Review Film Civil War

 

Pernah kebayang gak seorang Pablo Escobar dan bini-nya Spider-Man, Mary Jane, collab dalam satu kumpulan adegan menjadi jurnalis yang meliput perang? Yap, kamu tidak salah dengar. Kumpulan adegan tersebut merupakan film berjudul “Civil War” yang rilis tahun 2024 lalu. Disutradarai oleh Alex Garland dan diprakarsai oleh studio A24 yang konon terkenal dengan film-film bertema disturbing dan absurd. Film ini berkisah tentang jurnalis fotografer Bernama Lee Smith, diperankan oleh Kirsten Dunst yang terkenal karena perannya sebagai Mary Jane dalam trilogi Spider-Man-nya Sam Raimi, dan Joel yang diperankan oleh Wagner Moura yang juga dikenal luas karena perannya sebagai Pablo Escobar dalam serial Narcos tayang di Netflix.

Film ini berlatar di Amerika Serikat yang sedang mengalami goncangan politik dikarenakan Presiden mereka telah memasuki periode ketiga dan konon menjadi pemimpin yang dictator. Hal ini kemudian memicu ketidaksetujuan banyak pihak, sehingga melahirkan gerakan separatis, di antaranya Texas dan California yang memisahkan diri dan membentuk West Force, dan wilayah Florida membentuk persekutuan sendiri—sehingga wilayah yang mengabdi pada Amerika Serikat pun terhimpit dan terus-terusan diserang. Kondisi ini diperparah dengan pidato Presiden yang menyatakan bahwa West Force telah menerima serangan telak oleh wilayah-wilayah loyalis—yang mengabdi pada Amerika Serikat—hal ini memicu amarah West Force dan mereka pun berencana untuk membunuh presiden.

Suatu hari, Lee Smith sedang meliput kerumunan warga sipil yang terlibat cekcok dengan petugas keamanan. Kerumunan tersebut awalnya hanya mengantre untuk mendapatkan air bersih, namun lama-lama berubah menjadi kerusuhan. Lee memotret dari arah dekat dan di saat sedang memotret ia melihat ada seorang fotografer muda amatir yang memotret dari jarak dekat tanpa menggunakan rompi atau tanda pengenal jurnalis, jelas hal tersebut sangat berbahaya. Dan benar saja, fotografer muda tersebut terpukul oleh tongkat yang digunakan petugas keamanan untuk menghalau warga sipil yang mulai merusuh. Lee datang dan menuntun fotografer muda tersebut dan memberikannya rompi jurnalis yang sedang ia gunakan.


Tiba-tiba dari kejauhan muncul seorang wanita yang mengenakan ransel dan membawa bendera Amerika Serikat berlari kencang menuju kerumunan. Lee langsung refleks memeluk fotografer muda tersebut dan membawanya untuk berlindung. Benar saja, wanita yang berlari sambil membawa bendera tadi ternyata meledakkan dirinya di tengah-tengah kerumunan! Seketika puluhan orang meninggal dunia karena aksi bom bunuh diri tersebut. Lee sontak mendekat ke TKP untuk mengambil gambar para korban. Fotografer muda tersebut kemudian pergi.

Dari sinilah kegilaan film bertema distopia ini dimulai. Pada malam harinya Lee dan Joel berbincang-bincang dengan jurnalis senior sekaligus mentor mereka yaitu Sammy. Lee mengutarakan maksudnya untuk datang langsung ke Washington DC dan memotret presiden, sementara Joel bersamanya, yang akan mewawancarainya. Sammy terkejut mendengar rencana tersebut karena Washington DC telah menjadi titik pusat peperangan dan bahkan saat ini presiden sudah menganggap jurnalis sebagai musuh, kalau mereka mendekati wilayah tersebut bisa-bisa mereka kena tembak. Keduanya ngeyel dan tetap ingin melakukan rencana tersebut.


        Esok harinya mereka berangkat, akan tetapi Lee terkejut karena di dalam mobil ia melihat ada fotografer muda yang kemarin ia beri rompi dan selamatkan dari aksi bom bunuh diri. Namanya Jessie, semalam ia memang sempat bertemu Lee dan mengucapkan terima kasih. Namun ternyata ia datang ke hotel tempat Lee dan para jurnalis lainnya beristirahat bukan hanya sekadar untuk berterima kasih, tetapi juga meminta agar ia diikutkan dalam peliputan perang
sebab ia sangat mengidolakan Lee Smith.

