Rangkuman Madilog: Bagian Pertama

Bagian Pertama: Logika Mistika

            Tan Malaka tidak banyak basa-basi dan langsung mengajak para pembaca untuk berhadapan dengan pemikiran yang sudah sejak lama sekali ada, namun pemikiran tersebut menghambat/membelenggu cara pikir rasional dan sains. Beliau memulai dengan mengutip firman Mahadewa Ra, salah satu Dewa yang disembah dalam kepercayaan Mesir Kuno, yang bunyinya sebagai berikut:

            “Ptah: maka timbullah bumi dan langit. Ptah: maka timbullah bintang dan udara. Ptah: maka timbullah Sungai Nil dan daratan. Ptah: maka timbullah tanah subur dan gurun.”

            Kutipan firman Mahadewa Ra ini jadi gambaran umum tentang logika mistika, premisnya ada pada rohani spiritual, ide Dewa. Rohani dianggap sebagai sumber yang maha kuasa dan dia yang kemudian menciptakan zat materi/benda hanya dengan firman atau kehendak, seperti disebutkan di atas. Hanya menyebut “Ptah”, timbullah berbagai macam zat materi. Dan rohani ini tidak terikat dengan hukum materi dan waktu, dia independen.

Di sini Tan Malaka langsung membenturkannya dengan filsafat ilmu pasti (baca: sains/ilmu pengetahuan). Menurutnya, ide penciptaan instan seperti firman Mahadewa Ra bertentangan dengan sains yang selalu menekankan bahwa tiap-tiap sesuatu dimulai dari benda, harus ada bendanya dulu, baru energinya. Berbeda dengan konsep penciptaan Dewa Ra yang justru menghadirkan energi dulu, baru kemudian menciptakan benda. Lebih lanjut lagi, Tan mengadu konsep penciptaan instan ala Dewa Ra ini dengan Teori Darwin. Dalam Teori Darwin disebutkan bahwa semua kehidupan di bumi ini, baik itu hewan, tumbuhan, ataupun manusia, munculnya tidak bersamaan melainkan berkembang pelan-pelan. Berkembang pelan-pelan selama jutaan atau bahkan miliaran tahun. Dari ikan ke amfibi, dari amfibi ke manusia, semuanya berkesinambungan secara pelan-pelan. Tidak ada yang instan.

            Tan Malaka juga mengadu logika mistika ini dengan Hukum Kekekalan Energi oleh Joule, di mana hukum tersebut mengatakan bahwa energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan, hanya bisa berubah bentuk. Maka jumlah energi di alam ini adalah tetap/konstan. Di sini beliau menggunakan analogi hartawan, di mana sang hartawan memiliki uang satu juta lalu membelikannya kapal dan rumah seharga masing-masing setengah juta. Dengan ini, hartanya yang tadi berwujud uang kini berubah bentuk menjadi properti, akan tetapi jumlahnya tetap sama yaitu satu juta. Logikanya adalah jika Ra membagikan energinya untuk mencipta alam semesta, maka Ra kehilangan sebagian energinya karena energi Ra telah dialihkan menjadi energi alam semesta. Di sinilah Tan seolah memaksa kita untuk memilih salah satu dari kedua logika tadi; mistika dan sains. Kita disuruh memilih; Ra yang tunduk pada hukum sains tadi, atau sebaliknya?

            Dalam perihal ini Tan Malaka memberikan tiga kemungkinan melalui tiga jarinya:

1.      Dewa Ra lebih berkuasa daripada alam dan hukumnya (jari telunjuk)

Dalam ilmu sains, ribuan kali percobaan di laboratorium selalu menghasilkan kesimpulan yang sama, dan ini terus-terusan berulang. Artinya alam dan hukumnya selalu konsisten. Maka yang menjadi pertanyaannya adalah, jika Dewa Ra lebih berkuasa daripada alam dan hukumnya, mengapa Dewa Ra tidak pernah melakukan intervensi/ikut campur terhadap alam dan hukumnya? Di sini alam dan hukumnya justru terlihat lebih berkuasa dan menang atas Dewa Ra.

2.      Dewa Ra sama berkuasanya dengan alam dan hukumnya (jari tengah)

Tan Malaka terang-terangan berkata “Mengapa harus menyembah Dewa Ra jika dalam kuasanya ia sama-sama seperti alam dan hukumnya?” Lebih baik kita mempelajari hukum alam yang nyata dan hukumnya jelas, konsisten, dan mudah dibuktikan keabsahannya.

3.      Dewa Ra kurang berkuasa dibanding alam dan hukumnya (jari manis)

Ini ironis, Tan Malaka menggambarkaannya mirip seperti cerita Dr. Frankenstein yang diserang oleh monster hasil ciptaannya sendiri. Bukti kelemahan Dewa Ra dari mana? Seperti penjelasan sebelumnya yaitu alam dan hukumnya selalu konsisten dan seolah tidak tunduk pada firman Ra.

Demikianlah jika kita menggunakan pikiran yang jernih, hati yang berani dan jujur, memikirkan bahwa segala zat berasal dari rohani maka itu tersesat—harus diakui bahwa hakikat semacam itu bertentangan dengan akal. Ini merupakan fondasi kritis bagi masyarakat agar dapat ber-Madilog, sebab cara pikir yang serba kerohanian akan membelenggu masyarakat dalam menuju atau meraih kemajuan.

Komentar

Postingan Populer