Anak Pramuka Yang Hilang

            Peristiwa ini terjadi pada Agustus tahun 2015 silam, gue sedang duduk di bangku kelas 5 MI, dan kebetulan saat itu gue dan beberapa teman MI gue menjadi peserta kemah Jambore Ranting. MI kami mempunyai dua regu, regu putra dan putri. Regu putra diketuai oleh Deva Ahmad, dan gue wakilnya, sedangkan regu putri diketuai oleh Rohmah/Wulan dan wakilnya adalah Najwa. Seperti kemah Jambore pada umumnya, ada beberapa event/lomba yang harus kami hadapi untuk menjadi regu terbaik dalam perhelatan tahunan ini.

            What kind of story I want to tell you? Sabar dong. Kisah ini akan terasa sedikit horor dan penuh misteri. So, apa pun keadaan lo (lagi kerja, sekolah, kuliah, di wc, atau yang lainnya), gue sarankan untuk prepare mulai sekarang. Mulai!

            Gue berkemah dengan 12 teman gue yang terdiri dari Dany, Zaky, Deva, Iqbal, Huda, Yaul, Danil, Fandy, Haekal, Nabil, Wafi, Daffa, dalam kemah Jambore Ranting Buaran tahun 2016 yang diselenggarakan di bumi perkemahan desa Pakumbulan. Dan seperti yang sudah gue bilang tadi, bahwa di Jambore ini ada event/perlombaan yang harus kami hadapi. Gue tidak akan menceritakan sepenuhnya perjuangan kami dalam Jambore, melainkan gue akan menceritakan tentang hilangnya teman gue, Zaky.

            Pada malam pertama perkemahan, saat kami semua istirahat, tidak ada yang aneh. Kami semua masih bercanda ria tak ada resah, kami melihat benda ajaib melayang, namun seketika… Ini kenapa jadi OST Kiko sih? Kami semua masih sempat bercanda ria dan saling bercerita pengalaman seharian bertugas, baik yang bertanding dalam lomba, maupun tugas menjaga tenda, bahkan kami semua, termasuk para ustaz masih sempat menertawakan telur rebus Iqbal yang menggelinding ketika hendak dimakan.

            “Woy woy woyyy telur lo mau ke mana?” seru Iqbal.

            “HAHAHAHA.” Gue dan Dany tertawa terbahak-bahak, sampai mengejutkan teman kami yang sedang beristirahat di dalam tenda.

            “Ada apa ini?” tanya ketua regu, Deva.

            “Ini nih, telurnya Iqbal menggelinding,” jawab gue.

            Semua orang tertawa. Suasana malam itu sangat cair berkat telur rebus menggelinding. Lalu, setelah salat isya selesai, kami semua berbaring di dalam tenda menuju alam mimpi. Tidur lebih tepatnya. Beberapa dari kami ada yang kesulitan tidur, ada yang menganggapnya sebagai sesuatu yang buruk, ada pula yang menganggapnya sebagai “waktunya iseng”. Contohnya Dany, Nabil, dan Danil yang mengoleskan pasta gigi ke “anunya” Haekal. Gila!

            “Kalian tarik celananya, gue yang ngolesin pasta gigi!” kata Dany.

            “Oke,” jawab Nabil dan Danil.

Mpshhhhhhhh, aroma mint mengisi seluruh ruangan. Haekal kaget. Lompat-lompat sambil kepanasan. Dasar teman-teman sialan. Gue sendiri juga tak luput dari kejahilan teman-teman gue, yah setidaknya gue bangun tidur dengan rasa manis di mulut gue, namun lama kelamaan rasa manis itu berubah menjadi pahit. Ya, mulut gue disumbat rokok. Sial.

Singkat cerita, hari kedua Jambore berhasil dilalui, dan tentunya ada peristiwa yang tidak akan pernah gue lupakan, gue menemukan sebuah botol miras ketika sedang melakukan penjelajahan alam.

“WOY, GUE NEMU MIRAS WOY!” teriak gue, entah mengapa gue antusias dengan hal beginian.

“Mana? Mana?” tanya Dany penasaran.

“Ini mah udah abis,” sambungnya.

Teman yang lain hanya tertawa dan tentu saja heran. Bagaimana ceritanya penjelajahan alam malah nemu miras? Sungguh absurd.

“Ayo lanjutin perjalanan,” ujar Deva.

KISAH HOROR PUN DIMULAI…

Malam harinya, lebih tepatnya setelah malam api unggun selesai dan semua orang sudah terlelap dan terbang bersama mimpi masing-masing, gue terbangun. Waktu itu sekitar pukul dua dini hari, suasana bumi perkemahan sangat hening, hanya ada suara jangkrik dan dengkuran para ustaz. Gue terbangun karena kebelet pipis, namun gue agak takut untuk pergi ke toilet yang agak jauh dari tenda, sendiri, malam-malam, sepi pula. Lalu, di sinilah titik terangnya muncul, Zaky juga terbangun dan kebelet BAB. Asyik ada temen nge-wc!

“Zim, temenin gue ke toilet yuk, kebelet boker gue!” pinta Zaky.

