Misteri Penemu Sweater
Perlahan punggung Pak Syam, dosen Sosiologi, menghilang dari pandangan gue. Begitu pula dengan para mahasiswa lainnya. Gue sendirian di ruang 3.9 gedung FUAD. Gue mematikan semua kipas angin yang menyala, kemudian keluar dari ruangan dan turun ke lantai dasar.
Gue melihat ke samping kanan-kiri dari tangga yang baru saja gue lalui. Tidak ada orang yang gue kenali di sini. Lalu, gue melangkah kea rah resepsionis, dan gue temukan sosok ini…
“Ekhem…” dehem gue membangunkan sosok tersebut dari lamunannya.
“Eh, Azim, sini duduk. Abis makul ya?” tanyanya.
“Kita kan barusan sekelas, An. Masa ga ngeh?” balas gue.
“Oh iya? Kok gue nggak lihat lo?”
“Gue duduk di pojok.”
“Pantesan…”
Sosok tersebut adalah Andi, anak kelas B semester lalu yang pada semester kali ini kerap kali satu kelas dengan gue di beberapa mata kuliah. Kalau gue gambarkan, Andi ini punya style seperti Dilan yang diperankan oleh Iqbaal Ramadan. Dia sering pakai jaket denim dengan mengendarai sepeda motor CB, menambah kesan ke-Dilan-annya. Buset.
“Itu tadi pagi lo nge-share link apaan ya?” Andi mendadak mewawancarai gue.
“Oh, itu blog gue. Itu cerita baru, lanjutan dari cerita-cerita yang gue tulis di semester satu kemarin…”
“Oh ya? Cerita tentang apa aja kira-kira?” Andi antusias, bola matanya membesar dan alisnya naik.
“Itu sih sebenarnya blog udah dari tahun 2021, baru gue jalanin lagi waktu kemarin semester satu. Ya, sederhana aja, cuma cerita gue di kampus, mulai dari ditolak ukm, sampe ditolak cewek. Itu udah jadi satu aliran waktu, bahkan udah gue draft jadi satu buat diterbitin. Semoga bisa terbit beneran, deh.”
“Oh iyaa?? Coba ya gue mau baca…” Andi terjerumus ke dalam kebodohan gue. Ia pun membuka tautan yang ada di story WhatsApp gue…”ini ceritanya dimulai dari mana yang kuliah?” sambungnya.
“Lo bisa langsung ke ‘First Class’ aja sih, abis itu lanjut yang ‘Bidadari Berputar di Atas Pencakar Langit’ abis tu udah semuanya urut…”
Andi membaca kedua bab rekomendasi gue. Lalu ini yang terjadi.
“Alah alah alahhhh bidadariii… Kiwwwww. Bidadari…..” (sambil memasang wajah sok imut dan berpose layaknya anggota boyband yang grupnya bubar sebelum single pertamanya rilis.
“Kenapa lo? Mendadak gila ya? Syukur deh…”
“Hmmm, bidadari kedua, anak Tafsir, ikut lomba nyanyi… AH GUE TAHU INI SIAPA ORANGNYA.” Masih dengan muka yang sok boyband, Andi meringis sinis dan menabok gue sekencang mungkin. Gue terpental sampai ke perpustakaan.
“Siapa coba kalo tahu?” tanya gue mencoba mengetes Andi.
“Si ******, ‘kan? Iya lah gue tahu, orang dulu gue juga ikut lomba nyanyinya… Tapi, nggak jadi, digantiin sama cowok siapa tuh gue ga tahu.”
“Gue yang gantiin lo.”
“OH YA??? BERARTI BENER DONG ITU SI DE…”
“Oke, udah. Iya lo bener, An, cukup…”
Andi kembali melanjutkan membaca.
“Bidadari keempat, pendek, suka makan kebab… AHHH INI GUE JUGA TAHU SIAPA!”
“LO KOK SERBA TAHU SIH? SEKALI-KALI KERUPUK KEK!” kesal gue.
“Gue kenal orangnya, dia ikut organisasi PMII ‘kan?” kali ini Andi yang coba mengetes.
“Nggak tahu kalau itu,” jawab gue santai, mencoba tidak pipis di celana.
Andi kemudian menyodorkan smartphone-nya dan menunjukkan sebuah foto. Iya, kali ini Andi benar lagi. Sialnya gue.
“Iya njir, mana bener lagi, sialan lu tahu-tahuan aja.”
“Hahahaha. Tapi yang lainnya gue nggak tahu sih.”
