Menuju Fase Selanjutnya Part 2
Sambungan part 1
Dan
setelah berjabat tangan dan bertukar senyum selama kurang lebih tiga puluh enam
tahun, kami pun memasuki gedung yang dimaksud. Gedung UTIPD, atau apalah
namanya. Kami masuk diikuti oleh beberapa calon mahasiswa lain di belakang
kami, cewek dan cowok di sini berbaur, berbeda seperti di madrasah dulu.
Hehehe.
Saat
memasuki ruangan gedung GPT, gue melihat sesosok Genderuwo yang sudah taka
sing bagi gue, yap, dia adalah Sadad. Anak kelas agama yang kebetulan juga kuliah
di sini. Gue bersyukur bisa bertemu teman satu sekolah, karena jika tidak maka
gue harus berjabat tangan dengan cowok-cowok tadi lagi selama 36 tahun lamanya,
sialan.
“Akhirnya
ketemu lu, Wo,” ledek gue.
“Belagu,”
jawab Sadad.
“Ayok
kita kumpulin DPM!” Sandi memutus pertengkaran singkat kami, “Punyamu gimana,
Zim? Jadi minta tolong login?” sambungnya.
“Iya,
gih kalian ngumpulin DPM. Gue mau tanya sama bapak yang itu.” Dengan perasaan
sok percaya diri gue mendekati salah satu staff kampus, yang entah apa sebutannya
gue kurang paham, gue minta bantuan kepada beliau.
“Permisi,
Pak. Ini saya belum bisa login DPM, barangkali bapak bisa membantu, Pak.”
“Kamu
bawa bukti pembayaran UKT-nya?” dengan senyum dan ramah bapak tersebut
menanggapi gue.
“Bawa,
Pak. Ini kertasnya,” kata gue sambil mengacungkan sebuah kertas berwarna kuning
berisi struk pembayaran UKT.
“Oh,
ini masalahnya nama kamu ada petik atasnya. Makanya nggak bisa login.”
BRAK!
Jadi selama ini gue nggak bisa login cuma karena simbol tanda petik atas (‘) ?
Sungguh meng-ghatel-kan. Membagongkan.
“Ini
saya foto aja ya, nanti saya kasih ke adminnya untuk bisa diverifikasi ulang.
Tapi kemungkinan bisanya nanti sore. Jadi hari ini kamu belum bisa foto kartu
mahasiswa. Saya minta nomor kamu saja biar nanti saya hubungi kalau sudah bisa
login.”
Damn.
Gue lemes. Jauh-jauh dari rumah ke sini cuma disuruh pulang. Untungnya si Bapak
memberikan solusi untuk masalah gue, jadinya gue nggak terlalu bingung dan
overthinking. Salut deh sama bapaknya.
Gue
keluar dari gedung GPT mengajak Sadad, meninggalkan Sandi yang sedang
menunggu antrian, “Temenin gue ke WC, please!” mohon gue.
“Tadi
manggil genderuwo, sekarang mohon mohon. Ga asik banget lu jadi orang!”
kesalnya.
Setelah
sekian menit membuang hajat, gue duduk sejenak lalu berpikir… Sadad melongo
memperhatikan gue. Ia memulai percakapan lagi untuk mengusir sepi.
“Lo
belum bisa foto ya hari ini?”
“Iya.”
“Terus
lo mau ngapain abis ini? Pulang?”
“Ahhh
iya! Gue kan harus ke bank buat ngambil dana PIP yang udah cair lagi!” gue
tiba-tiba teringat, gue harus ke bank untuk urusan lain. Akhirnya, dengan satu
tarikan napas gue memantapkan diri…
“Bilangin
Sandi gue ke Bank, kalian jangan pulang dulu nanti gue mampir lagi!!”
“Eh,
Zim! Yahh, udah kabur aja tuh anak, padahal gue mau minta ditraktir minum di
kantin. Dahlah.”
Gue
menyalakan sepeda motor. Memacunya dengan kecepatan sedang. Meninggalkan gedung
megah serba hijau ini. Sambil tersenyum, gue membayangkan diri gue yang gagal
foto tetapi berhasil memegang uang banyak. Wuidihhhh.
Sesampainya
di Bank, tanpa banyak basa-basi, gue masukdan menodongkan AK-47. Sorry, salah
cerita. Gue masuk dan memperlihatkan buku tabungan gue kepada satpam sambil
berkata, “Pe I Pe, Pak!”
“Ya,
silakan… Sudah pernah ambil uang di ATM belum?”
Muka
gue yang tadi sumringah seketika berubah menjadi suram, bingung dan dipenuhi
kata “mboh” dalam kepala.
“Belum,
Pak,” jawab gue jujur dan apa adanya.
