Jessica dan Perayaan Mati Rasa, Bagian Kedua
“Masa
sih, nggak bisa? Dulu temenku satu kelompok waktu ospek aja bisa.”
Jessica menyanggah ketidaksanggupan gue untuk “jadi biasa” saat berada di
dekatnya.
“Iya,
nggak bisa, aku nggak bisa,” kekeh gue.
Gue
nggak mengira kalau kalimat tersebut bakalan menjadi boomerang bagi gue
di kemudian hari. Gue kira itu hanyalah sebuah kisah yang sudah berlalu, dan
memang sudah berlalu nyatanya, karena ada keterangan “dulu temenku aja bisa”.
Yang gue tangkap adalah pernah ada seseorang yang juga nembak Jessica, lalu ia
tolak, kemudian jadi teman biasa. Gue ulangi, jadi teman biasa. Sayangnya
tidak…
Maka,
dimulailah Perayaan Mati Rasa Yang Sesungguhnya…
23 Oktober 2023 silam, buset pake kronologi Sejarah
lagi gue. Saat itu sedang berlangsung mata kuliah PPKN, loh mata kuliah PPKN
lagi? Wkwk. Kebetulan waktu itu gue duduk di kursi pojok sebelah kiri (paling
kiri) di barisan kedua. Lalu, gue lihat Jessica duduk di kursi di barisan
ketiga, di tengah ruangan, kursi sebelahnya kosong. Gue mikir selama beberapa
menit.
“Ini
kesempatan gue, ini kesempatan gue, ini kesempatan gue.” Gue mengulangi mantra
tersebut sampai ribuan kali.
“Ah,
jangan, udah di sini aja, diem.” Sisi lain diri gue menghentikan gue. Begitu
terus gue berdebat dengan diri sendiri selama beberapa menit yang terasa
seperti beberapa abad. Dan akhirnya, gue memutuskan untuk nekat pindah tempat
duduk. Gue pindah ke sebelah Jesssica.
Krengkat…
Gubrak. Gue berisik menabraki kursi-kursi di sekeliling kursi yang gue tuju
tersebut. Faktanya, keseimbangan tubuh berbanding lurus dengan kondisi batin,
kenapa gue katakan begini? Ya, karena ketika batin gue sedang salting,
keseimbangan tubuh gue hilang, jadi gue bisa mengalami jatuh (entah kenapa ini
terdengar aneh), menabrak kursi, dan berbagai hal memalukan lainnya.
“Hai…,”
sapa gue…,”boleh duduk di sini?”
“Iya,
boleh,” responnya.
Gue
duduk. Rasanya gue pengen lompat dari lantai empat, akhirnya, salah satu hal
yang gue impikan belakangan ini bisa terwujud: duduk di kursi samping Jessica.
Gue senang waktu itu. Kami sesekali mengobrol ke sana ke mari, mulai dari tugas
sampai ke membicarakan presentasi yang sedang dilakukan di depan kelas.
“Sesi
tanya jawab, tuh, biasanya kamu nanya, nanya gih,” suruh Jessica.
“Boleh
aja,” jawab gue. Sontak gue mengacungkan tangan, Sidqi, selaku moderator
menunjuk gue, “Silakan, Azim, pertanyaannya.”
Momen
tersebut berlalu begitu cepat. Gue bertanya. Pertanyaan dijawab. Gue nggak
puas, seperti biasanya, kemudian Jessica menyuruh gue berhenti. Kasihan dengan
mereka katanya. Lalu, sebuah ketidaksengajaan itu terjadi.
Mata
gue secara tak sengaja tiba-tiba meluncur ke arah HP Jessica. Gue melihat
“sesuatu” yang nantinya bakal menjadi Pemukul Besar bagi gue. Iya…
sebuah roomchat dengan nama kontak yang diberi emoticon. Entah siapa itu.
Cowok? Atau cewek? Mari kita tanyakan pada Vivi atau Alfia.
“Itu…
teman satu kelompoknya, Zim.”
“Oh…”
Benar
‘kan? Sebuah boomerang memukul gue dengan keras. Bagaimana bisa gue
nggak ngeh dengan perkataan Jessica waktu itu?
“Masa
sih, nggak bisa? Dulu temenku satu kelompok waktu ospek aja bisa.”
