Cowok Terganteng di FUAD
Brollll! Suara ledakan tersebut menandai akhir dari
ritual boker yang sedang gue lakukan di wc lantai 4 gedung FUAD. Gue kemudian
keluar dari wc dengan perasaan lega. Dan seperti biasa, gue keluar dari wc
dengan menenteng celana dan hanya memakai kolor dan kemeja. Tolong ini jangan
ditiru, selain ekstrem juga agak melanggar norma kesusilaan. Tapi, gue
melakukan hal ini bukannya tanpa sebuah alasan, tentu ada alasan yang mendasari tindakan gue memakai celana di depan wc ini. Kalau lo nggak pernah skip Pelajaran
Fiqih lo pasti sudah paham kenapa celana gue pakai di depan wc. Yep, gue takut celana
gue terkena najis. Simpel.
Biasanya, suasana sunyi-sunyi saja kalau gue sedang
ritual—sampai selesai ritual. Namun, hari ini ada yang berbeda. Sialnya, hal
tersebut terjadi. Gue sudah firasat ketika mau memasukkan kaki kanan ke lubang
celana. Iya… Seseorang masuk ke dalam toilet.
*Krengkettt….
Pintu toilet dibuka.
“…..”
“…..”
Mas-mas tersebut adalah mahasiswa kakak tingkat gue.
Pandangannya aneh banget melihat gue hanya berkolor di depan wc sambil
menenteng celana. Suasana jadi canggung. Gue pura-pura sedang tidak terjadi
apa-apa. Dan tampaknya Mas-mas tersebut juga berpikiran sama: sudah, jangan
terlalu dipikirkan.
Gue melanjutkan memakai celana. Kemudian lanjut
memakai sepatu. Sejurus gue melihat sepatu Mas-mas ini… Lalu membandingkannya
dengan sepatu gue, yang bahkan ini bukan sepatu gue, melainkan milik abang gue.
Miris.
“Buset… bening banget tuh sepatu,” gumam gue lirih.
Pandangan mata gue terseret ke atas, urut dari
sepatu-celana-baju-sampai ke rambut Mas-mas tersebut gue perhatikan dengan
saksama. Celananya berwarna krem, lagi-lagi, bening (maksudnya rapih, bersih,
dan wangi, nggak kayak punya gue yang biasa-biasa saja). Baju polo putih dan
rambut yang gaya potongannya mirip Alejandro Garnacho menambah kesan maskulin
dan elegan. Mas-mas tersebut kemudian mengeluarkan sebuah benda dari tasnya. Ia
kemudian menyemprotkan isi benda tersebut ke sekujur tubuhnya, buset wangi
banget parfumnya. Gue sampai pingsan dengan mata melotot selama beberapa detik.
Gue ingat. Beberapa menit sebelum masuk ke wc untuk
melakukan ritual boker, gue sempat ngaca di cermin toilet dan gue berkhayal
bahwasanya gue adalah cowok terganteng di Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah
atau yang biasa disingkat FUAD ini.
“Gileeee, ganteng banget gue. Walaupun tampang kek
pilus, tapi gue tetep yang terganteng deh di FUAD ini!” kata gue.
Cermin yang sedang gue gunakan untuk ngaca
tidak terima. Ia pun kabur meninggalkan toilet. Menyedihkan.
“Coba ngaca pake HP deh… FAK! INI SIAPA?” gue
kaget melihat muka gue yang terlihat mengenaskan di HP. Gue langsung
menutupnya.
Lalu… hal ini terjadi (mas-mas kating masuk ke
toilet). Khayalan gue tentang cowok terganteng nomor satu pun terpatahkan. Sebab,
Mas-mas ini, ganteng sekali (tolong jangan ditafsirkan yang aneh-aneh, ini gue
memang objektif menyebut masnya ganteng). Penampilannya juga mendukung; baju
rapi, bersih, badan wangi, celana dan sepatu cerah. Berbeda dengan penampilan
gue yang meskipun rapi namun gue selalu terlihat suram. Gue seperti seorang primate
yang baru saja keluar dari kebun Binatang dan menginvasi kampus. Sungguh miris.
“Kayaknya Mas-mas yang satu ini lebih cocok menyandang
gelar ‘cowok terganteng di fuad’, deh, ketimbang gue,” gumam gue lagi, masih
lirih.
*Krengket….
*Grebbbb
Pintu dibuka, kemudian ditutup kembali. Mas-mas
tersebut pergi meninggalkan gue sendiri di toilet dengan khayalan absurd yang
masih beterbangan di kepala. Lalu, statement absurd itu pun muncul.
“Ah, nggak apa-apa… Kalau dia nomor satu, berarti gue
nomor duanya.”
Komentar
Posting Komentar