“Oke
biar saya aja…” Pak Satpam tersebut kemudian menekan-nekan tombol di mesin atm,
lalu muncul menu “Masukkan kode PIN, “silakan, masukkan kode PIN-nya,” lanjut
beliau.
Gue
memasukkan lima angka ke dalamnya. Dan ternyata masih sisa satu angka. Pak
Satpam berkata lagi, “Masih ingat PIN-nya nggak?”
“Ingat,
Pak. Ini PIN-nya udah saya masukkin,” jawab gue dengan muka yang semakin
ketakutan karena tatapan si Satpam mendadak berubah menjadi creepy.
“PIN
MANDIRI NGGAK ADA YANG LIMA.” Si Satpam berteriak dengan speaker ala Godzilla
dan membuat rumah siput di telinga gue rubuh, rata dengan tanah. Siput di
telinga kanan gue kemudian mengungsikan diri ke telinga kiri.
“Emmmm,
saya ingetnya itu, Pak.”
“Kalau
lupa PIN-nya, kamu ngurus lagi kayak tahun lalu. Bawa fotokopi ktp bapak sama
ibu kamu, dan fotokopi kartu keluarga…”
Ahhh
shit, here we go again. Apesnya gue… Sudah gagal difoto. Sekarang gagal
mendapat uang banyak pula. Sialll!!!! Gue menyerah. Pada akhirnya gue pulang ke
rumah dengan tangan hampa, diiringi salah satu lagu Sheila On 7.
#Nowplaying:
Sheila On 7 – Berhenti Berharap
Aaaaaaaku puuuuuulaaaaaaaaaanggggggggg. Tanpa dendaaaaaaaaaaam. Ku
teeeeeeeriiimaaaaaaaaaaaaaaa. Kekalaaaaaaaaaaaaaahankuuuuuuuuuuuu.
AAAAAKUUUUUU
PULAAANGGGGGGGGGG.
Gue
melempar tas punggung ke atas tempat tidur. Melepas sepatu. Melepas kaus
kakinya, YA INI GAUSAH DI-EXPLAIN JUGA ORANG PAHAM ANJRIT. Menghela napas
panjang…
“Huffffttttttttt.”
“Lohh,
udah pulang? Cepet banget,” tanya Nyokap yang mendapati gue sudah terduduk di
ruang tengah.
“Belum
jadi foto, Mak. DPM-nya belum bisa di-print, soalnya gabisa login, namaku ada
petik atasnya,” keluh gue.
“Astaghfirullah,
nama bagus bagus gitu gabisa login. SELAMETANNYA MAHAL!” entah mengapa Nyokap
tiba-tiba ngomongin soal selametan lahiran gue, tapi beliau ada benarnya juga.
“Ya
udah kamu istirahat dulu aja, duduk duduk dulu, apa tiduran gitu,” sambungnya.
“Iya, Mak.”
Baru saja gue merebahkan tubuh, melepas sepatu
beserta kaus kakinya, lalu membuangnya ke segitiga bermuda. Hanpdhone gue
tiba-tiba berdering, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal masuk. Gue curiga
itu adalah satpam bank tadi. Mungkin dia kesal karena gue sudah nge-prank dia
dengan “nggak tahu PIN”. Tapi setelah diingat-ingat, satpam tersebut bahkan
tidak tahu nomor telepon gue. Ahhhh, aman!
“Halo, Assalamualaikum. Ini siapa ya?” gue
memberanikan diri mengangkat telepon. Siapa tahu ini telepon dari tim bedah
rumah GTV, hihihihi.
Telepon tidak diangkat. Bahkan tidak ada suara sama
sekali dari seberang sana. Gue mulai curiga lagi, jangan-jangan???? JANGANNN!
PLEASE JANGAN!
Nomor misterius kemudian mengirim pesan melalui WA.
“Mas, datanya sudah diperbaiki. Silakan bisa login,”
katanya.
“Data diperbaiki….. Login…. OHHHHH!!!!
ALHAMDULILLAH!” gue terkejut sampai-sampai reflex selebrasi siuuu ala Ronaldo.
Nyokap ikut terkejut.
“Al-Nasr nyetak goal ya?”
Antiklimaks.
Sontak gue langsung login, isi data, print, minta
tanda tangan Nyokap, tempel materai, GAS LAGI KE UIN. Pffthhh.
Bertemu lagi dengan Sadad dan Sandi. Bedanya mereka
sudah foto dan bisa pulang, sedangkan gue baru aja pulang dan baru aja mau
foto, beda tipis tapi miris.
“Kalian jangan pulang dulu ya! Tungguin gue foto
bentar!” pinta gue.
Dengan memegang sebuah stofmap folio berwarna biru
yang berisi data diri gue, gue berjalan penuh percaya diri melintasi lautan
massa para calon mahasiswa yang telah berkerumun sejak gue pulang tadi. Gue ikutan
antri bersama camaba-camaba lain.
