Malam Evaluasi oleh Wapres

Gue dan Mas Haikal baru saja selesai menghadiri acara pelantikan pengurus Petanesia se-Pekalongan Raya di Gedung Kanzus Sholawat. Dan saat ini, kami telah menginjakkan kaki di sebuah kafe di exit tol Batang-Pekalongan (kalau salah tolong dikoreksi, jangan dikorekin). Di salah satu sudut dindingnya tertulis “Kalmatera”. Gue langsung ngeh kalau kafe ini adalah kafe yang sama ketika Haekal Sohib gue dulu ngajak gue dan Hillan nongkrong pasca gue putus dari Yasmin akhir tahun lalu. Sungguh sebuah ironi yang unik, kali ini gue sama-sama berada di akhir tahun, dan gue diajak oleh seseorang yang bernama sama (meskipun beda E dan I, tapi pengucapannya disamaratakan coy), dan di tempat yang sama. What an ironic!

“Kita mau ketemu orang pintar siapa sih, Mas?” tanya gue ke Mas Haikal begitu kami sampai di Kafe tersebut.

“Gus Rizal, Wakil Presiden DEMA,” jawabnya.

“HAH? SERIUS?” gue terkejut sambil kayang.

“Pak… Halo, Pak. Apa kabar?” Mas Haikal menyapa Bapak-bapak penjaga Kafe yang gue lupa tanya siapa nama beliau.

Usai basa-basi, kami memesan minuman. Mas Haikal dengan Kopi Lelet, sedangkan gue Strawberry Squash, terdengar cemen bukan? Iya. Sudah begitu stroberi kan warnanya pink, nggak laki banget. Tapi, gue nggak bisa bohong, minuman rasa stroberi, apa pun jenisnya itu enak banget. Mulai dari susu stroberi, jus stoberi, sampai ke bubur ayam stroberi, semua itu enak!

“Gue bantuin bapaknya dulu ya, Boy!” ujar Mas Haikal.

“Iya, gue tunggu di sini aja,” respon gue.

Gue membuka handphone. Play Hindia album Lagipula Hidup Akan Berakhir. Shhhiiuuufffff…. Suasana jadi syahdu. Tak berselang lama, Mas Haikal datang dengan Kopi Lelet dan Strawberry Squash sudah di genggamannya (nggak usah dibayangin beneran di dalam genggaman, ini metafora).

Dan akhirnya setelah menunggu sekitar setengah jam sambil mengobrol tentang isu-isu terkini seputar kampus, “Orang Pintar” yang Mas Haikal janjikan ke gue untuk dipertemukan ke gue pun datang. “Orang Pintar” ini bertubuh tinggi kurus, berambut gondrong layaknya seorang anak indie sejati, dan gue tebak setelah ini dia akan mengeluarkan gitar sambil bernyanyi, “Deeeeee-ngan….MUUUUU.”

Oke, gue sudah mulai ngaco.

 “Assalamualaikum, maaf nunggunya lama ya, hehe,” sapa Gus Rizal.

“Enggak kok, santai aja,” jawab Mas Haikal.

“Ada rindu apa yang membawamu kemari, Kawan?” Gus Rizal, seperti perkiraan gue, benar saja dia adalah seorang yang lumayan “anak indie”, terbukti dengan kalimat barusan.

“Ada rindu yang tak kunjung sampai kepada pemiliknya,” jawab gue dengan pede dan posisi tubuh masih rebahan. Tolong jangan ditiru, karena ini kurang sopan.

Gus Rizal awalnya hanya mengobrol seputar kisah cintanya, mulai yang berhasil namun gagal, sampai yang benar-benar gagal. Gue sesekali menanggapi, ikut nimbrung biar nggak dicap sebagai orang kuper atau yang lebih ngenes lagi yaitu nolep.

“Nah, Gus, ini yang ada di depan kita juga lagi ada problem percintaan nih.” Mas Haikal akhirnya membuka segmen bagi gue untuk bercerita mengenai kisah percintaan gue yang rungkad.

“Namanya siapa tadi?” Gus Rizal memastikan.

“Azim.”

“Azim… Oke… Gimana, Zim. Problem seperti apa yang kamu hadapi?”

“Hmph…” Gue menarik napas, kemudian mulai bercerita.

Kurang lebih kami membahas persoalan Jessica dari pukul sebelas malam hingga pukul setengah tiga. Setidaknya ada beberapa poin yang menjadi evaluasi buat diri gue. So, di bab ini gue akan mencaci diri gue sendiri. Anggap saja gue sudah gila.

-          Evaluasi pertama: gue terburu-buru menembak Jessica. Jelas banget ya. Gue nggak memakai metode pendekatan yang baik dan benar, alhasil beginilah.

