Madilog sebagai Antitesis Pemikiran Mistis yang Kolot

             Ibrahim Datuk Sutan Malaka, atau kita semua sering mendengar namanya sebagai Tan Malaka, lahir di Nagari Pandam Gadang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat pada tanggal 02 Juni 1897. Beliau lahir dari pasangan HM. Rasad Chaniago, seorang buruh tani, dan Rangkayo Sinah Simabur, seorang putri dari tokoh terpandang.

            Tan Malaka memiliki keterampilan berbahasa Belanda, dan di masa produktifnya dalam belajar sejak kecil sampai dewasa, yaitu tahun 1909-1919, beliau mendapat gelar Diploma Hulpacte (semacam sertifikat layak mengajar) atas kelulusannya dari Rijks Kweekschool (Sekolah Guru Negeri) di Haarlem, Belanda. Kegemaran beliau membaca buku-buku seputar pandangan budaya dan politik para pemikir Jerman membuat beliau terpantik dan angkat topi dengan kebudayaan dan pandangan politik Jerman. Hal ini kemudian menjadi arah panutan politik Tan Malaka yang mendorongnya untuk mendaftar di Angkatan Darat Jerman, namun sayangnya beliau tidak diterima sebab pada saat itu mereka tidak merekrut orang asing.


Tan Malaka. Via Ruangguru.id

     Kecintaan Bung Malaka terhadap kebudayaan dan pandangan politik tersebutlah yang mendorongnya untuk memiliki pandangan-pandangan yang “beda jalur” dan kemudian dituangkan dalam berbagai karya, seperti Naar de ‘Republiek Indonesia’ (1925), Aksi Massa (1926), Madilog (1943), Gerpolek (1948), dan lain-lain.

            Pada kesempatan ini saya akan sedikit mengulik salah satu buku beliau yang merupakan salah satu buku best seller saat ini, yaitu Madilog (1943). Naskah Madilog ini ditulis di Rawajati, tepatnya di dekat pabrik sepatu Kalibata, Cililitan, Jakarta tahun 2602. Penanggalan dalam tulisan ini masih memakai penanggalan Jepang, ini menunjukkan bahwa Indonesia belum mandiri (baca: masih terjajah, baik secara fisik maupun intelektualitas) bahkan sampai aspek terkecil seperti penanggalan pun masih menggunakan tanggalan-tanggalan yang sudah ada seperti tanggalan Jepang dan atau tanggalan Hijriah. Waktu yang digunakan Bung Malaka sendiri dalam menulis Madilog ialah kurang lebih delapan bulan, yaitu sejak 15 Juli 1942 sampai dengan 30 Maret 1943. Ditulis dalam tiga jam sehari dengan total 720 jam kerja.

            Buku ini ditulis dalam keadaan yang penuh tekanan, beberapa kali bahkan polisi (Jepang) datang untuk memeriksa dan menggeledah rumah tempat Tan Malaka tinggal dan menulis buku ini. Beruntung, Madilog ditulis dengan huruf yang kecil dan diletakkan di tempat yang sulit dijangkau. Hamdalah, polisi tidak dapat menyitanya. Alasan Tan Malaka sendiri menulis buku ini adalah salah satunya karena kondisi proletariat pada masa tersebut memiliki potensi yang besar namun sayangnya masih berpendidikan “tipis”. Masyarakat masih condong mengandalkan ilmu akhirat dan tahayul, mereka jadi kurang pandangan akan dunia/Weltanschauung, mereka tidak menyadari kekuasaan kelasnya. Di sinilah Madilog masuk, ia didesain sebagai alat/jembatan untuk nantinya masyarakat bisa belajar lebih lanjut ke filsafat barat.

            Madilog, merupakan akronim dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Materialisme merupakan paham/cara pikir yang berpijak pada materi/benda, kemudian Dialektika adalah cara pandang yang dapat melihat pertentangan dan gerak, dan Logika adalah hukum berpikir lurus. Paduan antara ketiga kata tersebut terdengar kurang sedap di telinga menurut beliau, sehingga beliau menciptakan akronim yang merupakan metode “Jembatan Keledai”/Ezelsbruggetje (baca: menyingkat kata/kalimat agar mudah diingat dan dipahami, bukan malah menghafalkannya). Metode ini sering beliau gunakan, di antaranya seperti jembatan keledai “AFIAGUMMI” dan “ONIFMAABYCI AIUDGALOG”. AFIAGUMMI, A-nya merupakan Armament, kekuatan udara, darat, dan laut, selanjutnya FI merupakan Finance. Namun sayangnya untuk IAGUMMI  dan yang satunya, ONIFMAABYCI AIUDGALOG, beliau tidak pernah menyebutkan apa artinya. Barangkali sesuatu yang dirahasiakan.

