Membuka Diri Itu Asyik
Awalnya gue pikir menjadi seorang yang pendiam itu keren. Gue bakalan menjadi sosok yang misterius, punya kesan cool dan terlihat seperti seorang Sasuke: diam berdebu, bergerak minta dua ribu.
Namun, setelah gue coba, ternyata menjadi seorang cowok pendiam yang misterius itu susah. Alih-alih menjadi pendiam yang keren seperti Sasuke, gue justru terlihat seperti Ijat, temannya Upin dan Ipin. Nggak banget. Maka dari itu, gue mulai membuka diri gue pada kelas 2 MTs silam. Gue mulai melakukan apa yang gue suka dan menunjukkannya pada dunia. Ini baru cool.
Hal ini gue rasakan betul manfatnya, gue sekarang menjadi seseorang yang dikenal, relasi gue luas, dan tentunya banyak fans cewek (baca: fanatik gila)
Imbasnya bahkan sampai sekarang. Setiap gue melewati gedung putri, atau kebetulan lewat di kantin yang biasanya ramai anak putri, biasanya ada yang memanggil-manggil nama gue. Awalnya gue nggak masalah dengan mereka yang memanggil nama gue. Tapi, lama kelamaan mereka ngaco, mereka jadi memanggil nama yang aneh, seperti ayam, buaya, dan berbagai jenis panggilan aneh yang lainnya.
Tentu saja hal ini mengingatkan gue pada bab Aufa, Birthday, dan Arloji. Di mana gue bersama Aufa melintas di gedung putri, lalu Aufa dipanggil-panggil namanya oleh para fans-nya. Fans Aufa rata-rata manusia normal yang kagum dengan ketampanannya. Beda dengan mereka yang sering memanggil nama gue di kantin, kebanyakan dari mereka biasanya punya dendam pribadi, atau minimal gue punya hutang ke mereka. Namun, setidaknya, berkat keberanian gue membuka diri beberapa tahun yang lalu, gue menjadi sosok yang dikenal sekarang (setidaknya mereka tahu kalau gue sekolah di sini)
Siang ini mendung masih membendung langit Simbangkulon dan sekitarnya. Hujan ringan turun seiring Ustaz Mahsun, guru mapel Prakarya dan Kewirausahaan masuk ke kelas kami menggantikan jam pelajaran geografi yang diampu oleh Ustaz Luqni. Debit air hujan tidak terlalu deras, namun bau khas hujan sangat menyengat, menghantam hidung gue yang masih nggak habis thinking dengan lelucon-lelucon yang disampaikan Ustaz Luqni sebelumnya.
Seiring dengan bau hujan yang menghantam hidung, panggilan alam pun menghantam gue dari lamunan. Ustaz Mahsun mengutus gue dan Nabil untuk mengambil LKS Prakarya Wirausaha di gedung putri.
Get Ready For The Next Battle!
"Let's go, Zim. Ini misi besar!" kata Nabil bersemangat.
"Let's go, GOO GOOO GOO BMX!"
Singkat cerita, sampailah gue dan Nabil di depan gedung MTsS putri, gue mengambil napas sejenak, lalu dengan satu tarikan napas. Hmmmph. Gue memberanikan diri berjalan melewati tempat horor ini. Terkahir gue ke sini bersama Aufa, Aufa diteriakki oleh para fans-nya, gue iri. Namun, kali ini keadaan berbeda.
Satu kaki gue sudah melangkah, langkah kedua gue cukup yakin tidak ada siswi berlalu-lalang atau sedang nongkrong di fotokopian. Langkah ketiga, sial, semua ekspektasi gue sirna. Terlihat beberapa siswi sedang berkerumun di lantai dua, dan beberapa di depan kelas tepat sebelah gerbang madrasah. MAMPUS NIH!
"Lo yakin, Zim? Kayaknya gue milih nyerah aja deh!" hidung Nabil kembang-kempis, matanya berkeliling menyapu seluruh gedung putri, berkerudung semua!
"Kita tidak akan meninggalkan misi mulia ini, Bil. Kita adalah agen profesional, kita harus selesaikan tugas ini mesku kita akan mati!" gue memasang wajah ala-ala agen FBI yang sedang mencoba mengungkap kasus berbahaya. Bedanya, gue bukan agen, dan gue nggak profesional.
"Ayo, kita lari!!" gue ngibrit, mengambil kaki seribu, eh salah, langkah seribu.
"WOY TUNGGUIN WOY!"
Sampailah gue di depan gerbang, dan CIATTTTT, seorang siswi tiba-tiba muncul entah dari semesta mana, tepat di depan muka gue yang suram.
"HAAAAHHHHHH!" gue berteriak ketakutan, sorry gue ralat, siswi tersebut berteriak ketakutan lalu lari tunggang langgang kemudian terbang ke angkasa karena terkejut melihat gue. Gue yang merasa bersalah, dan tentunya malu, langsung bergerak gesit menuju laboratorium, tempat diletakannya LKS-LKS tersebut. Dan parahnya gue lupa, Nabil masih di belakang. Balik lagi gue ke gerbang.
