Singkong Pantura Part 2
Sebelumnya di Bab Singkong Pantura…
“Mana
ada lewat kebun singkong, kocak, itu lo salah ambil jalur,” ketus Munir sambil
salto lalu masuk ke mangkok soto.
“Bisa-bisanya
nih anak. Oke, ini udah ya, nggak ada pertanyaan kan? Kita lets go!” Lutfi
bangun dari duduknya dan kami semua mengikuti. Dengan ini, Penelitian Singkong
Pantura resmi dimulai. Tet teret terettttt!
“Rumah
narasumbernya yang mana, Sal? Kita jalan kaki apa naik motor?” tanya Ghozali.
“Naik
motor nggapapa, itu rumahnya.” Salmah menunjuk ke belakang rumahnya, sekitar
lima puluh meter.
“NGAPAIN
NAIK MOTOR KALO RUMAHNYA DI SITU DOANGG.” gue berubah jadi Venom dan memakan
tanaman singkong di samping rumah Salmah.
Kami
berjalan menuju rumah narasumber pertama. Mengetuk pintunya, lalu menyatakan
maksud dan tujuan kami dating ke mari. Tak berselang lama seorang wanita yang
cukup sepuh keluar dari dalam. Mengenakan kaos putih ala-ala masyarakat desa
yang hidup sederhana, Ibu Narsih dipapah Yaya dan Salmah menuju meja dan kursi
yang terletak di depan rumah beliau untuk diwawancarai. Sementara mereka
berurusan dengan narasumber, gue dan Munir justru berurusan dengan ayam-ayam
ternak Bu Narsih.
“Nir,
videoin gue mau review kandang ayam sama ayam-ayamnya,” kata gue.
“Oke.
Action, ayo ngomong!”
![]() |
MK (Momen ketika): Yang lain penelitian lu malah jeprat jepret ga jelas. |
Usai
berurusan dengan ayam, gue langsung mengalihkan perhatian pada tanaman singkong
yang sudah gemuk di area samping rumah Bu Narsih. Gue memotret semua yang ada
di sana. Dari sini, ada dua perspektif untuk memandang kelakuan gue saat ini;
pertama, gue adalah dokumenter peneliti sejati, di mana gue memotret apa pun
yang ada di lokasi penelitian; kedua, gue ndeso,
nggak pernah lihat singkong se-detail ini, padahal di sebelah barat rumah gue
ada perkebunan yang isinya beragam tumbuhan, salah satunya adalah singkong.
Sungguh miris sekali si anak anti sosial ini.
“Heh.
Foto-fotonya udah dulu, sekarang yang difoto kita wawancaranya.” Sekarang Lutfi
yang berubah jadi Venom, yang membedakan hanyalah dia beralmet.
Gue
duduk. Munir duduk. Semua duduk. Wawancara dimulai.
“Selamat
siang, Ibu. Mohon maaf mengganggu waktunya. Kami dari KPI UIN Gusdur ingin
mewawancarai Ibu berkenaan dengan produksi singkong,” ucap Lutfi dalam Jawa Kromo. Sekilas Kromo-nya berbelit-belit, bikin gue hamper ketawa terbirit-birit.
“Iya.
Sebelumnya saya Narsih, biasa dipanggil Mak Narsih…” Mak Narsih menanggapi
dengan Jawa Ngoko Alus.
Pertanyaan
demi pertanyaan dari Lutfi Mak Narsih jawab. Ceklis demi ceklis Yaya bubuhkan
dalam pedoman wawancara. Foto demi foto gue jepret. Sementara Munir ngorok di
samping gue. Miris.
“Baik,
Mak, ini sudah cukup. Terima kasih, kami boleh keliling-keliling?” Lutfi
mengakhiri wawancara.
“Iya,
sama-sama. Silakan keliling-keliling biar tahu kondisi kebunnya. Hati-hati yaa.”
“Kebunnya
yang mana, Sal?” gue bertanya, mencoba memastikan agar gue tidak berubah jadi
Venom lagi.
“Nggak
perlu pakai motor kan?” Ghozali menambahi.
“Enggak.
Itu di belakang, kita ambil kiri nanti keliatan.”
Dari
rumah Mak Narsih kami berbelok ke arah kiri, lalu berjalan sejauh kurang lebih
seratus meter untuk masuk ke kebun. Kanan dan kiri kami semuanya singkong.
Singkong is everywhere. Pemandangannya sangat menenangkan mata gue yang
belakangan ini hanya menikmati makalah, game online, dan juga resi-resi
pengiriman.
“Keren
ya kebunnya,” kata gue aneh.
“Kebun
ya kebun, gimana kerennya?” Munir menanggapi sambil masih menguap, sekarang ia
mendidih.
“Ya
keren aja, karena gue jarang ke kebun gini, gue kan budak korporat, ya nggak,
Li?”
“Iyain.”