            Tan Malaka juga mewanti-wanti bahwa ketiga aspek tadi, yaitu Matter, Dialectica, dan Logic, akan berbahaya jika dipakai sendiri-sendiri atau terpisah. Materialisme membuat orang jadi kaku, dialektika membuat orang jadi ngawang dan mistik, lalu logika dapat membuat “silau” dan lupa terhadap konteks. Jadi, singkatnya, Madilog ini merupakan sebuah sintesis dari ketiga “bahaya” tersebut, yakni Logika dan Dialektika yang berdiri di atas iklim Materialisme. Titik awalnya akan selalu berpijak pada matter atau benda, kemudian dari penjuru matter inilah kita memandang segala sesuatu. Ketiganya saling berkaitan erat sebab logika saja tidak cukup, perlu dialektika untuk mengerti perubahan dan kontradiksi, begitu sebutnya. Ini sangat penting bagi masyarakat Timur yang masih kental dengan ilmu ke-gaib-an agar masyarakat dapat berpikir secara rasional.

            Bab pertama membahas Logika Mistika—di sinilah kritik pedas Tan Malaka melayang pada konsep berpikir irrasional yang serba mengedepankan cara pikir ghaib, yang bahkan sampai detik ini kita masih sering mendapati fenomena yang demikian. Sebut saja contohnya ketika ada teman Anda yang sedang duduk di dekat pohon beringin lalu tiba-tiba tak sadarkan diri, beberapa saat kemudian teman Anda mengerang dan menjerit keras. Orang yang mengedepankan logika mistik akan praktis langsung berkata bahwa teman Anda kesurupan penunggu pohon beringin tersebut, padahal belum tentu ia benar-benar kesurupan, bisa saja ia mengalami kondisi tidak sehat dalam mentalnya sehingga mengalami gangguan semacam itu—itu kalau kita berpikir ala materialis, dan inilah yang coba diajarkan Tan Malaka melalui Madilog. Ia menuntun dan menuntut kita semua agar merinci penyebab dari segala sesuatu berdasarkan penalaran logis dan ilmiah. Bukan semata-mata dari logika mistis—pengaruh roh dan perkara ghaib.

            Memasuki bab kedua yakni filsafat, Tan Malaka di sini membahas tentang pertentangan antara kubu filsafat idealisme versus materialisme. Di mana kubu idealisme di sini mengedepankan idea, yakni ide atau konsep, artinya segala sesuatu harus berdasar pada konsep atau hal-hal seputarnya, sedangkan kubu materialisme mengedepankan matter, artinya mereka mengedepankan keberadaan benda atau material dalam menyikapi sesuatu.

Tan Malaka di sini memberi contoh Hegel, si Idealis tulen dengan ide bahwa sejarah digerakkan oleh absolute idea. Mirip seperti konsep Tuhan/hal-hal berbau metafisik—bahwa semua hal yang ada di dunia ini, termasuk realitas dan sejarahnya, merupakan perwujudan dari ide absolut. Ini dibantah oleh Karl Marx dengan pembalikan 180 derajat. Marx menyatakan bahwa yang menentukan kesadaran atau pikiran adalah keadaan sosial, kemudian sejarah ditentukan oleh kondisi material kehidupan manusia, dan motor penggerak sejarah adalah perjuangan kelas (antara kelas-kelas sosial yang punya kepentingan berbeda). Seperti kelas petani vs. bangsawan, buruh vs. kapitalis, budak vs. tuan, akarnya ada pada hubungan ekonomi; yakni antara siapa yang menguasai alat produksi dan modal, melawan mereka yang hanya punya tenaga untuk dijual. Dan pertentangan ini semakin runcing dikarenakan adanya perkembangan teknologi. Inilah yang kemudian menuntun manusia berkembang dari satu periode ke periode berikutnya: dari zaman perbudakan menuju feodalisme, dari zaman feodalisme menuju zaman kapitalisme, dan seterusnya. Jadi ini bukanlah pertentangan ide yang ngawang, melainkan pertentangan nyata antar kelas manusia.