Gue
dilema. Sekarang gue berada di jurang antara mengapa dan bagaimana. Mengapa;
mengapa ini bisa terjadi? Bagaimana; bagaimana caranya gue menyikapi ini semua?
God damn it! Gue menurunkan perasaan lagi. Mencoba mendekati fase sadar diri.
Sedikit demi sedikit gue mencoba melepaskan perasaan ini, namun…
Dua
hari kemudian Jessica yang duduk di sebelah gue. Lagi dan lagi, gue dipaksa
untuk tidak berpaling meski hati gue sudah mantap untuk berpaling. Gue mencoba
untuk tidak mengajaknya mengobrol. Gue diam. Selain karena tidak mau mengajak
dia mengobrol, juga karena saat ini sedang berlangsung mata kuliah Ilmu
Tasawuf. Gue nggak mau bikin pergerakan yang terlalu signifikan. If you know
what I mean, wkwk.
Sebaliknya,
Jessica justru yang mengajak ngobrol. Ketika sedang menunggu dosen masuk kelas,
gue memainkan E-Football. Jessica memulai obrolan dari situ.
“Kamu
lagi main game apa?” tanyanya.
“Game
bola,” jawab gue sok dingin.
Entahlah.
Jessica seperti punya kekuatan magis untuk menghancurkan suasana dingin yang
sedang coba gue ciptakan di sini. Gue tersihir oleh obrolannya. Bahkan
tidak hanya sekadar mengobrol, kami juga berbagi catatan.
“Nih,
lihat catatanku kalo ketinggalan,” tawar gue sambil menyodorkan buku.
Apa
benar gue sesayang ini dengan Jessica?
Lagi-lagi ketika gue ingin menjauh, semesta seperti
menarik tubuh gue sekencang-kencangnya untuk kembali. Kembali memperjuangkan
cinta gue, tentu saja dengan terseok-seok. Bahkan keesokan harinya, sesuatu
yang sangat personal, membuat gue kian sulit menjauhkan diri dari doi.
Saat
itu gue sedang menulis dialog tugas mata kuliah Bahasa Inggris Dasar, gue
bersama Egi, Fadli, dan masih banyak kawan-kawan kelas A lainnya juga berada di
perpusatakaan. Ketika Egi dan Dafa memutuskan untuk meninggalkan perpustakaan
untuk mencari sesuap nasi (buset puitis), di situlah Alfia dan Jessica datang.
Terus terang, gue lebih tenang ketika Jessica bersama Alfia atau Vivi, atau
paling tidak siapa pun di antara teman satu gengnya, intinya gue nggak sanggup
kalau harus beradu muka dengan Jessica seorang, gue bakalan salting brutal.
Kami
mengobrol. Berdialog membahas apa saja. Hingga Alfia bercerita tentang
keseharian Jessica di kost yang kadang mengkhawatirkan dirinya dan teman satu
gengnya. Gue cuma bisa menanggapi dengan senyum kecil dan kadang dihiasi secuil
tawa. Iya, gue Jaim. Kalau ngobrol biasa dengan Alfia bisa saja gue sudah
tertawa sambil jungkir balik, lalu melakukan double take three time dan
tolak peluru secara bersamaan. Tolong jangan dibayangkan jika lo nggak mau
epilepsi mendadak.
Tiba-tiba
HP Alfia berbunyi. Sebuah telepon darurat memanggilnya. Nana di ujung sana. Dia
baru saja kena tilang polisi di daerah Gemek. Rumitnya lagi, Nana kena tilang
saat menggunakan sepeda motor Jessica. Damn. Alfia dan Jessica memutuskan untuk
menghampiri Nana dan membawakan STNK milik Jessica, setidaknya itu adalah
satu-satunya hal yang bisa dilakukan.
“Zim,
gue pinjem helm lo boleh nggak?” tanya Alfia.
“Boleh,
bentar gue ambilin.” Gue langsung ikut tanggap darurat. Bagaikan anggota
Basarnas, tapi masih magang. Huft.
“Zali,
pinjem punya lo juga.” Zali yang sedang mengobrol dengan gue pun tak luput dari
adegan pembegalan helm tersebut.
