Langsung ke konten utama

Alienasi dan Diskriminasi terhadap Mahasiswa Internasional

 

            Minggu sore, 12 Juli 2026. Saya baru saja pulang dari Stadion Hoegeng Pekalongan bersama Haroon setelah berlatih passing sepakbola. Haroon adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa internasional di UIN Gusdur yang berteman dengan saya. Pertama kali saya bertemu Haroon 28 Januari 2026, waktu itu Humas UIN Gusdur membutuhkan talent untuk video promosi kampus tentang keberadaan mahasiswa internasional di UIN Gusdur. Intinya video tersebut bermaksud memberitahu khalayak bahwa di kampus kami ada mahasiswa internasional yang berkuliah di dalamnya. Kebetulan sekali pada bulan Oktober 2025 saya sempat menjadi talent untuk video profil kampus, waktu itu Bu Afina Fahru yang menggandeng saya ke dalam projek tersebut, sebab beliau tahu saya menjadi aktor utama dalam film “Evakuasi” yang merupakan projek UAS dalam mata kuliah Sinematografi & Dramaturgi yang diampu beliau. Jadi saya ditarik untuk projek Humas ini karena pengalaman tersebut.

            Singkat cerita saya bertemu dengan Haroon dan Mochtar. Haroon berasal dari Nigeria, sama seperti Idris Sanusi yang pernah saya ceritakan di bab “Internasionalisasi Kampus”, Oktober 2024 silam, sedangkan Mochtar berasal dari Afghanistan. Sebelum take video kami berkenalan terlebih dahulu dan mengobrol banyak hal hingga akhirnya kami saling kenal satu sama lain dan bahkan Idul Fitri kemarin saya sempat bersilaturahmi ke asrama mereka di Kampus Pascasarjana UIN Gusdur, Panjang, Pekalongan.

            Bisa dikatakan saya cukup dekat dengan Haroon, sebab saya merasa interaksi dengannya tidak canggung dan tidak ada gap yang berarti seperti interaksi saya dengan Idris Sanusi. Wallahi, Idris Sanusi itu orangnya cerdas sekali, bahkan saya dan kawan saya, Ghozali, melabeli beliau dengan sebutan “Elit Global” sebab beliau seringkali diwawancarai oleh koran Aljazair atau apa pun itu tentang isu-isu politik dan militer. Sanusi juga aktif menulis di beberapa media terkait isu tersebut. Mau ngejar topiknya susah men. Belum lagi ada language barrier di antara kami, artinya untuk memahami percakapan biasa saja saya perlu usaha dua kali lipat karena perlu mengaktifkan mode “google translate” di otak saya, lah ini harus mengejar topic pembicaraan yang begitu tinggi bobotnya. Saya tidak mampu. Makanya ketika berinteraksi dengan Haroon yang notabene hanya membicarakan hal-hal biasa seperti hobinya yang sama dengan saya, yaitu bermain sepakbola, bermain Playstation, dan hal-hal lain yang masih mudah untuk dikejar oleh otak kecil saya. Adapun Mochtar, dia sudah lancar berbahasa Indonesia jadi tidak ada masalah ketika berinteraksi dengannya. Mochtar ini sekamar dengan Haroon, jadi apabila hendak menemui Haroon di asrama, otomatis bertemu Mochtar.

            Dalam beberapa kesempatan Haroon sering bertanya kepada saya tentang budaya dan adat istiadat warga Indonesia, khususnya Pekalongan. Bahkan sampai ke hal paling sederhana seperti bahasa gaul, atau bahkan bahasa kasar apa yang sering digunakan warga—untuk berjaga-jaga siapa tahu suatu saat ia menemui hal tersebut. Yang paling ia sering tanyakan adalah kenapa saya sering menjadi pusat perhatian di sini? Adakah yang spesial? Atau justru sebaliknya, adakah yang aneh dari saya? Tidak terkecuali hari ini, Minggu 12 Juli 2026, ia kembali menanyakan hal tersebut.

