Langsung ke konten utama

Pilu Membiru

            Sabtu malam Minggu, tanggal 6 September tahun 2025. Malam itu udara di Bojong tidak terlalu hangat seperti hari-hari sebelumnya, mengingat belakangan ini masih masuk musim kemarau. Angin berhembus dalam skala 20 – 25 knot. Deru suara kendaraan masih terus menghiasi jalanan yang belum mengenal kata lelah. Hangatnya menu-menu andalan masih bisa dirasakan; baunya masih terus merebak, sementara pelanggan-pelanggan tak henti lalu lalang. Setengah sembilan, Naura baru saja diantar pulang oleh tunangannya, Edwin, setelah keduanya menyelesaikan fitting baju untuk pernikahan mereka pada hari Jumat mendatang. Yamaha Fazzio berwarna hijau telur asin berhenti di depan sebuah rumah dengan warna cat serupa. Pemiliknya melengkungkan bibir seraya berkaca-kaca.

            “Ini serius kita bentar lagi mau nikah?” sambil mulai meneteskan air mata, Naura bertanya pada sang pujaan hati.

            “Iya… Bentar lagi! Bentar lagi banget! Hahaha!” jawab Edwin gembira.

            Keduanya berpelukan. Cukup lama hingga harus dipisahkan oleh sapaan ayah Naura.

            “Eh, udah pulang… Mampir dulu sini, Edwin.”

            Edwin menghampiri pria berusia enam puluh tujuh tahun tersebut sembari menjabat tangannya seraya menundukkan badan. Tidak dulu. Edwin hendak pulang untuk menyelesaikan urusan lain, katanya. Ayah Naura maklum. Maka kembalilah Edwin ke kediamannya, sementara Naura menutup pintu diiringi tangan ayahnya yang membelai kepala sang anak tercinta. Ibunda dari kamar menyambut keduanya. Suasana penuh kegembiraan.

            Naura langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang. Penat. Seharian berkeliling kota bersama Edwin untuk mempersiapkan hari bersejarah mereka yang tinggal menghitung hari. Memang, pernikahan bukanlah hal main-main. Perlu persiapan yang amat matang. Kalau terdeteksi bolong di sana dan di sini harus segera ditambal, jika tidak akan runyam seterusnya.

            Ponsel Redmi 10 keluaran tahun 2022 yang dipegang Naura menampilkan video-video rekomendasi trend konten nikahan yang dikirim oleh vendor wedding content creator yang ia hire untuk ikut mendokumentasikan pernikahannya bersama dengan fotografer dan videografer nanti. Naura memilih dua dari tujuh konten video yang dikirim. Satu konten video bersama sang suami, satu konten lagi bersama para bridesmaid.

            “Nduk, mau makan lagi ndak?” suara merdu sang Ibunda terdengar dari arah dapur, sedang merapikan sisa makan malam satu jam yang lalu.

            “Mboten, Bu.”

            “Yawis, ini tak masukkin kulkas aja ya, Pak…”

            “Iya, Ibu.”

            Mata Naura mulai lelah. Ketika hampir terpejam, sebuah notifikasi dengan nada dering yang keras mengganggunya. Ada Hidayat di seberang sana, menelepon Naura untuk menanyakan sesuatu.

            “Halo, sahabatku yang sebentar lagi menikah dengan sahabatku yang lainnya…” Hidayat membuka obrolan telepon.

            “Apaan sih, Yat. Ganggu aja kamu! Ada apa malem-malem gini telepon? Tumben banget.”

            Suara Hidayat perlahan memelan. Nada bicaranya tidak lagi ceria seperti saat membuka telepon beberapa detik yang lalu. Ada urusan penting, ada yang mau diobrolkan katanya.

            “Kamu kenapa sih? Kamu nggak lagi kena masalah kayak kemarin kan?”

