Langsung ke konten utama

Postingan

Pengabdian Yang Terbakar Sirna

Bulan Desember 2023 kemarin gue mengikuti perlombaan bakiak porseni yang diselenggarakan oleh PC IPNU & IPPNU Kabupaten Pekalongan. Gue tergabung dalam tim bakiak PAC IPNU Kecamatan Buaran yang beranggotakan Heri, Ferdi, Riyan, Thoyib, Falah, dan gue. Tim ini terbentuk sejak satu bulan sejak hari H perlombaan, namun sayangnya, kami tidak sempat untuk latihan sama sekali. Ya, sama sekali tidak latihan. “Ini udah minggu kedua sejak penunjukkan anggota tim, ayok kita latihan!” ajak Mas Saipul selaku penanggung jawab tim bakiak ini di grup WhatsApp. “Ayo latihan!” seru Ferdi antusias. Sayangnya keantusiasan Ferdi tidak dibarengi dengan kehadiran para anggota tim. Hanya Ferdi dan Heri saja yang bisa hadir mengikuti latihan. Maka, sudah bisa ditebak kalau tim bakiak ini tidak akan melangkah jauh di perlombaan nanti. Lihat saja. Dua minggu setelahnya, hari H perlombaan tiba. Kontingen PAC Buaran berangkat dari Simbangkulon menuju Doro, tempat diadakannya event porseni kali ini. Ti...

Misteri Penemu Sweater

  Perlahan punggung Pak Syam, dosen Sosiologi, menghilang dari pandangan gue. Begitu pula dengan para mahasiswa lainnya. Gue sendirian di ruang 3.9 gedung FUAD. Gue mematikan semua kipas angin yang menyala, kemudian keluar dari ruangan dan turun ke lantai dasar. Gue melihat ke samping kanan-kiri dari tangga yang baru saja gue lalui. Tidak ada orang yang gue kenali di sini. Lalu, gue melangkah kea rah resepsionis, dan gue temukan sosok ini… “Ekhem…” dehem gue membangunkan sosok tersebut dari lamunannya. “Eh, Azim, sini duduk. Abis makul ya?” tanyanya. “Kita kan barusan sekelas, An. Masa ga ngeh?” balas gue. “Oh iya? Kok gue nggak lihat lo?” “Gue duduk di pojok.” “Pantesan…” Sosok tersebut adalah Andi, anak kelas B semester lalu yang pada semester kali ini kerap kali satu kelas dengan gue di beberapa mata kuliah. Kalau gue gambarkan, Andi ini punya style seperti Dilan yang diperankan oleh Iqbaal Ramadan. Dia sering pakai jaket denim dengan mengendarai sepeda motor C...

Mengganti Kaset, Mendengar Lagu Baru

  Riuh gemuruh mengiringi mahasiswa-mahasiswi yang tidak kebagian jatah kelas dalam sesi input KRS. Mereka berdesakan menunggu giliran me-lobby petugas bagian akademik dan kemahasiswaan fakultas. Ada yang sampai menangis di pojok ruangan karena saking tidak enaknya berdesakan dan beban mental yang ditanggung karena tidak kebagian jatah kelas. Ada yang haha-hihi karena berhasil input kelas bersama pasangannya, ada pula yang hoho hihe kebingungan harus melakukan apa. Iya, semester genap sudah dimulai, gue juga berada di tengah kisah ini… Sama dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang berdesakan di AKMA (Akademi dan Kemahasiswaan) Fakultas, gue juga tidak kebagian dua kelas. Dalam penawaran kelas gue baru dapat sembilan kelas, yang mana harusnya gue harusnya masuk sebelas kelas untuk bisa memenuhi 24 SKS. “Ikut gue ke kampus yuk, kita nge-lobby AKMA biar dapet kelas,” ajak Teddy, teman MI gue yang belakangan diketahui juga kuliah di kampus yang sama dengan gue. “Boleh aja sih...

Merayakan Sepi/Melepas Sembilan Bidadari

         Semburat senja menghiasi sore yang syahdu di pinggiran jalan tol Batang-Pekalongan. Sebungkus Dji Sam Soe premium keluar dari saku Haekal. Ia menarik sebatang rokok keluar dari dalamnya dan kemudian membakarnya, mengisapnya sambil bertukar kisah selama satu semester terakhir. Ya, Haekal sedang libur dari ponpes, nggak lama, cuma satu minggu. Itu pun dia melarikan diri dari ponpes, harusnya pengurus OSIS tidak diperbolehkan untuk libur, harus stay di Ma’had. Tapi, Haekal nekat. Gue meraih cangkir kopi cappuccino yang baru saja gue pesan dari penjaja kopi di pinggir jalan tol ini. Meminumnya, sambil juga bertukar kisah dengan Haekal. “Play musik, dong, biar ga sepi,” ujar Haekal. Ia pun meraih smartphone yang baru ia beli dua hari sebelumnya bersama gue di sebuah konter di Kota. Haekal memainkan Album “Lagipula Hidup Akan Berakhir” karya Hindia. FYI, selera kami dalam menikmati musik nggak jauh berbeda, dan kami juga sering eksplor berbagai genre, jad...

Kukatakan Dengan Indah

           Siang hari yang lumayan terik meski kalender telah menunjukkan bahwa sekarang telah memasuki bulan Desember. Iya… belakangan hujan seperti menghilang lagi. Panas terus menghampiri. Dan di sinilah gue, bersama kawan-kawan sekelas menunggu giliran menghadapi UAS Lisan. Lebih tepatnya mata kuliah Bahasa Arab yang harus kami hadapi siang ini.             Jam menunjukkan pukul 13.00, namun kelas B belum kunjung selesai menghadapi UAS. Kami pun harus menunggu.             “Ndan, kelasmu berapa orang lagi?” Zali bertanya pada Lutfi, anak kelas KPI-B, orang yang selalu dia sebut sebagai musuh bebuyutannya, yang entah gue nggak ngerti apa konteksnya.             “Masih tujuh orang lagi,” jawab Lutfi.             “Buset, masih lama ...