-          Evaluasi kedua: gue terlalu berharap dan terlanjur baper duluan. Ini peringatan ya buat para cowok, jangan langsung baper sama cewek apalagi cuma dari senyumnya, jangan! Cewek berperilaku baik ke lo bukan berarti dia naksir sama lo, bisa jadi dia memang baik karena sudah ditanamkan nilai-nilai kebaikan sejak dini, catat!

-          Evaluasi ketiga: gue kurang gercep. Dalam hal apa pun, tidak terkecuali urusan percintaan, harus banget di-gercepin. Gus Rizal di sini juga memberikan gue sebuah teori, gue menamakannya sebagai teori ACT (singkatan dari Aksi Cepat Tanggap), teori ini menekankan act of service sebagai senjata utama untuk mendapatkan hati cewek.

Uniknya, ketika sedang membahas Teori Aksi Cepat Tanggap ini, hujan tiba-tiba mengguyur area sekitaran kafe ini. Sontak saja Sang Bapak Penjaga Kafe berlarian menyelamatkan karpet-karpet lesehan yang ada di seberang tempat duduk kami bertiga. Gus Rizal seketika berkata, “AKSI CEPAT TANGGAP!” Kami pun langsung berlarian ikut membantu mengamankan kafe dari serbuan hujan, biar nggak runyam.

Obrolan demi obrolan kembali berlanjut. Dan bukan cowok Namanya kalau tidak membahas hal-hal berbau elit global. Ngalor ngidul kami membahas ini dan itu. Hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Handphone gue yang dari tadi memutar musik bahkan sudah lemas, kini perlahan layarnya meredup dan akhirnya mengalami mati daya. Tak hanya handphone gue yang redup, gue sendiri pun perlahan sudah riyep-riyep: tanda gue harus sudah merebahkan diri di kasur rumah.

“Mas, pulang yuk, ngantuk banget nih gue,” keluh gue.

“Ya udah ayok,” jawab Mas Haikal yang juga sudah mulai riyep-riyep.

“Eh jangan pulang dulu, bikin mi yuk,” cegah Gus Rizal sambil menawarkan sebuah insentif agar gue melanjutkan kembali cerita gue, karena dia merasa ceritanya seperti belum selesai. Dan memang iya, gue hanya menceritakan cuplikan-cuplikannya saja.

“Mau mie nggak?” Mas Haikal bertanya pada gue.

“Hm boleh sih.” Mata gue langsung melek.

“Ye ileh, laper ye lu ternyata.” Mas Haikal menendang gue. Gue terlempar sampai ke Jogja. Sekarang menyusul Haekal yang satunya di Pondok Pesantren. Huft.

Ini lebih ironis dari yang tadi…

Ketika mie sudah disajikan. Gus Rizal kembali memancing gue untuk bercerita. Dan benar juga apa kata Mas Haikal, gue lapar, makanya gue lemas. Begitu gue mulai menyantap mie yang sudah tersaji ini, gue antusias bercerita. Gue menceritakan semuanya. Satu persatu. Perlahan namun pasti. Lembar evaluasi gue semakin panjang.

“Kok makin nyesek aja ya?” ujar Gus Rizal.

“Kayak lagunya Guyon Waton, ‘Kok Iso Yo’?” sambung Mas Haikal.

-          Evaluasi keempat: jangan menyia-nyiakan kesempatan menjadi peran utama.

Apa maksud dari evaluasi keempat ini? Jadi begini… Seusai pensi taaruf kan gue tidur. Nah, itu kesalahan fatal gue, yang mana harusnya gue manfaatkan momentum udara dingin ini untuk menawarkan jaket pada Jessica, gue bisa jadi pemeran utama di sini, tapi apa? Yap, benar sekali. Gue bego dan lebih memilih jadi pemeran figuran. Akhirnya peran utama itu pun diambil oleh Irfan yang lebih gercep dan mengaplikasikan teori ACT dengan baik dan benar.

Yang lebih menyedihkannya lagi, sebenarnya dari rumah gue secara nggak sengaja bawa dua jaket. Jaket pertama gue masukkan ke dalam tas pada malam hari sebelum acara taaruf berlangsung. Nah, tanpa gue sadari, alih-alih mengambil jaket tersebut ketika hendak berangkat ke venue acara, gue justru mengambil jaket lain dan memakainya. Jadi, kesimpulannya gue bawa dua jaket. Paham maksud gue kan?

“NAH LOH, LO KENAPA MALAH TIDURRR??” Gus Rizal gregetan mendengarkan cerita gue. Mie yang sedang ia kunyah pun ikut gregetan dan menampar muka gue dengan keras. Tak apa, gue pantas, pantas mendapat ini semua.

-          Evaluasi kelima: verifikasi setiap informasi.

Gus Rizal setelah mendengar cerita gue, mempertanyakan kebenaran yang Vivi katakan kepada gue. Apakah kebenaran yang Vivi ungkap benar-benar kebenaran? Kenapa gue tidak tanyakan terlebih dahulu kebenarannya langsung pada Jessica atau Irfan?