Di seberang gue, tampak samar-samar seorang cewek
yang dulu gue pernah kenal. Ya masih kenal sih sebenarnya… Cewek itu tak lain
adalah Rina, temen ngaji dulu, sempat dekat dengan gue sebelum akhirnya gue
keduluan sahabat gue sendiri, Dany. Satttttt… Sungguh kisah cinta yang
memilukan lagi memalukan.
Gue memastikan lagi bahwa gue tidak salah lihat,
karena belakangan gue jarang makan wortel. Dan ternyata benar! Itu adalah Rina.
SHiitttttttt…. Apakah dia tahu gue juga di sini? Apakah dia tahu bahwa aku
sakit hati karena dia jadian dengan Dany? Apakah dia masih mengenali gue????
“Azimatus Sya’bana.” nama gue dipanggil untuk
melakukan pemotretan, gue langsung maju mengambil data gue untuk dibawa ke
ruang pemotretan.
“Azim… Loh, kamu yang tadi ya?” ternyata dia adalah
bapak yang tadi gue temui untuk gue mintai tolong permasalahan login, masih
ingat gue rupanya… Alhamdulillah, senangnya punya peson based. Wuidih.
“Iya, Pak.”
“Gercep banget ya kamu, langsung print, langsung ke
sini lagi,” sambungnya.
“Iya, Pak, mumpung ada waktu, hehehe.”
Cekrek. Foto berhasil diambil. Gue selangkah lagi
menjadi mahasiswa baru. Huhu!!! Gue langsung melangkah keluar dari gedung
menemui Sadad dan Sandi yang ternyata sedang nongkrong bersama dengan teman
satu sekolah lainnya. Ada Aufa, Nafis, Tsaqif, Rahmat, Wafa, dan yang lainnya.
Suasananya semakin hangat meski mendung kembali menghiasi langit Bojong!
“Udah foto?” Sandi bertanya.
“Alhamdulillah, udah!”
Kami berbincang-bincang hangat, mengobrol ke sana ke
mari, membahas tentang bagaimana nanti menjadi seorang mahasiswa. Angin bertiup
sejuk dari selatan, terik matahari masih sedikit terasa menyengat, lalu sebuah
suara tiba-tiba datang menyengat. Telinga, mata, dan hati gue sasarannya. Yap,
itu adalah suara Fika, yang berjalan bersama Nur, Hima, dan yah… here we go…
Yasmin.
“Zimmm! Ada Yasmin nih!” ucap Fika sambil tertawa,
diikuti Nur dan Hima yang juga tertawa.
Sontak saja Sadad dan Sandi langsung meledek gue,
“ZIMMMM, HISSSSSSS, KIW KIW >//<.”
Yasmin tersenyum. Gue tersenyum. Lantas mereka
berempat melanjutkan langkah mereka menuju kantin kampus, meninggalkan gue yang
sekarang diserang badai hati. Kok bisa ya? Gue ketemu dengan dua orang yang
pernah mengisi hati gue, yah meskipun yang satunya ketikung sahabat sendiri.
Gue jadi mikir, seandainya Yasmin dan Rina saling kenal dan saling tahu bahwa
mereka pernah dekat dengan gue, mungkin percakapan seperti ini yang akan
terjadi jika mereka bertemu:
“Lo Yasmin ya? Gue Rina.”
“Iya, gue Yasmin.”
“Lo mantannya Azim ya? Angkatan ke berapa?”
“2022. Kalo lo?”
“2018, tapi nggak ngelanjutin sampe akhir tahun, ada
masalah biaya.”
Setidaknya gue tahu kalau Yasmin terlihat baik-baik
saja, ya untuk alasan apa dia tidak baik-baik saja? Bukannya dia lebih tenang
jika jauh dari gue? Hahaha. Gue yang tadi ngedumel karena harus bolak-balik
dari rumah ke UIN, ditambah apes pas lagi di Bank, sekarang jadi tenang… Gue
tahu alasan Tuhan meng-apeskan gue tadi… Ya, agar gue tahu bagaimana kabar
Yasmin. Wkwk.
Jam menunjukkan pukul setengah dua belas siang,
sebentar lagi zuhur, kami pun memutuskan untuk ngopi sebentar di kantin
kemudian kembali ke rumah masing-masing. Melanjutkan cerita hidup
masing-masing, dan di sinilah kita semua… Kembali ke posisi masing-masing.
#Nowplaying: Hindia – Membasuh.
Kita bergerak
dan bersuara
Berjalan jauh
tumbuh bersama
Sempatkan pulang
ke beranda
‘Tuk mencatat
hidup dan harganya
Bisakah kita
tetap memberi walau tak suci?
Bisakah terus
mengobati walau membiru?
cerita kamu selalu unikk, lucuuu!
BalasHapusMakasih
Hapus