            Telepon ditutup. Naura menyipitkan bola matanya. Detak jantungnya jadi lebih cepat. Ia khawatir ada sesuatu terjadi pada sahabatnya itu, jangan lagi. Beberapa waktu yang lalu sudah cukup parah sehingga ia dan Edwin harus ikut mengurus permasalahan yang dihadapi Hidayat. Urusan yang sangat tidak biasa, melibatkan rumah sakit dan kepolisian resor. Namun, kali ini apa? Naura benar-benar gelisah. Ia kemudian menelepon Edwin, sang pujaan hati sekaligus sahabat satu circle bersama dengan Hidayat.

            Tidak. Hidayat tidak menelepon. Begitu kata Edwin.

            “Tapi dia tadi ke sini sih, Yang. Dia balikin duit yang dulu pernah dia pinjem dari aku. Padahal aku sih udah bilang nggak usah, toh cuma dua ratus ribu. Itu pun dulu dia minjem karena bener-bener kepepet gak ada duit buat makan semenjak abangnya nikah. Yaa, tau sendiri kan dia semenjak abangnya nikah kasian banget, udah gitu dipecat dari kerjaannya lagi…”

            “Serius dia cuma balikin duit? Gak ngomong yang lainnya?”

            “Enggak, Sayangku. Udah ya, nggak usah overthinking. Kamu tidur aja, itu tuh kamu capek.”

            Tok… tok… suara tangan mengetuk pintu depan rumah Naura. Ibunda datang menghampiri, membukakan pintu dan menyambut sang tamu yang tak lain dan tak bukan adalah Hidayat. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Hidayat datang kemari, barangkali sekitar tiga bulan yang lalu, sebelum Naura dilamar oleh Edwin.

            “Ehhh, Mas Dayat, ya ampunnnn! Sudah lama nggak ke sini ya kamu, Mas! Ibu sama Bapak kangen tahu…”

            Hidayat tersenyum lalu membalas, “Iya, Bu, lagi fokus skripsian…”

            “Itu, di kantong kresek ada apa ya?”

            “Ibu kayak nggak tahu aja saya kalau main ke sini bawa apa…”

            “Alpukat?” sekarang giliran Ibunda yang tersenyum.

            “Yak! Betul!!! Seratus buat Ibu…!”

            “Kamu duduk gih sini, Ibu panggilin Naura ya. Kamu ke sini pasti mau ketemu Naura kan?”

            Hidayat mengangguk keras. Ibunda beranjak ke belakang, menuju kamar Naura untuk menyuruhnya keluar menemui sahabatnya itu. Sementara Naura keluar menemui Hidayat, Ibunda masuk dapur dan membuatkan satu cangkir kopi Temanggung, seperti biasa, kesukaan Hidayat ketika datang bertamu. Sama persis dengan kesukaan sang calon mantu, Edwin. Entahlah, mungkin karena mereka berdua sudah bersahabat sejak lama, makanya seleranya jadi sama.

            “Eh, kok kamu tiba-tiba udah di sini aja. Tadi di telepon tiba-tiba mati loh padahal…”

            “Iya, Na. Sinyal HP-ku hilang. Maklum, HP warisan sih. Udah waktunya ganti.”

            Naura duduk menemani Hidayat di seberangnya. Bangku rotan ini masih terasa sama seperti beberapa bulan yang lalu ketika terakhir kali Hidayat bertamu ke sini. Begitu gumamnya dalam hati, senyumannya tak kunjung memudar sejak Ibunda membukakan pintu untuknya.

            “Ada urusan apa sih, Yat? Kamu kayak nggak biasa aja gitu… Mana dari tadi kamu senyam-senyum gitu. Takut ih.”

            “Ah, elah, namanya juga sohib udah lama nggak main. Wajar dong, Na, kalau aku senyum terus. Kamu itu satu-satunya sahabatku loh selain Edwin.”

            “Ya berarti nggak satu-satunya dong?”

            “Oh iya.” Hidayat menepuk jidat.

