Jujur itu enak
Semenjak kejadian gue menabrak sepeda motor, gue jadi sosok yang lebih hati-hati. Kehati-hatian ini tidak hanya gue lakukan dalam bertindak, namun dalam pelajaran juga. Buktinya, hari ini pelajaran ekonomi, ketika Nabil disuruh Ustaz Rozaq presentasi gue tidak bertanya. Takut menabrak. Kali ini bukan sepeda motor, melainkan menabrak APBN. Sial.
Ustaz Rozaq di sela-sela Nabil sedang presentasi tiba-tiba mendekati gue lalu menanyakan hal yang sama sekali tidak ingin gue ingat, yaitu kejadian gue menabrak sepeda motor kemarin.
"Zim..." panggil Ustaz Rozaq.
"Iya, Pak Ustaz. Kenapa, Pak?" tanya gue.
"Itu kemarin maksudnya gimana kok sampe nabrak motornya pak Kiai Rodli?"
Degg. Jantung gue seketika berhenti berdetak. Ustaz Rozaq ternyata sudah melihat rekaman di cctv madrasah. Mampus nih gue, kalau videonya disimpan, terus dibikin story whatsapp bagaimana? Atau lebih parahnya dibuat meme di tiktok. Menggunakan template "I'm addicted to". Seantero negeri bakalan ngerti kelakuan absurd gue nih!
"Ehmmm... itu... anu... saya mau lompat, Pak, tapii.. emmm," jawab gue gugup sambil pipis sedikit di celana. Kursi tempat duduk gue sekarang banjir air kencing. Najis.
"Melompat gimana maksudnya?" Ustaz Rozaq kembali membahas topik yang sama sekali sedang tidak ingin gue bahas lagi ini dengan wajah tersenyum menahan tawa.
"Udah minta maaf sama Pak Kiai Rodli-nya belum?" tambahnya.
"Belum, Pak. Kemarin belum ketemu," kata gue jujur.
"Ya sekarang temuin sana di ruang guru. Ngomong yang jujur. Cepet!"
"I... I... Iya, Ustaz." gue langsung pergi meninggalkan kelas untuk menemui Pak Kiai Rodli di ruang guru. Namun, setelah gue sampai di ruang guru, tak ada siapa pun di sana. Hanya ada buku-buku dan meja-meja yang tersusun rapi beserta gelas-gelas teh yang sudah mulai mengering. Gue kembali ke kelas dengan segera.
"Pak Kiai Rodli nggak di ruang guru, Pak," kata gue.
"Nanti kalau ketemu minta maaf, kamu tuh aneh aneh aja."
"Hehee, iya, Pak. Maaf."
"Pertanyaanku belum kamu jawab, itu maksudnya mau jadi apa??? Udah jelas motor segede gaban gitu ditabrak, udah gitu pelukan lagi." Ustaz Rozaq kembali membahas topik kampret tersebut. Gue diam. Sudah tidak sanggup berkata-kata lagi. Lalu, Rohid menjawab pertanyaan tersebut. Mewakili gue.
"Mau jadi Spider-Man, Pak!" katanya singkat, antiklimaks. Gue tidak merasa ditolong ataupun diwakili sama sekali. Justru merasa semakin dipojokkan.
"Kampret lo!" gumam gue dalam hati.
Keesokan harinya, yaitu hari senin, selesai istirahat pertama ada pelajaran Pak Kiai Rodli. Oh, well. My time has come. Tampaknya ini hari terakhir gue bersekolah di sini. Terima kasih para dewan guru yang selalu membimbing gue agar tidak tersesat. Terima kasih staff TU yang selalu bikin darah gue naik. Terima kasih teman-teman yang selalu lebih menyukai gue kena sial. Terima kasih, Arjun, yang selalu ngutangin gue. TERIMA KASIH KALIAN SEMUA PEMBACA BLOG SETIA GUEE!!!
Pak Kiai Rodli masuk dengan senyumannya yang khas memamerkan gigi putihnya yang bersih berkilau. Menyilaukan mata Nabil. Nabil buta sesaat. Kemudian setelah bisa melihat lagi, Nabil mengingatkan gue agar meminta maaf terhadap beliau. Diikuti dengan tawa kecilnya.
"Zimmmm.... Pak Kiai Rodli tuhhh... minta maaf gihhh!" ucap Nabil dengan alis yang digerak-gerakkan. Sesekali alis kanannya menyeberang ke kiri.
"IYA IYA IYAAA. GUE MINTA MAAF NIH!" gue menyeret alis kanan Nabil yang sekarang berada di kiri kembali ke kanan. Lalu, dengan satu tarikan napas. Satu langkah... gue mulai berjalan ke depan.
"Emmm... Pak Kiai." gue membuka percakapan.
"Gimana?" Pak Kiai Rodli mungkin mengira gue sedang mau izin ke toilet atau semacamnya, namun bukan itu tujuan gue ke depan.
"Ehmm... anu... mau minta maaf, kemarin motor njenengan saya tabrak," kata gue dengan hidung kembang-kempis.
Lalu, jawaban mengejutkan itu keluar dari mulut beliau. Mata gue mendelik. Mulut gue menganga.
"Ya sudah, nggak papa. Yang penting nggak nabrak orangnya," jawab beliau.
Gue menghirup napas dalam-dalam. Berusaha tetap santai dan cool. Padahal dalam lubuk hati terdalam gue, gue pengin melompat setinggi-tingginya lalu turun dengan uang miliaran dan mengadakan pesta kawin massal, sunatan massal, serta ditutup dengan pemotongan tumpeng. Gue bersyukur tidak harus pindah sekolah! WAAAAAAAAARGHHHH!
Lalu, pencerahan itu datang secara tiba-tiba. Ketika kita mau jujur dan berkata apa adanya, orang akan berusaha memahami dan memaklumi, sekalipun hal itu sebenarnya berat baginya. Gue pikir, Pak Kiai Rodli sebenarnya kesal, namun mau bagaimana lagi? Beliau lebih tahu mana sesuatu yang bisa disebut masalah, dan mana yang tidak. Apa pun itu, yang jelas gue selamat. HAHAHAHA
Komentar
Posting Komentar