Jessica kesulitan mengaitkan tali
helm gue yang ruwet. Gue langsung turun tangan. Tentu saja dengan tampang sok
cool, gue mengaitkan helm tersebut di kepala Jessica serta merapikannya. Terus
terang, gue benar-benar pengen loncat ke lantai 4 saat hal tersebut terjadi. Hahaha.
Satu lagi, pemaksaan untuk terus berjuang.
Tapi,
sayangnya gue harus menyudahi semuanya!
28 – 29 Oktober kemarin adalah hari di mana HMPS KPI
mengadakan acara Taaruf Komunikasi, sebut saja ini semacam kegiatan kaderisasi
yang sudah pernah gue bahas “kekampretannya” di bab “Hal Terkampret Dalam
Kaderisasi”. Iya, intinya gitu. Tentu saja gue mengikuti acara ini. Ya, karena
wajib… Di samping karena wajib, gue juga berpikir bahwa HMPS ini satu-satunya
tempat yang bisa menampung kader gila seperti gue, lo tahu lah kalau gue sempat
ditolak sama instansi sebelah (baca bab Diary Mahasiswa Kupu-kupu).
Gue
antusias mengikuti event ini, kebetulan juga gue satu kelompok sama tiga teman sekelas
gue, jadi gue nggak perlu terlalu “sok memperkenalkan diri” lagi. Mereka adalah
Zali, Vivi, dan Kaka (ini cewek ya, jangan lo bayangin Kaka ini adalah titisan
Kaka pemain sepakbola Brazil). Juga ada beberapa kawan dari kelas sebelah yang sayangnya
nggak semua dari mereka bisa gue kenali, iya gue pelupa dan bego soalnya.
Panping
kami, Wahyu, atau yang biasa kami juluki sebagai wong wagu, menunjuk gue jadi
ketua kelompok. Ini bukan berarti gue jadi pemimpin, gue menafsirkannya lain;
pentas seni dan yel-yel yang bikin gue. Dan benar saja, kedua tugas tersebut langsung
menampar muka gue sekeras-kerasnya. Untung saja gue masih punya cadangan
konsep-konsep absurd di Local Disk F otak gue. Gue langsung mengaksesnya. Lalu,
jadilah sebuah yel-yel absurd dan pensi yang absurd pula.
Acara
berlangsung lancar-lancar saja. Tidak ada hal yang membuat gue kesal (tentu
saja kesal dalam artian serius) seperti pada kegiatan kaderisasi pada umumnya. Walaupun
sebenarnya ada sebuah game yang menguras emosi, tapi kan ini hanya permainan?
Pikir gue begitu. Begitupun pentas seni yang sudah gue rancang. Lancar jaya dan
membuat ratusan orang berbahagia, kyaa! Hingga, suatu hal yang gue takutkan terjadi.
Gue
menyapa Vivi setelah sesi senam pagi yang lumayan menguras tenaga.
“Vi, ada kabar buruk,” kata gue sambil memasang muka misterius.
“Kabar buruk apaan, Zim?” tanya Vivi penasaran.
“Kayaknya gue suka seseorang deh, Vi,” jujur gue.
“Masa? Serius? Siapa?” tanpa basa-basi, Vivi langsung
menyerang dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
“Ngga ah, gue nggak mau bilang. Ntar aja gue cari tahu
dulu,” elak gue.
“LO TUH NIAT CERITA NGGA SI SEBENARNYA,” marah Vivi, sekarang
dia berubah menjadi Hulk memakai kostum Iron-Man.
“Sebenarnya ada yang mau gue omongin juga sih sama lo,
Zim. Soal cowok yang deket sama Jessica yang kemarin lo nanya ke gue,”
sambungnya, sekarang justru Vivi yang bikin gue penasaran.
“SIAPA, VI? BURUAN SPILL!” sekarang gue juga ikutan
berubah jadi Hulk, bedanya gue memakai kostum Spider-Man.
“Ya elo dulu dong, tadi lo ngomong apa? Lo suka sama
siapa? Cepet lo spill dulu.”
