Kukatakan Dengan Indah
Siang hari yang lumayan terik meski kalender telah menunjukkan bahwa sekarang telah memasuki bulan Desember. Iya… belakangan hujan seperti menghilang lagi. Panas terus menghampiri. Dan di sinilah gue, bersama kawan-kawan sekelas menunggu giliran menghadapi UAS Lisan. Lebih tepatnya mata kuliah Bahasa Arab yang harus kami hadapi siang ini.
Jam
menunjukkan pukul 13.00, namun kelas B belum kunjung selesai menghadapi UAS.
Kami pun harus menunggu.
“Ndan,
kelasmu berapa orang lagi?” Zali bertanya pada Lutfi, anak kelas KPI-B, orang
yang selalu dia sebut sebagai musuh bebuyutannya, yang entah gue nggak ngerti
apa konteksnya.
“Masih
tujuh orang lagi,” jawab Lutfi.
“Buset,
masih lama dong.” gue ikutan nimbrung.
“Lo
sendiri udah maju?” tanya Zali lagi.
“Gue udah, ini lagi mau revisian Bahasa Indonesia.”
“Ohh…”
Lalu, entah kesambet apa, tiba-tiba percakapan
serius itu pun dimulai. Zali memulainya dengan menyajikan data bahwa seseorang
dengan zodiak Libra itu susah mendekati orang, sebaliknya mereka justru harus
didekati. Gue yang awalnya setengah-setengah doang percaya zodiac-zodiak ginian
pun akhirnya ikut terjerumus, karena faktanya sejauh ini memang gue susah
mendekati, dan sebaliknya butuh didekati, ejiah..
“Orang Libra tuh susah untuk mendekati, Ndan, bisanya
didekati,” ujar Zali sambil sesekali membetulkan posisi kacamatanya.
“Dalam konteks apa dulu ini?” tanya Lutfi.
“Semua hal, ya nggak, Zim?”
“Iya… benar! Gue udah ngalemin…,” jawab gue yang
kemudian gue lanjutkan dengan story-telling… “…ini kisah tentang kekecewaan dan
feedback,” sambung gue.
“Gimana tuh?” Lutfi penasaran.
“Jadi gini…”
Ekhem. Masih ingatkah lo dengan Bidadari Kesembilan?
Kalau tidak silakan baca bab tersebut terlebih dahulu. Jika iya, mari kita
lanjutkan. Oke. Patricia, nama yang indah dengan makna yang sangat mulia.
Namun, sayangnya keindahan itu tidak bisa gue realisasikan untuk kami berdua
(baca: gue gagal lagi).
Bagaimana bisa?
Gue kembali nekat melancarkan aksi PDKT dengan cara chatting.
Awalnya intensitas chatting kami tidak terlalu tinggi, namun
hari demi hari, Patricia kian terbuka
kepada gue, ini kemudian meningkatkan intensitas kami chatting.
Suatu hari Patricia mengadu ke gue kalau dia tidak
lolos open recruitment himpunan mahasiswa program studi, ini berbanding
terbalik dengan gue yang justru lolos. Gue terkejut mendengarmya, gue turut
prihatin. Namun, di saat yang bersamaan, salah satu sohib gue, yang juga kakak
Tingkat gue di sini, yaitu Atho, tiba-tiba WhatsApp gue. Atho adalah seorang
koordinator program talkshow di divisi broadcast himpunan mahasiswa program
studi (HMPS), ia meminta tolong gue untuk mencarikan empat orang lagi untuk
diajak masuk ke program tersebut karena slot masih tersisa empat orang.
Kebetulan banget dong!
“Aku nggak lolos HMPS, Azim,” adu Patricia.
“Ya ampun, kok bisa?”
“Soalnya… bla bla bla. Aku sedih deh.”
“Kebetulan banget ini, ada kating dari program
talkshow butuh orang lagi, kamu mau nggak?” tanpa berbasa-basi gue menawarkan
satu slot ini untuk Patricia, pikir gue, sambil menyelam bisa minum air, sambil
satu program, bisa deket dan jadian, ahay!
“Itu bukannya jadi kayak ‘masuk jalur orang dalam’
ya?” sanggah Patricia.
“Ya enggak apa-apa, orang merekanya butuh, dan kamunya
juga pengen masuk HMPS ‘kan? Udah ayok join aja!” gue mencoba meyakinkan
Patricia.
Akhirnya setelah negosiasi yang berbelit-belit
Patricia pun mengiyakan satu slot tersebut, alhasil dia di-screening
oleh tim talkshow dan hasilnya dia memenuhi syarat. Welcome, Patricia!
Pada suatu malam minggu, ketika gue selesai melakukan shooting
untuk film gue (film untuk tugas UAS sih, bukan film professional), gue kembali
mengobrol dengan Patricia melalui WhatsApp. Patricia entah kesambet apa,
dia tiba-tiba menanyakan perihal feedback (timbal balik).
“Zim, aku mau nanya, menurutmu definisi timbal balik
itu gimana?” tanya Patricia.
Lalu seperti biasa gue menjawabnya dengan penuh
kebodohan; menjadi boomerang bagi gue di waktu mendatang.
“Timbal balik tuh bahasa gampangnya aku ngasih kamu
dua ribu, kamu balikinnya dua ribu juga. Tapi nggak sesimpel itu,” jawab gue
sok pintar, “yang harus kamu kembaliin ke aku nggak harus duit dua ribu, tapi
bisa hal lain yang nilainya sama. Timbal balik itu memang harus ada, tapi tidak
harus dengan bentuk yang sama,” lanjut gue.
