Mengganti Kaset, Mendengar Lagu Baru
Riuh gemuruh mengiringi mahasiswa-mahasiswi yang tidak kebagian jatah kelas dalam sesi input KRS. Mereka berdesakan menunggu giliran me-lobby petugas bagian akademik dan kemahasiswaan fakultas. Ada yang sampai menangis di pojok ruangan karena saking tidak enaknya berdesakan dan beban mental yang ditanggung karena tidak kebagian jatah kelas. Ada yang haha-hihi karena berhasil input kelas bersama pasangannya, ada pula yang hoho hihe kebingungan harus melakukan apa.
Iya, semester genap sudah dimulai, gue juga berada di tengah kisah ini…
Sama dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang berdesakan di AKMA (Akademi dan Kemahasiswaan) Fakultas, gue juga tidak kebagian dua kelas. Dalam penawaran kelas gue baru dapat sembilan kelas, yang mana harusnya gue harusnya masuk sebelas kelas untuk bisa memenuhi 24 SKS.
“Ikut gue ke kampus yuk, kita nge-lobby AKMA biar dapet kelas,” ajak Teddy, teman MI gue yang belakangan diketahui juga kuliah di kampus yang sama dengan gue.
“Boleh aja sih, yang penting gue nebeng,” jawab gue.
Kami sampai di AKMA sekitar pukul 09.00 dan baru mendapat giliran untuk me-lobby pada pukul 16.00 WIB, UDAH GILA KALI YA?!?!?!
“Bu, mohon bantuannya, saya kurang dua kelas, saya sudah coba rombak jadwal berkali-kali namun hasilnya mustahil untuk pindah jadwal, Bu,” bujuk gue pada salah satu petugas AKMA. Dengan wajah yang sudah lelah dan amat terpaksa, beliau meng-input-kan gue satu kursi untuk masing-masing kelas yang belum gue dapatkan. Dan, yes! Gue berhasil input!
“Terima kasih, Bu.”
Satu minggu kemudian, perkuliahan dimulai.
Di perkuliahan semester genap ini kelas sudah diacak, jadi kemungkinan bertemu dengan kawan lama di kelas sebelumnya tidak besar, intensitas nongkrong bersama mereka pun perlahan menurun. Bahkan dalam seminggu bisa dihitung berapa kali gue bertemu teman kelas sebelumnya. Seperti hari Senin gue satu kelas dengan Alfia, Selasa satu kelas dengan Egi, Rabu satu kelas dengan Zali & Revo, Kamis dengan Revo lagi, dan Jumat dengan Sandi. Sungguh rumit nan riweh bukan?
Tapi, ya begitulah, ambil sisi positifnya… Gue jadi nggak terlalu terikat sama mereka. Gue jadi terbiasa untuk begini; berpindah-pindah.
Pada hari Rabu, minggu pertama, gue dan Revo baru saja keluar kelas mata kuliah ilmu kalam. Suasana kampus lengang, cuaca teramat panas sebab matahari sangat bersemangat membagi sinarnya. Gue dan Revo yang tidak ada kegiatan lepas kelas usai, memutuskan untuk pergi meninggalkan area kampus dan nge-rental bersama. Namun, dalam perjalanan menuju tempat parkir, sesosok wanita menghentikan langkah gue. Gue terperangah. Tubuh mendadak gemetar diselingi keringat yang mengalir deras. Revo kebingungan.
“Lo kenapa, Zim? Jangan jadi zombie, please!” ucapnya khawatir.
“Nggak, gue nggak apa-apa,” jawab gue bertolak belakang dengan muka gue yang tertekuk lesu, kayak orang kebelet boker.
“Ya udah, ayok gas main PS!”
Sosok wanita yang membuat gue terdiam sejenak selama 3174825903690 detik tadi tak lain adalah Patricia. Ia tampil begitu menawan dengan kerudung yang samar-samar terlihat mirip dengan hadiah ulang tahun yang gue berikam beberapa waktu lalu. Hah? Hadiah ultah? Kapan peristiwa itu terjadi? Sabar….
Mari kita mengingat kembali siapa sosok Patricia ini. Cewek yang di akhir tahun lalu lagi gue deketin, namun tiba-tiba dia menghilang tanpa alasan jelas. Iya, gitu… Sosok ini tiba-tiba kembali memunculkan diri saat momen tahun baru kemarin. Tepat pada tanggal satu. Sekitar tiga gelembung obrolan panjang ia kirimkan ke roomchat gue. Sebuah long text berisi klarifikasi, permintaan maaf, dan penegasan ulang (buset kayak tugas bahasa Indonesia dikasih penegasan ulang).
