Memotret Kohesi Sosial dari Sudut Pandang Individualisme

            Pagi hari. Waktu paling umum bagi sebagian besar masyarakat kelas pekerja untuk berangkat bekerja. Pun juga waktu paling umum untuk berangkat sekolah atau kuliah. Akan tetapi pengalaman berangkat bekerja atau sekolah & kuliah ini akan terasa berbeda jika harus melewati rute Jalan Raya  Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut di hari Jumat Kliwon. Ada pemandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya, yakni kerumunan pedagang jajan, pakaian, dan lain-lainnya berjejer di pinggir jalan sepanjang Jalan Raya Kertijayan hingga Jalan Raya Sapugarut.

            “Kliwonan” atau “Pasar Kliwon” begitu warga setempat menyebutnya. Merupakan semacam tradisi spiritual yang sudah dilestarikan warga Desa Wonoyoso dan sekitarnya sejak lama sekali. Pusat tradisi ini sebenarnya berada pada Masjid Jami’ Wonoyoso yang konon katanya memiliki sumur keramat—jika mandi atau minum air dari sumur tersebut akan mendapatkan keberkahan. Walhasil, karena ramainya masyarakat yang berbondong-bondong mengambil atau mandi air tersebut, mulai berdatanganlah para pedagang dari berbagai daerah untuk memanfaatkan kohesi sosial tersebut dalam rangka meraih keuntungan ekonomis.

Gambar 1: Interaksi pedagang dan pembeli di area sekitar Masjid Jami' Wonoyoso, Buaran, Pekalongan

            Kliwonan Wonoyoso ini sudah berlangsung puluhan tahun dan kian bertambah banyak pendatangnya, pun juga berdampak pada naiknya jumlah pedagang yang berjualan di sekitar area masjid. Semakin ramai artinya semakin sedikit tempat yang dapat dipakai. Maka untuk mengakali sedikitnya jumlah tempat yang tersedia, dilakukanlah ekspansi—artinya para pedagang ini membuka lapak tanpa harus dekat dengan area masjid. Beberapa ada yang membuka lapak di pinggir jalan.

Gambar 2. Beberapa anak kecil membeli Gulali

Gambar 3. Interaksi pedagang dan pembeli di area sekitar Masjid Jami' Wonoyoso, Buaran, Pekalongan

            Dari sudut pandang pengunjung kliwonan, ini jadi sebuah hal yang mengasyikkan, sebab dengan demikian artinya jajanan yang dapat diperoleh sangat bervariasi. Pun dengan hadirnya pedagang-pedagang pakaian, peralatan rumah tangga, dan lain-lain. Akan tetapi akan sangat berbeda pengalamannya jika kita menggunakan kacamata seseorang yang harus melewati rute Jalan Raya Kertijayan – Jalan Raya Sapugarut untuk berangkat kerja atau sekolah dan kuliah. Kohesi sosial yang tadi dimaksudkan untuk membawa masyarakat lebih dekat pada tradisi leluhur berubah konotasinya menjadi sesuatu yang agak mengesalkan. Lebih-lebih di awal hari, di mana kita perlu membangun positive vibe agar sepanjang hari dapat dijalani tanpa keluhan.

Gambar 4. Potret keramaian interaksi pedagang-pembeli versus pengguna jalan di Jalan Raya Kertijayan - Wonoyoso - Sapugarut

            Kehadiran pedagang-pedagang yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan ini menyebabkan fungsi jalan menjadi sedikit teralihkan. Alih-alih digunakan untuk kendaraan berlalu-lalang, jalanan justru jadi tempat mengantre para pembeli yang tidak sabar mendapatkan barang yang ingin dibeli dari pedagang. Ini menimbulkan “kemacetan mikro” di rute Kertijayan-Sapugarut, yang untuk menembusnya perlu kesabaran tingkat tinggi. 

                “Kliwonan” ini memang telah menciptakan banyak dampak baik bagi masyarakat sekitar, di antaranya adalah munculnya kohesi sosial yang bersifat spiritualis-tradisionalis—artinya masyarakat masih mau melestarikan tradisi spiritual setempat di tengah zaman yang kian modern dan ilmu pengetahuan serta teknologi semakin canggih, kemudian peningkatan pendapatan ekonomis, tentu saja dengan adanya tradisi kliwonan yang menghadirkan keramaian berjalan beriringan dengan aktifitas ekonomi warga sekitar yang membuka lapak dagangan. Akan tetapi, sebandingkah semua manfaat tersebut dengan perasaan tidak menyenangkan bagi pengguna jalan yang harus bergelut dengan keramaian yang tidak mereka inginkan? Ini perlu menjadi catatan bagi masing-masing kita yang terlibat dalam kohesi sosial tersebut.

Gambar 5. Seorang Wanita Tua mencoba menembus ramainya jalan yang dipenuhi pengunjung Kliwonan

Gambar 6. Pemotor berhenti di depan pedagang yang berjualan di pinggir jalan


Gambar 7. Keramaian di jalanan yang penuh dengan pemotor dan pejalan kaki, baik pengunjung kliwonan maupun non pengunjung kliwonan

Gambar 8. Potret Jalan Raya Wonoyoso

Gambar 9. Sisi lain jalan raya Wonoyoso





Komentar

Postingan Populer