Lee tidak setuju dan kemudian bernegosiasi dengan Joel, beruntungnya Joel berhasil meyakinkan Lee bahwa Jessie bisa ikut memotret dengan foto-foto yang bagus. Walhasil, Lee, Joel, Sammy, dan Jessie berangkat menuju Washington DC. Dalam perjalanan mereka mengalami banyak sekali kejadian gila—mulai dari warga sipil bersenjata yang menyandera dan menyiksa dua orang lalu menggantungnya hidup-hidup, ini membuat Jessie sangat ketakutan dan bahkan ia sampai marah-marah sendiri di mobil karena tidak berhasil mendapatkan satu pun foto karena panik setelah menyaksikan dua sandera tersebut berlumuran darah. Lee memotivasinya dengan meminta Joel untuk menghentikan mobil di dekat helicopter yang jauh—Lee membawa Jessie keluar mobil untuk memotret helikopter yang jatuh tersebut. Ia bilang bahwa ini akan jadi potret yang bagus.

Kegilaan lainnya terjadi ketika mobil yang mereka tumpangi diikuti oleh sebuah mobil yang melaju cepat. Lee yang menyetir mobil menggantikan Joel agar ia bisa istirahat terkejut dan panik bukan main. Namun ternyata mobil itu dikendarai oleh dua teman Joel yang bernama Bohai dan Toni. Toni kemudian melakukan aksi gila dengan berpindah ke mobil yang dikendarai Lee. Mereka tertawa riang berkat keisenngan tersebut. Kemudian karena merasa adrenalinnya terpacu, Jessie ikut melakukan aksi pindah mobil. Jessie pun sekarang menjadi penumpang mobilnya Bohai. Bohai memacu mobilnya dengan kencang—bermaksud mengajak Lee untuk balapan, akan tetapi Lee tidak menggubrisnya karena saat ini bukan itu prioritasnya. Di sinilah hal mengerikan itu terjadi. Mobil yang dikendarai Bohai berhenti di sebuah pekarangan rumah. Terlihat Bohai dan Jessie yang ditangkap oleh sekelompok tentara loyalis dan digiring ke dekat pemakaman masal untuk ditembak lalu dimasukkan ke dalamnya.

Lee dkk tidak mau membiarkan hal tersebut terjadi, mereka turun dari mobil dan bernegosiasi dengan tentara loyalis tersebut. Sayangnya negosiasi berjalan alot sehingga Bohai dan Toni ditembak mati. Melihat dua orang ditembak mati langsung, Sammy, orang tua lamban yang tidak diizinkan Lee untuk ikut turun dari mobil dan bernegosiasi langsung memacu mobil dengan kecepatan tinggi dan menabrak dua orang tentara yang sedang bernegosiasi dengan Lee dan Joel. Lee, Joel, dan Jessie langsung masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Naas, Sammy terkena tembakan di bagian perutnya dan mengalami pendarahan hebat. Sesampainya di Charlotesville, Sammy meninggal karena kehabisan banyak darah.

Lee dan Joel sangat terpukul karena kematian mentornya. Namun tujuan awal mereka untuk pergi ke Washington harus tetap dilakukan. Saat di Charlotesville inilah mereka bertemu dua jurnalis Inggris, Anya dan Dave, dan West Force. Walhasil keduanya bergabung West Force untuk melakukan penyerbuan ke Gedung Putih di Washington DC. Di sinilah titik balik Jessie dimulai, Jessie yang awalnya cengeng dan mudah panik mulai terbiasa dan kini bersikap tegar dan berani memotret tanpa beban. Tidak seperti saat perjalanan pertamanya ketika bertemu dengan sekelompok warga sipil penjual bensin yang menyandera dua orang dan menyiksanya, saat itu ia tak mendapat foto sama sekali, dan juga di perjalanan kedua ketika mereka bergabung dengan kelompok separatis yang sedang adu tembak dengan tentara loyalis di sebuah gedung, ia juga masih sedikit panik. Berbeda dengan Lee yang statusnya adalah fotografer jurnalis professional—ia selalu mendapat momen bagus ketika memotret situasi perang yang ada.

Ketika di DC, semua itu berubah 360 derajat. Lee yang awalnya bersikap professional dan biasa saja ketika menyaksikan ada seseorang mati tertembak di depannya, berubah menjadi pecundang dan tak memotret satu pun momen, seballiknya Jessie yang mendapat banyak foto pada saat penyergapan di gedung putih. Hingga pada akhirnya pasukan West Force berhasil menduduki gedung putih dan menembak mati presiden sesaat setelah beradu tembak terlebih dulu dengan para pengawalnya.