“Kenapa nggak coba tanya ke Si Pelaku langsung, Zim? Pernah mikir nggak kalau seandainya Vivi itu informasinya kurang tepat?”

“Gue percaya Vivi kok, Mas. Dan gue sebenarnya sudah mau nanya ke Jessica. Gue udah sempat bilang pengen ngobrolin hal ini, namun sayangnya waktu itu Jessica lagi banyak tugas. Gue nggak  tega membebani pikirannya yang sudah terlanjur terbebani tugas,” terang gue.

“Terus?”
            “Ya… endingnya udah kebuka duluan kan?”

“Kepancing ya lo?” Gus Rizal menyimpulkan, “Tapi kalo gue di posisi lo kayaknya bakal ngalamin hal yang sama deh, soalnya ya udah terlanjur panas,” tambahnya, kali ini mengafirmasi gue. Untung gue masih punya titik kebenaran. Walaupun sebenarnya agak dipaksakan, wkwk.

Gus Rizal mengira gue adalah korban hoax, namun menurut gue tidak, sebab Vivi adalah sumber terpercaya, aktual, dan akurat. Dia kemudian menanyakan apakah sumber lain punya informasi lain tentang hal ini, gue paham yang dimaksud adalah Alfia, maka inilah jawaban gue, “Info dari Alfia lebih sedikit, tapi lebih nylekit.”

“Huft.”  Kompak Gus Rizal dan Mas Haikal.

“Gini, Zim. Gue bisa Tarik kesimpulan. Jessica ini gue analogikan seperti lalat.”

“Kenapa lalat?” tanya gue penuh kebegoan.

“Lalat nggak akan bisa bedain mana sampah mana bunga mawar, Zim. Beda sama lebah. Dia tahu mana bunga mana sampah.”

“Tapi, kan bisa aja pilihan dia memang yang baik buat dia?”

“Yang kita pikir baik belum tentu yang benar-benar dibutuhkan. Jessica mungkin milih dia, tapi sebenarnya dia butuh diperlakukan layaknya kamu memperlakukan Jessica.”

“Hah? Gimana?”

“Analoginya lo itu Rahwana, Jessica Sinta, Irfan Rama. Sinta memang mencintai Rama, namun pada dasarnya Sinta butuh diperlakukan seperti Rahwana memperlakukan dirinya. Itulah alasan kenapa Jessica bilang ‘Kamu bisa nggak biasa aja?’.”

“Berarti Sinta cinta sama Rahwana dong?”

“Dengan cara dia memperlakukan Sinta, iya, tapi sayangnya Rama lebih bisa mengungguli Rahwana.”

Perlahan semua penjelasan Gus Rizal memberi gue pencerahan. Ibarat penjelajah hutan yang tersesat selama berhari-hari, gue akhirnya menemukan sebuah jalan untuk menyelamatkan diri dari hutan tempat gue tersesat. Gue tahu harus apa dengan perasaan ini. Dalam hati gue bergumam inilah saatnya gue kembali menata hati gue. Membetulkan perasaan yang sudah terlanjur mati agar bisa ditumbuhi cinta kembali.

Namun, pertanyaan ini muncul dari dia.

“Kalo kesimpulan lo?”

“Kesimpulan gue, gue mau pulang aja, Mas, gue ngantuk banget. Mana udah subuh juga ini.” Yap, tidak terasa kami mengobrol sampai azan subuh berkumandang. Yang tadinya kami hendak pulang pukul 2.30, sekarang malah keblandrang  sampai subuh. Setidaknya gue dapat pencerahan, namun kesimpulan dari kasus ini belum gue temukan.

Bilas muka, gosok gigi, evaluasi.


Tapi setidaknya gue dapat evaluasi. Evaluasi itu baik bukan?

-          Evaluasi keenam: jangan membenci orang yang kita cintai, meski ia telah menyakiti (atau melukai atau apalah namanya) diri kita. Salah siapa berharap? Sakit sendiri kok ngamuk-ngamuk sendiri.

Yeah, teruntuk Jessica, lewat tulisan ini gue ingin minta maaf atas segalanya. Entahlah kesalahan yang mana, pokoknya gue minta maaf. Tolong jangan ada benci di antara kita, meski sudah tak ada lagi alasan tuk berucap kata. Iya, gue minta maafnya lewat sini saja. Ya, walaupun mungkin saja lo nggak tahu tentang tulisan ini. Sudah ya.

Maaf aku tak bisa menepati janjiku untuk tidak menjadi asing.

Zim Kazama, 12 November 2023, ditulis menggunakan tangan, mengalir dari hati, diiringi aliran air mata.

Now Playing: Ungu – Luka Di Sini


Komentar

Postingan Populer