            Ibunda selesai menyiapkan kopi. Tak berselang lama langsung saja beliau sajikan kepada sang tamu. Harus diminum sampai habis katanya. Jika tidak Ibunda akan sangat kecewa dan marah.

Hidayat menatap wajah Ibunda yang dari tadi sumringah karena kedatangannya, sangat bertolak belakang dengan Naura yang setiap inci wajahnya menyimpan rasa curiga terhadap dirinya. Ia tak terlalu mempermasalahkannya, yang penting saat ini hajatnya sudah terkabul; duduk bersama dengan sahabat favoritnya untuk pamitan karena sebentar lagi sahabatnya ini akan menikah. Naura jelas tidak menerima alasan kedatangan Hidayat yang demikian; ketiganya masih dalam satu lingkaran pertemanan yang sama. Mengapa harus menjauh? Mengapa harus berpamitan? Apa yang dipamiti? Sungguh tidak masuk akal.

            “Na, ngobrolnya di teras aja yuk. Aku nggak enak sama Bapak Ibukmu kalo di sini.”

            Tak ingin berbelit-belit, Naura langsung mengiyakan. Daripada rasa curiganya makin menjadi-jadi. Ya sudah biarkan saja Hidayat melakukan apa yang ia inginkan.

            “Ada banyak banget yang harus aku omongin ke kamu, Na. Aku takut nggak sempat, dan kalo makin lama malah jadi penyakit…”

            “Hadehhh, apa sih, Yat? Bisa to the point aja nggak?”

            “Na, masih inget nggak tahun lalu kita satu kelas semuanya piknik ke Telaga Sarangan? Di situ kita nyewa villa, malem harinya kita  nge-grill. Aku orang yang paling kikuk di sana karena di saat yang lainnya nge-grill, aku malah nusuk roti pake sisa tusuk sate yang harusnya dipake buat bakar jagung dan daging-dagingan…”

            13 Januari 2024, Telaga Sarangan. Seluruh mahasiswa dari program studi sastra Indonesia kelas A bertamasya ke sana. Menghabiskan hari-hari terakhir libur semester pertama, menyambut semester dua dengan penuh tawa. Sayangnya tawa itu tak bisa dimiliki oleh beberapa mahasiswa. Hidayat salah satunya. Ia begitu canggung berada dalam keramaian. Hanya Naura-lah, sahabatnya sejak SMP yang tahu dan kenal karakternya yang demikian. Namun, sayangnya Naura asyik dengan kawan-kawan baru dari kampus. Dalam sebuah kesempatan, Hidayat coba mendekati posisi duduk Naura, namun niat itu ia urungkan sebab posisi kosong tersebut telah diisi oleh Gita.

            “Maksudnya apa sih, Yat? Aku masih belum paham…” dengan wajah yang sudah lelah, Naura memotong cerita Hidayat.

            “Itu harusnya jadi hari di mana aku ngungkapin perasaanku ke kamu, Na. Kamu satu-satunya cewek di hidupku yang paham aku. Bahkan Ibuku sendiri gak paham sama aku. Kamu satu-satunya, Na.”

            Naura terdiam.

            Kurang lebih sekitar tiga menit hanya terdengar hembusan angin di teras rumah yang mulai dingin itu. Naura mulai berkaca-kaca bola matanya. Setitik Kristal perlahan meluncur.

            “Kenapa nggak ngomong?” Naura terisak, bicaranya gagap.

            “Udah terlanjur sahabatan, Na. Ngapain juga nembak kamu. Aku baru ngomong ini sekarang pun bukan bertujuan untuk ngerusak pernikahan kamu, aku cuma nggak pengen melanjutkan hidup dengan menanggung semua beban perasaan yang gak kuperlukan ini. Itu aja, Na.”