Di siang hari yang panas tersebut, pasca melakukan
penjelajahan alam, sebuah fakta yang mengandung duka berhasil
menjungkirbalikkan gue. Ternyata, selain badan yang Lelah dan kulit yang
terbakar, hati gue juga ikutan terbakar dan harus menyerah karena sudah terlalu
lelah. Seperti perjanjiannya, gue menyebutkan siapa cewek yang “tiba-tiba gue
sukai”, ditukar dengan informasi siapa nama cowok yang dekat dengan Jessica.
“Oke, cewek itu adalah Lala. Tapi, kayaknya dia udah deket cowok deh.” (tentu saja ini nama samaran).
“Loh, temen satu kelompok kita?” Vivi terkejut,
perlahan tubuh manusianya kembali.
“Ngga usah ngeles, buruan siapa cowoknya!” kesal gue.
“Irfan… temen satu kelompok kita juga.”
“Anjing.”
Satu per satu Vivi membuka semua fakta yang ada.
Menjadikannya sebagai sebuah kronologi rasa: sebuah fakta yang menghancurkan
asa, mengandung duka dan mengusir tawa. Tentu saja Vivi tidak langsung
jor-joran membuka semua ini. Satu persatu ia membukanya. Perlahan namun pasti…
“Mereka belakangan emang deket lagi, bahkan pas malem kita
pensi…”
“Ada apa?”
“Irfan ngasih jaket ke Jessica.”
“Oh… Untung gue udah tidur, jadi gue gak lihat.”
Fakta demi fakta Vivi ungkap. Pahit. Bak kopi kapal
api hitam. Panas. Bak air tremos yang baru saja dituang dari panci. Gue marah?
Untuk apa? Gue mengamuk? Untuk apa? Mendengar itu semua gue cuma bisa terduduk.
Lalu, perlahan kristal-kristal bening turun dari kedua mata gue. Gue menangis
sejadi-jadinya. Malam itu, malam Kamis tanggal 1 November. Hari di mana gue
benar-benar harus meresmikan pengunduran diri gue dari misi mendapatkan hati
Jessica. Gue sudah kalah. Hari itu gue tahu sesuatu: usaha akan kalah dengan
waktu. Silakan jika lo nggak setuju, lo bisa temuin gue dan langsung menyemprot
gue dengan dalil yang lebih sahih.
“Udah, kelarin… Kelarin nangisnya.” Mas Haikal dan Mas
Ikrom, teman kantor, mencoba menenangkan gue.
“Sheila, ambilin air putih, Shei!” perintah Mas
Haikal. Sheila bergegas mengambil air putih dan langsung memberikannya ke gue.
“Ada masalah apa kok tiba-tiba nangis?” Sheila
bertanya pada Afi.
“Gue juga nggak tahu, tiba-tiba dia nangis njir,”
jawab Afi.
Lebay? Alay? Berlebihan? Dramatis? Entahlah, terserah
apa kata netizen. Yang gue tahu menangis bukanlah tanda bahwa kita lemah,
melainkan tanda bahwa kita masih memiliki perasaan.
Malam itu Mas Haikal langsung mengevakuasi gue ke
rental PS terdekat, yaitu Tama Game. Ia juga mengajak Mas Ikrom dan Mas Huda,
para tukang obras andalan Pak Bos. Setidaknya malam itu gue berhasil dievakuasi
dari melakukan tindakan-tindakan yang bisa saja merugikan gue. Alfia dan Vivi
juga ikutan khawatir. Alfia langsung WhatsApp gue saat itu setelah mendengar
cerita dari Vivi yang baru saja bercerita ke gue. Hah? Gimana?
“Zim, lo jangan yang aneh-aneh, kita semua temen lo
ada di sini kok.”
Sampai tulisan pertama kemarin gue posting, gue
sendiri nggak tahu kenapa gue harus memberikan dia nama fiksi “Jessica”. Justru
Zali yang berhasil menemukan filosofi nama ini. Ia langsung menjabarkannya
begitu ketemu gue di kelas/
“Ini maksudnya dinamain Jessica itu analoginya karena
dia ngebunuh rasa lo ya? Sama kayak Jessica yang ngebunuh Mirna di kasus kopi
sianida jaman dulu?” ungkap Zali.
“Gue malah nggak ngerti, njir,” jawab gue enteng.
“Lohhhh, berarti gue menginspirasi elo dong!”
“Iya. Makasih.”