“Ya kalo tahu semua hal di dunia ini lo udah bukan tingkatan manusia dong,” jawab gue ngelantur.
“Lo emang suka nulis cerita gitu?” kali ini pembicaraannya mulai serius…”kalo gue sih nulis lagu, Zim.”
“Oh, ya? Beneran?”
Andi kemudian menunjukkan catatan lagu yang sudah pernah ia tulis. Dengan tarikan napas panjang, huuuuuuuuuuuuft, Andi kemudian menyanyikan lagu pertamanya yang berjudul “Selalu Ada”.
Gue mangut-mangut, seperti lele mangut. Hah? Gue kagum dengan lirik lagu yang estetik dan irama yang catchy dari lagu barusan. Dalam hati gue bertanya-tanya, memang bagaimana sih caranya menulis lagu?
“Ada lagi?” gue ketagihan.
“Ada. Judulnya Hidup Kadang Kidding.”
Andi kembali menyanyi. Kali ini irama lagunya agak tidak asing bagi gue, iramanya mirip-mirip dengan lagu berjudul “Mungkin” dari Band Potret yang sudah diaransemen ulang dan menjadi versi reggae.
“MUNGKIN SANG FAAJAARRRR DAN SAYAPPPP..”
“BUKAN WOY! BUKAN!” Andi menghentikan nyanyiannya, ia berubah menjadi Optimus Prime dan menembaki gue menggunakan peluru balistik.
“Itu keren sih. Udah pernah nyoba lo kasih instrumen apa masih mentah lirik gitu doang?”
“Belum sih…”
Berbagai topik pembicaraan mengenai skill kami masing-masing perlahan berlalu sejalan dengan berjalannya waktu. Jam sekarang menunjukkan pukul 11.00, sepuluh menit lagi mata kuliah Bahasa Inggris akan segera dimulai.
“Naik ke lantai 4 yuk, bentar lagi masuk,” ajak gue.
Kami bergegas naik ke lantai empat, menuju ke Laboratorium KPI, tempat mata kuliah Bahasa Inggris berlangsung. Namun, kelas masih kosong, Mrs. Ryan belum Nampak batang hidungnya. Begitu pula dengan para mahasiswa lainnya. Ada yang aneh…
Andi kemudian melanjutkan obrolannya. Kali ini ia menyinggung tentang sosok-sosok Bidadari yang tidak ia kenal.
“Gue masih penasaran sama yang bidadari nomor 3, itu siapa ya? Anak Prodi MD? Kok aku gak kenal.”
“Tuh, di depan kita doang. Pake krudung item,” jawab gue sambil menunjuk kea rah tiga cewek yang sedang duduk di samping tangga.
“MANA MANA MANA? MANA MANA MANA?” Andi antusias.
“Cari sendiri ah, gue mau duduk.”
“OH YANG ITU.” Andi senyam-senyum creepy. Mukanya sekarang tampak seperti pelaku pelecehan seksual. Cabul.
“Bidadari-bidadari itu udah gue lepas, An. Cuma yang masih kadang ngganggu pikiran gue tuh nomor 6 sama 9, ntar lo lanjut baca lagi deh siapa mereka, siapa tahu lo kenal, lagi.” gue terduduk lemas di bangku besi samping ruang 4.14. Andi mengikuti.
“Tahu nggak waktu di Bandung gue sering ketemu Ayah Pidi Baiq?” Andi kembali menjadi Dilan.
“Pidi Baiq yang terkenal itu? Beneran?” gue terbangun dari duduk lemas, kali ini jadi duduk antusias.
“Ayah Pidi pernah bilang gini, ‘Tugas laki laki hanya menyampaikan apa yang iya rasakan, selanjutnya bagaimana perempuan menanggapinya, karena percayalah laki laki sejati hanya akan selalu milik ibunya, dan perempuan lainnya adalah pengimplementasian belaka yang tak akan selamanya.'."
Gue hanya diam. Mata gue terpaku pada dinding setinggi setengah meter di depan gue. Pemikiran-pemikiran liar menghantui kepala gue. Sesekali gue menanggapi Andi yang membahas persoalan cinta ini.
"Gila, lo ngomong panjang banget," kata gue.
Suasana menjadi hening. Sampai-sampai kami baru sadar bahwa kelas tak kunjung dihadiri mahasiswa dan Mrs. Ryan. Sesuatu yang aneh benar-benar sedang terjadi. Ada apa ini? Apakah mereka dihadang Thanos di tengah perjalanan? Atau mereka harus menghadapi Dr. Doom? Aduh!
