Pengabdian Yang Terbakar Sirna

Bulan Desember 2023 kemarin gue mengikuti perlombaan bakiak porseni yang diselenggarakan oleh PC IPNU & IPPNU Kabupaten Pekalongan. Gue tergabung dalam tim bakiak PAC IPNU Kecamatan Buaran yang beranggotakan Heri, Ferdi, Riyan, Thoyib, Falah, dan gue. Tim ini terbentuk sejak satu bulan sejak hari H perlombaan, namun sayangnya, kami tidak sempat untuk latihan sama sekali. Ya, sama sekali tidak latihan.

“Ini udah minggu kedua sejak penunjukkan anggota tim, ayok kita latihan!” ajak Mas Saipul selaku penanggung jawab tim bakiak ini di grup WhatsApp.

“Ayo latihan!” seru Ferdi antusias.

Sayangnya keantusiasan Ferdi tidak dibarengi dengan kehadiran para anggota tim. Hanya Ferdi dan Heri saja yang bisa hadir mengikuti latihan. Maka, sudah bisa ditebak kalau tim bakiak ini tidak akan melangkah jauh di perlombaan nanti. Lihat saja.

Dua minggu setelahnya, hari H perlombaan tiba. Kontingen PAC Buaran berangkat dari Simbangkulon menuju Doro, tempat diadakannya event porseni kali ini. Tidak hanya tim bakiak yang berangkat pada hari ini, ada juga tim tarik tambang, tim masterchef, dan masih banyak lagi.

Gue berangkat berboncengan dengan Heri, di sepanjang jalan Heri mengobrol dengan gue tentang perlombaan ini. Dan kami sama-sama berusaha optimis meski tidak sempat latihan sama sekali.

“Kita nggak latihan, tapi kita harus tetap menang, Zim,” ucap Heri di jok belakang motor gue.

“Iya, Ashanty kan emang istrinya Anang.”

Brokk. Heri menyundul helm gue sampai pecah.

Kami berdua sampai di transit kontingen Buaran yang lokasinya tak jauh dari lapangan tempat diselenggarakannya lomba. Di sana, sudah ada banyak anggota tim. Gue dan Heri tanpa piker panjang langsung turun dari sepeda motor dan merebahkan diri di ruang tamu sambil menonton siaran ulang debat kedua pilpres. Sungguh istirahat yang sangat bapak-bapak-able.

Tidak berselang lama, Mas Saipul muncul dan langsung menyuruh kami para anggota tim untuk menuju ke lapangan karena pengecekan kelengkapan peserta akan segera dilakukan.

“Woy, bangun, bangun! Ayo segera ke lapangam, kita mau dicek.” Mas Saipul berteriak lirih, lah?

“Ya elah, baru juga rebahan, ini Gibran lagi mbales Cak Imin,” keluh Heri sambil menyundul smartphone-nya.

“Udah, ayok, buruan!” seru gue.

Pengecekan selesai. Seluruh tim bakiak berkumpul menunggu dipanggil untuk fase penyisihan. Dan inilah dia pembuktian kami, tim yang tidak pernah latihan sama sekali. Bisakah kami lolos dari fase penyisihan? Let’s see!

“Tim tiga, BUARAN!” wasit memanggil tim kami.

“Ayo siap-siapp,” ujar Riyan.

“YOK BISA YOKKK!” Ferdi menyemangati.

Kami maju. Mengatur formasi. Heri di depan, Thoyib, Falah, dan Riyan di tengah, sementara gue di belakang. Lalu Ferdi di mana? Ferdi pemain cadangan, hanya menyemangati dan memberi strategi.

“1….. 2…… 3….. JALAN!”

“AYO AYO AYO AYO."

“SEMANGAT SEMANGAT SEMANGAT.”

Terdengar sayup-sayup para penonton yang antusias mendukung tim dari kontingennya masing-masing. Sementara kami yang berlomba justru terkena panic attack. Kaki-kaki kami mengalami luka karena bergesekan dengan ban penyangga kaki di bakiak. Namun, kami terus bertahan, terus berlari meraih garis finis.

