Polemik Teologi Islam
“Merunduk, Ghoz!” gue melompat dan menerjang tubuh Ghozali sembari menyembunyikannya di balik tangga turun gedung Ormawa di samping gedung Student Centre. Hal ini gue lakukan bukan tanpa sebab. Dikarenakan ada sosok manusia mengerikan yang sedang mengintai keberadaan kami.
“Ada apa?” tanya Ghozali.
“Si Genderuwo! Yang tadi malam nyari
gue lewat perantara anak kelas kita!” seru gue sambil masih memajang raut muka
khawatir.
“Oalah…”
Kami bersembunyi dari sosok tersebut
sekitar lima belas menit. Ketika keadaan dirasa sudah mulai kondusif, barulah
gue melepaskan Ghozali untuk kembali melanjutkan aktifitasnya. Demikian pula
gue.
Lalu, siapa sebenarnya sosok “Genderuwo”
mengerikan ini? Let’s talk about it!
Satu hari sebelumnya. Hari Rabu.
Udara panas menyengat seperti memanggang seisi kelas GPT 3.02.
Mahasiswa-mahasiswa mata kuliah Teologi Islam seperti biasa berharap-harap
cemas menghadapi kelas ini-konon diajar oleh dosen yang cukup tegas.
Dan seperti biasa, alur cerita di
dalam kelas akan seperti ini: mahasiswa melakukan presentasi – mahasiswa lain
bertanya – dosen memberikan penjelasan – kelas selesai. Tetapi, ada sesuatu
yang lain hari ini. Kelas yang terasa panas ini kian bertambah panasnya dengan
adanya sebuah peristiwa tak terduga.
“Hei, Mas, kamu yang di belakang!
Tadi saya baru menjelaskan apa?” Sang Dosen bertanya kepada Mahasiswa yang sibuk
mengobrol dengan teman di sampingnya. Dan tentu saja karena ia tidak
memerhatikan, ia pun tidak bisa menjawab pertanyaan Sang Dosen.
“Tidak tahu, ‘kan? Makanya
diperhatikan…”
Suasana jadi menegangkan…
“Ghoz, firasat gue nggak enak nih,”
ujar gue resah.
“Kayaknya bakal terjadi sesuatu,”
tambah Ghozali.
Dan benar saja. Sekitar lima menit
setelah gue dan Ghozali mengatakan hal tersebut, sesuatu yang tidak diharapkan
itu terjadi.
Brakkkk!
“Kamu kenapa, Mbak?” Sang Dosen
menunjuk ke kursi belakang, lagi. Bedanya kali ini beliau menunjuk kepada
mahasiswi yang baru saja menendang bagian bawah kursi di depannya (kursi
smack-down kuliah biasanya ada besi yang bisa naik turun gitu, lo paham deh)…”Kalau
Anda mau keluar, keluar saja, nggak usah ikut kuliah saya,” sambung beliau.
“Tuh kan bener, Ghoz!” kekhawatiran
gue terwujud.
“Nggak beres tuh anak,” ujar Revo
menimpali.
“Ya sudah saya saja yang keluar, sampean
di belakang begitu susah kan keluarnya?
Oke saya yang keluar. Saya sudahi pertemuan hari ini. Sekian, wassalam.”
Deg!!!
Gue, Ghozali, dan Revo bahkan belum
sempat menjawab salam beliau, Ini terjadi begitu singkat. Dan yang lebih
menjengkelkannya lagi, gue baru saja hampir paham materi yang sedang beliau
sampaikan, namun semuanya mendadak sirna. Hilang tak berarah tanpa meninggalkan
sisa. Pupus.
“Jancok! Padahal dikit lagi paham!”
kesal gue sambil melirik ke kursi belakang mencari batang hidung sang
tersangka.
“Oh, elu ya!”
