Langsung ke konten utama

Aufa Vs Secret Admirer

 

            (Sambungan Bab Munculnya Bidadari Kesembilan)

Gue meraih gitar di seberang gue yang sedari tadi nganggur. Gue kemudian menggenjreng dan menyanyikan lagu ciptaan gue: jeritan hati. Gue mengernyitkan dagu, memejamkan mata, dan ngeden skuat tenaga, yap, gue sekarang seperti orang sedang bab sambil kesurupan.

            “Lah, kok nggak nyanyi nyanyi sih?” tanya Aufa.

            “Kan jeritan hati, cuma gue yang bisa denger jeritan hati gue,” jawab gue enteng.

            “Zim, gue mau cerita dong.”

            “Ya, silakan, semua cerita dan keluhan Anda akan tetap kami rahasiakan karena itu adalah kebijakan Perusahaan konseling kami.” Oke, gue ngaco seperti biasa.

            “Intinya gitu…” Kurang lebih selama 35 jam Aufa bercerita, gue masih diam dengan mulut menganga, mencoba mencerna.

            Aufa menceritakan bagaimana proses dia putus dengan pacarnya tahun 2022 silam, lalu selang tiga bulan kemudian dia balikan sama mantannya, gila tutor-in gue dong! Prosesnya pahit, Aufa terpaksa melepas cewek yang ia cintai gara-gara ada orang ketiga, ya kurang lebih seperti itu pengakuannya.

            “Sekarang gue percaya bahwa ‘yang sirna kan kembali, yang sirna kan nanti terganti’, dan untung banget lo bisa balik sama si… siapa namanya?”

            “Yana.”

            “Ah, iya, si catering ayam itu kan? Udah berapa lama berarti sampe sekarang?”

            “Goblok….” Aufa menampar gue menggunakan gitar Syauqi, gue terpental sampai ke tembok Cina, “…udah mau setahun dong,” sambungnya.

            “Gue juga bentar lagi setahun.”

            “Setahun apa?”

            “Setahun jomblo.”

            Hening. Aufa menahan tawa sambil menahan kentut. Sekarang teras rumah Syauqi penuh bauk arena ia lepas.

            “Nggak mau nyoba cari lagi?” Aufa mencoba memecah keheningan.

            “Masih tanda tanya, tapi kayaknya gue lagi naksir cewek deh. Tapi nggak tau juga dianya ke gue gimana, kami belum pernah ngobrol.” Gue menjawab dengan mulut penuh busa karena berbelit-belit.

            “Yang suka lo tuh sebenarnya banyak. Lo-nya aja sok-sokan pilah pilih, endingnya gini kan?!” Entah mengapa, tiba-tiba rasanya Aufa seperti seorang motivator, namun gaya penyampaiannya lebih seperti mau ngebully gue.


            “I… iya sih….” Gue kemudian teringat sesuatu.

            Bulan September yang lalu, sebuah akun Instagram misterius nongol di notifikasi gue. Akun tersebut nyempil di menu permintaan pesan. Gue membuka menu tersebut. Ada sebuah pesan…

            “Have a prettiest day, Zim!” akun misterius yang gue yakin juga orangnya misterius itu mengomentari story Instagram gue, gue balas dengan pertanyaan lo siapa, dari mana, password-nya apa, ya benar! Selamat, Anda berhak mendapatkan uang tunai lima juta rupiah dipersembahkan oleh Kopi Gajah! Sial.

            Tanpa doi membeberkan maksud dan tujuannya, gue sudah bisa menebak bahwa yang beginian pasti seorang secret admirer, ini mengingatkan gue pada Yasmin yang dulu juga sempat jadi secret admirer gue selama tiga tahun hingga akhirnya berani confess (baca bab Balada Jatuh Cinta Diam-diam), lalu kami pacaran, dan… yak, putus.

            Si Misterius ini, kita sebut saja Turkiyem, tiba-tiba saja muncul dan gue penasaran siapa identitas di balik kemisteriusannya tersebut. Karena gue sendiri bingung mau curhat ke mana, gue lampiasin aja ke doi. Gue curhat ngasal, doi malah gapaham, sial.

            “Pembahasannya tinggi, gue ga paham,” ucapnya melalui gelembung direct message.

            Lalu, beberapa hari kemudian, muncul akun misterius lagi dengan nama berbeda, pesannya juga masih bernada sama: menyemangati gue.

            “INI SIAPA LAGI SIHHH BANYAK BANGET AKUN MISTIS KEK GINI?” kesal gue, bukan karena disemangati, melainkan karena harus tidur dengan rasa penasaran.

            Gue meng-forward akun tersebut ke Turkiyem. Gue menanyakan apakah ini masih orang  yang sama (maksudnya dia).

            “Ini lo juga?” tanya gue.

            “Bukan! Astaga ternyata banyak yang ngagumin kamu (emot menangis).”