Ghozali benar. Jessica di sini bisa kita analogikan
seperti Jessica dalam kasus kematian Wayan Mirna Salihin. Konon katanya, Mirna
dibunuh oleh Jessica menggunakan sianida yang dimasukkan ke dalam minuman
Mirna. Namun, dalam pandangan gue, Jessica tidak bisa sepenuhnya dituduh sebagai
tersangka. Sebab, bukti-bukti yang dibawa ke pengadilan kurang kuat, dan ada
beberapa yang absurd menurut gue. Jessica justru bisa dianggap sebagai
korban dalam kasus ini. Nah, loh siapa dong pelaku sebenarnya? Entahlah,
wallahu a’lam.
Sama halnya dengan Jessica di sini, dia memang
bersalah karena telah membunuh rasa gue, dengan bilang nggak mau pacarana tapi
nyatanya dia memilih orang lain. Adilkah ini buat gue? Tidak. Namun, sebaliknya
Jessica justru adalah korban. Korban dari kisah cinta segitiga yang rumit. Yah…
Sudahlah… mau bagaimana lagi? Saat ini gue termenung di teras rumah sambil
memutar lagu yang pas dengan perasaan gue saat ini.
#Now Playing: Guyon Waton – Kok Iso Yo?
Dalam antrean:
Taxi – Hujan Kemarin
Geisha – Sementara Sendiri
Sheryl Sheinafia - Kedua Kalinya
Lomba Sihir – Semua Orang Pernah Sakit Hati
Lil Salmonela x Crygen - Ratna Anjink
Linkin Park - Shadow Of The Day
Merayakan Rasa Yang Telah Dibunuhnya...
Gue mencoba menyingkirkan hal-hal yang bisa membawa
ingatan gue kepadanya. Mulai dari menghapus foto-foto dan video yang di
dalamnya mengandung unsur Jessica. Bahkan, helm Grab yang biasa gue pakai juga
sudah gue singkirkan. Iya, helm yang tadi gue bahas. Gue tidak membuangnya,
hanya menyingkirkannya.
Gue meraih sebuah buku karya Wira Nagara yang berjudul "Distilasi Alkena", lagi,
membuka-bukanya, mencari kutipan yang pas dengan perasaan gue. Dan inilah yang
gue temukan:
Kita berada di bawah angkasa yang sama, tetapi
kenyataannya atmosfer kita jauh berbeda. Kaulah poros kenapa rinduku bisa
terisi, tetapi bukan aku yang kau jadikan alasan rasa berotasi. Aku termakan
delusi. Aku terlalu percaya janji.
Mimpi-mimpi kita sudah tak ada bedanya dengan dongeng
menjelang tidur. Aku tak mau berdebat lagi tentang hal-hal yang bisa membuat
dadaku semakin sesak dan harapku kian terbentur. Telah berulangkali aku
mengakui, aku menyukaimu tanpa alasan! Lalu, bagian mana lagi yang terus
menerus kau pertanyakan?!
Aku kalah.
Kau memilih jatuh dalam pelukan yang kau anggap mewah.
Kau pembohong.
Kau tak pernah sibuk. Hatimu yang tak pernah terketuk.
Kau pendusta.
Kau tak pernah susah mencinta. Hatimu saja yang masih
berkutat dengan sosok lama.
(Bagian terakhir sengaja gue modifikasi, karena
kutipan aslinya tentang sosok baru, sedangkan yang sedang gue hadapi adalah
sosok lama, haha).
Aku tak pernah menyesal akan keputusanmu memilihnya,
yang aku sesalkan adalah tiada sedetik pun kesempatan bagiku membuatmu bahagia.
Kesalahanku, menjadikanmu alasan segala rindu.
Bukan perih yang aku ratapi, tetapi pengertian tak
pernah kau beri. Sadarlah! Aku telah mencintaimu dengan terengah-engah,
mencibir oksigen dengan menjadikanmu satu-satunya udara yang aku izinkan
mengisi setiap rongga, menghempas darah dengan namamu yang mengalir membuat
jantungku tetap berirama.
Kesalahanku, tak pernah mencintai selain kamu.
damn, man.
BalasHapusdamn juga, man.
HapusBjiiirrrrrrr
BalasHapusbjurrrr
Hapus