“Ih, aku suka statement-mu yang ‘timbal balik nggak
harus sama’, bener banget,” tanggapnya mengafirmasi perkataan kosong yang baru
saja gue lontarkan, “tapi pada dasarnya manusia tuh selalu mengharapkan timbal
balik, ya nggak?” sambungnya.
“Iya… Karena pada dasarnya manusia tuh butuh diakui,
butuh diafirmasi dan divalidasi,” jawab gue, masih sok pintar.
“Berarti sikap kita harusnya gimana?”
“Jangan terlalu berharap dapat timbal balik, kalo mau berbuat baik ya berbuat baik aja. Lakuin apa yang benar.”
Esok harinya, gue kembali melanjutkan shooting. Hari
terakhir shooting. Selepas itu, gue menghadiri acara first meet up semua
anggota baru divisi broadcast HMPS. Kebetulan Patricia juga mau datang katanya.
Gue antusias banget.
Sejak azan zuhur berkumandang, hujan mengguyur wilayah
Buaran, Kedungwuni, dan sekitarnya. Ini pertanda bahwa nanti first meet akan
sepi, karena hujan. Tapi bodo amat, gue tetap gas, gue pengin ketemu Patricia
dan mengajak dia mengobrol. Maka, pertemuan pun dimulai. Dan benar, tepat
seperti dugaan gue, mahasiswa baru nggak banyak yang datang. Bahkan Patricia
pun datang terlambat karena meneduh di kost temannya terlebih dahulu.
Ketika gue hendak mengajak Patricia ngobrol, entah
mengapa, badan gue tiba-tiba seperti ditarik sesuatu, mulut gue tidak bisa
mengucapkan kata-kata untuk memanggil namanya. Sekarang gue jadi seperti Peter
Parker versi Tobey Maguire, damn.
“Pppppat…”
Terlihat Patricia sedang asyik mengobrol bersama
beberapa teman cowoknya. Gue diam dan hanya tersenyum, lalu, dengan satu
tarikan napas gue menyalakan sepeda motor dan pulang, kembali menuju rumah. Gue
nggak kuasa ngelihatnya. Momen ini membawa gue kembali mengingat Jessica,
di mana gue harus makan hati ngelihat dia akrab sama cowok-cowok, bahkan
sesekali melakukan physical touch. Ternyata Patricia nggak jauh berbeda
dari Jessica. Gue piker dia beda. AH!
Tapi menurut gue itu hal yang biasa saja. Masa iya lo
nggak boleh punya teman lawan jenis dan nggak boleh ngobrol sama lawan jenis?
Man, ini udah bukan Simbang Kulon, hal kayak gini wajar! Gue mencoba menguatkan
diri. Namun ini lah yang menbuat gue yakin bahwa Patricia bukan sosok yang
tepat untuk gue.
Semenjak pertemuan tersebut, Patricia mendadak jadi
cuek, chat gue hanya dibalas sepotong-sepotong. Lalu gue melihat sebuah
postingan di akun Tiktok Patricia yang mengindikasikan penolakan. Iya, gue
ditolak lagi. Sialan.
“Kita tak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta,
namun kita selalu bisa memilih siapa yang pantas untuk diperjuangkan. Kita bisa
tertarik pada siapa saja tapi kita tetap harus punya kontrol atas sikap dan
perilaku setelah ada ketertarikan. Nggak semua momen jatuh cinta harus
dilanjutkan ke pendekatan, karena bisa aja jatuh cintanya ke orang yang ‘nggak
tepat’.” begitu bunyi postingannya.
Apakah ini perlu gue verifikasi? Gue rasa tidak. Gue
terlalu capek. Dan gue mau nggak mau harus melanggar evaluasi gue bersama
Wapres beberapa minggu yang lalu. Game over, mission failed, aboard.
“Intinya gitu, Ndan, sampe akhirnya kami nggak pernah
benar-benar bisa ngobrol di dunia nyata,” selesai gue.
“Kalo udah gitu lo berarti dimanfaatin dong?” Lutfi
menyimpulkan.
“Emm, dimanfaatin sih enggak…”
“Dimanfaatin dong tetep, orang kejadiannya gini. Lo
dapet feedback yang nggak menyenangkan dan nggak sesuai.”
“Kok lo ada benernya ya, Ndan?”
“Udah pokoknya Libra tuh jangan ndeketin, kita yang
harus dideketin,” sambung Zali.
Di sinilah gue. Kembali meratapi Nasib. Untungnya, gue belum maju jauh-jauh banget, jadi kecewanya cuma sedikit. Iya, sedikit. Tapi nylekit. Dan yang menyebalkan adalah gue kembali harus termakan omongan gue.
“Jangan terlalu berharap dapat timbal balik, kalo mau
berbuat baik ya berbuat baik aja. Lakuin apa yang benar.”
Now Playing: NOAH – Kukatakan Dengan Indah
Tetapi hatiku selalu meninggikanmu
Terlalu meninggikanmu
Selalu meninggikanmu
Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi, kau hancurkan hatiku ‘tuk melihatmu.
Kau terangi jiwaku, kau redupkan lagi.
Kau hancurkan hatiku ‘tuk melihatmu.
Membuatku terjatuh dan terjatuh lagi
Membuatku merasakan yang tak terjadi
Semua yang terbaik dan terlewati
Semua yang terhenti tanpa kuakhiri
Kau buatku terjatuh dan terjatuh lagi
Kau buatku merasakan yang tak terjadi
Komentar
Posting Komentar