Si Kontet Yang Pelupa
Gue adalah orang yang pelupa akut. Seringkali hal ini menjadi malapetaka bagi gue di manapun dan kapanpun. Tidak jarang juga orang lain terkena batunya. Sungguh miris.
Gue pernah pengin melaksanakan puasa sunah senin kamis, tapi puasanya hari rabu (baca: gue gila) Bahkan ketika menulis ini pun nyokap sedang marah-marah ke gue karena gue lupa menutup tudung saji di dapur.
“TUDUNG SAJINYA TUTUP DULUUU, MASIH KECIL UDAH PELUPA!” begitu kira-kira katanya.
Hari rabu kemarin adalah hari yang paling membuat gue tepok jidat, pasalnya gue membuat satu kelas kesal karena kelakuan gue. Jadi, begini ceritanya. Pada malam rabu, tepatnya setelah salat isya gue membuat pengumuman di grup kelas bahwa besok ada pelajaran Penjaskes yang diampu Pak Yuliantoo, dan janji beliau pada semester 2 ini sudah bisa memulai olah raga di luar, sudah tidak seperti semester 1 yang cuma belajar teori saja. Artinya, mulai besok ketika ada pelajaran olah raga sudah bisa membawa kaos olah raga dan celana training. Teman-teman seperti Rohid, Ukes, Nabil, dll., sangat bersemangat menyambut hal ini.
“Bro, besok bawa celana training buat olah raga. Jangan lupa!” kata gue di grup kelas.
“Sama kaosnya dong, masa celana doang?” Ukes bertanya.
“Ya, bawa kaos juga donggg. Pokoknya besok mulai olah raga dehh!” jawab gue sangat bersemangat, lalu gue menambahkan sedikit ultimatum, “YANG GAK BAWA BESOK BAKAR HIDUP-HIDUP!”
Setelah memberi teman-teman gue ultimatum, kemudian gue menaruh handphone gue dan menyalakan komputer untuk membuat petunjuk teknis (biasa disebut juknis) lomba hari lahir MA, perintah Arjun. Gue pun akhirnya membuka word dan mencontoh petunjuk teknis Porseni 2021. Lalu gue mulai menulisnya.
Di tengah-tengah menulis, Nabil tiba-tiba WhatsApp gue, “Stempel majalah besok bawa.”
“Oke, Bil. Santai aja, gue nggak akan lupa, kok. Lo dari tadi di sekolah ngomongnya stempel mulu,” jawab gue kesal karena Nabil menganggap gue seperti kakek-kakek pikun yang hobi duduk di depan gedung MA putri untuk melihat siswi-siswi berlalu-lalang. Sial.
“Ya, awas aja lo kalo lupa. Salto tiga kali,” ancamnya.
“Oke okee.”
Gue melanjutkan tugas mulia gue menulis. Tiba-tiba notifikasi grup WhatsApp kelas 11 IPS 1 muncul di layar gue. Wafa di sana berkata, “Oke, buat jaga-jaga kalo olah raga, besok bawa training.” Notifikasi tersebut seolah menjadi Nabil kedua yang menganggap gue kakek-kakek pikun. Sama-sama menganggap gue pikun.
Juknis selesai gue tulis, gue langsung menuju kamar untuk terbang bersama mimpi-mimpi gue yang selalu absurd. Sebelum tidur gue berdoa, “Ya Allah, semoga kali ini mimpi punya Playstation 5 sama Wi-Fi, aamiin.”
Gue tertidur. Lelap dalam mimpi. Hanyut dalam dengkuran. Lalu terbangun dengan perasaan yang teramat senang karena pelajaran Penjaskes akan memulai berolah raga di luar lagi seperti sebelum pandemi. Agak aneh memang jika pelajaran olah raga, namun kita tidak mengolah raga kita. Gue salat subuh, mandi, lalu sarapan dan meminta uang saku. Dan gue yakin ini adalah rutinitas umum anak seumuran gue. Ya, walaupun kadang dibedakan oleh status sosial. Misalnya, gue berasal dari keluarga sederhana, gue sarapan nasi megono dan tempe, minumnya teh hangat. Kalau mereka yang berasal dari status sosial keluarga yang terpandang, mereka sarapan menggunakan roti, sandwich, salad, sand witch (mirip sandwich, tapi pakai witch alias penyihir, jadi kalau diartikan jadinya pasir penyihir). Kalau mereka anak orang kaya sarapan Pizza, gue pun sama, Pizzang goreng. Kalau mereka sarapan Hotdog, gue pun sama, Hotdog-an gedhang (baca: Godokan gedhang/pisang rebus) Kalau mereka tidak makan sarapan, gue tetap sarapan, yaitu sarapan yang disediakan ibu mereka. Xixixi.