            Saya sendiri bisa mengerti apa yang dimaksud Haroon, lha wong ketika Haroon sedang bersama saya, seringkali saya menyaksikan beberapa orang yang memandanginya dengan tatapan yang tidak biasa. Seperti tatapan penasaran, akan tetapi dalam nada yang agak merendahkan (ah, anda tahu maksud saya). Tidak jarang beberapa dari mereka menertawakan Haroon, mungkin saja karena ia memiliki warna kulit yang berbeda, atau apa? Saya kurang tahu. Namun, sore ini Haroon menceritakannya untuk pertama kali. Ia pernah mendapat perlakuan rasis dari teman sekelasnya yang menyebutnya berasal dari Papua (tanpa bermakud merendahkan ras orang Papua, kita semua tahu maksud sebutan itu mengarah ke mana), ada yang bahkan saking ndeso-nya bertanya dengan nada lugu, “Apakah kamu Islam?” Bruh…

            Ini begitu menyedihkan. Miris. Ndesone wes ora ketulung. Betapa kita begitu ndeso menyaksikan orang yang rasnya berbeda, warna kulitnya berbeda.

            “Saya bingung dengan orang-orang, Zim. Pernah suatu ketika saya tersenyum ramah kepada mahasiswa, tapi dia malah menatap saya tajam dan tidak membalas senyuman saya. Saya hanya berusaha menjadi ramah di tempat baru ini,” tutur Haroon ketika sedang menunggu antrean potong rambut usai pulang dari Stadion bersama saya.

            “Kau tahu? Bahkan teman lain seperti Aliyu ketika pertama kali masuk kelas, ia ditertawakan satu kelas karena kulitnya yang hitam.”

            “Omaga…” saya menepuk jidat.

            Belum lagi soal bahasa. Haroon tidak sejago Mochtar. Ia hanya mengetahui beberapa kata dalam Bahasa Indonesia, jadi ia cukup kesulitan untuk berinteraksi dengan orang-orang. Menurutnya Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang cukup sulit untuk dipelajari, ya meskipun selama sepuluh bulan ia tinggal di sini, ia telah mengerti beberapa kalimat dalam bahasa Indonesia yang sering digunakan dalam interaksi sehari-hari. Ia sudah bisa mengerti apa yang dibicarakan orang akan tetapi masih kesulitan untuk bisa mengimbangi percakapan berbahasa Indonesia. Makanya ia sangat senang ketika ada yang mau berteman dengannya, mau berbaur dengannya, dan mengajarinya bahasa Indonesia. Setidaknya itu yang sedang saya coba lakukan sedikit demi sedikit.

            Haroon bahkan sudah menulis keresahannya ini dalam blogspot pribadinya, ia juga menceritakan “alienasi” dan “diskriminasi” yang ia alami kepada salah satu dosen.

            Dari sini saya dengan kacamata sok akademis, mencoba menanggapi dari sudut pandang sosiologi. Apa yang dialami Haroon adalah bukti bahwa kesadaran multikultural sebagian besar warga Indonesia, khususnya domisili Pekalongan, masih rendah. Masih terdapat stereotip terhadap “orang asing” yang hidup di lingkungannya. Rendahnya kesadaran ini kemudian melahirkan perlakuan-perlakuan seperti sudah ditulis di atas, yang mengganggu kenyamanan Haroon, setidaknya yaitu: menatap dengan penuh rasa penasaran, bahkan tidak jarang menertawakan; atau yang lainnya. Pun dari sudut pandang lain, ada hal yang memang bukan sepenuhnya salah masyarakat, bukan pula salah Haroon, yaitu language barrier atau kesenjangan berbahasa. Tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa adalah alat utama komunikasi, artinya jika kita tidak memiliki alat yang sama dalam komunikasi tersebut, maka tidak aka nada yang namanya efektifitas komunikasi. Dalam hal ini Haroon memang perlu belajar bahasa Indonesia lebih intens dan beradaptasi dengan budaya lokal.

            “Kata dosen yang saya ceritai masalah saya, saya harus fokus pada hal baik saja, hal buruk seperti ini tidak boleh mengganggu saya,” tambah Haroon.