“An, kok udah jam sebelas lebih dua puluh tapi nggak masuk masuk ya? Bukannya Mrs. Ryan ga pernah telat masuk kelas ya kan?” tanya gue sambil menyeka keringat karena khawatir mereka semua benar-benar harus menghadapi Thanos atau Dr. Doom.
“Kayaknya… OH IYA NJIR KELASNYA DIPINDAH KE GEDUNG GPT!”
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHH!”
Kami sontak berlari kencang meninggalkan Gedung FUAD. Kami turun dari lantai empat dengan kecepatan cahaya, buset. Di tengah-tengah berlari, kaki gue tersandung masa lalu, bukan, tersandung mahasiswa lain yang sedang tiduran di lantai, LO NGAPAIN SIH. Pergelangan kaki gue terasa sakit bukan main, gue nggak bisa berlari sekencang sebelumnya. Andi membangunkan gue.
“Lo nggak apa-apa kan? KITA HARUS TERUS BERLARI…”
(Anggap saja ini sebuah adegan dalam film action).
Kami melanjutkan berlari. Giliran sekarang Andi yang tertabrak mahasiswa semester tua yang baru saja menyelesaikan seminar proposal. Buket bunga yang ia bawa sampai berantakan. Kami terpaksa merapikannya.
“AAAAAAAAAAAAAA. WOY MAS KALO JALAN PAKE MATA DONG!”
“JALAN PAKE KAKI LAH!” debat gue.
Kami mengambil sepeda motor. Berboncengan. Tancap gas sekencang mungkin dan sampailah di GPT lantai dua. Iya, sepeda motornya gue bawa sampai ke lantai dua.
Nggak. Bohong. Dramatis banget njir…
Kami hanya berlari kecil dan menaiki sepeda motor dengan perlahan. Dan semua adegan tadi hanyalah pencitraan. Selamat, anda kena prank.
Kami masuk ruang kelas, dan benar saja kelas sudah dimulai. Kami terlambat masuk kelas. Rekor tidak pernah terlambat sejak MI gue akhirnya patah. Gue terlambat hari ini. Sial.
Di depan kelas, sedang ada kelompok yang maju melakukan podcast seperti yang sudah ditugaskan Mrs. Ryan minggu sebelumnya. Kelompok pertama membicarakan topik kemahasiswaan, sedangkan kelompok kedua cosplay jadi pasangan calon presiden terpilih, yakni Prabowo-Gibran, yang diwawancarai oleh pembawa acara tv.
Podcast singkat nan gratis itu berhasil menghibur kami. Selain karena pembawaan mereka yang lucu, juga karena aksen Bahasa inggris yang sangat medok, menambah kesan lucu.
“Wi ar hapi to doing doing dis. Bikos we have been selekted.”
“APASIH INIII YA ALLAH” Egi, yang duduk di sebelah gue nggak paham.
Podcast berakhir. Mrs. Ryan memberikan tugas untuk menerjemahkan teks halaman 7 karena beliau sedang ada urusan di ruang sebelah. Menit demi menit pun berlalu, hingga jam mata kuliah ini berakhir dan kami semua keluar dari kelas setelah mengumpulkan tugas.
Gue, Revo, dan Egi beranjak ke kantin kampus dan makan siang di sana. Lalu, kami bertemu Zali, Rafi, Wafik, dan kawan-kawan kelas A lainnya. Yah, meskipun nggak lengkap, setidaknya kami kembali meet up.
Dan kemudian… hal itu terjadi. Seorang cowok yang belakangan gue kenali namun tidak gue ketahui Namanya tiba-tiba menghantarkan Sweater gue yang ternyata tertinggal di kelas.
“Zim, punya lo nih, ketinggalan,” ucapnya sambil menyerahkan sweater gue.
“Oh, makasih ya… Ini lo yang nemuin?” gue menerima sweater tersebut dan memasukkannya ke dalam tas.
“Bukan gue, yang nemu Renita. Gue cuma tolong nganterin ke lo aja, udah ya, gue duluan.” Cowok gempal yang mukanya familiar namun Namanya entah siapa gue lupa nanya tersebut perlahan menjauh, menghilang dari pandangan gue. Gue termenung… Terdiam dan terpaku. Di kepala gue terngiang sebuah nama: Renita.
Siapakah Renita ini?
Komentar
Posting Komentar