Wisata Masa Lalu


Gladi bersih baru saja rampung. Gue dan teman-teman peserta lomba Sendratasik (Seni Drama Tari Musik) lainnya pulang ke rumah lebih awal daripada hari-hari latihan. Jam menunjukkan baru pukul delapan malam.
“Malam ini cukup, sekarang kalian pulang dan istirahat, besok bangunnya jangan kesiangan, oke?!” Burhan menutup sesi gladi bersih.
“Oke,” jawab gue.

Burhan menyuruh kami semua untuk istirahat agar maksimal dalam memainkan peran di esok hari. Gue dengan peran gue sebegai Toba, Faizah sebagai Ikan Mas (nanti jadi istri Toba), Amar sebagai Samosir, Imam sebagai teman Samosir, sementara Muhyidin & Nabil sebagai petani teman Toba, Alina & Fira sebagai Istri petani, dan Ichda sebagai narrator, tetapi karena selama satu bulan ke belakang gue jarang tidur cepat, tentu saja sepulang gladi gue nggak langsung tidur. Seperti biasa, melongo berjam-jam terlebih dahulu sebelum mengistirahatkan tubuh. Overthinking dengan segala kemungkinan yang akan berdatangan.

Dan itu dia… sesuatu yang semakin menambah jam overthinking gue lebih panjang. Postingan WhatsApp Yasmin. Haha! Terlihat ia mengenakan kostum tari tradisional, tanda ia baru saja menyelesaikan lomba tari tradisional, ya emang gitu dong konsepnya, Pea! Seketika tubuh gue kaku, pikiran gue menyelam dan berwisata masa lalu. Tepatnya bulan Februari tahun lalu, saat Yasmin mengikuti lomba serupa di tingkat Kabupaten, dan gue mengikuti lomba Baca Geguritan, ini bisa kalian baca di bab "I'm Back" https://manusiaabsurd19.blogspot.com/2022/03/im-back.html
Njir… kenangannya kok tiba-tiba lewat gini?”

Gue masih melongo dengan sedikit mulut ternganga sekarang. Tidak ada kata-kata atau kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan ini. Gue sendiri nggak tahu ini perasaan apa. Yang jelas, gue merasa kasihan dengan diri gue sendiri ketika melihat foto tersebut, karena doi kelihatan makin cantik.

“Ya iyalah makin cantik, orang bebannya udah ilang!” kata Nabil KW di WhatsApp.
“Udah, Zim, cukup!!! Besok lo juga lomba” ucap Sandi menyemangati, ia juga mengikuti cabang lomba yang sama dengan gue.

Keesokan harinya kami semua berangkat. Dengan niat, semangat, dan doa serta ribuan harap yang hinggap, kami bersiap-siap. Setelah sampai venue, tepatnya SMPN 1 Buaran, hati gue jedag-jedug lagi. Tampak kontestan lain yang membawa properti-properti pendukung yang sangat properti, hah? Tampak kontestan Wonoyoso membawa Gapura yang sangat besar, lalu kontestan Paweden membawa background Pelangi, Sapugarut membawa papan tulis, lalu ada Simbangkulon dengan kostumnya yang warna-warni, dan masih banyak lagi. Gue melihat ke diri sendiri…. Berbaju putih polos, memakai tutup kepala ala Pangeran Diponegoro, celana batik cokelat pendek, sendal jepit, kail pancing, ember, dan cangkul yang terbuat dari potongan kardus dan potongan bambu. Bisakah kami meraih gelar juara hanya dengan ini semua? Batin gue.

“Udah, jangan dilihat dari propertinya doang. Yang penting penampilannya!” kata Burhan selaku PJ, menyemangati kami.
“Okedeh!”
“Kontestan pertama dari Ranting Paweden!!!!” MC berteriak, padahal pakai microphone, microphone menangis. Kemudian pergi dan tak kembali lagi karena usahanya tidak dihargai, huft.
“Oke, Guys! Kita kumpul dulu!” Burhan mencoba memberi instruksi. Para pemain, official, penanggung jawab/PJ, ketua IPNU, ketua IPPNU, ketua kontingen, semuanya berkumpul.
“Kita sudah sampai sejauh ini. Terima kasih saya ucapkan pada kalian semua. Emmm dari pelatih ini ada pesan katanya jangan terlalu focus mengejar juara, yang penting kalian tampil maksimal, oke?!”
“Oke! Opera Van Jayan?!?! YOII!!

   Kami pun dipanggil maju ke depan.
“Baiklah untuk selanjutnya, dari kontingen Ranting Kertijayan!!!!” MC masih berteriak, kali ini sudah tanpa mic, tadi kan mic-nya marah.
Narator mulai mengucapkan kalimatnya. Para pemain mulai masuk, tarian ditampilkan, dialog demi dialog dimainkan. Kalau kepo dengan penampilan kami, lo bisa tonton di video ini: https://drive.google.com/file/d/1Bcw3uFDwCuWQ_ogQAegjBRiZdYRNCUBU/view?usp=drivesdk


     Akhirnya pementasan usai. Gue lega meskipun kaki gue sedikit lecet karena membanting tubuh gue di panggung. Dari sinilah ke-mlencengan gue yang kesekian dimulai lagi. Kalau malam harinya gue tidak mengikuti perintah PJ untuk langsung istirahat, kali ini gue melawan kata-kata PJ untuk tidak berharap juara, maksudnya, karena gue terluka, gue berharap bisa meraih juara, dah gitu ae repot SEHHHH-_
Gue beristirahat Bersama Baitin, Ida, dan Muhyi, sementara yang lain pulang terlebih dahulu. Alasan gue tetap di sini adalah untuk perwakilan foto bersama para pemain. Namun, sepertinya bukan itu yang coba ditunjukkan oleh semesta. Gue yang sedang ngobrol-ngobrol dengan Baitin tiba-tiba dikejutkan dengan sosok kuntilanak, nggak, masih pagi. Ya, sosok tersebut mengenakan baju merah maroon dengan kerudung merah muda, bener nggak sih?

     Sosok tersebut adalah Yasmin. Sudah tentu ia datang untuk mendukung tim sendratasik Simbangkulon, yang sebagian pemainnya adalah teman gue sendiri, seperti Nabil, Paul, Sandi, Dina, Fajri, Ricky, dll. What a surprise! Mata kami mungkin sempat bertemu saling pandang, namun kami enggan mengakuinya, kami saling buang muka. Gengsi dong!
“Gue panggilin mau?” tanya Baitin dengan muka sedikit mengejek.
“Nggak, nggak usah, makasih,” jawab gue sok jaim.
“Alahhhh nggapapaa.”
“AAAAAAA GUE BENCI WISATA MASA LALU INII!”

     Gue kabur, meninggalkan venue lomba dan bersembunyi di Fuhrerbunker, Jerman, kemudian bertemu Hitler. Bubar!
Now Playing: Hindia – Secukupnya
Wisata masa lalu
Kau hanya merindu
Mencari pelarian
Dari pengabdian
Yang terbakar sirna
Mengapur, berdebu
Kita semua gagal
Ambil sedikit tisu, bersedihlah
Secukupnya!

Komentar

Postingan Populer