Film Spider-Man terbaru yang berjudul “Brand New Day” dapat
dikatakan sukses besar. Film arahan Destin Daniel Cretton tersebut telah meraup
lebih dari 500 juta dolar AS (sekitar Rp8,90 triliun) dalam tujuh hari pertama
penayangannya. Capaian itu membuat Brand New Day menjadi film tercepat yang
menembus angka setengah miliar dolar AS di Amerika Utara. Dan angka ini akan
terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Film ini berkisah tentang kehidupan baru Peter Parker setelah
kejadian di film sebelumnya yaitu No Way Home yang berakhir cukup tragis:
Doctor Strange harus merapal mantra agar semua orang di dunia ini melupakan
keberadaan Peter Parker—buntut panjang dari konflik dengan Quentin Beck alias
Mysterio dalam film Far From Home. Secara garis besar ide utamanya cukup
sederhana, yakni menceritakan kehidupan Peter Parker sebagai Spider-Man di
lingkungan jalanan New York. Tentu ini membawa perasaan nostalgia terhadap
film-film lawas Spider-Man. Sebut saja Spider-Man yang diperankan Tobey Maguire
dalam trilogi Spider-Man yang rilis tahun 2002, 2004, dan 2007. Sebab seperti
yang kita ketahui bersama, Spider-Man versi Tom Holland/Spider-Man-nya MCU
(Marvel Cinematic Universe) ini sudah terlalu ke-ironman-ironman-an, alias
hampir menjauh dari khittah-nya sebagai seorang pahlawan super pembasmi
kejahatan jalanan. Di MCU kita dikenalkan Spider-Man yang serba ketergantungan
dengan teknologinya Iron-Man, tentu saja di film pertama yakni Homecoming. Yah,
walaupun pada akhirnya Peter Parker dalam film tersebut berhasil membuktikan
bahwa ia adalah Spider-Man dengan atau tanpa kostum canggih dari Tony
Stark/Iron-Man.
Brand New Day sukses membuat saya menangis setidaknya tiga atau
empat kali ketika menontonnya. Ini merupakan tangisan terbanyak dan ter-nyesek
yang pernah saya rasakan sejak terakhir menyaksikan film Thunderbolts tahun
lalu. Lha bagaimana tidak nyesek? Saya diperlihatkan kembalinya
MJ yang ingat segala hal tentang Peter Parker akan tetapi ternyata itu hanyalah
permainan dari sang Villain yang merasuki kesadaran MJ. Saya terlanjur senang
menyaksikan Peter Parker bisa kembali berpelukan dengan MJ setelah sekian lama,
tetapi ekspektasi saya dipatahkan begitu saja. Tidak hanya itu, sebelum MJ
dirasuki sang Villain, ada scene yang sangat nyesek untuk disaksikan, yakni
ketika Peter Parker secara tidak sengaja menyaksikan MJ sedang bermesraan
dengan pasangan barunya. Sial!
Pengalaman traumatis tersebut kemudian memicu mutasi genetik pada
DNA Peter Parker—DNA laba-labanya meningkat dan menguasai penuh tubuhnya.
Prosentasenya yang awalnya 50:50 berubah menjadi 50:80. Sungguh sebuah
perubahan yang drastis, bahkan ini memicu Spider-sense Peter jadi
bekerja dua kali lipat. Dalam satu menit ia jadi bisa menerima banyak sekali
informasi dalam kepalanya—bahkan suara burung terbang & sampah plastik
tertiup angin pun sangat mengganggunya. Ternyata berdasarkan penuturan E.V.
(semacam AI buatan Spider-Man) mutasi genetik ini terjadi selain karena
mengalami trauma hebat akibat menyaksikan MJ bermesraan dengan pasangan
barunya, juga disebabkan karena Peter Parker sudah lama tidak bersosialisasi. Lha
wong gak ada yang kenal dia. Berbeda dengan cerita di film-film sebelumnya
di mana ia masih bersahabat dengan Ned Leeds dan berpasangan dengan MJ.
Dalam klimaksnya, diperlihatkan bahwa Spider-Man tidak sanggup
melakukan semua “aksi heroik” sendirian. Terbukti ketika DNA laba-labanya lepas
kendali, ia secara tidak sengaja membanting lawannya, Scorpion, ke sebuah mobil
polisi yang sedang berjalan. Sontak saja anggota kepolisian yang ada dalam
mobil tersebut terluka parah. Detektif DeWolf yang dalam beberapa waktu
terakhir sering berkomunikasi dengan Spider-Man tidak senang dengan hal itu, ia
terus mewanti-wanti bahwa Spider-Man tetap butuh istirahat dan jika hal semacam
ini terus terjadi ia tak bisa lagi menoleransi aksi main hakim sendiri yang ia
lakukan.