“JANCOK, PERIH COK!” teriak gue kesakitan.

“JANGAN TERIAK DI KUPING GUE, GOBLOK!” Riyan yang aslinya ramah kini berubah menjadi marah-marah.

“:Oh iya.”

“FOKUS WOY, FOKUS, FINIS SUDAH DI DEPAN MATA!” ucap Falah.

Dan ya, kami berhasil mengamankan tempat di babak selanjutnya. Dari empat tim yang bermain di penyisihan pertama ini, hanya dua yang berhasil mencapai finis. Sisanya didiskualifikasi karena melakukan pelanggaran.

Kami beristirahat di pinggir arena lomba sambil memikirkan strategi agar bisa menang di babak selanjutnya. Sementara itu, penyisihan di bagan kedua berlangsung. Dan ironisnya hasilnya sama, hanya dua kelompok yang lolos ke babak selanjutnya, sementara dua kelompok yang lain didiskualifikasi karena terbukti melakukan pelanggaran. Namun, tiba-tiba keanehan terjadi…

“Gue tahu strategi yang pas, temen-temen, jadi gini…” belum selesai Ferdi mengungkapkan gagasannya, tiba-tiba Heri memotong.

“Guys, guys, liat deh… Itu wasit, hakim garis, sama tim yang tadi kalah lagi pada ngobrol apaan ya kira-kira??” tanya Heri keheranan.

“Bagi es the, Thoyib,” ucap gue ngaco.

“Gue lagi nggak jualan, anzeng.” Thoyib memenggal leher gue menggunakan bakiak.

“Woy, kalian dengerin gue nggak sih?” ujar Heri.

“Kenapa?” tanya gue dan Thoyib.

“Mereka kayaknya lagi negosiasi sesuatu deh,” sambung Riyan.

“Udah fokus, fokus! Kita nggak usah mikirin yang lain. Kita mikirin strategi aja! Ayo kita bahas strategi!” Ferdi mencoba meluruskan fokus kami yang memudar karena teralihkan oleh “keanehan” tersebut.

“Oke. Lo bener, Fer. Ayo kita susun ulang strateginya. Tadi Heri di depan kayaknya kesulitan, gimana kalo Heri kita pindah di tengah?” ujar Riyan.

“Bener tuh, Falah aja yang badannya bagus biar di depan,” jawab Heri sambil menunjuk gue.

“Gue Azim, pea, lagian sejak kapan gue punya badan atletis? Ngeledek ya lo?” ketus gue.

“Ya, itu, maksud gue Falah. Lo siap kan di depan?”

“Siap. Aman, Ndan!!”

“Falah di depan, lo di belakang, Her, gue nggak kuat kalo di belakang,” sambung gue.

“Oke.”

“Hei, ini minum dulu.” Mas Saipul dating dari arah penjaja minuman sambil menyodorkan dua botol jumbo berisi air wudhu, bukan, air mineral.

“Alhamdulillah, tuntas sudah kemarau ini.” gue langsung memeluk kedua botol jumbo tersebut.

Firasat Heri benar. Apa yang baru saja kami lihat ternyata memang sesuatu yang aneh. Lalu, keanehan semakin memuncak ketika keeempat tim yang tadi sudah gugur di fase penyisihan karena didiskualifikasi, kembali memainkan pertandingan. Bagaimana bisa?

Mas Saipul kemudian mengecek langsung ke arena. Ia bertanya pada wasit dan hakim garis yang bertugas. Didapatinya jawaban yang amat menjengkelkan. Keempat tim tersebut belum memahami betul konsep garis dan bagaimana cara membalikkan bakiak ketika sampai di ujung lalu meneruskannya kembali ke start sebagai garis finis. Kira-kira begitu dalih mereka.

“Mereka tanding lagi karena mereka belum paham gimana cara membalikkan bakiak yang benar, tadi mereka didiskualifikasi karena itu kan?”

