-diam”. Gue dan Yasmin telah mempunyai garis kehidupan masing-masing, dan untuk saat ini kami sedang diizinkan untuk saling bersinggungan. Setidaknya itu yang gue cerna. Arjun masih tertawa, lalu gue bilang ke dia, “Jangan lupa takziran.”
Arjun pun diam.
Komentar
Posting Komentar