Langsung ke konten utama

Postingan

Polemik Teologi Islam

               “Merunduk, Ghoz!” gue melompat dan menerjang tubuh Ghozali sembari menyembunyikannya di balik tangga turun gedung Ormawa di samping gedung Student Centre. Hal ini gue lakukan bukan tanpa sebab. Dikarenakan ada sosok manusia mengerikan yang sedang mengintai keberadaan kami.             “Ada apa?” tanya Ghozali.             “Si Genderuwo! Yang tadi malam nyari gue lewat perantara anak kelas kita!” seru gue sambil masih memajang raut muka khawatir.             “Oalah…”             Kami bersembunyi dari sosok tersebut sekitar lima belas menit. Ketika keadaan dirasa sudah mulai kondusif, barulah gue melepaskan Ghozali untuk kembali melanjutkan aktifitasnya. Demikian pula gue.       ...

Team Up Bersama Bidadari

  Bulan Desember akhir tahun lalu gue resmi melepaskan Sembilan Bidadari yang gue temui di kampus melalui ritual camping bersama sahabat-sahabat gue. Status “ke-bidadari-an” mereka pun resmi hilang. Mereka kini hanya manusia biasa. Punya tujuan sama dan melangkah bersama gue di atas tempat yang sama di sini, di kampus.  Tidak mudah melepas mereka semua. Terlebih lagi mereka yang sudah terlanjur gue dekati dan berujung gagal. Lukanya sesekali masih datang menghampiri. Namun, berbeda dengan mereka yang belum sempat gue dekati. Keadaan justru berbalik. Seperti gue yang sering bertegur sapa dengan Bidadari Keempat dan sesekali mengobrol ringan, juga Bidadari Pertama yang berkesempatan satu tim dengan gue di sebuah kelompok belajar mata kuliah.  Bidadari Pertama, sebut saja dia Kaka, berkesempatan team up dengan gue pada mata kuliah Harmoni Sains dan Agama; mata kuliah yang terdengar asing di telinga gue. “Total pertemuan ada 16 sudah termasuk UTS dan UAS, berarti ada ...

Pengabdian Yang Terbakar Sirna

Bulan Desember 2023 kemarin gue mengikuti perlombaan bakiak porseni yang diselenggarakan oleh PC IPNU & IPPNU Kabupaten Pekalongan. Gue tergabung dalam tim bakiak PAC IPNU Kecamatan Buaran yang beranggotakan Heri, Ferdi, Riyan, Thoyib, Falah, dan gue. Tim ini terbentuk sejak satu bulan sejak hari H perlombaan, namun sayangnya, kami tidak sempat untuk latihan sama sekali. Ya, sama sekali tidak latihan. “Ini udah minggu kedua sejak penunjukkan anggota tim, ayok kita latihan!” ajak Mas Saipul selaku penanggung jawab tim bakiak ini di grup WhatsApp. “Ayo latihan!” seru Ferdi antusias. Sayangnya keantusiasan Ferdi tidak dibarengi dengan kehadiran para anggota tim. Hanya Ferdi dan Heri saja yang bisa hadir mengikuti latihan. Maka, sudah bisa ditebak kalau tim bakiak ini tidak akan melangkah jauh di perlombaan nanti. Lihat saja. Dua minggu setelahnya, hari H perlombaan tiba. Kontingen PAC Buaran berangkat dari Simbangkulon menuju Doro, tempat diadakannya event porseni kali ini. Ti...

Misteri Penemu Sweater

  Perlahan punggung Pak Syam, dosen Sosiologi, menghilang dari pandangan gue. Begitu pula dengan para mahasiswa lainnya. Gue sendirian di ruang 3.9 gedung FUAD. Gue mematikan semua kipas angin yang menyala, kemudian keluar dari ruangan dan turun ke lantai dasar. Gue melihat ke samping kanan-kiri dari tangga yang baru saja gue lalui. Tidak ada orang yang gue kenali di sini. Lalu, gue melangkah kea rah resepsionis, dan gue temukan sosok ini… “Ekhem…” dehem gue membangunkan sosok tersebut dari lamunannya. “Eh, Azim, sini duduk. Abis makul ya?” tanyanya. “Kita kan barusan sekelas, An. Masa ga ngeh?” balas gue. “Oh iya? Kok gue nggak lihat lo?” “Gue duduk di pojok.” “Pantesan…” Sosok tersebut adalah Andi, anak kelas B semester lalu yang pada semester kali ini kerap kali satu kelas dengan gue di beberapa mata kuliah. Kalau gue gambarkan, Andi ini punya style seperti Dilan yang diperankan oleh Iqbaal Ramadan. Dia sering pakai jaket denim dengan mengendarai sepeda motor C...

Mengganti Kaset, Mendengar Lagu Baru

  Riuh gemuruh mengiringi mahasiswa-mahasiswi yang tidak kebagian jatah kelas dalam sesi input KRS. Mereka berdesakan menunggu giliran me-lobby petugas bagian akademik dan kemahasiswaan fakultas. Ada yang sampai menangis di pojok ruangan karena saking tidak enaknya berdesakan dan beban mental yang ditanggung karena tidak kebagian jatah kelas. Ada yang haha-hihi karena berhasil input kelas bersama pasangannya, ada pula yang hoho hihe kebingungan harus melakukan apa. Iya, semester genap sudah dimulai, gue juga berada di tengah kisah ini… Sama dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang berdesakan di AKMA (Akademi dan Kemahasiswaan) Fakultas, gue juga tidak kebagian dua kelas. Dalam penawaran kelas gue baru dapat sembilan kelas, yang mana harusnya gue harusnya masuk sebelas kelas untuk bisa memenuhi 24 SKS. “Ikut gue ke kampus yuk, kita nge-lobby AKMA biar dapet kelas,” ajak Teddy, teman MI gue yang belakangan diketahui juga kuliah di kampus yang sama dengan gue. “Boleh aja sih...