            “Nah, itu kamu sudah nemu solusinya, Bro. Ngapain bingung? Udahlah gak usah bingung-bingung, kau punya teman kek aku yang bisa diajak diskusi soal bahasa Indonesia, budaya Indonesia, apa aja deh. Aman pokoknya.”

Pertanyaan pun tertuju pada kamu yang membaca tulisan ini, bisakah kamu menjadi satu di antara banyak orang yang membuka kesadarannya akan hal secam ini?

            Tulisan Haroon bisa kamu baca di sini: harblogger

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memotret Kohesi Sosial Kliwonan Wonoyoso dari Sudut Pandang Individualisme

             Pagi hari. Waktu paling umum bagi sebagian besar masyarakat kelas pekerja untuk berangkat bekerja. Pun juga waktu paling umum untuk berangkat sekolah atau kuliah. Akan tetapi pengalaman berangkat bekerja atau sekolah & kuliah ini akan terasa berbeda jika harus melewati rute Jalan Raya  Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut di hari Jumat Kliwon. Ada pemandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya, yakni kerumunan pedagang jajan, pakaian, dan lain-lainnya berjejer di pinggir jalan sepanjang Jalan Raya Kertijayan hingga Jalan Raya Sapugarut.             “Kliwonan” atau “Pasar Kliwon” begitu warga setempat menyebutnya. Merupakan semacam tradisi spiritual yang sudah dilestarikan warga Desa Wonoyoso dan sekitarnya sejak lama sekali. Pusat tradisi ini sebenarnya berada pada Masjid Jami’ Wonoyoso yang konon katanya memiliki sumur keramat—jika mandi atau mi...

Satu Gagang Sapu

       Sabtu, 11 April 2026. Saya bangun tidur dengan perasaan lega karena baru saja menuntaskan satu tanggung jawab. Ketika mata melek, tak ada perasaan berat seperti beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi perasaan tersebut ternyata tidak bertahan lama--langsung terusik oleh postingan status whatsapp salah satu teman di kampus yang baru saja dilamar oleh kekasihnya.    Bukan, bukan berarti saya cemburu karena teman saya dilamar. Pun kalau bisa dikata cemburu, konteks cemburunya bukan cemburu secara romantis, saya lebih memilih cemburu secara finansial. Sebab, secara praktis, mereka yang telah berani menapaki jalan menuju pernikahan artinya sudah bisa dikatakan mapan (walaupun tentu tidak sepenuhnya) baik secara finansial maupun mental dan aspek lainnya.      Saya mbatin sejenak, "Memang ya, bangun tidur itu harusnya langsung solat subuh habis itu olahraga atau baca buku, bukan malah buka medsos." Baru satu postingan saja sudah bikin saya mbat...

Review Film Civil War

  Pernah kebayang gak seorang Pablo Escobar dan bini-nya Spider-Man, Mary Jane, collab dalam satu kumpulan adegan menjadi jurnalis yang meliput perang? Yap, kamu tidak salah dengar. Kumpulan adegan tersebut merupakan film berjudul “Civil War” yang rilis tahun 2024 lalu. Disutradarai oleh Alex Garland dan diprakarsai oleh studio A24 yang konon terkenal dengan film-film bertema disturbing dan absurd. Film ini berkisah tentang jurnalis fotografer Bernama Lee Smith, diperankan oleh Kirsten Dunst yang terkenal karena perannya sebagai Mary Jane dalam trilogi Spider-Man-nya Sam Raimi, dan Joel yang diperankan oleh Wagner Moura yang juga dikenal luas karena perannya sebagai Pablo Escobar dalam serial Narcos tayang di Netflix. Film ini berlatar di Amerika Serikat yang sedang mengalami goncangan politik dikarenakan Presiden mereka telah memasuki periode ketiga dan konon menjadi pemimpin yang dictator. Hal ini kemudian memicu ketidaksetujuan banyak pihak, sehingga melahirkan gerakan separa...