Gue sudah mulai memakai sepeda motor Super John warna putih gue yang nyentrik. Sepeda motor yang sudah setia menemani gue sejak kelas 9, namun sering gue kecewakan dengan mengurungnya di rumah seharian. Maafin gue, ya, John. Parkiran sekolah pun kini sudah diperbarui. Sekarang sekolah punya lahan parkir sendiri, terletak di sebelah barat gedung MTsS Putra. Gue memarkirkan sepeda motor, lalu berjalan menuju kelas dengan perasaan yang senang sumringah. Namun, kesumringahan tersebut hilang saat si kampret Nabil menanyakan pertanyaan ini.
“Stempelnya lo bawa, ‘kan?”
“Astaghfirullah Hal ‘Adzim. Gue lupa.” dengan perasaan tak berdosa sama sekali gue menepuk jidat, lalu tersenyum mencoba mengalihkan perhatian.
“Salto tiga kali.”
“Sial, dia inget.” Gue menepuk jidat lagi, kali ini jidatnya Sandi. Sandi meringis kesakitan. Bukan karena gue tepok jidatnya, melainkan karena Nabil menginjak kepalanya. Oke, sampai di sini udah mulai ngarang gue.
Akhirnya dengan terpaksa gue pun salto, cuma satu kali, itu pun terlihat seperti melompat dengan kepala gue di bawah. Jadi, gue menyebutnya bukan gerakan salto, melainkan “Overhead Jump”.
“Itu sih bukan salto, itu cuma lompat tapi kepalanya di bawah,” sanggah Nabil penuh kekesalan.
“Ya, gue cuma bisa gini, mau gimana lagi?” gue menjawab, tapi lebih seperti bertanya.
“Lo udah gue wanti-wanti masih aja lupa, kontet lu.”
Bel masuk pelajaran berbunyi, Pak Yuli datang dan menanyakan apakah anak-anak membawa kaos olah raga dan celananya. Ukes berteriak paling kencang, “BAWAAAA, PAK USTAAAAAAZ. AYOOOOO OLAH RAGAAAAA.” urat-urat leher Ukes sampai terlihat, sekarang Ukes seperti vokalis Rock yang sedang manggung, bedanya dia nggak manggung, cuma teriak-teriak aja.
“Apakah semua bawa baju olah raga dan celana?” tanya Pak Yuli sekali lagi.
“Bawa, Pak,” jawab sebagian anak yang membawa kaos. Sebagian lagi hanya diam karena tidak tahu, tidak punya, bahkan ada yang bingung sedang apa dia di sekolah.
“Astaghfirullah, lupa lagi,” kata gue dalam hati. Lalu, gue menjatuhkan kepala gue. Terlihat celana gue polosan, alias tidak memakai ikat pinggang.
“AAAAAAARGGHHHH. BUTUH BERAPA KALI GUE BILANG ‘ASTAGHFIRULLAH’ UNTUK GUE SADAR?”
“Coba yang bawa kaos angkat tangan,” perintah Pak Yuli.
Semua yang membawa perlengkapan olah raga mengangkat tangan, sedangkan gue terpaku memandangi papan tulis. Nabil bertanya, “Lo bawa gak?”
Dengan terpaksa gue menjawab, “Enggak. Lupa.”
“WOOOOO, KONTET. KOAR-KOAR SURUH BAWA KAOS SAMA CELANA TRAINING TAPI LO SENDIRI NGGAK BAWA.” Ukes sekarang benar-benar menjadi vokalis rock, Sandi sebagai gitarisnya, Nayif sebagai bassis, dan Rohid sebagai drummer. Lalu, ada Nabil sebagai juru pegang kabel.
“Ya, maap gue lupa. Hehehe.”
“Ya, sudah untuk hari ini teori dulu aja, baru nanti minggu depan kalian olah raga di luar.” Pak Yuli memutus perdebatan gue dan Ukes.
“Yaahhh.” seisi kelas kecewa, terutama kepada gue.
Pelajaran hidup nomor sekian: jangan bikin pengumuman di grup kalau lo pelupa
Komentar
Posting Komentar