            Naura kian tak kuasa menahan tangisannya. Ingin sekali ia dekap tubuh Hidayat sembari mengucapkan sejuta maaf, tetapi ia tak kuasa, dan untuk apa pula sebuah maaf diucapkan pada cinta yang memang tak sampai—dan tak sempat terucap? Tidak. Itu tidak perlu.

            Hidayat meraih ponselnya. Membuka pemutar musik online, dan kemudian memutar sebuah lagu.

Akhirnya aku lihat lagi

Sederhana tanpa banyak celah wangimu

Berlalu

Akhirnya aku lihat lagi

Jemarimu yang bergerak bebas

Seiring

Tawamu

Tak ada yang seindah matamu

Hanya rembulan

Tak ada yang selembut sikapmu

Hanya lautan

Tak tergantikan oh

Walau kita tak lagi saling

Menyapa

            Naura menghentikan pemutar musiknya. Sambil masih sesekali mengusap air mata yang terus membasahi pipinya. Ia gusar. Perasaannya tak karuan.

            “Sejak kapan kamu dengerin Kunto Aji? Setahuku kamu cuma dengerin musik dangdut dan sejenisnya…”

            Hidayat tidak menjawab. Tatapannya kosong. Mukanya pucat. Ibunda tiba-tiba memanggil dari dalam. Naura, tolong cepat kemari katanya. Ibu Hidayat meneleponnya, mengabarkan sesuatu...

            “Hidayat udah nggak ada.”

            “Maksudnya gimana, Tante?”

            Wanita itu mulai kehilangan suaranya—digantikan tangisan.

            “Hidayat meninggal dunia, Naura. Meninggal dunia… Satu jam yang lalu Tante baru aja pulang kerja. Tante tiba-tiba udah liat dia tiduran di lantai… Mulutnya berbusa…”

            Naura terjatuh dari tempatnya berdiri dan memegang ponsel Ibunda. Tangisannya kian kuat. Dugaannya benar. Ada sesuatu yang aneh dengan kedatangan “Hidayat” malam ini.

            “Terus itu yang di depan siapa?” Ibunda bertanya.

            “Aku akan lanjut ngobrol sama dia… Biar aku tanyai siapa dia.”

            Naura kembali ke teras.

            “Udah ketahuan, ya?” sosok yang menyerupai Hidayat itu bertanya demikian.

            “Kamu siapa? KAMU SIAPA?!” Naura menaikkan volume bicaranya.

            Sosok itu menatap Naura dengan tatapan yang sangat dalam, dingin, tanpa perasaan. Dengan wajah pucat yang mulai membiru.

            “Aku Hidayat, Naura, kamu nggak kenal aku?”

            Naura kembali terjatuh dari tempatnya berdiri. Kali ini Ibunda dan Ayah datang menghampiri, memeluknya erat, menguatkan batinnya yang sedang dikoyak-koyak oleh peristiwa tidak lazim yang terjadi malam ini.

            “Sebenarnya masih banyak yang belum sempat aku sampaikan. Tapi, waktuku sudah habis... Aku pamit ya, Na. Have a nice life.”

            Sosok itu lenyap tanpa jejak. Tetangga mulai berdatangan ke rumah Naura. Semuanya saling lempar pertanyaan. Ada apa? Di mana? Kenapa? Siapa? Tak terkecuali Pak Hansip Tukiman yang baru saja memulai Ronda Malam.

            “Ini ada apa kok pada teriak-teriak sama nangis? Ada apa??” Tukiman mengerutkan dahinya.

            Naura dan kedua orang tuanya tak kuasa menjawab. Mereka semua hanya diam dan membiarkan air mata terus mengalir deras dari pelupuk mata, membasahi pipi, menyayat hati. Pedih.

            Polres Pekalongan didampingi ambulans dari RSUD Kajen seketika mengevakuasi jasad Hidayat. Ditemukan sebuah botol kecil berisi penuh antidepresan. Ada juga sebuah surat kecil yang ditulis untuk orang-orang terdekat Hidayat. Yang paling menonjol adalah yang ditulis menggunakan tinta merah.