Bab ketiga sangat panjang, membahas mengenai sains, bab ini bahkan dipotong menjadi dua bagian—bagian pertama membahas pentingnya sebuah definisi akan sesuatu, kemudian matematika, geometri, dan bagaimana kita membangun cara pikir matematis. Kemudian bagian keduanya dibahas mengenai cara induksi, deduksi, dan verifikasi—ini penting untuk dapat digunakan dalam menganalisis suatu masalah lalu memetakan cara menanganinya, atau bahkan mencegahnya.

Bab berikutnya adalah Dialektika, Tan Malaka menyajikannya mulai dari timbulnya dialektika yang dimulai dari tempo, kemudian berseluk-beluk, lalu pertentangan dan pergerakan. Hingga membahas dialektika para idealis versus materialis seperti yang sudah disinggung pada bab kedua. Dialektika hadir sebagai aplikasi untuk mempertanyakan ulang realitas dalam kehidupan. Dan keberadaan dialektika perlu diimbangi dengan logika yang benar-benar lurus, rasional, agar ketika dialektika diaplikasikan dia tidak sekadar ngawang-ngawang seperti konsep idealisme milik Hegel yang disebutkan sebelumnya.

Dan akhirnya kita masuk pada bab terakhir yakni Logika. Di sini Tan Malaka menjabarkan dari yang paling dasar sekali. Mulai dari bagaimana menyimpulkan sesuatu berdasarkan kejadian umum, atau sebaliknya, untuk tidak menyimpulkan sesuatu secara umum hanya karena ada kejadian khusus. Di sini juga dibahas pertentangan-pertentangan dan cara membatalkan suatu fakta berdasarkan dasar-dasar logika yang sudah beliau ajarkan. Bab ini menuntut fokus tinggi, sebab Tan Malaka menggunakan aplikasi yang terbilang cukup rumit, akan tetapi mendasar—justru di situlah letak asyiknya belajar logika.

Setelah membaca Madilog, saya jadi yakin bahwa sebagian besar masalah hidup kita terletak di cara kita berpikir dan mereduksi sebuah pengalaman dalam hidup. Kita perlu berpikir ala seorang materialis—mengedepankan matter/benda, agar kita tidak awang-awangan dan terlalu mistis. Pun ini juga dapat kita gunakan sebagai alat tempur menghadapi narasi-narasi idealis-mistis yang tidak jarang dipakai oleh para kapitalis dan penguasa untuk meninabobokkan rakyat. Kita begitu sering mendengar, baik itu dari mulut pemuka agama, maupun politisi (sebut politisi “religius”), bahwa segala sesuatu terjadi karena kuasa Tuhan, semua sudah diatur, oh tentu tidak sesimpel demikian. Apa yang terjadi di dunia ini selalu berakar dari sebab dan akibat yang tentu saja kita bisa meruntutnya.

Misal saja bencana alam yang saat ini terjadi di Sumatera, politisi dan pejabat yang saat ini sedang memakai topeng sebagai pahlawan rakyat tentu akan mengatakan bahwa ini adalah ujian, cobaan, atau apalah, yang hadir dari Tuhan. Kita semua harus melaluinya dengan tabah. Sungguh kolot! No way! Apa yang terjadi di Sumatera tentu adalah buntut panjang dari kelakuan manusia itu sendiri! Manusia-manusia serakah yang hanya mengedepankan isi perutnya saja! Nah, begitulah cara pikir yang diinginkan oleh Tan Malaka! Radikal via materialis. Dan ini merupakan sebuah alat untuk terus mempertentangkan perjuangan kelas. 

Akhir kata saya ingin mengajak kawan-kawan sekalian untuk merenungkan tentang apa yang belakangan terjadi di negeri ini—pejabat blunder statement, bencana alam dipandang sebelah mata, demo besar-besaran, pejabat joget di istana—rakyat sengsara merana, undang-undang yang merugikan rakyat dikebut—yang menguntungkan di-skip, dan masih banyak lagi masalah di negeri ini yang saya yakin tidak muat untuk sekadar ditulis, semua itu akarnya selalu sama: penguasa yang serakah, kapitalis, dan kita perlu untuk terus melawan keserakahan tersebut. Namun untuk bisa melawan kita perlu mendidik terlebih dahulu diri kita, dan Madilog menurut saya adalah jawaban dari kebutuhan kita. Agar kita dapat berpikir secara matematis, rasional, logis, pandai berdialog melalui pengaplikasian dialektika, niscaya dengan masyarakat baru ini kita dapat terus memperjuangkan perjuangan antarkelas. Melawan para tirani, koruptor, inkompetensi, kapitalis, dan semua wajah buruk yang ada di atas sana. Hidup perjuangan! Salam masyarakat baru!


Komentar

Postingan Populer