Satu Gagang Sapu

       Sabtu, 11 April 2026. Saya bangun tidur dengan perasaan lega karena baru saja menuntaskan satu tanggung jawab. Ketika mata melek, tak ada perasaan berat seperti beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi perasaan tersebut ternyata tidak bertahan lama--langsung terusik oleh postingan status whatsapp salah satu teman di kampus yang baru saja dilamar oleh kekasihnya.

   Bukan, bukan berarti saya cemburu karena teman saya dilamar. Pun kalau bisa dikata cemburu, konteks cemburunya bukan cemburu secara romantis, saya lebih memilih cemburu secara finansial. Sebab, secara praktis, mereka yang telah berani menapaki jalan menuju pernikahan artinya sudah bisa dikatakan mapan (walaupun tentu tidak sepenuhnya) baik secara finansial maupun mental dan aspek lainnya.

     Saya mbatin sejenak, "Memang ya, bangun tidur itu harusnya langsung solat subuh habis itu olahraga atau baca buku, bukan malah buka medsos." Baru satu postingan saja sudah bikin saya mbatin, bagaimana jika ada sepuluh postingan serupa? Ah, saya menarik napas pelan... Bangkit dari kasur dan kemudian beranjak menuju kamar mandi. Segera saya laksanakan rutinitas nomor satu saat bangun tidur itu--ngiseng, sikatan, wudu, solat.

       Sembari ngising, saya melepaskan energi negatif gara-gara postingan barusan. Saya anggap angin lalu saja... 

      "Ya sudahlah, memangnya kenapa? Wong tetangga samping rumah saja bulan lalu sudah lahiran, kenapa heran lihat orang lamaran?" ujar saya sesaat setelah batch pertama ngising dikeluarkan.

     Hingga waktu benar-benar berlalu sampai membawa saya ke tempat kerja. Sialnya, saat sedang melakukan salah satu tugas di tempat kerja saya--ngusungi sanggan--saya berpapasan dengan teman SMA saya yang menaiki sepeda motor matic, berboncengan bersama istrinya dan seorang anaknya yang juga baru lahir sekitar dua bula yang lalu. Saya menyapanya dengan panggilan bos...

       "Bos Danil!" teriak saya keras, sambil memegangi satu kodi daster yang talinya lemas hampir terlepas dan jatuh dari sepeda motor yang saya naiki.

     "Oiiii." beliau menjawab.

         Saya kembali mbatin. Umur dia dengan saya sama, dua puluh tahun, akan tetapi nasib kami sungguh berbeda--beliau menaiki sepeda bersama istri dan anak, sedangkan saya bersama sanggan. Miris.

     Pikiran saya sudah terlanjur keruh. Ngalor ngidul gak jelas rasanya. Sampai-sampai saya kembali teringat bahwa salah satu teman SMP saya dulu--yang sering membully saya--saat ini tengah menempuh studi S1 di Mesir. Lanjut lagi saya teringat dengan teman SD yang pernah saya bully...

       Nasibnya lebih bagus dari saya, beliau sekarang bos batikan. Nah, di sini saya bingung. Saya senang jika melihat kawan SD saya yang dulu pernah saya bully sekarang sudah jadi bos, artinya saya bisa menyesal karena telah membully beliau, tapi teman SMP yang tadi saya sebut? Posisinya kan dia yang membully saya... Walach moment. Setelah ditelisik lagi ternyata memang beliau pintarnya sudah di atas rata-rata dan masih mau berusaha memanfaatkan masa muda dengan baik. Beda dengan saya yang lempurak lempuruk, hobinya leyeh leyeh...

       Sekadar ambil beasiswa saja saya malas. Sungguh miris.

   Gara-gara semua pikiran itu saya jadi makin tidak berselera dalam menjalani rutinitas, lebih lebih lagi sekarang sudah memasuki semester 6, artinya kuliah sudah mulai serius, beberapa teman juga sudah mulai sering riwa riwi bimbingan skripsi dengan dosen, sedangkan saya masih struggle untuk sekadar memberi semangat pada diri sendiri untuk terus hidup. Gak layak...

    Yah, memang pada dasarnya tidak ada tuntutan secara tertulis maupun lisan agar saya dapat mengejar itu semua (menikah, lulus cepat, kuliah di luar negeri, punya bisnis sendiri, dll.) akan tetapi hanya dengan menyaksikan mereka semua saja saya sudah terpukul, merasa tertinggal... Merasa jadi manusia yang gagal. Saya takut tidak menjadi apa-apa dan hanya akan menjadi sampah masyarakat.

      Ibaratnya gini: saya dikasih satu gagang sapu, tapi yang mereka ingin saya lakukan dengan sapu tersebut adalah mengubah Bantargebang menjadi sebersih aula masjid. Punya waktunya aja saya enggak. Ah, sudahlah.

Komentar

Postingan Populer