Akhirnya aku lihat lagi

Sederhana tanpa banyak celah wangimu

Berlalu

Akhirnya aku lihat lagi

Jemarimu yang bergerak bebas

Seiring

Tawamu

Tak ada yang seindah matamu

Hanya rembulan

Tak ada yang selembut sikapmu

Hanya lautan

Tak tergantikan oh

Walau kita tak lagi saling

Menyapa

“Hidup bahagia ya, Naura, Edwin.”

 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memotret Kohesi Sosial Kliwonan Wonoyoso dari Sudut Pandang Individualisme

             Pagi hari. Waktu paling umum bagi sebagian besar masyarakat kelas pekerja untuk berangkat bekerja. Pun juga waktu paling umum untuk berangkat sekolah atau kuliah. Akan tetapi pengalaman berangkat bekerja atau sekolah & kuliah ini akan terasa berbeda jika harus melewati rute Jalan Raya  Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut di hari Jumat Kliwon. Ada pemandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya, yakni kerumunan pedagang jajan, pakaian, dan lain-lainnya berjejer di pinggir jalan sepanjang Jalan Raya Kertijayan hingga Jalan Raya Sapugarut.             “Kliwonan” atau “Pasar Kliwon” begitu warga setempat menyebutnya. Merupakan semacam tradisi spiritual yang sudah dilestarikan warga Desa Wonoyoso dan sekitarnya sejak lama sekali. Pusat tradisi ini sebenarnya berada pada Masjid Jami’ Wonoyoso yang konon katanya memiliki sumur keramat—jika mandi atau mi...

Satu Gagang Sapu

       Sabtu, 11 April 2026. Saya bangun tidur dengan perasaan lega karena baru saja menuntaskan satu tanggung jawab. Ketika mata melek, tak ada perasaan berat seperti beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi perasaan tersebut ternyata tidak bertahan lama--langsung terusik oleh postingan status whatsapp salah satu teman di kampus yang baru saja dilamar oleh kekasihnya.    Bukan, bukan berarti saya cemburu karena teman saya dilamar. Pun kalau bisa dikata cemburu, konteks cemburunya bukan cemburu secara romantis, saya lebih memilih cemburu secara finansial. Sebab, secara praktis, mereka yang telah berani menapaki jalan menuju pernikahan artinya sudah bisa dikatakan mapan (walaupun tentu tidak sepenuhnya) baik secara finansial maupun mental dan aspek lainnya.      Saya mbatin sejenak, "Memang ya, bangun tidur itu harusnya langsung solat subuh habis itu olahraga atau baca buku, bukan malah buka medsos." Baru satu postingan saja sudah bikin saya mbat...

Alienasi dan Diskriminasi terhadap Mahasiswa Internasional

              Minggu sore, 12 Juli 2026. Saya baru saja pulang dari Stadion Hoegeng Pekalongan bersama Haroon setelah berlatih passing sepakbola. Haroon adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa internasional di UIN Gusdur yang berteman dengan saya. Pertama kali saya bertemu Haroon 28 Januari 2026, waktu itu Humas UIN Gusdur membutuhkan talent untuk video promosi kampus tentang keberadaan mahasiswa internasional di UIN Gusdur. Intinya video tersebut bermaksud memberitahu khalayak bahwa di kampus kami ada mahasiswa internasional yang berkuliah di dalamnya. Kebetulan sekali pada bulan Oktober 2025 saya sempat menjadi talent untuk video profil kampus, waktu itu Bu Afina Fahru yang menggandeng saya ke dalam projek tersebut, sebab beliau tahu saya menjadi aktor utama dalam film “Evakuasi” yang merupakan projek UAS dalam mata kuliah Sinematografi & Dramaturgi yang diampu beliau. Jadi saya ditarik untuk projek Humas ini ka...