Sebelum bisa memasuki ruang presiden, Jessie yang terlalu nekat memotret dari dekat langsung dibidik oleh pengawal presiden. Dan untuk sekali lagi, Jessie diselamatkan oleh Lee. Jessie sempat menekan tombol capture dan mendapatkan foto saat Lee tertembak pengawal presiden. Lee tewas seketika. Emosi Joel dan Jessie memuncak. Pengawal terakhir telah dikalahkan, West Force masuk ke dalam dan langsung menyeret presiden untuk ditembak mati Sebelum ditembak, Joel berteriak menghentikan para tentara West Force. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mewawancarai presiden seperti tujuan awalnya berangkat ke DC bersama Lee. Joel mendekat ke depan muka presiden dan menanyai satu pernyataan... 

I need a quote.”

Don’t… Don’t let them kill me,” jawab Presiden. Dan itu sudah cukup membuktikan bahwa ia adalah seorang diktator sejati yang haus kuasa. Maka Joel mempersilakan para tentara untuk menembaknya mati. Dor! Dor! Cekret! Presiden mati ditembak, Jessie mendapatkan potret penembakan presiden, Joel mendapat quote dari presiden. Maka film pun usai. America has fallen.

Secara umum film ini saya kategorikan sebagai film yang susah untuk disukai oleh penonton Indonesia yang akrab dengan penceritaan tersurat, sebab film ini memiliki banyak sekali plot hole, di antaranya adalah alasan kenapa perang sipil ini terjadi. Tidak dijelaskan secara spesifik kenapa tiba-tiba California dan Texas memisahkan diri dan membentuk West Force, semuanya harus diterka-terka sendiri oleh penonton. Dan lagi, setiap karakter yang ada dalam film ini tidak digali kedalaman karakternya, seperti Lee yang menjadi jurnalis fotografer profesional, tidak dijelaskan mengapa ia menjadi jurnalis fotografer dan bagaimana karirnya, hanya diperlihatkan ekspresi Lee yang selalu murung sepanjang film karena ia telah menyaksikan banyak sekali kematian dalam perang yang ia liput. Namun, ada momen yang cukup membuat saya senang karena akhirnya Lee bisa tersenyum di film ini, yaitu momen sesaat setelah mereka meliput baku tembak antara tentara separatis dan tentara loyalis, ketika mereka berhenti di sebuah kota yang damai—seperti tak tersentuh perang. Di sini mereka berhenti sejenak di sebuah toko pakaian dan membeli beberapa pakaian.

Jessie melihat sebuah gaun dan memberikannya kepada Lee untuk dicoba. Lee tampak anggun dengan gaun tersebut, Jessie memotretnya. Sangat cantik, apalagi ketika Lee sedang tersenyum, begitu katanya. Lalu datanglah Joel dengan topi coklat dan meminta Jessie untuk memotretnya. Jessie menolaknya dengan alasan film kameranya tinggal sedikit. Suasananya jadi cair sejenak berkat bercandaan tersebut.

Yang paling membuat saya angkat topi adalah character development-nya Jessie. Ia diceritakan sebagai fotografer amatir yang memaksa ikut sekelompok jurnalis meliput perang. Awalnya ia sangat cengeng dan mudah mual ketika menyaksikan hal-hal yang ”lumrah” terjadi di perang. Bahkan ketika ia masuk ke mobil usai diselamatkan Sammy, ia sempat mutah karena baru saja menyaksikan dua orang ditembak di depan matanya, dan ia juga sempat terlempar ke kuburan massal berisi sekumpulan mayat. Namun seiring berjalannya waktu, Jessie mulai terbiasa dan berani maju sendiri. Ini terbukti ketika penyergapan di DC saat meliput baku tembak antara West Force dan pasukan Loyalis, hampir semua liputan memotret dilakukan Jessie seorang, sedangkan Lee hanya merengek tak jelas.

Film ini memang fiksi, akan tetapi scoringnya berhasil membawa saya seolah masuk ke dalam dunia distopia yang digambarkan oleh sang sutradara. And to be honest, ketika saya menonton saya selalu terbayang-bayang suatu momen di negara kita yang barangkali bisa dimiripkan dengan film ini, hanya saja dalam situasi “What If?”. What If?: Soeharto tidak mau turun dari kursi presiden misalnya, saya membayangkan situasi yang ada di film ini adalah situasi yang terjadi di negara kita pada masa orde baru. Bukankah itu akan terasa seratus kali lebih mencekam dari kenyataannya?


 

Komentar

Postingan Populer