Team Up Bersama Bidadari
Bulan Desember akhir tahun lalu gue resmi melepaskan Sembilan Bidadari yang gue temui di kampus melalui ritual camping bersama sahabat-sahabat gue. Status “ke-bidadari-an” mereka pun resmi hilang. Mereka kini hanya manusia biasa. Punya tujuan sama dan melangkah bersama gue di atas tempat yang sama di sini, di kampus.
Tidak mudah melepas mereka semua. Terlebih lagi mereka yang sudah terlanjur gue dekati dan berujung gagal. Lukanya sesekali masih datang menghampiri. Namun, berbeda dengan mereka yang belum sempat gue dekati. Keadaan justru berbalik. Seperti gue yang sering bertegur sapa dengan Bidadari Keempat dan sesekali mengobrol ringan, juga Bidadari Pertama yang berkesempatan satu tim dengan gue di sebuah kelompok belajar mata kuliah.
Bidadari Pertama, sebut saja dia Kaka, berkesempatan team up dengan gue pada mata kuliah Harmoni Sains dan Agama; mata kuliah yang terdengar asing di telinga gue.
“Total pertemuan ada 16 sudah termasuk UTS dan UAS, berarti ada 14 materi. Itu artinya ada 14 kelompok yang nantinya akan presentasi paper buatannya. Itu di google classroom sudah ada 14 anak yang sudah saya tetapkan, nah sisanya yang belum ada bisa langsung masuk saja.” Pak Achwan menjelaskan di kelas GPT 3.02 yang terkenal panas ini.
Gue melirik-lirik ke semua daftar nama. Mencoba memastikan apakah mereka adalah mahasiswa yang kerjasama-able atau tidak. Lalu, gue melihat nama Kaka sendirian di angka tujuh. Dan hanya tersisa satu slot untuk masuk ke tim tujuh. Maka gue langsung klik tombol masuk. Ceklik.
“Azim, kita satu kelompok ya?” tanya Kaka mengonfirmasi.
“Iya, Ka. Mohon kerja samanya ya!” jawab gue sok cool.
“Aku nggak paham tema kita leh, nanti ajarin ya…. Please….” Kaka memelas, gue nggak tega, sekarang gue menabrakkan diri ke kaca di sebelah kiri gue dan terjun ke lantai dasar.
Di saat yang bersamaan, kami juga satu tim di seksi acara seminar bulan puasa yang diadakan oleh HMPS. Benar-benar sebuah alur yang unik bukan? Bukan. Skip.
Lalu, dengan kecerdasan di atas rata-rata manusia umum (karena gue bukan manusia umum, gue manusia aneh) gue melakukan perjanjian dengan Kaka. Berikut isi perjanjiannya:
“Aku nggak mau hadir rapat, puasa gini capek, kamu jelasin ke aku aja tugas-tugasku. Sebagai gantinya, aku bakal cari materi tema kita dan jelasin ke kamu. Deal?”
“Oke. Deal.” Negosiasi pekok berhasil.
Hari demi hari berlalu. Materi terkumpul dan saatnya gue menjelaskan materi pada Kaka. Tentu saja dengan tampang sok cool dan sok tahu, gue menjelaskannya perlahan, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna, gue memaparkan.
“Dialektika dalam Sains dan Agama tuh maksudnya begini, Ka,” ujar gue sambil berpose layaknya peserta lomba debat nasional yang dieliminasi sebelum lombanya dimulai.
“Gimana??” tanya Kaka penasaran.
“Gitu.”
Brakkkk. Kaka melemparkan kursi ke kepala gue. Gue pusing sedikit. Kemudian dengan satu tarikan napas gue menjelaskannya dengan serius. Perlahan Kaka mengerti penjelasan gue.
“Ohh begitu. Kok ternyata gampang ya??” sambil tersenyum Kaka kegirangan karena berhasil memahami materi presentasi kami…,”Makasih ya, Azim, aku tuh emang butuh diginiin kalo belajar. Kadang pahamnya susah,” tambahnya.
“Santai aja. Kan emang perjanjiannya gitu. Tapi inget ya, presentasinya jangan baca, harus bisa menjelaskan ya!” tanggap gue sambil masih sok cool.
Jauh di dalam lubuk hati gue timbul pertanyaan liar. Andai saja dulu gue nggak nembak Jessica & Patricia, pasti situasinya bakal enak begini, nggak canggung. Namun, semuanya sudah terlanjur terjadi. Untuk apa terus disesali?
“ZIM! JANGAN NGELAMUN! GILIRANMU PRESENTASI!” Kaka berbisik.
“Oh iya iya… Okee…”
Presentasi sukses. Dosen terpukau. Acara seminar pun sukses. Gue bersyukur berhasil melalui keduanya bersama Kaka. Bukan hanya tentang keberhasilan menyelesaikan tugasnya, namun juga sedikit kekecewaan gue terobati; minimal gue bisa dekat dengan Kaka walau sementara dan tanpa boleh ada rasa. Agak aneh didengar, namun demikianlah faktanya.
Tempo hari gue mendengar cerita dari Vivi. Vivi mendapat cerita dari Kaka. Hah? Gimana? Gimana?
“Zim, gue ada cerita lucu nih,” ujar Vivi.
“Kalo nggak lucu traktir gue Mie Ayam Bang Mamad!” jawab gue menohok.
“Yee belagu lu. Nih denger ya… Kata si Kaka lo asik buat partner presentasi, katanya penjelasan lo enak, lebih enak dari penjelasan Ghozali. Hahaha.”
“Hahahaha (ketawa karir).”
Seketika speedometer ge-er gue naik drastis. Gue jadi senyam-senyum sendiri sambil sesekali sikap lilin dan kayang. Sekarang gue benar-benar terlihat aneh.
Perasaan aneh itu pun kembali muncul diiringi dengan pengandaian liar. Kalau saja gue memperlakukan Jessica seperti Kaka, dibawa santai aja nggak pake perasaan, mungkin nggak akan ada penolakan. Seandainya…
Now Playing: Sundancer – Firasat
Betapa bodohnya diriku
Telah menyakitimu
Kurelakan kau untuk melangkah
Karena ‘ku tak pernah berubah
Komentar
Posting Komentar