"LO NGAPAIN MASIH DI SINI, BEGO!"
"TALI SEPATU GUE LEPAS!"
"AHH BODO, MAU TALI SEPATU KEK, TALI PUSER KEK, CEPETAN MASUK! BANYAK CEWEK!"
Kali ini beberapa siswi yang tadi berkerumun di lantai dua, tiba-tiba berteriak menyoraki gue. Gue sekarang merasa seperti seorang bintang. Bintang yang dibuang oleh galaksi induknya. Beban keluarga.
"AZIMMMM! AZIMMM!!" teriak salah seorang siswi, cempreng.
"Kok mereka manggilnya cuma lo ya? Gue nggak dipanggil?" tanya Nabil, persis seperti yang gue rasakan ketika gue melintas di sini bersama Aufa.
"Sssttt! Dah, diem! Sekarang kita cuma perlu jalan ke laboratorium doang." gue membetulkan rambut gue yang berantakan, seperti kelakuan gue.
"Nah, itu dia laboratoriumnya! Ayo kita masuk!" seru gue seraya berharap misi ini segera tuntas.
Kami berdua pun berjalan menuju laboratorium, diikuti pandangan para siswi di kelas yang berada di sebelah timur gerbang madrasah.
"What the... kok pada ngelihatin kita sih, Zim?" hidung Nabil kembang-kempis lagi, tanda panik.
"Udah, santai aja. Kita kan biasa diliatin satu sekolahan," jawab gue dengan memasang wajah tak berdosa.
"TAPI KAN INI CEWEK!" urat-urat leher di Nabil mulai terlihat, dan terlukis jelas sebuah relief, bunyi relief tersebut adalah: "KEBELET BOKER!"
Kaki kanan gue sudah masuk di laboratorium, namun dihentikan oleh kaki kiri gue. Setttt. Terlihat ada dua siswi sedang mengambil LKS di dalam laboratorium.
"Waduh, Bil, mampus! Kayaknya kita harus berdiri di depan lab sampai azan zuhur, nih," jelas gue ke Nabil yang mulai mengalamai gejala sakaw.
"Sialan. Terus kita di sini?? Sementara lo dipanggil-panggil namanya? Ah, pulang aja gue!" Nabil mulai kesal.
Tiba-tiba ada tiga orang siswi yang bersiap melaksanakan jamaah zuhur, melintas di depan laboratorium. Mereka memanggili Nabil, Nabil tidak jadi sakaw, sekarang malah terbang tak tahu ke mana.
"Asro Nabil."
"Asro."
"Nabil."
Ya, kira-kira begitu formasi mereka memanggil Nabil. Nabil tidak jadi pulang, sekarang malah senyum-senyum.
"Nah, gimana? Masih mau pulang lo?" tanya gue.
"Nggak, nanti aja, nunggu LKS."
"Assalamu'alaikum. Mbak... CEPETAN DONG!" teriak gue di pintu masuk laboratorium. Dua siswi tersebut ketakutan, lalu terbang ke angkasa. Untuk ke sekian kalinya.
"Nah, mereka udah keluar. Ayo masuk ambil LKS-nya cepet!"
Gue dan Nabil bergegas menuntaskan misi ini. Dua bungkus penuh LKS prakarya kami ambil. Kami berlari keluar. Lalu melewati gerbang lagi, dan menjadi artis dadakan lagi.
"AAZIMMM!"
"AUFA!!"
Teriakan yang terakhir sungguh membuat gue terheran-heran. Mengapa salah satu dari mereka mengidentifikasi gue sebagai seorang Aufa? Muka kami kan jelas berbeda! Menurut legenda, Aufa berwajah putih, berkumis tipis tipis, berambut klimis, serta melankolis dan ekonomis. Sedangkan gue benar-benar tidak masuk ke dalam kriteria seorang Aufa tersebut. Sekarang jawabannya cuma ada dua, kenapa siswi tersebut memanggil gue Aufa. Satu: dia fanatik buta dan cinta mati terhadap Aufa, namun tidak tersampaikan. Dua: dia memang buta, tapi bisa merasakan tanda-tanda kedatangan Aufa.
Jauh dari semua itu, gue sekarang mengerti mengapa gue harus membuka diri. Membuka diri itu ternyata lebih enak. Andaikan saja gue seorang Sasuke yang melintas di gedung putri, ceritanya bakalan beda. Dan kalaupun gue menjadi seorang pendiam sejati, gue belum menjadi seorang Sasuke, bisa jadi gue seperti Ijat. Alih-alih mendapat perhatian, gue justru mendapat lemparan bola tangan.
Maka dari itu, untuk kalian yang sampai sekarang masih menutup diri, segeralah coba untuk membuka diri (diri ya, bukan baju). Karena membuka diri itu asyik. Kita bisa mengeksplor banyak hal yang belum pernah kita temui sebelumnya. Setidaknya, itu yang gue rasakan.
Komentar
Posting Komentar