            “Ya ampun, bikin penasaran gue aja…”

            “Emangnya kenapa harus penasaran? Harus banget ya tau gue siapa?”

            “Ya harus.”

            “Nggak mau, gue takut jadi awkward.”

            Gue dan Turkiyem lumayan sering mengobrol di direct message Instagram, namun seiring berjalannya waktu, lebih tepatnya karena gue lagi pdkt sama Jessica, kami sudah jarang mengobrol. Ya, buat apa juga ngobrol sama orang yang bahkan kita nggak tahu siapa dia?

            Kemudian, dua pernyataan kawan. Gue pernah sedang mengobrol dengan mahasiswa prodi sebelah, lebih tepatnya ilmu tafsir dan bimbingan penyuluhan. Masing-masing dari keduanya mengatakan hal yang sama: “Temen gue ada yang naksir lo.” Dan masing-masing ketika gue tanyai siapa orangnya, mereka tidak menjawab.

            “Identitas rahasia katanya.”

            “Sial. Dejavu akun misterius kemarin gue.”

            Gue merenungi ini selama beberapa menit. Aufa kemudian membangunkan gue dari lamunan panjang tersebut. Tentu saja dengan menampol muka gue menggunakan gitar, lagi. Ternyata benar, yang suka gue sebenarnya ada, bahkan tidak sedikit. Namun gue punya pembelaan: gue nggak tahu siapa mereka, jadi ya wajar jika gue nggak Bersatu sama salah satu dari mereka.

            “Pulang yuk, anterin gue,” pinta Aufa.

            “Ayok deh, udah cukup ngelamunnya malam ini.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memotret Kohesi Sosial Kliwonan Wonoyoso dari Sudut Pandang Individualisme

             Pagi hari. Waktu paling umum bagi sebagian besar masyarakat kelas pekerja untuk berangkat bekerja. Pun juga waktu paling umum untuk berangkat sekolah atau kuliah. Akan tetapi pengalaman berangkat bekerja atau sekolah & kuliah ini akan terasa berbeda jika harus melewati rute Jalan Raya  Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut di hari Jumat Kliwon. Ada pemandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya, yakni kerumunan pedagang jajan, pakaian, dan lain-lainnya berjejer di pinggir jalan sepanjang Jalan Raya Kertijayan hingga Jalan Raya Sapugarut.             “Kliwonan” atau “Pasar Kliwon” begitu warga setempat menyebutnya. Merupakan semacam tradisi spiritual yang sudah dilestarikan warga Desa Wonoyoso dan sekitarnya sejak lama sekali. Pusat tradisi ini sebenarnya berada pada Masjid Jami’ Wonoyoso yang konon katanya memiliki sumur keramat—jika mandi atau mi...

Satu Gagang Sapu

       Sabtu, 11 April 2026. Saya bangun tidur dengan perasaan lega karena baru saja menuntaskan satu tanggung jawab. Ketika mata melek, tak ada perasaan berat seperti beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi perasaan tersebut ternyata tidak bertahan lama--langsung terusik oleh postingan status whatsapp salah satu teman di kampus yang baru saja dilamar oleh kekasihnya.    Bukan, bukan berarti saya cemburu karena teman saya dilamar. Pun kalau bisa dikata cemburu, konteks cemburunya bukan cemburu secara romantis, saya lebih memilih cemburu secara finansial. Sebab, secara praktis, mereka yang telah berani menapaki jalan menuju pernikahan artinya sudah bisa dikatakan mapan (walaupun tentu tidak sepenuhnya) baik secara finansial maupun mental dan aspek lainnya.      Saya mbatin sejenak, "Memang ya, bangun tidur itu harusnya langsung solat subuh habis itu olahraga atau baca buku, bukan malah buka medsos." Baru satu postingan saja sudah bikin saya mbat...

Alienasi dan Diskriminasi terhadap Mahasiswa Internasional

              Minggu sore, 12 Juli 2026. Saya baru saja pulang dari Stadion Hoegeng Pekalongan bersama Haroon setelah berlatih passing sepakbola. Haroon adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa internasional di UIN Gusdur yang berteman dengan saya. Pertama kali saya bertemu Haroon 28 Januari 2026, waktu itu Humas UIN Gusdur membutuhkan talent untuk video promosi kampus tentang keberadaan mahasiswa internasional di UIN Gusdur. Intinya video tersebut bermaksud memberitahu khalayak bahwa di kampus kami ada mahasiswa internasional yang berkuliah di dalamnya. Kebetulan sekali pada bulan Oktober 2025 saya sempat menjadi talent untuk video profil kampus, waktu itu Bu Afina Fahru yang menggandeng saya ke dalam projek tersebut, sebab beliau tahu saya menjadi aktor utama dalam film “Evakuasi” yang merupakan projek UAS dalam mata kuliah Sinematografi & Dramaturgi yang diampu beliau. Jadi saya ditarik untuk projek Humas ini ka...