Kurang lebih sekitar setengah jam kami berkeliling, entah apa yang kami lakukan. Berjalan-jalan, berswafoto, vlogging, sampai sesekali membahas hal mistis yang tadi sempat dituturkan oleh Mak Narsih. Hingga…
![]() |
Dari kiri: Ghozali, Hana, Salmah, Lutfi, Yaya, Munir. |
“HEH.
ITU APA?” gue pasang muka ketakutan.
“Oh,
itu makam,” jawab Salmah santai.
“KOK
MAKAM? INI KAN KEBUN? MAKAM APA?” gue mulai merasakan bulu kuduk merinding.
“Makam
orang.”
“ORANG
APA?! PLEASE!!! AHHKHHKHKHH TUH KAN ADA YANG NOYOR TELINGA GUE.”
“Itu
Maknya Mak Narsih. Gak usah lebay, itu Munir barusan.”
“Oh….”
Ketegangan
mereda.
“Kenapa
dimakamkan di situ?” tanya gue setelah sudah lebih tenang.
“Tadi
itu lho, Mak Narsih kan bilang ada urusan soal sengketa tanah dengan pemerintah
gituan, lha itu pencegahan biar tanahnya ga bisa diambil atau semacamnya gitu.”
“OOOOOOOHHHH.”
Sesi
keliling-keliling usai, kini saatnya mewawancarai narasumber berikutnya yaitu
sang tengkulak singkong. Tadi petani sudah, kini tengkulaknya. Dan seperti biasa
gue bertanya apakah harus naik sepeda motor atau jalan kaki. Kali ini justru
Salmah yang berubah jadi Venom karena jenuh dengan pertanyaan menyebalkan dari
gue.
“Itu
di seberang rumahku doang, yang gede itu.”
“Nggak
heran sih kalau dia jadi tengkulak, orang rumahnya gede gini,” gumam Munir.
“Orang
kok rumahnya bisa gede gini kerjanya apa ya?” gue menimpali.
“Jadi
sukses, Zim,” jawab Ghozali.
“Makan
mie sukses bisa sukses nggak?” tanya gue ngaco, disusul pukulan beruntun dari
Ghozali dan Munir.
Kami
izin masuk, Tuan Rumah mempersilakan. Satu persatu dari kami melepas sepatu
beserta kaos kaki lalu masuk ke dalam rumah si Tengkulak. Dan ini yang sangat
tidak bisa gue lupakan….
“Assalamualai…kum…????”
ucapan salam gue terganggu sebuah pemandangan yang… apa ya, dibilang tidak
senonoh tapi ini hal yang wajar, tapi kenapa harus terjadi di saat seperti ini?
Formasi
wawancara masih sama. Lutfi penanya, Yaya dan Hana pencatat dan pencentang, Salmah
mencatat, Munir dokumentasi, sementara gue dan Ghozali mengalihkan perhatian
pada mainan Hulk dan Kamen Rider yang tergeletak di lantai.
“Li,
gue susah fokus.” Gue menundukkan kepala.
“Sama,
udah kita ngrekam sama nyatet kecil kecilan aja, sambil main Hulk.” Ghozali
juga mengalami hal yang sama dengan gue.
“Kalian
kenapa sih?” Yaya bertanya.
“Anu…
itu adeknya,” jawab gue sambil menunjuk pada seorang bayi laki-laki berusia
sekitar dua tahunan yang sedang duduk di samping narasumber kedua, Mbak Fitri.
“Kenapa?”
“ADEKNYA
TITITNYA KE MANA-MANA!!!”
Gue,
Ghozali, Yaya, Munir, Hana, dan Salmah yang duduk di bawah sofa (maksudnya
bukan secara harfiah duduk di bawah kolong sofa, mana muat) kehilangan fokus
untuk wawancara. Kami semua menahan tawa dan gemas secara bersamaan. Gemas
karena si bocil bertingkah lucu, tapi di saat bersamaan tingkah lucunya jadi
creepy karena ia menampakkan “Stephen”-nya pada semua orang di ruangan itu.
“YA
ALLAH GUE GAK KUATTT.” gue berubah jadi mainan Hulk, kemudian dimainkan oleh
Ghozali dan Munir.
Wawancara
pun selesai. Persoalan titit juga selesai. Saatnya menanyakan pertanyaan
fundamental yang tidak senonoh.
“Lutfi.
Lo serius bisa fokus wawancara tadi?” gue membuka sesi pertidak-senonohan.
“YA
KAGAK LAH, ITU TITIT KEMANA-MANA PUSING GUE.”
“HAHAHAHAHAHA.”
Sambil berjalan menuju rumah Salmah, semua orang tertawa di jalan, para
tetangga jadi curiga.
“Kasihan
ya, anak kuliah pada stress gitu,” bisik salah satu Ibu-ibu berdaster.
“Kamu nanti kuliah di luar negeri aja ya, Nak, jangan kayak mereka.” Ibu-ibu yang lain memeringatkan anaknya yang baru saja lulus SMA.
![]() |
"Swasembada Pangan 2025" |
Komentar
Posting Komentar