Singkatnya, Patricia menjelaskan alasan kenapa dia tiba-tiba menghilang (baca: dia lagi belajar jurus menghilang ala ninja konoha). Ia takut bahwa pendekatan yang sedang kami lakukan akan berujung jadi cinta yang salah. Namun, cara dia menghindari “cinta yang salah” tersebut juga salah. Nah, loh, bingung kan lo? Gue juga.
“Aku masih ragu, aku masih pengin sendiri, makanya aku stop dari kamu. Biar ga kejauhan. Tapi, aku sadar kok, aku salah. Aku tiba-tiba cuekin kamu…”
(Gue senyam-senyum sambil baca isi chat tersebut).
“Tapi, kalo mau ngejelasin juga takutnya kamu gimana-gimana.”
(Gimana-gimana yang gimana woe?).
“Terus tiba-tiba waktu itu kamu bikin story wa, tentang feedback. Jujur aku ngerasa nggak enak. Tapi kita kan emang udah deket sebelum ada rekrutmen HMPS kan? Jadi kalo kamu pikir aku deket sama kamu karena mau manfaatin kamu biar aku bisa direkrut, itu salah…”
(Yesss akhirnya story gue di-notice).
“Aku udah kamu baikin, tapi kamu aku cuekin, aku gabisa terus gini. Rasanya nggak enak. Jadi, biar aku nggak merasa bersalah, kamu maunya apa?”
Dengan penuh kebodohan, gue jawab begini:
“Aku mau kamu. Boleh?”
Yap, dipersilakan untuk muntah jika jijik… Gue sendiri aja kalo inget pernah ngetik kayak gini, pengin muntah. Huek. Bucin.
“Aku belum bisa, belum siap.”
“Nggak apa-apa, kutunggu waktu siapmu.”
Selang dua hari kemudian, gue dapat jackpot dari Pak Bos. Jackpot tersebut berupa kerudung berwarna merah muda dengan model kekinian namun entah apa nama kerudungnya. Sejenak gue berpikir, model kerudung seperti ini sangat tidak cocok dipakai ibu-ibu. Nanti bisa dikira emak-emak menolak tua. Maka, gue mengurungkan niat gue untuk memberikan kerudung tersebut pada Nyokap. Dan benar saja, gue tertuju pada Patricia.
“Hari Jumat free? Kalo iya aku mau ketemu,” ajak gue.
“Iya, malemnya ya…”
Hari Jumat minggu pertama bulan Januari, pertemuan yang diimpikan terjadi, juga sebuah gerbang baru menuju patah hati. Sayangnya, gue nggak sadar akan hal itu. Gue mengira bahwa pertemuan ini akan menuntun gue ke babak baru kisah cinta yang tidak mengenaskan. Faktanya, gue salah besar…
“Nyari siapa, Neng?” tanya gue pada sesosok cewek yang sedang berdiri di sebelah sepeda motor PCX-nya sambil celingak-celinguk, tanda bahwa ia sedang menunggu seseorang yang punya janji temu dengan dirinya.
“Eh, Azim. Udah sampe ternyata…” jawab cewek tersebut.
“Ayo, masuk,” ajak gue.
Kami memesan menu. Duduk di kursi di bagian tengah ruangan café yang juga terletak di tengah-tengah perbatasan kota dan kabupaten Pekalongan ini. Lucu bukan? Bukan. Kami mengobrol ke sana ke mari. Membicarakan banyak hal. Kepribadian, cita-cita, passion, bahkan hingga dunia organisasi.
Di akhir pertemuan, gue keluarkan benda tersebut. Sebuah kerudung yang sudah gue bungkus dengan plastik kemasan dari tempat kerja, iya, untuk sebuah kado ini sangat nggak niat. Isinya pun hanya sebuah kerudung, tidak ada benda lain yang teramat special menemaninya. Kecuali secarik kertas berisi isi hati gue (baca: ungkapan kebodohan gue).
“Hei, Happy Birthday tapi telat ya, Patricia. Sorry ya, gue juga nggak punya waktu untuk beli kertas kado, jadi pake plastic packing aja. Hehe.” Gue dengan muka sok di-polos-polosin memberikan kado aneh tersebut.
“Makasih ya, gapapa kok, yang penting kan isinya,” jawab Patricia simpel.
“Yok pulang udah larut. Mau hujan juga ini. Aku anter kamu ya?”
“Engga usah, katanya tadi kalo perjalanan jauh suka tiba-tiba kambuh sakitnya?”
Terus terang. Gue akan katakan ini sejujur-jujurnya. Gue salting mendengar ucapan Patricia barusan. Bagaimana tidak? Lo bayangin aja, lo lagi pdkt, terus orang yang lagi lo deketin tiba-tiba perhatian ke lo. Bukankah ini sebuah sinyal lampu hijau bahwa kau akan berhasil?