“Walah, kok bisa-bisanya mereka tanding lagi?” Rian heran, Heri juga heran, semua anggota tim heran.

“Katanya semua yang didiskualifikasi disuruh diskusi, enaknya gimana mau tanding ulang atau gimana. Dan hasilnya mereka semua setuju tanding ulang, tapi hanya mereka yang didiskualifikasi saja.” keterangan dari Mas Saipul ini cukup membuat kami kepanasan. Tiba-tiba ingin memanggang oknum-oknum tersebut.

Hasil dari tanding ulang tersebut adalah Tim Tirto berhasil lolos, sementara tiga lainnya gagal karena terjatuh dan menyentuh garis. Maka, babak terakhir akan mempertemukan lima tim. Empat tim yang sudah lolos dulu di babak penyisihan di awal tadi, dan satu tim yang lolos jalur lobby wasit. Perasaan gue nggak enak nih!

“Babak selanjutnya, untuk seluruh tim yang bertanding mohon bersiap-siap!” sang wasit memanggil kami semua.

“Oke. Ingat strateginya! Kita semua pasti bisa. YOK BISA YOK!” Ferdi kembali menyemangati, dan tentu saja dia kembali jadi cadangan saja.

“AYOOOOO! BUARAN BISAAA!” teriak gue penuh semangat.

“Bisa apa?” celetuk Heri.

“Bisa gila.”

PRIIIITTTT. Peluit dibunyikan dan semua tim yang bertanding langsung berlari sekuat tenaga. Dan sesuai dengan intruksi yang tadi diberikan, kami memainkan strategi yang dikemukakan oleh Ferdi. Namun, sayang… strategi yang berjalan baik ini tidak dibarengi dengan hasil yang baik. Kami tertinggal jauh di posisi terakhir. Sementara dari seberang, terlihat tim bakiak Tirto melaju sangat cepat. Berbanding terbalik dengan kami yang bergerak lambat layaknya siput membawa keong.

“WOY AYO BISA AYOO!” gue menyemangati seluruh anggota tim.

“AAAAAAAAAAAAWRGHRWHGRH. SUPER SAIYAAANNNNN.” rambut Riyan yang tadinya hitam pekat perlahan berubah menjadi kuning cerah layaknya Goku mode Super Saiyan.


Bruk….

Kami terjatuh. Waktu seketika melambat. Bak di film-film drama, di sinilah tokoh utamanya akan mengalami putus asa dan kemudian dia akan gagal mencapai tujuannya. Dan benar saja, ketika kami mencoba bangkit, hakim garis mengangkat bendera sambil berteriak, “Diskualifikasi!”

Mak dheg!!!

Kami berlima sontak terdiam. Terpaku tanpa ada sepatah kata pun. Diskualifikasi? Bagaimana bisa hal ini terjadi? Kami pun memprotes keputusan wasit setelah perlombaan selesai dan hasilnya adalah Tirto keluar sebagai juara pertama, diikuti satu tim lain yang gue lupa siapa mereka.

“Sit, kok diskualifikasi? Gimana ini? Ada apa?? Heh apa?!?!” gue melotot keras kea rah wasit dan hakim garis yang mendiskualifikasi tim kami.

“Iya, Sit! Kasih penjelasan dong! Teriak Ferdi mencoba membela tim kami.

“Tenang dulu, tenang, tadi kata hakim garis kaki pemain belakang kalian, Heri, menyentuh garis samping.”

Perdebatan dimulai.

“NGGAK, NGGAK, NGARANG TUH HAKIM GARIS MATANYA PICEK, KAKI GUE GAK NYENTUH! SUMPAH!” Heri ikut berubah jadi Super Saiyan.

“Sit, tolong kasih bukti dong kalo beneran nyentuh…” Riyan ikut join debat.

Suasana semakin panas ketika wasit mengumumkan juara ketiganya adalah tim yang kena diskualifikasi setelah kami. Jadi gini maksudnya. Dua tim sampai finis. Sementara dua lainnya tidak. Namun, penentuan juara ketiga dilihat dari siapa yang paling akhir didiskualifikasi. Mendengar ini gue langsung bergerak mendekati wasit, bersiap melayangkan pukulan kepadanya.