***
Sepulang kuliah seperti biasa gue berangkat
kerja. Kemudian ketika jam kerja gue sudah selesai dan gue sudah merebahkan
tubuh gue di kamar, gue mendapat DM Instagram dari Ghozali. Isinya masih
berkaitan dengan kejadian tadi siang.
“Ada menfess (aduan) tentang
mahasiswa yang tadi ngusir dosen, ini lo bukan yang menfess?” tanya Ghozali di
DM.
“Hmmm. Sebenarnya gue emang menfess
sih, tapi belum di-acc, itu kayaknya orang lain deh,” jelas gue.
“Akh kacau. Nih, lihat kolom
komentarnya….”
Terpampang jelas di kolom komentar
si tersangka dan para komplotannya seolah tidak merasa bersalah atas perbuatan
yang telah mereka lakukan tadi siang. Mereka bahkan menganggapnya sebagai
candaan. Miris.
Gue dengan kecerdasan di atas
rata-rata langsung meng-forward informasi tersebut ke grup kelas dan
mengerahkan massa untuk menyerang postingan tersebut dengan komentar yang
bersifat menyudutkan mereka. Tujuannya tentu saja untuk menyadarkan mereka,
yahhh, walaupun gue tahu cara semacam ini bukanlah metode yang baik dan bijak
untuk mengatasi masalah ini, tetapi melihat siapa yang dihadapi, gue rasa cara
ini akan menimbulkan efek jera.
“Wah kacau! Udah nggak ngerasa
bersalah malah ketawa ketiwi.”
“Ish ish ish, otw mengulang kuliah
semester depan nih.”
“Satu kelas rugi gara-gara…. Ah
sudahlah.”
Kira-kira semacam itulah warna-warni
kolom komentar akun menfess kampus semalam. Dan dugaan gue benar. Cara ini
memberikan efek jera pada mereka. Terbukti dengan komentar mereka yang
tiba-tiba hilang dari tempatnya.
“KOK ADA KOMENTAR YANG HILANG YA????”
tutup gue di sesi julid tersebut.
Gue kira serangan julid tersebut
hanya akan memberikan efek jera pada si tersangka dan teman-temannya yang
terlibat, tapi ternyata gue salah. Salah besar. Ada efek lain yang timbul dari
serangan komentar julid tersebut: gue jadi buronan.
Yap. Sebab pelaku adalah anak kelas
bontot, maka ia melapor pada komandan kelasnya. Sebut saja Si Genderuwo. Si
Genderuwo mendidih mendengar kabar kurang mengenakkan ini. Ia langsung
melakukan pencarian dan pelacakan terhadap
akun Instagram gue. Dan pada akhirnya ia mendapati nama gue. Zim Kazama.
Mampus!
Mungkin seperti ini yang ada di
bayangan gue mengenai “gue jadi buronan” ini.
“Bos. Ada orang nyebelin ganggu
kita. Kita harus bertindak.”
“Siapa orangnya?” tanya Si
Genderuwo.
“@zim.kazama19, dia sepertinya cari
gara-gara.”
“Besok kita bungkam dia…”
Bum!!!
***
Kembali ke samping Ormawa.
“Udah nggak ada, aman. Lo hati-hati
ya, Ghoz!” gue coba memberi warning kepada Ghozali, namun yang terjadi justru
sebaliknya, harusnya gue yang mendapat warning.
‘Loh, kan yang dicari elo, bukan
gue,” jawabnya enteng.
“Bajingan. Gue cabut ah, mau cari
tempat aman!”
Dengan penuh kewaspadaan gue
perlahan meninggalkan gedung Ormawa. Mengendap-endap layaknya seorang ninja,
dan berjalan pelan layaknya kura-kura. Terlihat gila, tapi bodo amat, yang
penting gue aman. Sampai akhirnya gue bertemu Nura dan Munir di Café Baca
Perpustakaan, gue mengamankan diri di sana.
Jika
kebenaran dibungkam, bukankah mereka yang membungkam bisa saja kita anggap
zalim? Entahlah…
Komentar
Posting Komentar