Kira-kira itu yang terlintas di otak gue selama perjalanan pulang hingga sampai ke rumah.
“Kamu kehujanan nggak di jalan?” tanya gue melalui WhatsApp, terkirim pukul 01.00 WIB. Iya. Gue nggak bisa tidur karena masih nggak percaya bahwa gue mendapat lampu hijau dari Patricia.
“Nggak hujan kok,” balasnya, pada pukul 06.22 WIB. Mungkin semalam smartphone-nya lowbat dan harus di-charge.
`”Kadonya udah dibuka?” balas gue, pukul 06.27 WIB.
“Udah, makasih ya.” terbalas, pukul 11.33 WIB.
“Lagi apa?” terkirim, pukul 21.50 WIB sepulang kerja.
“Nggak lagi apa-apa.” terbalas, pukul 22.46 WIB.
“Kerudungnya udah dicoba?” terkirim, pukul 23.00 WIB.
“Udah.” terbalas, pukul 23.15 WIB.
“Suka nggaaa?” terkirim, pukul 23.43 WIB.
“Suka.” Terbalas, pukul 04.43 WIB.
Anda tahu harus berbuat apa….
Gue mencoba berpikir positif, sepositif mungkin bahkan hingga hal paling tidak rasional, seperti mungkin Patricia lupa bagaimana cara mengoperasikan gadget, atau Patricia lupa kalau dia hidup di abad 21. Namun, yang terjadi, tetaplah terjadi…
Anak se-excited itu berkelahi dengan dry text.
Begitu terus yang terjadi. Selain pesan gue dibalas dengan dry text, ia juga sangat slow respon.
“Lah, gue kira bakalan jadi sama lo… Kok ternyata kejadian ngilang kemarin malah keulang? Bejirrr part dua ini mah,” gumam gue kesal sambil menggigit smartphone.
Kisah cinta itu pun tiba-tiba berlalu, hilang ditelan bumi, lagi. Yang tadinya ibarat legenda sekarang berubah menjadi mitos. Yang tadinya gue kira bakal jadi lampu hijau ternyata lampu merah, tapi sayangnya merah dalam waktu yang cukup lama, membuat gue terpaksa putar balik cari jalan lain.
Gue terbangun dari lamunan. Tiba-tiba Revo dengan menggunakan Jepang sudah mencetak satu gol ke gawang Argentina.
“GOOOOOLLLL. YES MENANG!” teriak Revo kegirangan.
“Gue mau tanding ulang.” dengan kesadaran yang sudah penuh, gue menarik napas panjang dan bersiap untuk melawan Jepang lagi satu pertandingan.
“GOOOLLL MESSI! GOOL MARTINEZZ!!! GOOOL GOOL GOOOL”
Total enam gol berhasil gue jebloskan ke gawang Jepang (Revo). Revo tertunduk lesu dan merengut.
“Ampun, Bang Messiiii, ampuuuunnn.”
Begitulah hidup. Kita akan selalu berhadapan dengan momen yang memorable (sulit dilupakan), seperti momen berteman dengan Revo dan yang lainnya di kelas A semester lalu, namun sekarang ini kita harus berpisah kelas, kita harus move on untuk bisa berteman dengan orang-orang baru. Begitu juga dengan momen gue dikalahkan Revo 1-0, gue harus move on, bangkit menatap pertandingan selanjutnya dengan lebih bersemangat, alhasil gue menang 6-0.
Tidak jauh berbeda juga dengan Legenda Cinta Patricia. Awalnya sama-sama saling suka, saling bercanda, tiba-tiba menghilang… Dan ya, legenda tersebut kini berubah menjadi mitos. Tapi, Patricia tetap melanjutkan hidupnya, begitupun seharusnya gue. Begitu pula seharusnya kita semua dalam menghadapi patah hati: tetap menjalani hidup.
Saatnya mengganti kaset, mendengar lagu baru.
Cuaca terik perlahan bertransisi menjadi mendung. Awannya kian tebal menutupi wilayah Rowolaku dan sekitarnya, pertanda hujan akan segera turun. Jam menunjukkan pukul 13.00, dua puluh menit lagi kelas dimulai namun gue dan Revo masih di rental PS. Kami pun bergegas kembali ke kampus.
“Udah mau masuk, Vo, ayok balik ke kampus,” ujar gue.
“Wah iya, sampe lupa waktu kita. Ayok buruan!”
"Kita semua adalah pengembara di dunia ini. Dari satu hari ke hari lain. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu kejadian ke kejadian lain. Terus mengembara."
Tere Liye.
MOVE ON ZIM MOVE ONNN
BalasHapus-alfia
Yok bisa yok, ASYHADUU!
Hapus