“Kebetulan, gue juga kebelet pipis, ayok deh!” jawab gue mengiyakan.

Kami berdua berjalan meninggalkan tenda, menuju ke arah panggung utama yang sudah sangat sepi, ya iyalah ngapain juga orang mau rame-ramean di panggung utama jam dua dini hari? Kami pun sampai di toilet yang letaknya tak jauh dari panggung utama, dan kemudian menunaikan hajat masing-masing.

“Zim, lo udah kelar belum?” Zaky memastikan apakah gue sudah selesai dengan hajat gue atau belum.

“Udah, Zak. Kenapa?”

“Gue nitip sarung nih!”

“Oke. Eh, gue tunggu lo di panggung ya, Zak!”

“Iya!”

Gue menggenggam erat sarung Zaky, berjalan pelan menuju panggung, lalu sesampainya di panggung, gue rebahan sambil mengandai-andai regu kami menjadi yang terbaik di Jambore tahun ini.

“Pasti asik ya kalo juara!”

Sesekali gue mengecek keadaan Zaky, apakah dia sudah selesai dengan hajatnya atau belum.

“Udah belum, Zak?”

“Belum.”

Kurang lebih tiga kali pengecekan gue lakukan. Sampai tiba ke pengecekan terakhir setelah kurang lebih dua puluh menit Zaky jongkok. Zaky tak menjawab gue. Gue memeriksa toilet.

“Woy, Zak! Lo jangan bercanda dong! Udah kelar belum?!” tanya gue dengan nada bicara agak tinggi karena gue mulai merasakan bulu kuduk gue merinding.

“Zak?” gue membuka pintu toilet pelan-pelan, jaga-jaga kalau Zaky masih di dalam, namun ternyata…

“ALAMAKKKK, ZAKY LO DI MANA WOY?!?!?!” Zaky menghilang tanpa jejak. Toilet kosong tak bertuan. Gue kebingungan. Dilema antara harus berteriak minta tolong atau gue cari sendiri terlebih dahulu. Akhirnya, karena gue tidak mau dianggap membuat kekacauan, gue putuskan untuk mencari Zaky seorang diri. Gue menyusuri setiap sudut di bumi perkemahan. Mulai dari panggung utama, tenda-tenda, dan bahkan gawang lapangan sepak bola, ya siapa tahu Zaky diumpetin di gawang?

“Aduh, Zaky, lo di mana sih? Ah, jangan bilang kalo bumi perkemahan ini angker. JANGAN BILANG KALO ZAKY DICULIK POCONG.” Gue mulai melantur, sejauh ini nggak ada kasus Pocong jadi penculik anak, harusnya gue bilang “Wewe Gombel” bukan Pocong. Yahhhh, namanya juga orang panik…


Setelah kelelahan mencari Zaky ke sana ke mari, gue pun akhirnya menyerah, gue kembali ke tenda dengan perasaan hampa, kesal, takut, dan bingung, semuanya campur aduk jadi satu. Kaki-kaki gue mulai terseok-seok. Napas dari mulut gue terengah-engah. Pandangan mata mulai ngeblur. Kalau dalam film-film, biasanya gue bakal pingsan, kemudian bangun karena dicium putri kerajaan. Fantasi banget.

Gue sampai di tenda. Gue langsung menjatuhkan badan di atas karpet tenda karena kelelahan. Tentu saja masih dengan napas yang terengah-engah. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari, memasuki Waktu Indonesia Overthinking. Kepala gue mulai dipenuhi kekhawatiran-kekhawatiran tentang Zaky.

“Apa jangan-jangan tadi itu bukan Zaky? Gue cuma sendirian ke toilet? Duhh kok jadi serem gini sih?”

Lalu, suara itu muncul. Mengagetkan gue bersamaan dengan kehadiran sosoknya.

“Zim…” sosok tersebut memanggil gue. Gue menoleh perlahan.

“Dari mana aja lo?” Ya, sosok tersebut adalah Zaky.

“KOK LO DI SINI? TADI YANG SAMA GUE BERARTI SIAPA?” gue panik, dugaan gue barusan ternyata bisa jadi benar.

“Ya, tadi itu gue…”

“Terus kenapa lo sekarang udah di sini duluan?”

“Lo ketiduran di tenda tadi, gue nggak enak mau bangunin, ya jadinya gue tinggal aja,” jawabnya enteng.

“KAMPRET!” teriak gue sambil melempar seisi tenda, beserta orang-orang di dalamnya.

Sejujurnya gue agak kesal mengetahui fakta bahwa Zaky ternyata sudah di tenda duluan dan gue ternyata ketiduran, namun dengan adanya fakta tersebut, secara tidak langsung telah menepis anggapan gue bahwa bumi perkemahan ini angker. Gue sekarang lega. Kemudian mencoba melanjutkan tidur. Namun…

“Zim…” terdengar suara wanita di telinga gue.

………

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Peringatan!!!

Sebagian dari cerita ini benar, dan sebagian lainnya ngarang. Jadi, bijak-bijaklah dalam menanggapi cerita!

Komentar

Postingan Populer