“ARHGHGGHGH!” teriak gue seperti seorang pasien ruqyah.

“Zim, tahan, Zim, sabar… Sabarrr…” Riyan dan Ferdi menahan gue sekuat tenaga.

“LEPASIN WOY, ITU WASIT NYEBELIN, KEPUTUSANNYA GAK JELAS.”

Mendengar hal ini, Mas Saipul langsung menyuruh kami berenam untuk menepi. Menjauh dari wasit agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Udah, udah, biar aku yang ngomong sama wasitnya. Kalian istirahat di pinggir lapangan, sana!”

“Oke, Mas,” jawab Heri dengan raut muka penuh kekecewaan.


Negosiasi dengan wasit berlangsung alot. Tawaran dari Mas Saipul untuk mempertandingkan dua tim yang terdiskualifikasi guna mencari juara ketiga tidak di-acc oleh wasit.

“Kalau mau tanding ulang, kamu negosiasi sama tim mereka dulu, mereka mau nggak,” ucap si wasit.

“Ya jelas nggak mau lah, Sit, orang mereka udah juara…”

“Ya sudah, berarti kalian terima keputusan.”

Mas Saipul membawakan berita ini pada kami. Kekecewaan pun tak terhindarkan. Kami semua seketika lemas. Air mineral yang Nampak menggiurkan itu bahkan tak tersentuh karena saking kecewanya.

“Tahu gitu Azim lepasin aja tadi biar berantem sama wasitnya,” ucap Riyan kesal.

“Lo sih, ngeyel… Tau gitu udah gue jadiin bubur tuh wasit,” songong gue.

“Lo-nya kali yang jadi bubur,” sahut Heri meledek.

“Udah nggak apa-apa, yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Ayo kita tos dulu.” Mas Saipul mencoba menenangkan kami. Lalu kami langsung dievakuasi menuju transit agar tidak terjadi sesi pemukulan selanjutnya.

“Udah, makan dulu…”

Suasana di transit hening. Kekalahan itu masih terngiang-ngiang di kepala kami. Bahkan Riyan yang terkenal paling kalem saja sampai segitu marahnya. Kekalahan ini tidak semestinya terjadi. Namun, bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang tinggal mencari cara bagaimana caranya bubur ini bisa dinikmati dengan lezat. Ya, benar, memberinya topping suwiran ayam, kacang goreng, kuah, dan sedikit sambal serta bawang goreng. Jadilah bubur ayam!

“Harusnya tadi gue sama Riyan nggak pegangin lo sih, Zim.” Ferdi mencoba me-review kembali kejadian barusan.

“Ah, lo ngeyel sih!”

Seperti yang tadi gue bilang, nasi sudah menjadi bubur, tidak perlu disesali, tinggal cari cara saja bagaimana bubur itu bisa dinikmati. Dan inilah cara kami memaknai kekalahan ini; dengan menjadikannya bahan bercanda. Maka, di sinilah kami, sekelompok pemuda receh yang menertawakan diri sendiri sambil belepotan saus dan gobres karena fried chicken.

Dan jika diingat-ingat lagi, bisa dibilang kami layak mendapat kekalahan ini. Logikanya, tim kami saja tidak pernah berlatih untuk perlombaan ini, mana bisa kami meraih juara dengan begitu mudahnya? Hahaha. Setidaknya kalimat itu yang membuat kami kembali menertawakan kekalahan tadi. Ditambah dengan  kekalahan gue yang bermain by one E-Football dengan sekretaris PAC, Mas Naufal, lengkap sudah kelucuan di siang yang terik ini.

“Lo emang nggak bakat menang! AHAHAHA!” seru Mas Naufal songong. Gue langsung melemparkan paha ayam yang sedang gue gigit.

“Belagu lu!”


Komentar

Postingan Populer