Dan yap, pada akhirnya Peter mencari jawaban melalui Profesor Bruce
Banner yang telah berhasil menciptakan Inhibitor untuk menghambat DNA Hulk
dalam dirinya. Peter bermaksud menciptakan alat serupa untuk menghambat DNA
laba-laba dalam dirinya. Dalam prosesnya, inhibitor ciptaan Peter pun masih
belum berfungsi 100% sebab sering mengalami overheat. Masalah ini kemudian
dipecahkan oleh MJ yang sedang bersamanya, bersembunyi dari serangan sang
Villain.
Dan ini dia, tentu
saja favorit saya… Frank Castle AKA The Punisher yang tidak saya duga-duga
dapat menjadi teman sekaligus mentor yang nyetel banget sama Peter
Parker. Frank dulunya adalah seorang Marinir yang hidupnya jadi kacau gara-gara
istri dan anak-anaknya dibunuh. Ini bisa kamu saksikan kisahnya dalam serial
The Punisher. Singkatnya, dalam film Punisher One Last Kill, Punisher ini bisa
dikatakan “tobat” jadi pembunuh dan memilih melindungi lingkungannya dari
orang-orang jahat. Yaa semacam superhero tapi caranya agak kasar gitu deh.
Frank yang sangat kekeh dengan “caranya sendiri” ini sering terlibat cekcok
dengan Spider-Man yang punya idealisme tinggi. Keduanya sadar sesuatu—saling
membutuhkan, Spider-Man pernah menyelamatkan Frank, maka otomatis Frank sadar
atau tidak sadar ia selalu ingin melindungi Spider-Man. Begitupun Peter Parker
yang tak lagi punya siapa-siapa, pada akhirnya meminta bantuan kepada Frank
untuk menjaga MJ sementara dirinya mengejar sang villain, yang pada akhirnya
justru MJ menyuruh Frank untuk mendampingi Spider-Man.
Dan ada satu
dialog yang menurut saya tepat sekali. Yaitu adegan ketika Peter Parker
akhirnya bisa kembali bermain bersama sahabatnya, Ned, meski harus tetap
memakai kostum Spider-Man. Ada adegan ketika Yelena—Black Widow baru, sedang
melakukan video call dengan Spider-Man menggunakan komputer milik Ned. Yelena
berkata, “Aku senang pria sedih ini akhirnya punya teman”, yang mana Yelena
sebelumnya bertemu Spider-Man di “kantornya” untuk membicarakan tentang
serangan yang dialami Damage Control. Saat itu Yelena terheran karena
Spider-Man terlihat selalu murung.
Pun dari sisi sang
Villain. Ia hidup sendirian sebatang kara. Bahkan satu-satunya orang yang ia
sayangi, yakni kakaknya, harus direnggut. Betapa sedihnya. Dan di sinilah awal
mula konflik dalam film ini dimulai. Beruntung, villain yang satu ini dapat
diselamatkan oleh Peter dengan saling adu nasib soal kesendirian. Peter
yang kehilangan Bibi May, sementara ia kehilangan kakaknya, nasib yang saling
bersinggungan satu sama lain akhirnya menyatukan mereka. Dan di sinilah
tangisan terhebat saya ketika menyaksikan film ini!
Yah, at the end,
saya percaya bahwa film ini gak cuma menceritakan tentang kehidupan baru Peter,
akan tetapi juga pengingat bagi kita semua yang menyaksikannya—bahwa kita tak
dapat menjalani hidup ini sendirian, meskipun kita dianugerahi kekuatan sebesar
Spider-Man, ketangkasan seperti Frank Castle, atau bahkan kekuatan magis
seperti yang dimiliki sang Villain dalam film ini, kita tetap tidak bisa
menjalani hidup dalam kesendirian. Sudah kodratnya manusia sebagai makhluk
sosial harus terus bersosialisasi. Hidup bersama dalam suatu kelompok masyarakat
yang saling menerima. Pun ini berhasil di-capture dengan baik oleh Destin
Daniel Cretton selaku sutradara dan para krunya melalui satu adegan dalam
penutup film ini, yakni ketika Peter kembali menghubungi Detektif DeWolf
melalui ponselnya, dan DeWolf lagi-lagi mewanti-wanti Spider-Man agar
beristirahat meski ia ingin sekali melakukan aksinya. Kali ini Peter nurut
gak seperti yang sebelumnya. That’s why this movie title is “Brand New Day”.

Komentar
Posting Komentar